konsep PARADOKS koq diasongin dmana2, kasihan skali ya SIPILIS..SIPILIS..ga sembuh2 nih!
----- Original Message ---- From: Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, June 20, 2008 9:54:16 AM Subject: Re: [ppiindia] Pluralisme, Kebebasan dan Paham-paham Paradoks aduh leadnya itu... menghargai karya seni tak diperlukan intelektualitas yang tinggi? saya baru saja membeli lukisan-lukisan jopram, iskandar sy dan irwan yang tergolong ekspresionis kontemporer. lukisan mereka penuh perlambang yang "orang biasa" pasti tak bisa menikmati. sebaliknya bagi saya, karya-karya mereka memperkaya batin dan menghaluskan jiwa. At 12:31 PM 6/19/2008 -0700, you wrote: >Dari: MR IMANUDIN <[EMAIL PROTECTED] mailto:imanudin% 40yahoo.com> com >Tanggal: Mon, 16 Jun 2008 21:43:40 -0700 (PDT) > >Ada hal yang bisa direnungkan. ..... > >PLURALISME, KEBEBASAN DAN PAHAM-PAHAM PARADOKS > >Minggu ini EOWI (Ekonomi Orang Waras dan Investasi) >menerbitkan sebuah artikel yang menyangkut masalah >sosial di samping market review. Tulisan tentang >masalah sosial ini merupakan sanggahan dari banyak >artikel yang beredar di surat kabar dan blog. Salah >satu Blog yang mengetengahkan masalah moralitas dan >kebebasan adalah Akal dan Kehendak >(http://akaldankehen <http://akaldankehen dak.com/> dak.com/). Saya >mengirimkan >tulisan ini kepada pengelola situs Akal dan Kehendak >tersebut untuk diterbitkan di sana. > >Situs Akal dan Kehendak termasuk situ yang sering saya >kunjungi. Corak dan karateristiknya dipengaruhi >ekonomi mazhab Austria dan aliran Libertarian. >Walaupun coraknya hampir sama dengan EOWI, tetapi EOWI >lebih cenderung memberikan penekanan pada ilmu logika. > >Okey....., kita mulai saja. > >Kalau kita mengamati sebuah karya seni lukis, bunga >misalnya, maka untuk menikmatinya harus dilihat dari >jarak yang tidak terlalu dekat sehingga detailnya >terabaikan. Kalau terlalu dekat maka tidak menarik >karena detailnya nampak jelas tidak ada. Untuk >menghargai karya seni ini tidak diperlukan intelektual >yang tinggi. Berbeda dengan bunga aslinya, semakin >detail semakin menarik. Dari mulai bentuk makronya, >kelopak bunga, benang sari, serbuk sari; kemudian >detailnya sampai ke tingkat jaringan, sel, >mitochondria, chromosom, gen, ribonucleic Acid, DNA, >protein, proses metabolisme dan seterusnya; semuanya >memerlukan intelektualitas yang tinggi untuk bisa >menghargainya. Seorang botanist akan mengalami >kesulitan untuk menerangkan bagaimana nutrisi/makanan >bisa sampai ke kepala putik pada lukisan bunga, karena >si pelukis tidak akan menggambarkan secara details >bagian-bagian mikroskopis dari bunga. Itulah >perbedaaan antara karya seni dan the real thing. > >Hal seperti contoh bunga di atas berlaku untuk segala >aspek seperti prinsip hidup atau isme. Suatu isme bisa >berupa gagasan bisa juga hasil pengamatan yang >diformulasikan. Suatu isme yang masih berupa gagasan, >bisa terdengar indah, jika tidak ditest, atau tidak >diuji secara intelek. Pada tulisan berikut ini kita >akan membahas secara cerdas paham-paham yang sedang >populer di media massa, yaitu yang berkaitan dengan >kebebasan. > >Berapa banyak orang yang mempunyai kecerdasan untuk >menyadari bahwa paham kebebasan adalah paham paradoks? >Perkiraan saya, tidak banyak. Paling tidak, opini yang >berhasil keluar ke media massa mencerminkan demikian. >Pada jaman modern ini, ujung tombak penganut >prinsip-prinsip yang bersifat paradoks biasanya >mempunyai latar belakang pendidikan ilmu politik, >sosial dan seni. Mereka ini adalah ampas yang tidak >lolos dari saringan masuk untuk jurusan kedokteran >atau teknik. Siswa yang pandai akan masuk ke jurusan >kedokteran dan teknik. Dan oxymoron, biasanya masuk ke >jurusan ilmu politik, sosial dan seni serta menjadi >pendukung paham kebebasan, women liberation, feminist, >pluralisme dan sejenisnya yang penuh dengan >prinsip-prinsip paradoks. > >Kata oxymoron saya gunakan dalam artikel ini untuk >melengkapi pembahasan mengenai paradoks karena >oxymoron adalah paradoks. Oxymoron berasal dari kata >Yunani oxy = tajam, cerdas dan moron = tumpul, bebal. >Cerdas-bebal, tajam-tumpul, bukan kah itu paradoks. >Kata ini menggambarkan orang yang pandai berbicara >tetapi bebal. Mungkin lebih tepat kalau disebut >pseudooxy-moron. Tampak cerdas tapi bloon. Kita >gunakan oxymoron saja yang lebih umum untuk >menggantikan kata yang benar â pseudooxy-moron. > >Saya yakin banyak diantara pembaca bukan terlahir >untuk menjadi oxymoron, tetapi karena pendidikan dan >lingkungan, maka anda menjadi oxymoron. Kalau anda >paham mengenai isi tulisan ini, berarti anda telah >meningkatkan intelektual anda dan tidak berhak >memperoleh gelar oxymoron lagi. Bahkan bisa >menggunakan kalimat: âprinsip anda mengandung >paradoksâ sebagai ungkapan yang halus sarkastik untuk >menghina dan mengatakan bahwa âtingkat intelektual >anda sangat rendahâ. Selamat menikmati, semoga >nantinya anda lebih pandai. > >Paradoks Orang Kreta dan Pyrrhonisme >Dengan ilmu logika banyak prinsip yang bisa >diidentifikasi sabagai paradoks atau self defeating >principles. Paradoks ini banyak ditemui dalam >kehidupan kita sehari-hari dipakai oleh orang yang >katanya terpelajar. Kita akan bahas hal ini. Tetapi >untuk membiasakan diri dengan ilmu logika dan sebelum >masuk ke menu utama, saya akan perkenalkan dengan dua >paradoks klasik yaitu Paradoks Orang Kreta dan >Pyrrhonisme, sebagai menu pembuka. > >Diceritakan ada seorang Crete (pulau Kreta) bernama >Epimenides berkata: âOrang Crete selalu pembohongâ. >Ucapan ini adalah suatu kontradiksi yang akhirnya >membatalkan nilai kebenaran pernyataan itu. Kalau >Epimenides benar, maka dia bohong (berkata tidak >benar). Oleh sebab itu pernyataannya tidak pernah >benar dan tidak pernah mempunyai nilai kebenaran. > >Ada lagi Pyrrhonisme. Pyrrhonisme adalah aliran >skeptis yang beragukan semua hal. âDi dunia ini tidak >ada yang pastiâ. Tentunya anda pernah mendengar >seseorang mengucapkan kalimat ini. Bahkan juga anda >sendiri. Untuk membuktikan bahwa pernyataan ini sebuah >paradoks, ajukan pertanyaan ini: âApa kamu yakin?â. > >Lucu bukan, kalau ada pernyataan: âSaya yakin bahwa di >dunia ini tidak ada yang pastiâ. Perhatikan paradoks >yang ada pada kata yang ditebalkan. Seseorang yang >menjadikan keraguan pada semua hal di dalam hidup ini >sebagai prinsip hidupnya, maka ia juga meragukan >keraguannya sendiri. > >Prinsip atau dalil semacam ini disebut paradoks atau >self defeating principle. Dan menurut ilmu logika, >prinsip seperti ini tidak punya nilai kebenaran. Dan >prinsip seperti ini mempunyai konflik internal. >Maksudnya, kalau kita menganut prinsip tersebut maka >kita juga menganut paham penghapusan prinsip tersebut. > >Sejak lama banyak artikel-artikel di koran, atau >komentar di TV yang menggunakan prinsip yang >mengandung paradoks di dalam opini nara sumbernya. >Untuk membiasakan penggunaan logika, yang saya percaya >bahwa pembaca jarang menggunakannya, kita akan bahas >beberapa prinsip seperti ini sebelum menginjak pada >topik kebebasan seperti judul artikel ini. > >Paradoks âTidak ada yang tahu kebenaran hakiki, >kecuali Tuhanâ >Tentu anda sering mendengar ucapan: âTidak ada yang >tahu kebenaran hakiki, kecuali Tuhanâ. Ada beberapa >varian dari dalil paradoks ini, tetapi intinya sama, >misalnya: âDi dunia ini tidak ada yang absolut, >semuanya relatif.â Dalil ini sering dimunculkan dalam >perdebatan tafsir firman Tuhan.. Karena namanya tafsir, >opini pribadi, maka satu dengan yang lain bisa >berbeda. Pihak yang salah (ngawur tafsirnya) bukannya >mencari kebenaran, tetapi mencari dan meminta kompromi >dengan melontarkan dalil ini. > >Prinsip ini masuk dalam kategori paradoks. Kita bisa >uji dengan menanyakan: âApa benar bahwa hanya Tuhan >yang tahu kebenaran yang hakiki?â. > >Kalau jawabnya âyaâ berarti orang tersebut tahu hakiki >kebenaran prinsip di atas atau dia adalah Tuhan. Jadi >jawab pertanyaan di atas harus âtidakâ. Artinya bahwa >prinsip itu salah. Dan âbukan hanya Tuhan yang tahu >hakiki kebenaran, tetapi juga manusiaâ. > >Paradoks âAgree to disagreeâ >Prinsip paradoks yang populer akhir-akhir ini: âAgree >to disagreeâ. Prinsip ini juga digunakan pihak yang >salah untuk mencari kompromi, bukan mencari kebenaran. >Saya sempat mendengar ucapan Adnan Buyung Nasution di >Metro TV beberapa waktu dalam rangka wawancara membela >Ahmadiyah dua tahun lalu. Pewawancaranya, penyiar TV >cantik Sandrina Malakiano. Pada akhir acara, bang >Buyung menganjurkan (kepada kelompok yang >berseberangan dengan Ahmadiyah) untuk âagree to >disagreeâ. Dan Sandrina mendukungnya. > >Prinsip ini juga sifatnya paradoks. Kalau waktu itu >mbak Sandrina menanyakan pada bang Buyung: âAnda dan >Ahmadiyah seharusnya agree dong dengan disagreement >MUI, FPI dan kelompok yang berseberangan dengan >Ahmadiyah lainnya. Jangan mereka yang harus mengikuti >anda dan Ahmadiyahâ; kalau bang Buyung dan Ahmadiyah >mengikuti âagree to MUI disagreementâ maka MUI dan >kelompok yang berseberangan dengan Ahmadiyah tidak >perlu bergeming dari posisi mereka. Bingung ya? >Problemnya Ahmadiyah dan bang Buyung tidak mau agree >dengan disagreement dari MUI dan FPI. > >Paradoks âDilarang melarangâ â berilah orang lain >kebebasan >Dalil âjangan melarangâ sering digunakan untuk membuka >jalan untuk perbuatan yang tidak disukai oleh kelompok >yang berseberangan. Dalihnya adalah kebebasan, >liberalisme. Pada dasarnya prinsip ini juga paradoks.. >Kata JANGAN dan TIDAK BOLEH adalah kata melarang. Jadi >kalau anda tanyakan:âApakah anda tadi melarang?â. >Atau: âLho kok anda melarang saya untuk melarangâ. Nah >dia akan bingung. âJangan melarangâ adalah larangan >juga. Bingung âkan? Memang self defeating principles >membuat penggunanya bingung seperti orang tersesat. > >Paradoks Pluralisme >Paradoks Pluralisme mengatakan bahwa âSemua >agama/aliran pada hakekatnya samaâ. Ini prinsip yang >sering ditonjolkan JIL (Jemaah Islam Liberal), AKKBB >(Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan >Berkeyakinan) bersama penganut pluralisme lainnya. Ada >satu hal yang mereka lupa, yaitu: aliran yang memusuhi >dan mau membasmi mereka, seperti FPI (Front Pembela >Islam) juga seharusnya diperlakukan sama dan merupakan >bagian masyarakat pluralis. > >Aliran pluralisme sebenarnya menghendaki tatanan >masyarakat yang tidak plural. Saya akan tunjukkan >dengan pertanyaan ini. Mana bisa disebut (lebih) >plural, lebih banyak keaneka-ragamnya? : > >1. masyarakat yang hanya mengakomodasi aliran >pluralisme. >2. masyarakat yang mengakomodasi aliral pluralisme, >aliran pembasmi pluralisme, aliran membenci >pluralisme, aliran yang bertentangan dengan >pluralisme. > >Kalau anda cukup waras, maka jawabannya adalah >masyarakat yang terakhir. Apakah yang mengaku aliran >pluralisme sesungguhnya menganut paham ini? Kalau >benar maka mereka akan hancur karena mereka >mengakomodasi lawannya yang boleh jadi termasuk yang >brutal dan kejam. Oleh sebab itu paham pluralisme >disebut paham paradoks. > >Paradoks Kebebasan >Setelah pembaca terbiasa dengan sebagian ilmu logika, >terutama paradoks, kita akan masuk ke menu utamanya. >Sengaja saya sajikan menu pembuka karena perdebatan >dengan logika biasanya pendek saja. Satu-dua kalimat >cukup. Itu yang disebut perdebatan yang elegant, yang >tidak perlu argumen berlembar-lembar untuk membuat >orang mengerti. > >Adakah kebebasan itu? Suatu pertanyaan valid bagi >mereka yang mencari prinsip kebebasan. Secara logika, >jawabnya ialah: âTidak adaâ. Kebebasan itu adalah >gagasan yang pada hakikinya tidak ada. Buktinya: > >Mari kita berasumsi bahwa perinsip berikut ini bisa >dijadikan sebagai prinsip dalam kehidupan: âManusia >mempunyai kebebasan untuk berbuat menurut >kehendaknyaâ. > >Konsekwensi logisnya ialah: âSiapa saja bebas >menghapuskan prinsip kebebasan tersebutâ. > >Lihat, hanya perlu 1 kalimat untuk membuktikan point >utamanya bahwa kebebasan tidak ada dan paham kebebasan >adalah paradoks. Sangat elegan. Habis sudah >pembicaraan kita. > >Untuk memperpanjang cerita ini, saya mau mengakomodasi >hal-hal sampingan yang non-issue, supaya pembaca tidak >kecewa. Yang non-issue adalah saya harus menyediakan >isme alternatif. Secara alamiah, pilihan itu sudah >ada, yaitu paham keterbatasan, âsiapa saja di dalam >masyarakat harus dibatasi prilakunyaâ. Apakah ruang >geraknya cukup luas atau sempit, itu urusan lain. > >Pertanyaan berikutnya ialah: siapa yang berhak >menentukan batas-batas, apa yang boleh dan yang tidak >boleh? Pemerintah? Saya? Anda? > >Kalau orang Betawi akan menjawab: âEmang lu siapa? Sok >tahu dan sok ngatur-ngaturâ. Intinya bahwa secara >alamiah manusia enggan tunduk kepada entity yang >derajadnya sama; sama-sama manusia. Pemerintah tidak >lebih pandai dan lebih tahu dari kita, karena elemen >mereka juga sama seperti kita, yaitu manusia. Alam >mengarahkan kita hanya ke satu pilihan, yaitu kepada >sang Pemaksa. Prima kausa (sang Pencipta, the ultimate >creator), juga sang Pemaksa mempunyai aturan untuk >membatasi ruang gerak manusia. Setiap perbuatan, ada >akibatnya. Ada hukuman bagi yang melanggar dan ada >imbalan bagi yang tetap pada koridor moral dan prilaku >yang ditetapkan oleh alam (baca: Tuhan). Ini adalah >premis, asumsi dasar, yang mau-tidak mau harus >digunakan oleh manusia dan masyarakat. > >Pelanggaran atau invasi, agresi, bisa dari individu ke >individu lain, individu ke masyarakat, masyarakat ke >individu. Jenisnya bisa agresi/invasi fisik dan >agresi/invasi non fisik. Kelompok Ahmadiah telah >melakukan agresi non-fisik kepada kelompok Islam >tradisionil dengan mengaku bagian dari Islam dan >mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Jadi jangan >salahkan kalau ada kelompok Islam tradisionil >membalasnya secara fisik. Dewi Persik menggunakan baju >dengan dada tersembul menantang (agresi non fisik) di >tempat publik, jangan salahkan kalau ada yang >terangsang dan mencoleknya. > >Porno-aksi bukan freedom of expression yang tanpa >konsekwensi. Mungkin kata yang lebih tepat adalah: >freedom of expression sesungguhnya tidak bebas >menerima konsekwensinya. Saya pernah melihat seekor >kuda betina yang sedang birahi. Tidak jauh dari situ >ada kuda jantan yang di kandangkan. Kuda jantan >tersebut mengamuk, menendang-nendang kandangnya, >sampai dia dilepaskan. Ketika dilepaskan dia langsung >nyosor ke betina yang sedang birahi itu. Tahukah anda >bagaimana melewati anjing penjaga jantan yang galak >sekali? Dengan kain yang dibasahi oleh kencing anjing >betina yang sedang birahi. Lemparkan saja kain itu. >Anjing jantan itu akan sibuk dengan kain basah itu >sementara anda bisa melewatinya dengan aman. Inti >cerita; seksualitas adalah hal yang secara naluri >sulit dikontrol ketika rangsangan sudah timbul. Bagi >manusia, rangsangan itu bukan bermula dari bau saja >tetapi jaga pandangan (juga pendengaran) dan >khayalannya. Haruskah kita salahkan orang yang >melakukan agresi fisik (dengan mencolek) Dewi Persik >karena terangsang oleh cara berpakaian Dewi Persik? >Mana yang sebab dan mana yang konsekwensi? > >Kebebasan berbicara, freedom of speech, termasuk >mempromosikan kebohongan. Orang yang tidak bersalah >bisa dihukum mati karena kesaksian palsu. Banyak orang >yang mati karena kebohongan George Bush dan Tony >B-lair mengenai senjata pemusnah massanya Saddam >Hussein. Bagaimana speech yang berisi kebencian dan >agitasi untuk menghancurkan penganut aliran freedon of >speech itu sendiri. Self defeating principle bukan? >Itukah jalan yang benar? > >Banyak slogan kebebasan-kebebasan lainnya, kebebasan >beragama, kebebasan berusaha, kebebasan berbicara dan >lain lain. Manusia tidak mungkin bebas bertindak. >Secara fisik manusia tidak bisa melompat sampai ke >bulan, bukan? Andaikata yang dimaksud adalah kebebasan >sebatas (hmm... paradoks) kemampuan fisiknyapun tidak >bisa lepas dari konsekwensinya. Itulah alam. Jangan >lupa, karya seni tidak seindah barang aslinya â the >real thing. Para oxymoron tidak akan bisa >memperdayakan anda jika anda cukup jeli waras dan >berakal. > > > > > > >[Non-text portions of this message have been removed] > > >----------- --------- --------- ------- > >*********** ********* ********* ********* ********* ********* ********* >********* * >Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia >yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. >http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia >*********** ********* ********* ********* ********* ********* ********* >********* * >___________ _________ _________ _________ _________ _________ __ >Mohon Perhatian: > >1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) >2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. >3. Reading only, http://ppi-india. blogspot. com >4. Satu email perhari: ppiindia-digest@ yahoogroups. com >5. No-email/web only: ppiindia-nomail@ yahoogroups. com >6. kembali menerima email: ppiindia-normal@ yahoogroups. com >Yahoo! Groups Links > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

