Cina berani mengatakan pada AS yang berusaha mengatur sistem ekonomi mereka 
bahwa Sistem Ekonomi Cina Lebih Baik dari AS. Ini memang terbukti dengan 
pertumbuhan ekonomi Cina yang cukup tinggi. Sementara AS justru resesi dan 
membawa sebagian pengikutnya (termasuk Indonesia) ke dalam resesi.

Kemudian dari artikel di bawah betapa menyedihkan fakta yang didapat. AS dan 
Australia memberikan bantuan jutaan dollar langsung ke Polri. Ini bisa 
berakibat Polri jadi kaki tangan mereka. Harusnya bantuan diberikan lewat 
pemerintah.

Kemudian bantuan militer serta pelatihan perwira di akademi militer West Point 
AS dikhawatirkan merupakan sarana cuci otak calon perwira di Indonesia. 
Sehingga sepulang dari sana, para calon perwira kita hanya akan jadi kaki 
tangan AS yang jadi centeng untuk menjaga perusahaan2 AS seperti Freeport, dsb.


Salam



http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7083&Itemid=1

Mengapa Masa Depan Milik Islam? [1]             
Jumat, 20 Juni 2008
Oleh: Amran Nasution
 
Hidayatullah.com--Para pejabat Amerika selalu mendamprat
pejabat China karena dianggap salah urus ekonomi.  Mulai
sistem subsidi, regulasi investasi asing, sampai pematokan nilai mata uang Yuan.
Tapi itu dulu. Kini posisi berubah.
 
Para pejabat senior China secara terbuka mengecam cara
Amerika menangani ekonominya – dengan kapitalisme laissez-faire –dan mereka
berani membela sistem ekonominya yang ditandai adanya regulasi. Seperti ditulis
sebuah artikel di The New York Times, 17 Juni lalu, para pejabat China menuduh
Amerika hipokrit: mengajari mereka tentang ekonomi tapi pertumbuhan ekonomi
negerinya sendiri stagnan. Sementara ekonomi China justru tumbuh sangat tinggi.
 
China mendamprat Amerika dalam skandal kredit perumahan (mortgage) yang menyeret
dunia ke dalam krisis. Utusan China di World Trade Organization (WTO) mengecam 
Amerika karena tak bisa menahan
kemerosotan nilai dollar yang memacu kenaikan harga minyak dan pangan dunia. 
Amerika
dituduh bersikap bermusuhan dan diskriminatif karena menghambat perusahaan 
China membeli
saham perusahaan Amerika yang goyah diguncang krisis.
 
Pendek kata, China berani mengatakan sistem ekonominya terbukti lebih baik dari 
Amerika Serikat. Karena
itu pula mereka tak akan meniru sistem demokrasi Amerika Serikat. Liao Min, 
salah
seorang pejabat perbankan China malah berkata kepada koran The Financial Times, 
Mei lalu, “Konsensus Barat
dalam hubungan pasar dengan Pemerintah, harus dikaji-ulang.’’ Sesuatu yang
sebenarnya sudah lama disuarakan para ahli ekonomi Amerika sendiri seperti
Profesor Joseph Stiglitz atau Profesor Paul Krugman, para pengeritik
kapitalisme atau neo-liberalisme.
 
Ketika terjadi gempa dahsyat di Provinsi Sichuan,
mobilisasi tentara China terbukti sangat cepat ke daerah bencana. Bandingkan 
dengan loyonya Pemerintah
Federal pimpinan Presiden Bush menghadapi serangan Badai Katrina, sehingga
korban jatuh bertambah banyak.
 
Pendek kata Amerika sekarang memang payah. “Di mana saja di
dunia, kredibilitas Amerika Serikat dan kredibilitas pasar uangnya sekarang nol
(zero),’’ kata Joseph Stiglitz, Profesor Ekonomi dari Columbia University, 
seperti
dikutip The New York Times tadi. Pemenang nobel ekonomi 2001 itu, sejak lama
dikenal kritis kepada Amerika Serikat dan sering memuji ekonomi China.
 
Paul Krugman, Guru Besar Ekonomi Princeton University dan
Kolomnis The New York Times, sering menyoroti sistem ekonomi Amerika yang
katanya menyebabkan 0,01% orang terkaya bertambah kaya sementara yang lain
stagnan atau bertambah miskin. Orang-orang kaya itu, begitu kayanya, sampai
mampu ‘’membeli’’ partai politik.
 
Awal Juni lalu, sebuah sub-komisi di DPR Amerika Serikat
melaporkan bahwa anti-Amerikanisme di dunia kini mencapai level tertinggi, 
terutama
di negara Muslim dan Amerika Latin. Laporan itu dibuat berdasarkan sejumlah
survei dan pendapat para ahli.
 
“Kekuatan militer kita tak dianggap jaminan keamanan, melainkan
ancaman. Tak dianggap garansi stabilitas dan ketertiban tapi sumber intimidasi,
kekerasan, dan penyiksaan,’’ kata Bill Delahunt, Ketua Sub-Komisi Organisasi
Internasional, HAM dan Pengawasan, DPR.
 
Laporan itu menyebutkan bahwa semua terjadi karena Perang
Iraq, dukungan Amerika kepada sejumlah rezim represif, sikap bias Amerika dalam
konflik Israel-Palestina, serta penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan kepada
para tahanan (di Guantanamo dan sejumlah penjara rahasia).
 
Laporan itu juga menyimpulkan di dunia Islam tumbuh persepsi
yang meyakinkan bahwa perang melawan teror telah digunakan Amerika Serikat
untuk menghancurkan Islam. Semuanya memperluas dan memperdalam sikap 
anti-Amerikanisme
(lihat artikel Alice Ritchie, AFP, 11 Juni 2008).
 
Di Timur Tengah wibawa Amerika sudah rontok. Perundingan Israel dengan
kelompok Hamas terjadi dengan Mesir sebagai penengah. Sedang pertemuan Suriah
dengan Israel berkat difasilitasi Turki. Amerika sudah ditinggalkan.
Meski demikian Pemerintah Indonesia tetap berkiblat ke
Amerika. Para ekonom Presiden SBY adalah
penganut sistem ekonomi neo-liberal: Budiono, Sri Mulyani, Marie Pangestu, 
Purnomo
Yusgiantoro, dan beberapa yang lain.
 
Karena itulah harga BBM dinaikkan, sehingga pompa bensin
milik kapitalisme global bisa bersaing bebas dan menghancurkan pompa bensin
milik pribumi kita (lihat Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire, 
www.hidayatullah.com,
21 dan 22 Mei 2008).
 
Sekarang ladang minyak kita sebagian besar dikuasai perusahaan
asing, terutama dari Amerika Serikat, seperti Exxon-Mobil, Shell-Penzoil, 
Total-Fina-Elf,
BP-Amoco-Arco, dan Chevron-Texaco. Perusahaan itu dikabarkan menguasai lebih 
70%  ladang minyak dan gas Indonesia.
 
Presiden SBY menyingkirikan Pertamina, perusahaan milik
sendiri, untuk memenangkan Exxon-Mobil, perusahaan Amerika, dalam menguasai
proyek minyak dan gas yang amat menguntungkan di Blok Cepu. Wajar SBY menjadi
teman dekat Presiden George Bush.
 
Wajar pula kalau dalam setiap demo anti-kenaikan BBM di mana
saja, selalu ada poster menuntut penyitaan atau pengambil-alihan aset negara
yang dikuasai asing. Pemerintahan SBY-JK  dinilai sangat sukses melayani 
kepentingan asing di Indonesia, terutama
Amerika Serikat.
 
Amerika Bentuk Densus 88
 
Selain ekonomi, Indonesia berkiblat ke Amerika
dalam politik. Sistem pemilihan langsung yang kita lakukan sekarang meniru
Amerika, dan itu biayanya amat-sangat mahal.  Namun itu bisa terlaksana karena 
pemilihan Bupati, Gubernur, dan
Presiden, berlangsung dalam sistem keuangan yang tertutup.
 
Mestinya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merekam telepon
para calon Bupati sampai Presiden, beserta Tim Suksesnya, baru ketahuan dari
mana sebenarnya dana politik itu berasal. Tapi KPK tak akan ke sana. 
Percayalah.  Akibatnya sistem politik Indonesia terus
dihidupi dengan cara-cara korupsi dan melawan hukum (baca Membuka Topeng Negara
Gagal, www.hidayatullah.com, 17 dan 23 April 2008).
 
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta tak segan
menyampuri soal Ahmadiyah dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan (AKKBB) yang bentrok dengan kelompok FPI di Monas, 1 Juni 2008.
 
Campur tangan Kedubes Amerika merepotkan FPI, soalnya, Kepolisian
selama ini mendapat dana bantuan dari Amerika Serikat. Menurut Majalah Far 
Eastern
Economic Review (FEER), 13 November 2003, Pemerintah Amerika mengeluarkan dana 
16
juta dollar (sekitar Rp 150 milyar) untuk membentuk dan melatih Detasemen
Khusus  (Densus) 88 Anti-Teror Polri. Laporan
yang sama ditulis Warta Kota, 12 November 2003, dan The Jakarta Post, 6
September 2004.
 
Menurut berita itu, detasemen khusus anti-teror difasilitasi
berbagai peralatan dan persenjataan canggih. Malah guna mobilitas pasukan, 
detasemen
dilengkapi Amerika dengan pesawat angkut khusus C-130.
 
Belum cukup. Congressional Research Service (CRS), lembaga
riset Kongres Amerika Serikat, dalam laporan tahun 2005, menyebutkan secara
terperinci dana yang dikeluarkan Pemerintahan Presiden Bush kepada polisi 
Indonesia dan
pasukan anti-terornya.
 
Dari situ diketahui bahwa setiap tahun POLRI menerima
bantuan dari Amerika Serikat, tahun 2004 sebesar US$
5.778.000, tahun 2005, US$ 5.300.000, dan pada tahun 2006, sebesar US$ 
5.300.000 (sekitar
Rp 50 milyar).
 
There is no free-lunch. Tak ada makan siang yang gratis. Karena
Kedubes Amerika Serikat memihak Ahmadiyah dan AKKBB, maka tokoh kelompok Front
Pembela Islam (FPI) yang ditahan polisi seperti Habib Riziek Shihab, Munarman, 
dan
kawan-kawan, memang mendapat masalah. Mereka tergolong kelompok anti-Amerika. 
Munarman
adalah tokoh yang paling ngotot berkampanye mengusir proyek NAMRU-2 milik
Angkatan Laut Amerika, dari Indonesia.
 
Independensi polisi dari pengaruh Kedubes Amerika Serikat
menjadi tanda tanya besar. Misalnya, pengacara Mahendradatta dari Tim Pembela
Muslim (TPM) mengherankan prioritas polisi dalam menangani peristiwa Monas. 
Kalau
berdasarkan hukum, mestinya yang menjadi prioritas adalah pria berpistol yang
menggunakan kostum AKKBB. ‘’Ancaman hukuman kasus senjata api itu seumur hidup,
paling berat,’’ kata Mahendradatta.
 
Nyatanya walau kasus itu sudah dilaporkan FPI, polisi sampai
sekarang belum menangkap pria berpistol. Polisi hanya sibuk menguber orang-orang
FPI yang dituduh terlibat penganiayaan dengan ancaman hukuman hanya 5 tahun
penjara, jauh lebih ringan dari urusan senjata api. Polisi sibuk mencari-cari
pasal pidana agar bisa menangkap dan menahan Habib Riziek Shihab. 
[berlanjut.../www.hidayatullah]
 
Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies
 ===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS


Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252


Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com



      

Kirim email ke