Ujian Nasional Lulus 100 Persen, Perpaduan antara Perjuangan dan Bibit Berkualitas
Selasa, 17 Juni 2008 | 12:05 WIB Meskipun tingkat kelulusan SMA/SMK/MA di DIY menurun, ada sekolah yang menorehkan prestasi sempurna. Input siswa yang secara akademik bagus jelas memudahkan sekolah negeri untuk membimbing. Menurunnya kelulusan diduga karena lebih banyak materi pelajaran yang diujikan. Namun, beberapa SMA menjadi perkecualian. Contohnya SMA 3 yang mencatat kelulusan 100 persen, alias 204 siswa. Sejak tahun ajaran 1999, kecuali tahun 2007, kelulusan selalu 100 persen. "Anak didik kami punya bakat, tetapi sekolah harus mampu mendorong dan memfasilitasi," ujar Kepala Bidang Kurikulum SMA 3 Maman Surahman, Senin (16/6). Khusus menghadapi UN, sekolah membuka klinik konsultasi setiap sore. Konsepnya, lanjut Maman, guru siap sedia kapan pun dibutuhkan murid. "Guru akan menunggu di ruang kelas dan anak terbuka untuk mendatangi guru kapan pun untuk membahas pelajaran apa pun," ucapnya. Di SMA 6 Yogyakarta, dari 145 peserta UN program IPA dan 97 peserta IPS, semuanya lulus. Menurut kepala sekolahnya, Rubiyatno, sejak semester pertama pendalaman materi dan uji coba (try out) sudah digelar tiap bulan. Diakui Maman dan Rubiyatno, demi UN, guru dan murid harus bekerja dua kali lebih keras. Namun, ia menolak bila perjuangan berbulan-bulan para siswanya hanya berorientasi ke UN dan ujian masuk perguruan tinggi. Sejumlah sekolah swasta juga mampu mempertahankan prestasi gemilang dengan angka kelulusan 100 persen. SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, misalnya, tahun ini berhasil meluluskan 35 murid kelas bahasa, 110 murid kelas IPA, dan 138 murid kelas IPS. "Nilai rata- rata sekolah untuk keseluruhan mata pelajaran yang diujikan di ketiga jurusan di atas 7,0. Hanya ada satu mata pelajaran yang nilai rata-rata sekolah di bawah 7,0," ujar Kepala SMA Stella Duce 1 Suster Petra CB. Demikian juga SMA de Britto, tahun ini mampu meluluskan semua peserta didik dengan hasil yang memuaskan. "Memang betul, agar mampu menghasilkan angka lulusan yang tinggi, pertama-tama itu input-nya. Kalau sekolah negeri melakukan seleksi online dengan memilih yang anak-anak terbaik, peluang murid lulus dengan baik tentu sangat tinggi," kata pengamat pendidikan dan juga guru SMA de Britto St Kartono. Menurut Petra, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran para guru dan wali kelas dalam memotivasi murid-murid. "Sejak awal, kami sudah tanamkan tanggung jawab pada para murid. Kalau sampai tidak lulus, mereka sendiri yang akan rugi. Bukan sekolah," tuturnya. Murid juga selalu diingatkan bahwa mereka sudah berhasil melewati dua kali penyaringan, yaitu berhasil naik kelas sebanyak dua kali sebelum sampai pada bangku kelas XII. Dengan begitu, rangkaian pendalaman materi dan try out yang digelar sejak bulan Oktober tahun lalu tidak dianggap menjadi beban bagi para murid. Wali kelas dan guru-guru yang selalu siap diajak berkonsultasi setiap saat, serta kegiatan rohani seperti doa bersama menguatkan para murid dalam menjalani berbagai persiapan UN. Namun, tidak semua sekolah swasta berhasil mencapai angka kelulusan yang tinggi. "Sarana dan prasarana sekolah swasta kurang menunjang. Demikian pula sumber daya manusianya," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Syamsury. Bagaimanapun keterbatasan satu sekolah, keberhasilan sekolah- sekolah yang mampu meluluskan semua muridnya patut dijadikan teladan dan pembelajaran bagi semua pihak yang peduli pada peningkatan kualitas pendidikan. (A11/PRA/WER/DYA/SIG) Sumber: http://cetak.kompas.com [Non-text portions of this message have been removed]

