Jurnal Sairara
 
 
Kepada Saudara Taufiq Ismail
 
 

 
16 .   REPUBLIK DAN INDONESIA SEBAGAI CITA-CITA. 
 
 
6.  "Selepas  dua perang saudara, akibatnya sebagai bangsa kita masih saling 
mendendam. Penyebabnya dua orang. Kedua orang ini masih mengulurkan rantai 
dendam yang panjang dari kuburan mereka melintasi Perang Dingin, satu dari 
London (Marx), satu lagi dari Moskow (Lenin). Rantai dendam sepanjang itu masih 
membelit tubuh bangsa kita". 
 
 
7. "Bagaimana akan akan maju dalam  peradaban   bila sebagai bangsa kita masih 
saling mendendam? Saya serukan pada mahasiswa yang hadir, yang terpengaruh 
ideologi usang-lapuk ini agar membuangnya, karena wacana ideologi abad 19 ini 
sudah kuno ke mana-mana, terbukti gagal total di seluruh dunia, dan berbau 
amis-hanyir 120 juta mayat korbannya. Ideologi ini sudah terbukti keropos. Yang 
mau mengusungnya pasti cuma karena  memikul beban dendam".  
 
Taufiq Ismail. 
 
 
Aku masih ingin berbicara tentang ideologi "usang lapuk" dan "kropos" yang 
dibicarakan oleh Saudara Taufiq Ismail dalam alinea  ke-7 respons bagian 
pertamanya.  Cara yang terbaik, sebenarnya adalah menuturkan masalah secara 
historik. Tapi tentu saja jika dilakukan secara rinci akan akan menjadi sangat 
panjang, walau pun dalam hatiku aku sangat ingin melakukannya. 
 
 
Istilah "usang-lapuk" dan "kropos" mengesankan padaku bahwa ideologi dan dunia 
pemikiran itu tidak berkembang. Statis! Secara umum, apakah dunia 
pemikiran berada dalam keadaan statis? Pemikiran-pemikiran di kalangan orang 
beragama pun, agama apa saja, umumnya berkembang dari masa ke masa sehingga 
melahirkan adanya   agama-agama baru. Protestan Luhter adalah pecahan dari 
Katolik, misalnya.  Apakah di agama Islam tidak terdapat cabang-bang begini? 
Aku hanya bisa memahami adanya cabang-sabang begini tidak lain dari pertanda 
bahwa segalanya berkembang. Perkembangan atau gerak yang tak terelakkan karena 
zaman pun berobah menantang manusia. Demikian juga di kalangan orang-orang 
Marxis dan Sosialis. Leninisme, Fikiran Mao Zedong, sebagai misal, kukira 
adalah perkembangan dan cabang dari Marxisme. Sosial-demokrat, Trotkisme, 
Bakuninisme, Althuserisme, focusisme  dan lain-lain .... kukira hanyalah ujud 
dari perkembangan yang terjadi  di dunia
 pemikiran. Yang "usang-lapuk" dan "kropos" hanyalah ide-ide yang tidak 
berkembang dan menjadikan ide-ide itu dogma mati  serta langeng sehingga tidak 
mampu tanggap zaman dan apresiatif. Barangkali ini pulalah sebabnya maka Partai 
Komunis Perancis yang tadinya merupakan kekuatan politik kedua terbesar sesudah 
RPR-nya Charles de Gaulle lalu sekarang menjadi merosot dan terus merosot dalam 
pemilu. Teori pra-sosialisme yang dicanangkan di RRT berikut teori 
"pasar-sosialisme"-nya menunjukkan perkembangan di dunia pemikiran setelah 
menyimpulkan pengalaman periode Mao Zedong hingga reformasi Deng Xiao-ping.  
Belum lagi jika kita memperhatikan praktek Partai Komunis Nepal di tahun 2008 
yang sudah melepaskan perjuangan bersenjata dan menempuh jalan parlementer,   
pengalaman di negeri-negeri Amerika Latin , mulai dari Hugo Chavez  melalui 
Luka hingga Morales dan Paraguay  di mana Lopez Perito , komandan gerilya 
Marxis melawan diktator Alfredo  Stroesner
 ditunjuk  oleh presiden Fernando Lugo sebagai Perdana Menteri [lihat : Harian 
La Croix, Paris, 16 Juni 2008] --- dengan kekecualian FARC sampai hari ini  
[sekalipun sudah dinasehati oleh Hugo Chavez untuk menempuh jalan perjuangan 
lain dari perjuangan bersenjata --Lihat: bagian terdahulu].  Sejalan dengan 
pikiran dan anjuran Hugo Chavez ini, Partai Sosialis Perancis dalam Pernyataan 
Prinsip" yang dikeluarkan setelah pertemuan "Convention Nationale"mereka bulan 
ini menegaskan juga bahwa "perobahan masyarakat tidak lagi dilakukan dengan 
revolusi" tapi melalui " reformasi" dan Apakah pandangan dan sikap-sikap ini 
bukannnya menunjukkan bahwa di di kalangan kaum Marxis dan kiri terdapat adanya 
perkembangan perobahan "ekonomi sosial dan pasar ekoplogi". Lebih jauh Bertrand 
Delanoë yang mencalonkan diri sebagai sekjen Partao Sosialis Perancis pengganti 
François Holland, mengetengahkan konsep "liberal-sosial" sebagai konsep yang 
dianggapnya tanggap zaman
 dan apresiatif. [Lihat: Harian Le Monde Direct Matin, Paris, 16 Juni 2008].  
 
 
Perkembangan di Italia, lebih jauh lagi. Partai Komunis Italia malah bergabung 
dengan partai-partai yang  semasa Togliati dipandang sebagai partai borjuasi. 
Di Jerman pun agaknya demikian yang terjadi antara Sosial Demokrat dan Kristen 
Demokrat untuk menangani masalah masyarakat Jerman sekarang. Artinya di Eropa 
Barat, agaknya patokan dan teori lama sudah ditinggalkan. 
 
 
Pada   pihak golongan kanan, masalah perkembangan ini pun terjadi. Dalam 
kampanye presidensial tahun 2002, Jacques Chirac, yang tergolong kanan,  
mengetengahkan program yang relatif sama mendekati program kiri hingga para 
pemilih akhirnya memilih lebih dengan emosi karena dari segi program sulit 
dibedakan. Hal ini terjadi karena kalangan kanan punj dalam sistem demokratik 
tidak bisa mengabaikan tuntutan dan kepenitingan masyarakat.  Tuntutan dan 
kepentingan masyarakat memaksa golongan kanan terdorong ke kiri walau pun dalam 
pelaksanaan mereka terbentur. 
 
 
Di Perancis terjadi keadaan dan pemeo bahwa  kaum kanan merusak masyarakat, 
sedangkan kaum kiri kemudian menatanya ulang ketika mereka menjadi 
penyelenggara negara.
 
 
Apakah  dinamika ini tanda keusangan, kelapukan dan kekeroposan ideologi dan 
atau dunia pemikiran? Apakah masalah keusangan, kelapukan dan kekeroposan  
ideologi dan atau dunia pemikiran itu hanya  terbatas   pada kaum Marxis, 
kalangan kiri ataukah juga terjadi dan lebih-lebih lagi terjadi di kalangan 
kaum kanan atau konsevatif dan dogmatis?  Apakah teori "poros baikd an buruk" 
George Bush Jr bukannya suatu kelapukan, keusangan dan kekeroposan ide? Aku 
ingin mendapat penjelasan lanjut dari Saudara Taufiq Ismail tentang kelapukan , 
keusangan kekeroposan ideologi  Marxis dan kiri ini, jika Saudara Taufiq Ismail 
membaca perkembangan dan dinamika seperti di atas? Dogmatisme, keusangan, 
kerapuhan   dan kekeroposan terjadi baik pada  kalangan kiri dan mau pun 
golongan kanan. Orba Soeharto sebagai pengejawantahan  dari militerisme dan 
totalitarianisme, yang tadinya dibela dan diskong habis-habisan oleh oleh 
Saudara Taufiqs Ismail, menampakkan
 buktinya ketika ia berakhir secara formal  serta meninggalkan Indonesia dalam 
krisis majemuk bahkan berada di ujung tanduk sebagai isme yang rapuh  usang dan 
keropos yang kemudian dikutuk sendiri oleh Saudara Taufiq Ismail  . Salahkah 
kesimpulan ini? 
 
 
 Aku khawatir bahwa sikap mutlak-mutlakan, penyingkiran dan mengatakan ideologi 
ini dan itu usang, rapuh dan keropos, apalagi tanpa membaca perkembangan, 
merupakan buah kesimpulan dari pendekatan sangat simplistis. 
 
 
Karena itu, aku tetap  melihat bahwa kebhinnekaan, bukan pengabaian 
kebhinnekaan atau penyingkiran  masih memberikan jalan keluar bagi kita untuk 
mewujudkan Republik dan Indonesia sebagai sebuah cita-cita agung dan mulia.  
Pengujudan Republik dan Indonesia bagiku adalah sikap yang materialis, 
dialektis dan historis juga adanya, bukan pendekatan idealis dari filsafat. Ia 
juga jalan ke "perdamaian total" yang kongkret. Ataukah Republik dan Indonesia 
merupakan ide dan cita-cita usang, rapuh dan keropos?  
 
 
Adakah saran kongret lain dari Saudara Taufiq Ismail untuk mengejawantahkan 
saran beliau sendiri  tentang "perdamaian total" ini? Ataukah ini hanya satu 
jargon zamani saja? ***
 
 
Paris, Juni 2008
----------------------- 
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris. 
 
 
[Bersambung......]  


      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke