Jurnal Sairara
 
 
Kepada Saudara Taufiq Ismail
 
 

 
15.   REPUBLIK DAN INDONESIA SEBAGAI CITA-CITA. 
 
 
6.  "Selepas  dua perang saudara, akibatnya sebagai bangsa kita masih saling 
mendendam. Penyebabnya dua orang. Kedua orang ini masih mengulurkan rantai 
dendam yang panjang dari kuburan mereka melintasi Perang Dingin, satu dari 
London (Marx), satu lagi dari Moskow (Lenin). Rantai dendam sepanjang itu masih 
membelit tubuh bangsa kita". 
 
 
7. "Bagaimana akan akan maju dalam  peradaban   bila sebagai bangsa kita masih 
saling mendendam? Saya serukan pada mahasiswa yang hadir, yang terpengaruh 
ideologi usang-lapuk ini agar membuangnya, karena wacana ideologi abad 19 ini 
sudah kuno ke mana-mana, terbukti gagal total di seluruh dunia, dan berbau 
amis-hanyir 120 juta mayat korbannya. Ideologi ini sudah terbukti keropos. Yang 
mau mengusungnya pasti cuma karena  memikul beban dendam". Demikian Saudara 
Taufik Ismail menulis dalam alinea ke-6 dan ke-7. Alinea-aliena ini , aku 
berikan nomor  untuk memudahkan komentar dan mencegah salah hitung alinea. 
 
 
Komentar terhadap dua alinea di atas, aku mulai dengan alinea ke-7 yang 
sebagian sebagian besar masalah sudah pernah kusinggung dalam bagian-bagian 
terdahulu terdahulu, misalnya mengenai seruan Saudara Taufiq Ismail kepada  
"....mahasiswa yang hadir, yang terpengaruh  ideologi  usang-lapuk ini agar 
membuangnya, karena wacana ideologi abad 19 ini sudah kuno ke mana-mana, 
terbukti gagal total di seluruh dunia, dan berbau amis-hanyir 120 juta mayat 
korbannya. Ideologi ini sudah terbukti keropos". 
 
 
"Yang mau mengusungnya pasti cuma karena  memikul beban dendam". Menyerukan 
adalah hak seseorang, sebagaimana hak orang lain pula untuk memilih pandangan 
dan bersikap, apalagi jika sama-sama mengakui bahwa kita sama-sama anak negeri 
dan bangsa yang disatukan oleh rangkaian nilai republiken dan 
Indonesia. Indonesia yang senyatanya memang sangat bhinneka tapi diikat oleh 
rangkaian nilai republiken dan Indonesia juga. Dalam hubungan ini, kukira apa 
yang diajukan oleh  Goenawan Mohamad [GM] dalam Catatan Pinggir-nya berjudul: 
"Indonesia",  dalam Majalah Tempo bulan Juni ini, kukira menarik direnungkan 
[lihat: Lampiran].  Di Catatan Pinggir tersebut GM antara lain menulis: 
 
 
"Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan 
meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda 
untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada 
sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna--dengan mengklaim 
diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di 
Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi".
 
 
Secara jalan atau cara berpikir, aku ingin bertanya apakah seruan Saudara 
Taufiq Ismail di atas merupakan cara terbaik " merawat sebuah keanekaragaman"?  
Apakah seruan dan cara berpikir Saudara Taufiq Ismail memberikan peluang bagi  
terciptanya  keniscayaan bagi suatu"sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha 
memperbaiki keadaan", apalagi untuk mewujudkan seruan "perdamaian total"?  
Apakah seruan Saudara Taufiq Ismail sesuai dengan Republik dan Indonesia 
sebagai cita-cita, jika memberikan sedikit varian pada pendapat GM? 
 
 
Dalam sejarah negeri dan bangsa ini, terutama sejarah negara yang bernama 
Republik Indonesia, jika kita cermat dan mau mengakuinya,  kebhinnekaan ini pun 
nampak juga dalam aliran-aliran pikiran dan pandangan hidup. Ada kejawen, ada 
pandangan hidup-mati manusia Dayak, Kubu, Batak, Papua, Bugis, Madura,  dan 
lain-lain....  
 
 
Keragaman aliran pikiran ini pada usia 23 tahun dirumuskan oleh Bung Karno 
secara singkat dirumuskan oleh  Bung Karno dalam istilah "nasakom" --- yang 
ketika ia menjadi Presiden diterapkan menjadi politik Nasakom. Aku kira 
Pancasila pun berangkat dan dilahirkan oleh kemajemukan masyarakat negeri kita 
sebagai kenyataan, disamping mengacu pada pengalaman negeri-negeri lain, antara 
lain  Tiongkok melalui wacana San Min Chu I dari Dr. Sun Yat Sen dengan Kuo Min 
Tang-nya dalam usaha beliau membangun Republik Tiongkok. 
 
 
Adanya keragaman pandangan dan aliran pemikiran dalam masyarakat kita, 
membuatku tertarik pada usul Luc Ferry, filosof Perancis  dan mantan Menteri 
Pendidikan Nasional Perancis pada masa pemerintah Jean-Pierre Raffarin ketika 
Jacques Chirac menjadi presiden,  yang mengusulkan agar di sekolah-sekolah 
Perancis [mulai dari SMP dan SMA], diajarkan sejarah pemikiran di Perancis dan 
di dunia dan bukan mata pelajaran filsafat seperti yang diajarkan sejak tahun 
1808  sampai sekarang [lihat: Harian La Croix, Paris, 13 Juni 
2008]. Membaca usul Luc Ferry yang dikemukakan dalam rangka reformasi dunia 
pendidikan dan menghadapi ancaman "uang adalah raja" serta globalisasi 
kapitalis yang memperbudak manusia yang menciptakan uang itu,  terlintas dalam 
benakku, mengapa tidak dalam kerangka pelajaran civic atau sejarah, sejarah 
pemikiran dari masa ke masa juga di ajarkan di sekolah-sekolah negeri kita. 
Barangkali melalui mata pelajaran ini, anak didik tidak hanya
 diarahkan tahu dan menguasai masalah tekhnik praktis atau tekhnologi, tapi 
juga diarahkan untuk menjadi manusia yang manusiawi, republiken dan 
berkeindonesiaan. Bahwa manusia, jika menggunakan pandangan manusia dahulu 
adalah "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang putera-puteri naga] yang 
nilai hidup-matinya ditakar oleh keberhasilannya memberi sumbangan 
memanusiawikan diri, manusia, kehidupan dan masyarakat. Singkatnya pendidikan 
berusaha menjadikan  anak manusia, anak didik, menjadi manusawi dan ahli yang 
mampu "manutung matan andau bulan pambelum", istilah Dayak untuk mengatakan 
manusia yang mampu menyulutkan  cahaya pada matahari dan bulan. Bukan menjadi 
jipen [budak] kekinian yang terselubung sutera kemerlap ke-semu-an. Dengan 
pemikiran ini, mengingat arti penting pendidikan dalam   melahirkan manusia 
Indonesia yang republiken dan berkindonesiaan -- sebagai bagian dari 
puteri-puteri bumi -- barangkali kita -- penyelenggara negara, cq
 Menteri Pendidikan Nasional -- perlu memikirkan penataan ulang kurikulum.  
 
 
Mengenai masalah  "..... ideologi usang-lapuk",   "Ideologi ini sudah terbukti 
keropos", tentang soal ini pun sebenarnya di bahagian terdahulu sudah 
kutanggapi dengan contoh-contoh baik secara penterapan mau pun secara wacana. 
Hanya di sini, karena aku menggunakan metode menanggap alinea-alinea per alinea 
,  tidak secara keseluruhan,  aku masih ingin menambahkan masalah perkembangan  
pemikiran di kalangan gerakan kiri dengan mengangkat beberapa contoh mutkahir. 
Tujuanku untuk mencoba menanggap pendapat Saudara Taufiq Ismail mengenai "usang 
lapuk", "keropos"nya ideologi Marxis dan pandangan kiri lainnya sebagai varian 
dari Marxisme, sambil bertanya kembali kepada Saudara Taufiq Ismail: Ideologi 
apa gerangan yang menurut beliau tidak usang lapuk dan keropos serta langgeng 
yang layak dijadikan pegangan berbangsa, bernegeri dan bernegara? Apakah 
militerisme ala Orba? Sejauh ini, Saudara Taufiq Islmail tidak menawarkan 
alternatif apa-apa, sampai-sampai
 dan kecuali berkata "Aku Malu Menjadi Indonesia" serta mencerca Marxisme 
menggunakan data Courtois saja . Apakah "Malu Menjadi Indonesia" adalah suatu 
jalan keluar alternatif yang manusiawi dan memanusiawikan ,  tidak "lapuk" dan 
"keropos"? 
 
 
Aku merindukan "perdamaian total", aku merindukan bangsa dan negeriku menjadi 
republiken dan berkeindonesiaan sebagai titik pijakan menjadikan diri anak bumi 
sesuai konsep "rengan tingang nyanak jata". "I want to live!" , seru Susan 
Hayward dalam salah satu filemnya sebelum ia dibunuh sedangkan kesalahannya tak 
terbukti. "I want to live" sebagai "rengan tingang nyanak jata" di negeri 
kelahiran.  Kalau Marthin Luther berseru ketika berjuang merebut civil rights 
[hak-hak sipil] di Amerika Serikat: "I have a dream", and this is my dream, my 
dear Taufiq Ismail.  Let's live together. Ini adalah mimpiku Saudara Taufiq 
Ismail yang baik. Mari kita hidup bersama memanusiawikan diri, manusia, 
kehidupan dan masyarakat. Sepakat bukan? Rawé-rawé rantas, malang-malang 
putung, ke arah ini. Kalau "perdamaian total"  sebuah puncak gunung, maka untuk 
sampai ke puncak tinggi itu, aku teringat akan larik-larik puisi  Mao Zedong 
ketika mengawali Long March ribuan
 li-nya sebelum tiba ke Yen An:
 
"jangan katakan kami pahlawan sejati
jika tak sampai ke puncak itu"
 
 
 Mengapa kita tidak berkata demikian untuk menuju puncak "perdamaian total" 
yang Saudara usulkan? ***
 
 
Paris, Juni 2008
----------------------- 
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris. 
 
 
[Bersambung......]
 
 
Lampiran

Indonesia

Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen 
dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: “SBY Pengecut!”

Yang membacakannya Abu Bakar Ba’asyir, disebut sebagai “Amir” Majelis Mujahidin 
Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme. Yang bikin 
statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang dalam tahanan 
polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir.

Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan dengan gampang. 
Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, dijebloskan ke dalam sel 
pengap, atau dipancung.   

Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir! Ini bukan Turki 
abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun 2007.

Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang tahanan boleh 
dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak dianggap bersalah 
sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan membuat maklumat, bahkan 
mengecam Kepala Negara.

Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan dengan hati-hati--karena 
para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan berendah hati dan beradab. Berendah 
hati: mereka secara bersama atau masing-masing tak boleh meletakkan diri 
sebagai yang mahatahu dan mahaadil. Beradab: karena dengan kerendahan hati itu, 
orang yang tertuduh tetap diakui haknya untuk membela diri; ia bukan hewan 
untuk korban.

Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan Ba’asyir, sebab itu pelik. 
Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan mutlak kepada hakim, jaksa, 
polisi--juga tak bisa digantungkan kepada kadi, majelis ulama, Ketua FPI, atau 
amir yang mana pun.  Keadilan yang sebenarnya tak di tangan manusia. 

Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: kita percaya kepada 
yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia Yang Maha Sempurna yang kita 
ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. Dengan kata lain, iman adalah 
kerinduan yang mengakui keterbatasan diri. Iman membentuk, dan dibentuk,  
sebuah etika kedaifan.

Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai di 17 
ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat ketimbang bertolak dari 
kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk membuat 220 juta orang tanpa 
konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk punya cara terbaik mengelola 
sengketa.

Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita gagal. Saya baca 
sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang disusun oleh 
orang-orang Indonesia yang prihatin: ”… ternyata, sejarah Indonesia tidak bebas 
dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan Darul 
Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an. Sejarah kita 
menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1998, konflik antargolongan di 
Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua, sampai dengan 
pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, Munir.”

Ingatkah, Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara 
berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita 
menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri paling 
benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau agar 
Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut 
“bhineka-tunggal- ika”. Saya mengimbau agar Saudara juga merawat rahmat itu.

Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan 
meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda 
untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada 
sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna--dengan mengklaim 
diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di 
Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi.

Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.

Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya--dan itulah yang 
membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.

Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, adalah buah sejarah dan 
geografi tanah air ini--di mana perbedaan diakui, karena kebhinekaan itu takdir 
kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan.

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik dari tradisi lokal, 
“gotong-royong”. Kata itu kini telah terlalu sering dipakai dan disalahgunakan, 
tapi sebenarnya ada yang menarik yang dikatakan Bung Karno: “gotong-royong” itu 
“paham yang dinamis,” lebih dinamis ketimbang “kekeluargaan” .   

Artinya, “gotong-royong” mengandung kemungkinan berubah-ubah cara dan 
prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang satu ikatan 
primordial, ikatan “kekeluargaan” . Sebab, ada tujuan yang universal, yang bisa 
mengimbau hati dan pikiran siapa saja--“yang kaya dan yang tidak kaya,” kata 
Bung Karno, “yang Islam dan yang Kristen”, “yang bukan Indonesia tulen dengan 
yang peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”

“Gotong-royong” itu juga berangkat dari kerendahan hati dan sikap beradab, 
sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan membawa nama 
Tuhan--atau justru karena membawa nama Tuhan--siapa pun, juga Saudara Ba’asyir 
dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan yang disebut Bung Karno sebagai 
“egoisme-agama.”  

Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun kita tahu, tanah air 
ini akan jadi tempat yang mengerikan jika “egoisme” itu dikobarkan. Pesan 1 
Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: “Hendaknya negara Indonesia ialah 
negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa.”

Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara Shihab dan Ba’asyir. 
Ataukah bagi  Saudara ia tak punya arti apa-apa?

Goenawan Mohamad 
 
[Sumber: Nugroho Dewanto, in "milis mediacre, 17 Juni 2008]  


      Find great new restaurants - Yahoo! Singapore Search.
http://sg.search.yahoo.com/search?p=restaurant+reviews&cs=bz&fr=fp-top

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke