renungan pak tri patut dibaca oleh para pemerhati indonesia.

salam, heri latief

Trikoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: "Trikoyo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Subject: 06172008  TANYA JAWAB RENUNGAN PRIBADI.
Date: Mon, 16 Jun 2008 23:52:26 +0700

        
06162008                   Print   Clean                                
MicrosoftInternetExplorer4     st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) }         
/* Style Definitions */   table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal"; 
 mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  
mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  
mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  
mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New 
Roman";}       06162008 
  RENUNGAN TANYA JAWAB PRIBADI
  Oleh  : Tri Ramidjo
   
  Tri, kau melamun?
  Gak. Aku cuma merenung.
   
  Sama aja, merenung juga melamun. Itu bibit kichigai kata orang Jepang. Tahu 
kan kichigai? Bahasa Belandanya zestig atau “gila”.
   
  Ha ha ha, aku belum gila. Tapi orang Digul bilang seniwen atau sarap. Kalau 
di Buru disebut  PA (pikiran apnormal)  seperti si Pardjo penghuni unit 15 
Indrapura, 
   
  Gak………, apa sih yang direnungkan? 
   
  Begini. Aku mau cerita, ya. Dulu aku juga pernah muda. Pernah angkat senjata 
untuk kemerdekaan negeri ini. Bahkan di bokongku ini ada bekas peluru Belanda.
  Aku dulu dan sampai sekarang pun masih punya cita-cita ingin hidup bahagia.
  Sekali lagi kukatakan “ingin hidup bahagia” .
   
  Bahagia itu yang kayak apa sih?
   
  Bahagia bagiku tidak muluk-muluk setinggi langit biru. Cukup makan, cukup 
pakaian, punya tempat tinggal dan punya pekerjaan untuk hidup. Orang hidup 
harus bekerja, bukan? Kalau tidak bekerja apa-apa hanya makan dan tidur, itu 
namanyta benalu. Hidup dari hasil kerja orang lain. Kasarnya disebut 
“penghisap”. Dan kalau di Buru orang yang malas bekerja maunya makan enak saja 
namanya “ngulo” atau disebut makan tulang kawan.
   
  Ya, aku ini sekarang benalu. Aku gak bisa bekerja apa-apa padahal aku masih 
doyan makan, butuh beli obat, butuh bayar tilpon untuk bisa hubungan dengan 
komputer ini, butuh listrik, butuh air untuk mandi, minum, masak dll. Belum 
lagi bayar iuran RT dan ongkos-ongkos lainnya yang dalam bahasa Jepangnya 
disebut “kosai-hi” yang artinya ongkos-ongkos untuk bergaul.
   
  Aku tidak menghasilkan uang sepeser pun dari hasil kerjaku. Sebab aku cuma 
kotak-katik sebelah tangan di komputerku ini dan tidak menghasilkan duit. Kalau 
sudah tanggal 20 tiap bulan aku kedandapan minta sana minta sini utuk bayar 
rekening telepon. Apa gak menjengkelkan.
   
  Mulai hari ini aku harus benar-benar bisa menepati janji untuk tidak 
ngetik-ngetik lagi di komputer ini tidak buka dan kirim mail lagi sebab ngetik 
pun yang baca cuma aku sendiri dan tidak bermanfaat untuk orang lain. Apa 
gunanya bikin susah diri sendiri, ngemis sana ngemis sini untuk senang-senang 
dan menghibur diri sendiri?
   
  Tri Tri, mbok ya ngacalah. Jangan niru teman-temanmu yang main internet. 
Mereka punya duit, Tri. Mereka bisa bayar ongkos internet tanpa harus ngemis 
seperti kamu. Mereka itu pejuang-pejuang yang berjuang untuk rakyat, untuk hari 
depan negeri ini. Sedang kamu ini apa Tri?  
   
  Tri, kamu selalu bilang bukan? Juga tiga teman akrabmu yang hilang tak tentu 
rimbanya dan mati tak tentu di mana kuburnya. Kamu Tri dan ketiga temanmu itu 
selalu bilang : “aku berjuang untuk diriku sendiri dan keluargaku  untuk 
mencapai kehidupan yang tenteram, aman, adil, makmur dan bahagia.”
   
  Betul, betul sekali. Kami bersemboyan berjuang utuk diri kami masing-masing, 
tidak untuk siapa-siapa dan kami tidak berani sesumbar seperti tong kosong yang 
bunyinya nyaring – berjuang untuk rakyat -, sebab kami memang bukan orang-orang 
yang angkuh, gemede dan sombong.
   
  Nah, karena kami tdak bisa berjuang mencapai cita-cita secara sendirian, maka 
kami mengajak orang lain  yang berkeinginan mencapai hari depan yang lebih 
baik. Kami sepakat  membentuk wadah yang namjnya organisasi.
   
  Ya, organisasi inilah yang kami gunakan sebagai alat pemersatu, seperti 
sebuah sapu lidi yang lidinya cerai-berai diikat dengan simpai rotan yang kuat. 
 Nah simpai itulah yang kami namakan organisasi. 
   
  Tugas sapu lidi yang sudah tersimpai dan terikat  erat menjadi sapu lidi yang 
tangguh ini tentu saja menyapu bersih semua sampah-sampah, yang orang Jepang 
menamakannya NINGEN NO KUZU – sampah masyarakat –
   
  Tentu saja sampah-sampah ini melawan tidak mau disapu bukan? Berkat 
kelihaiannya  simpai  rotan yang erat mengikat sapu kami ini diputuskan. Maka 
bercerai-berailah sapu lidi itu dan tidak bisa untuk menyapu lagi.
   
