Selamatkan Islam dari Muslim Puritan

Pengarang : DR. Khaled Abdou El Fadl 
Review by : sya_fic 
Kunjungan : 187  kata: 900   Diterbitkan di: Desember 09, 2007 
ISLAM DALAM BAYANG-BAYANG PURITANISME 
  
Banyak yang menyatakan bahwa ISLAM agama damai, Islam agama rahmatan 
lilalamin, Islam agama penyejuk dan dain lain. Namun sebgain besar 
orang yang bukan pemeluk islam tidak mempercayai hal itu. Bahkan 
orang Islam sendiri  mulai skeptis mendengar ungkapan tersebut. 
Bahkan menganggap ungkatan tersebut sebagi slogan pemanis bibir saja. 
Sikap skeptis ini mucul seiring dengan munculnya berbagai peristiwa 
yang sangat bertolak belakang dengan ungkapan di atas. Peristiwa yang 
selalu membawa nama Islam dalam aktifitasnya namun sarat dengan 
kekerasan. Berbagai peristiwa seperti Bom WTC 11 September 2002, Bom 
Bali, Bom Hotel Marriot, Bom Dekat Kedubes Australia dan lain lain. 
Semua mengatas namakan Islam. Sehingga akan mejadi wajar muncul 
perilaku phobie terhadap Islam dan dunia Islam. 
  
Khaled Abou El Fadl, Guru Besar Hukum Islam UCLA AS telah menulis dan 
diterbitkan serta diIndonesiakan oleh Helmi Mustafa  Selamatkan Islam 
dari Mulism Puritan(2006) dari judul aslinya The Great Theft : 
Wrestling Islam from the Extrimists(2005). 

Dipaparkan oleh penulis bahwa di era modern ini pemikiran Islam telah 
terbelah menjadi dua yaitu Moderat dan Puritan. Dimana kaum moderat 
selalu mencoba mencari jalan tengah seandainya terjadi perbedaan cara 
pandang dengan cara dialog. Sementara kaum Puritan cenderung membuat 
klaim-klaim kebenaran dalam konteks tekstual absolut. Sehingga 
kontekstual benar-benar sangat dihindari. Sehingga amatlah sulit 
menciptakan suasana dialogis dengan kaum Puritan. 
  
Khaled membuat rincian  akar permasalahan dan asal muasal kaum 
Puritan dan Puritanisme modern. Dipaparkan ada dua kelompok yang 
sangat mempengaruhi cara berpikir kelompok Puritan yaitu, kaum Wahabi 
dan Kaum Salafi. Kaum Wahabi adalah pengikut ajaran seorang fanatik 
abad ke-18 yaitu Muhammad Bin Abd al-Wahab (1792) yang menggagas 
bahwa ummat Islam telah melakukan kesalahan dengan menyimpang dari 
jalan Islam yang lurus dan hanya dengan kembali ke satu-satunya agama 
yang benar akan diterima dan mendapat ridha Allah serta membebaskan 
diri dari semua perusakan yang menggerogoti agama Islam seperti 
tasawwuf, tawassul, rasionalisme dan lain lain. Dan menutup semua 
pemikiran ataupun aktifitas yang tidak ada landasan tekstual dari 
Qur'an dan Sunni.  Konsep isolasi, eksklusivistas dan pemisahan yang 
pernah dijalankan oleh gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir merupakan 
reproduksi dari idiologi Wahabis Bahkan kaum Wahabi sangat membenci 
kaum non-muslim dan menegaskan agar mulism tidak berteman dengan non-
muslim. Sangat naif juga otoritas penjaga tanah suci Mekkah dan 
Madinah adalah kaum Wahabi yang cenderum memaksakan ortodoksi 
terhadap jamaah haji seluruh dunia. Sehingga mengakibatkan benturan 
dengan jamaah haji Afrikan dan Asia Tenggara. Sebagai contoh pada 
tahun 1926 kebencian kaum Wahabi terhadap semua instrumen musik 
melahirkan kemelut antara Mesir dan Arab, ketika prajurit Mesir yang  
memikul tandu seremonial membunyikan terompet  pada waktu haji 
diserang dan diganggu dan alat musik mereka dihancurkan. Memang kaum 
Wahabi melarang semua bentuk nyanyian dan tarian sufidi Mekah dan 
Madinah. 
  
Begitu pula Salafisme, yang didirikan pada akhir abad ke 19 oleh 
reformis muslim Jamauluddin Al-Afghani (1897), Muhammad Abduh (1905), 
muhammad Rasyid Ridha (1935) dan lain lain. Istilah Salafi adalah 
merujuk periode Nabi, para Sahabat dan Tabi'in. Sehingga gerakan ini 
mengklaim berasal dari autentitas Islam. Dengan semangat , bahwa umat 
Islam harus kembali mengikuti preseden-preseden Nabi dan para Sahabat 
yang mendapat petunjuk (al-salaf al-shalih) dan juga generasi awal 
yang saleh. Pada awalnya gerakan ini  cukup tolerans dengan berbagai 
perbedaan dan mazhab. Salafi tidak membenci mistisisme atau sufi. 
Ilmuawan Salafi gemar melakukan talfiq; memadukan beragam opini dari 
masa lalu demi memunculkan pendekatan yang baru terhadap problem-
problem yang muncul.  Walaupun ada perbedaan yang cukup menyolok 
antara Wahabisme dan Salafisme, di tahun 1970an lewat proses sosial 
politik yang kompleks kaum Wahabi melepaskan diri dari sejumlah 
bentuk yang ekstrim dan menggunakan simbol-simbol Salafisme. Sehingga 
kedua-duanya praktis menjadi sulit dibedakan. 

Yang cukup kental prinsip yang mereka jalankan adalan menutup pintu 
serapat-rapatnya penyelidikan sejarah secara kritis dan melarikan 
diri kerumah perlindungan teks yang aman. Mereka memandang diri 
mereka sebagai kelompok yang superior dan lebih unggul; pemikiran ini 
terus bertahan hingga kini. Mereka menganggap bahwa masyarakat muslim 
dewasa ini telah kembali kepada kondisi pra Islam (disebut Zaman 
jahiliyyah). Salah satu tokoh aktifis Ikhwanul Muslimin, Said Qutb 
yang menulis buku berjudul Ma'alim fi Thariq, yang isinya lebih 
sekedar upaya menciptakan konstruksi ideologi yang sangat fasis yang 
merupakan frasa-frasa daptasi dari karya-karya Carl Schmidt yang 
fasis Jerman. 
  
Begitu pula pada masa kini kaum Puritan terus hidup subur  dengan 
konsistennya mempromosikan ideologi supremasi, mereka merasa lebih 
unggul dan superior sebagai konsekuensi perasaan salah, tak berdaya , 
dan keterasingan desertai dengan sikap arogansi yang terkandung 
persasaan selalu benar ketike berhadapan dengan yang lain. Dan selalu 
memberu judgement  Barat, kaum ateis secara umum, Kaum Muslim pelaku 
bid'ah, atau bahkan kaum perempuan Muslim. 
  
Penulis juga mengajak seluruh komponen Muslim kembali merenungkan 
esensi Islam. Dengan lugas dan gamblang Khaled memaparkan dar segi 5 
rukun Islam, yang merupakan wahana yang cukup efektif mempertemukan 
semua kelompok dalam Islam.  Dan tidak akan ada perbincangan yanga 
sangat alot dengan lima rukun Islam ini. 
  
Disamping itu penulis juga menggambar ketimpangan pemikiran kaum 
Wahabi dan Salafi dalam memandang kaum perempuan. 
  
Buku ini layak dibaca bagi siapa saja yang menyukai kajian-kajian 
kritis dalam rangka membangun suatu pemikiran yang lebih baik dan 
dengan niat liLlah. 
  
Wassalam 
Wallahu'alam bi shawab 
  
Ahmad Syafiq bin Syekhabubakar 

Kirim email ke