http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/what-is-indonesian.html

Tatkala mengikuti acara BEDAH BUKU novel PUTRI CINA karangan Sindhunata, aku 
terpikat pada ide John A. Titaley, salah satu pemakalah, mengenai REDEFINING 
INDONESIA. Tatkala Soekarno dan M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa 
kita yang kemudian diberi nama INDONESIA, seharusnya sejak itulah kita tak lagi 
mengkotak-kotakkan diri sebagai “Orang Jawa”, “Orang Batak”, “Orang (keturunan) 
Cina”, “Orang Ambon”, dll. Karena kita semua adalah ‘orang baru’, bangsa baru, 
yakni bangsa Indonesia.
“What is an Indonesian?” tanya Titaley.
“Find the answer in our Constitution, UUD 1945. Para ‘founding fathers’ yang 
termasuk dalam lembaga BPUPKI pada waktu itu telah memberikan definisi bangsa 
Indonesia yang tertulis dalam UUD 1945. Mereka adalah orang-orang Nasionalis 
sejati, yang berpikir dalam kerangka nasional, bukan kedaerahan, golongan, 
apalagi berdasarkan agama tertentu. Namun sayangnya, para ‘cerdik cendikia’ 
setelah era ‘founding fathers” kita, yang kemudian menuliskan beberapa bagian 
di amandemen, justru malah bersifat ekslusif kedaerahan, ataupun keagamaan, 
membuat masalah perbedaan menjadi runcing. Akibatnya, kerusuhan akibat SARA pun 
terjadi dimana-mana.”
“Seandainya kita benar-benar mendirikan bangsa INDONESIA, sesuai seperti yang 
didefinisikan oleh para pendiri bangsa kita itu, tidaklah mustahil kalau 
kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh SARA tidak akan terjadi lagi. Juga 
seperti yang digambarkan di dalam novel PUTRI CINA.”
Saat mendengarkan penjelasan Titaley, aku teringat apa yang ditulis oleh St.. 
Jean de Crevecoeur (1735-1813) dalam eseinya yang berjudul “What is an 
American?” Berikut ini aku kutipkan sebagian kecil dari tulisan Crevecoeur:

    What is the American, this new man? He is either a European, or the 
descendant of a European, hence that strange mixture of blood, which you will 
find in no other country. I could point out to you a family whose grandfather 
was an Englishman, whose wife was Dutch, whose son married a French woman, and 
whose recent four sons have now four wives of different nations. He is an 
American, who, leaving behind him all his ancient prejudices and manners, 
receives new ones from the new mode of life he has embraced, the new government 
he obeys, and the new rank he holds.
    (The Norton Anthology of American Literature, 3rd edition, 1989, page 561)



Buku UUD 1945 yang kumiliki waktu aku sedang sekolah mungkin telah hilang 
dibawa banjir bandang yang melanda daerah tempat tinggalku pada bulan Januari 
1990, sehingga aku tidak bisa mengecek apa yang dikatakan oleh Titaley, untuk 
mencari tahu definisi bangsa Indonesia menurut para pendiri bangsa kita.
Namun, seandainya ada seseorang yang menulis “What is an Indonesian?”, dengan 
mengambil ide yang ditulis oleh Crevecoeur, yang mengusung ide ‘nasionalisme’ 
dan bukan ‘kedaerahan’, that would be great.

    “Orang Indonesia mencakup segala etnis dan agama yang ada di bumi 
Nusantara. Sang ayah mungkin adalah seseorang yang berdarah Manado (yang 
mungkin saja memiliki darah Belanda di tubuhnya) beragama Kristen, yang menikah 
dengan seorang perempuan Jawa (Islam Kejawen). Mereka memiliki tujuh orang anak 
yang menikah dengan orang Batak (Katolik), Sunda (Islam), Papua (Kristen), Bali 
(Hindu), keturunan Cina yang tinggal di Kalimantan (Buddha/Kong Hu Chu), 
keturunan Arab (Islam), dan Ambon (Kristen/Katolik).”



Ketika semua perbedaan itu hadir menjadi satu, dalam sebuah keluarga besar yang 
harmonis, saling menghormati, menyayangi, menerima apa adanya, maka kita tak 
perlu lagi dihantui akan terjadi kerusuhan atau tindakan sewenang-wenang karena 
merasa lebih baik, apalagi hanya karena merasa diri merupakan bagian dari 
mayoritas.
PT56 22.30 100608


Minds are like parachutes, they only function when they are open.   (Sir James 
Dewar)
visit my blogs please, at the following sites
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com

THANK YOU
Best regards,
Nana



      

Kirim email ke