  Bahkan lidi-lidi yang cerai berai itu tidak berusaha menyatukan diri, bahkan 
menjauhkan diri dari siumpaiya dengan alasan, simpainya hanya tali plastic,  
simpainya bukan rotan dan macam-macam dalih. Lidi-lidi  ini lupa, bahwa tanpa 
ikatan atau simpai  sebatang lidi tidak akan bisa  digunakan untuk menyapu. Dan 
sampah semakin bertimbun-timbun. Kapan akan mulai menyapu?
   
  Tri, jangan merenung terus. Coba cerita sedikit tentang organisasi.
  Oh, itu toh.  
  Organisasi  menurut aku Tri Jompo ini adalah  suatu alat untuk mencapai 
sesuatu maksud. Bahasa Jepangnya SOSHIKI. Orang yang mempunyai tujuan yang sama 
bergabung menjadi anggota organisasi itu. 
   
  Karena itu organisasi pasti mempunyai peraturan dasar, bahwa pimpinan atau 
yang memimpin organisasi itu harus dipilih oleh anggotanya. Dari yang paling 
bawah sampai yang paling atas harus dipilih.  Dan berlaku kritik dan otokritiuk 
dari bawah samai ke atas.
  Mengapa?
   
  Karena pimpinan organisasi tidak boleh bertindak semau dirinya sendiri. 
Segala sesuatu harus dirndingkan dan diputuskan bersama. Dan setiap keputusan 
harus dilaksanakan bersama.  Tidak boleh ngomel atau gerutu di luar organisasi, 
sebab itu merusak persatuan. 
  Boleh mengkritik tapi harus dalam forum diskusi di tiap pertemuan2 
organisasi. Dan harus ada pertemuan periodik.
   
  Tri, teman-temanmnu kan orang-orang pintar. Kenapa mesti nulis renungan 
seperti itu sih?
   
  Bukan, bukan apa-apa,  bukan kok aku ingin menggurui.  Aku cuma sedih karena 
banyak teman yang  memisahkan diri dari organisasi. Dan alasannya sangat naïf, 
yaitu tidak setuju dengan siksp pimpinan, Ya kalau tidak setuju ya kritik dong 
dan luruskan.  Dalam persidangan  bisa dipilih pimpinan baru yang lebih baik.  
Tapi tetap dalam bingkai organisasi. Kalkau sudah memisahkan diri dari 
organisasi mana bisa mengkritik dan meluruskan.
   
  Seseorang bisa diangkat jadi pimpinan kan atas pilihan bersama. Bukan 
mengangkat dirinya sendiri bukan? Sebab organisasi bukan kerajaan yang rajanya 
bisa menetapkan putra mahkota sebagai pengganti dirinya.
   
  Satu hal yang perlu diingat, “aku berjuang untuk diriku sendiri dan 
keluargaku. Bukan untuk siapa-siapa. Jadi tidak perlu menyesal kalau menemui 
kegagalan sebab prinsipnya adalah untuk kepentingan diri sendiri.  Soal nanti 
hasilnya dinikmati bersama, bukankah itu  juga berarti dinikmati diri 
masing-masing? 
   
  Dasar Tri Jompo yang jompo. Empat hari lagi tanggal 20 mulai pusing lagi 
hubungi adik misan, dan famili-famili untuk ngemis, ya?
  Jangan mengharap adanya solidaritas, teman-temanmu juga orang-orang susah dan 
penganggur seperti dirimu.
   
  Mulai besok harus stop tidak buka komputer lagi. Komputer yang bikin hatiku 
gembira bisa berkomunikasi, juga bikin diriku susah, ya.  Ah malu aku, jadi 
PENGEMIS.  Apa aku benar anaknya pak Ramidjo? Masak jadi pengemis. Salahmu 
sendiri berjuang saja kok bergabung dengan orang lain? Sendirian saja kan gak 
bakal masuk tahanan.
   
  Gak, ogah ah. Aku tidak menyesal kok,  walau kini aku jompo dan jadi pengemis 
yang di-enyek dan diejek teman-teman yang servive, biarlah. 
  Teman-teman yang bisa pulang balik ke luar negeri saja masih bilang hidupnya 
susah.
   
  Aku harus bersyukur, hari ini aku masih minum obat dan besok sehari masih ada 
obat tekanan darah tinggi.  Dan lusa? Tak usah pikir untuk lusa, siapa tahu 
besok ada rezeki kan bisa beli obat.
   
  Allah sudah memberikan yang terbaik untuk hari ini dan semoga besok dan 
seterusnya Allah akan memberikan yang lebih baik.
  Terima kasih nyamuk. Kamu gigiti terus dan aku stop sampai di sini.
  Minyak tanah susah didapat nyamuk, jadi aku gak bisa yemproti kamu.
  “Rasain, aku kenyang gigiti kamu.  Manis kok darah kakek2 jompo. Sama rasanya 
dengan darah bayi merah bahkan lebih gurih.” Kata sang nyamuk.
  Semoga saja aku bisa menahan diri untuk tidak kirim dan buka mail lagi mulai 
besok supaya tidak bersusah payah mengemis duit untuk bayar telepon.  Malu kan 
diomeli terus.
   
  Tangerang,   Selasa Legi 17 Juni 2008.-     
  ---------------------------------------------------
      
   
                                                                                
                                                                                
                     
        
  
  


      



http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan


  http://herilatief.wordpress.com/

http://akarrumputliar.wordpress.com/







       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke