Salam,


Bangsa ini merdeka dan tercerahkan karena kegigihan minoritas elite

Bangsawan RA Kartini adalah  minoritas elite

Tokoh-tokoh Pergerakan 1908 adalah minoritas elite

Tokoh Pers Tirto Adhisuryo adalah minoritas elite

Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta adalah minoritas elite

Bung Tomo juga merupakan bagian dari minoritas elite



Apa yang salah dari minoritas elite?

RA Kartini memikirkan dan menulis hal-hal yang tidak dipikirkan warga
mayoritas

Istri Bupati Jepara itu melakukan hal yang hanya dipikirkan minoritas elite

Saya tak membaca rinci buku-buku dan surat surat dari Pendekar Kaum Wanita
ini

Tapi dia memang tak mengungkap urusan rumahtangga dan urusan "dunia nyata"

Dan RA Kartini dikenangkan pikiran-pikirannya yang pada masanya dianggap
elite

Emansipasi, persamaan hak, yang dalam bahasa masa kini disebut sebagai
kesetaraan



Jadi apa yang salah dengan minoritas elite

Jika akhirnya dikenangkan sebagai visioner bagi bangsanya?



Bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka rukun, damai, dan toleran.

Sejak berabad-abad nenek moyang kita hidup berdampingan dengan saling
menghormati.

Para Wali berhasil men-Jawa-kan Islam Arab yang keras, intoleran,  menjadi
ajaran yang sejuk damai



Islam kini menjadi sangar dan brutal sejak munculnya habib-habib turunan
Arab
yang sebelumnya inferior dan gagal mengerjakan order para Jendral Orba, TNI
faksi Hijau
untuk membela dan mempertahankan B.J. Habibie sebagai presiden lanjutan
rezim Orde Baru
yang kemudian mengembangkan eksistensinya sebagai preman berjubah yang
berdalih
pembasmi kemaksiatan



Islam menjadi sangar sejak Abubakar Baasyir bekoar-koar tentang "Islam
kaffah"
yang mengembangkan gerakan Talibanisasi, Arabisasi,
dan begitu mudah mengkafirkan orang lain yang tak sepaham dengannya
"Gus Dur Kafir!", "Presiden Perempuan Haram!", "Ulil Absar Abdalla halal
darahnya…!!".
Seklularisme, Pluaralisme dan Liberalisme dilabeli Sepilis …



Islam menjadi brutal sejak MUI kemasukan dan terususupi  ormas-ormas
transnasional seperti HTI, Majelis Mujahidin, Taliban, dan entah apalagi….

MUI lalu memproduksi fatwa-fatwa intoleran yang mendorong aksi anarkis

Menggasak Ahmadiyah yang puluhan tahun hidup dan berkembang damai,

merusak gereja, mengganggu umat lain beribadah,  merusak kafe-kafe,
menghajar aktifis kelompok kiri dan entah apalagi ….


Mereka minoritas destruktif yang merusak tatanan dan komitmen bangsa
yang mayoritas telah bersumpah untuk Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa

dan menggelincirkannya menjadi Satu Agama (Islam).
 Penganut agama lain dianggap numpang dan wajib bayar pajak perlindungan!
Sebagaimana yang digagas Abubakar Baasyir yang hendak melanjutkan kebiasaan
Budaya Unta
di Arab Saudi sana, di zaman dulu kala …


Bangsa Indonesia sedang menghadapi masa kritis.
NKRI terancam. Komitmen Negara berazaskan Pancasila kembali diragukan.
Gagasan mengagamakan negara makin merebak.
Aturan syariah dikembangkan di mana-mana.



Serupa siklus, masa-masa kejayaan PKI di tahun 1960-an berulang lagi.
Posisi mereka digantikan oleh FPI dan Laskar Islam.
Siapa saja yang  beda pendapat dan beda aliran dipojokkan, diancam, digasak,
dianiaya…

Teror berlangsung di mana-mana …



PKI kini digantikan FPI …
Sementara para intelektual nya sibuk dibelakang mereka
mencari-cari pembenaran ...dengan ayat...dengan kitab... dengan sepenggal
ilmu pengetahuan

Tak peduli meski ketinggalan zaman

Bahkan 100 tahun lebih mundur dari intelektual sekelas RA Kartini

yang telah bertahun-tahun menjadi inspirasi bagi wanita negeri ini…..



Wassalam,





Dimas









On 6/19/08, Fahmi Faqih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Catatan kritis Dari Sirikit Syah di Majalah Sabili
>
> salam,
> fahmi faqih
> -----------------------------------------------------------------
>
>
> Dominasi Suara Minoritas Elite
>
> Belakangan ini kita dengar semakin gencar suara minoritas di berbagai
> forum, baik itu forum ilmiah (seminar, diskusi), rapat-rapat pemerintah dan
> perwakilan rakyat, maupun di media massa. Beberapa isu menonjol yang menjadi
> perhatian atau agenda kaum minoritas bersuara dominan itu antara lain: isu
> hak asasi umat Ahmadiyah, isu gender ketiga, dan isu poligami sebagai
> kriminalitas.
>
> Media massa kita, secara umum -maksud saya selain media massa berhaluan
> Islam seperti Republika, Suara Hidayatullah, dan Sabili-membela umat
> Ahmadiyah atas nama hak asasi manusia. Kata kunci yang kerap digunakan oleh
> para penulis di media massa ini adalah: pluralisme dan hak asasi manusia.
>
> Dengan cerdik substansi persoalan dibelokkan sedemikian rupa.
>
> Menyedihkan, mendengar dan membaca betapa persoalan-persoalan substansial
> telah dibelokkan oleh suara kaum minoritas elite yang menguasai dan
> mendominasi forum-forum ilmiah dan media massa. Kebebasan beragama tidak
> sama dengan kebebasan memplesetkan agama. Membela dan melindungi nyawa
> manusia Ahmadiyah adalah satu hal, melindungi Islam dari pemlintiran dan
> pembelokan adalah hal lain. Namun, inilah yang dilebur sedemikian rupa
> sehingga yang tampak di permukaan adalah kesewenangan MUI, kebrutalan
> sebagian rakyat Indonesia, dan teraniayanya umat Ahmadiyah. Bahwa umat
> Ahmadiyah bingung dengan jati dirinya sendiri, luput dari perhatian.
>
> Suara kaum minoritas elite juga bisa dengan mudah kita jumpai di media
> semacam Jurnal Perempuan. Meskipun namanya menggunakan perempuan, justru
> terjadi dekonstruksi makna perempuan oleh Jurnal Perempuan.
>
> Tidak ada ibu rumah tangga biasa -yang buta huruf- sukses menjadikan
> anak-anaknya sarjana. Tidak ada ibu ketua PKK sebuah kampung yang berhasil
> menghijaukan kampungnya. Tak ada istri dalam perkawinan poligami (pertama
> maupun kedua) yang sukses menjaga keharmonisan rumah tangganya. Yang ada di
> majalah berjudul perempuan itu hanyalah para perempuan single parent, wanita
> karier yang sukses, bahkan kaum lesbian yang berbahagia. Seorang tokoh
> perempuan beragama Islam bahkan mengatakan, Allah menilai seseorang dari
> ketaqwaannya, bukan orientasi seksualnya. Tokoh perempuan yang
> mengkriminalkan poligami dan mengesahkan kawin kontrak ini, tahun lalu
> mendapatkan penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat.
>
> Bila Jurnal Perempuan hanya menyuarakan suara perempuan minoritas semacam
> itu, dan sebagian besar majalah perempuan hanya memotret perempuan glamour
> dan kaum selebritis, di mana kita bisa menemukan kisah-kisah perempuan nyata
> di media massa? Mengapa tak banyak profil Siti Fadila Supari di media
> perempuan, padahal dialah yang paling patut disebut sebagai tokoh
> kebangkitan bangsa di tahun ke-100 kebangkitan nasional ini?
>
> Siti Fadila Supari. Tokoh Indonesia yang berani berkata Tidak! Kepada AS
> dan WHO, tidak takut apapun dalam memperjuangkan harkat dan martabat bangsa
> Indonesia di mata dunia. Dimana pula kita temukan profil tokoh seperti Ibu
> Yoyoh, dengan 12 anak bisa menjaga keharmonisan rumah tangga sambil aktif di
> dunia politik dan menerima penghargaan politikus wanita internasional?
>
> Sebetulnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling rukun, damai, dan
> toleran. Sejak berabad-abad nenek moyang kita hidup berdampingan dengan
> saling menghormati. Kehadiran para Wali juga tidak membuat penganut agama
> lain kalang kabut terusir dari wilayahnya. Islam Kejawen yang dipengaruhi
> tradisi Hindu, hidup subur di pedesaan-pedesaan. Mengapa sekarang menjadi
> runcing? Karena sebagian ingin menonjolkan diri dan berkampanye, bahkan
> mensosialisasikan keyakinan serta gaya hidup mereka secara terbuka. Sebagian
> dari kita menjadi tidak toleran, atau memanfaatkan toleransi umat secara
> sembarangan. Pluralisme dapat diterima, namun mengacak-acak syariat agama
> tak termasuk wilayah pluralisme. Menjadi gay, homoseks atau lesbian adalah
> urusan pribadi, tanggungjawabnya langsung kepada Tuhan, namun ketika paham
> ini dirayakan dan ditular-tularkan, di sinilah gesekan dan friksi terjadi.
>
> Sayangnya, umat Islam yang adalah mayoritas penduduk Indonesia, tak
> memiliki suara menggelegar, dan tak memiliki amplifyer untuk mengeraskan
> suara mereka. Di lain pihak, suara kaum minoritas yang kebetulan berada di
> posisi elit (para pemimpin media massa, para pemimpin perguruan tinggi, para
> tokoh publik), dengan mudah menyuarakan pandangan mereka melalui pengeras
> suara.
>
> Bagaimanapun, kita mesti ingat bahwa kebenaran tidak diukur dari suara
> mayoritas atau kedudukan puncak (elitisme). Kebenaran jelas ukurannya.
> Kebenaran agama adalah kitab suci, kebenaran negara ada pada hukum,
> peraturan dan badan pemerintah. Kebenaran sosial adalah norma masyarakat
> setempat. Bila rakyat tak patuh pada hukum agama, hukum negara, maupun norma
> masyarakat setempat, apa jadinya bangsa ini? Sebuah pertanyaan yang harus
> kita jawab dengan seksama.
>
>
>
>
> Sirikit Syah
>
> Mei 2008
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------------
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke