Rabu, 18 Juni 2008
Berita Utama - Jatim
SOAL RADIUS KESUCIAN PURA
Pro-Kontra Kembali Bergolak
Nyaris terjadi bentrokan antarmassa. 
DENPASAR -- Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Bali Pertiwi 
kemarin unjuk rasa meminta penegakan peraturan daerah tentang radius kesucian 
pura.

Semula unjuk rasa hendak digelar di kantor Bupati Badung di daerah Sempidi, 
tapi ribuan massa penentang menghadang. Untuk menghindari bentrokan, unjuk rasa 
dialihkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bali di kawasan Renon, Denpasar, 
sekitar 10 kilometer dari Sempidi.

"Kami tidak mau terjadi bentrok antar-rakyat, sedangkan pejabat lari dari 
tanggung jawabnya," kata Ketut Mandiranatha, koordinator aksi. Dia menuding 
massa penghadang dikerahkan oleh bupati.

Massa disambut Ketua Dewan Ida Bagus Putu Wesnawa didampingi sejumlah wakil dan 
pemimpin komisi. Di hadapan para petinggi wakil rakyat, Mandiranatha, yang juga 
anggota lembaga wakil rakyat Bali itu, mengatakan tujuan aksi ini adalah agar 
semua pihak menghormati dan menegakkan bhisama atau keputusan yang telah 
dikeluarkan Parisada Hindu Dharma Indonesia, organisasi tertinggi umat Hindu.

Bhisama yang mengatur radius kesucian pura tersebut telah diadopsi dalam 
Peraturan Daerah Bali Nomor 3 Tahun 2005. Maka, menurut Mandirantha, seluruh 
bangunan, termasuk vila dan sarana wisata, yang berada dalam radius terlarang, 
yang diduga kuat bisa mengotori kesucian pura, harus dibongkar.

Dalam pernyataan tertulis, aliansi yang didukung Wahana Lingkungan Hidup Bali 
ini mendesak dilakukan penegakan hukum dengan mencabut izin yang telah 
dikeluarkan. Apalagi sudah terbukti sejumlah vila juga merusak lingkungan 
karena melanggar garis sempadan pantai, memotong jurang, dan mengalihkan jalur 
hijau.

Sebagai solusi, aliansi meminta dilakukan penukaran tanah masyarakat di sekitar 
Pura Uluwatu dengan tanah negara di luar kawasan suci. Tanah di sekitar Pura 
dihutankan kembali. Pemerintah Daerah Bali ataupun pemerintah Badung juga 
diminta memberikan keringanan pajak kepada pemilik tanah di sekitar pura.

Ida Bagus Putu Wesnawa menyatakan dukungannya terhadap tuntutan mengembalikan 
kesucian pura. Menurut dia, fasilitas seperti hotel, vila, restoran, dan kafe 
sangat rawan dengan perbuatan yang membuat Bali leteh (kotor), seperti seperti 
perzinaan, mabuk-mabukan, perjudian, dan penyalahgunaan narkoba. 

"Mengapa bom meledak di Sari Club dan Paddy's? Karena tempat itu adalah tempat 
yang leteh," katanya. Semua rakyat Bali harus menolak upaya perusakan kesucian 
pura.

Setelah rombongan Mandiranatha bubar, ratusan massa penentang bhisama 
mendatangi Dewan. Mereka berteriak-teriak meminta Mandiranatha menghadapi 
mereka. Massa pun mengecam Dewan karena dianggap mendukung penegakan bhisama. 
Aksi para pengunjuk rasa memancing emosi Made Arjaya, Ketua Komisi I, yang 
menerima kedatangan massa. "Bhisama itu untuk masa depan Bali," katanya. Ia 
bahkan sempat membuka baju menantang massa yang tetap menuntut penolakan 
bhisama.ROFIQI HASAN

sumber : koran tempo
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Koran Digital" Google 
Groups. 
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [EMAIL PROTECTED] 
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] 
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/koran-digital?hl=id 
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke