Heii Lutung..!!!

Gua nggak nulis buat lu. Gua nulis buat manusia waras yang bica baca 
dan cerna. Lu aja yang cacad otak. Mendingan balik hutan dan tinggal 
di pohon.
Indonesia jadi bubrah gara-gara Islam primitif kayak lu dan 
gerombolan  lu di FPI, LI, HTI.
Makan dah ajaran Al Quran, Muhammad & Islam menurut tafsiran lu. 
Makan agama yang sesuai pikiran lu. Penuhin tuh cecongoran lu, biar 
nggak usah mangap. Lu emang spesies yang mabuk agama. 
Kita mah di sini asyik-asyik aja..

Dimas. 

--- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> dimasUKIN ketan, tulisan ente kaga nyambung blabas pisan. tulisan 
ttg RA KARTINI dah ane kutip di sini baca dah, ide2 beliau berangkat 
dari ayat Alquran. 
> Soal JIL, Durahman dll, ente bela aja, asal pake ilmu dalil jgn 
pake ilmu kebal haha payeh dah ente mas dimasUKIN ketan, tuh 
postingan aye ttg JIL, durahman, bs baca kaga???!!!
> mana tanggapannya tan!
> aye seh kaga mandang siapa orangnya, slagi tuh congor koar2 
menghina ALQuran, Muhammad & Islam, aye libas dah! 
> peduli ketan ..!
> aye pengen jajal 'ilmu' lhu, kaya'na orang2 liberal di sini bener2 
di bawah levelnya dah, ngartiin Alquran kaga becus, jilbab dikirain 
bukan islami lah, ahmadiyah dibelain mati2an. Kaya'nya sholat smiggu 
skali nih, ntar kecampur lg ma agama tetangga, ampyuuuuuun!!!
> lom dpt beasiswa ya?! nama ente kurang islami siy jd  posisi tawar 
ente rendah hehe..
> 
> 
> 
> 
> --- On Thu, 6/19/08, mas dimas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: mas dimas <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [ppiindia] Catatan Kritis Dari Sirikit Syah
> To: [email protected]
> Date: Thursday, June 19, 2008, 12:55 PM
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Bangsa ini merdeka dan tercerahkan karena kegigihan minoritas elite
> 
> Bangsawan RA Kartini adalah  minoritas elite
> 
> Tokoh-tokoh Pergerakan 1908 adalah minoritas elite
> 
> Tokoh Pers Tirto Adhisuryo adalah minoritas elite
> 
> Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta adalah minoritas elite
> 
> Bung Tomo juga merupakan bagian dari minoritas elite
> 
> 
> 
> Apa yang salah dari minoritas elite?
> 
> RA Kartini memikirkan dan menulis hal-hal yang tidak dipikirkan 
warga
> mayoritas
> 
> Istri Bupati Jepara itu melakukan hal yang hanya dipikirkan 
minoritas elite
> 
> Saya tak membaca rinci buku-buku dan surat surat dari Pendekar Kaum 
Wanita
> ini
> 
> Tapi dia memang tak mengungkap urusan rumahtangga dan urusan "dunia
> nyata"
> 
> Dan RA Kartini dikenangkan pikiran-pikirannya yang pada masanya 
dianggap
> elite
> 
> Emansipasi, persamaan hak, yang dalam bahasa masa kini disebut 
sebagai
> kesetaraan
> 
> 
> 
> Jadi apa yang salah dengan minoritas elite
> 
> Jika akhirnya dikenangkan sebagai visioner bagi bangsanya?
> 
> 
> 
> Bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka rukun, damai, dan toleran.
> 
> Sejak berabad-abad nenek moyang kita hidup berdampingan dengan 
saling
> menghormati.
> 
> Para Wali berhasil men-Jawa-kan Islam Arab yang keras, intoleran,  
menjadi
> ajaran yang sejuk damai
> 
> 
> 
> Islam kini menjadi sangar dan brutal sejak munculnya habib-habib 
turunan
> Arab
> yang sebelumnya inferior dan gagal mengerjakan order para Jendral 
Orba, TNI
> faksi Hijau
> untuk membela dan mempertahankan B.J. Habibie sebagai presiden 
lanjutan
> rezim Orde Baru
> yang kemudian mengembangkan eksistensinya sebagai preman berjubah 
yang
> berdalih
> pembasmi kemaksiatan
> 
> 
> 
> Islam menjadi sangar sejak Abubakar Baasyir bekoar-koar 
tentang "Islam
> kaffah"
> yang mengembangkan gerakan Talibanisasi, Arabisasi,
> dan begitu mudah mengkafirkan orang lain yang tak sepaham dengannya
> "Gus Dur Kafir!", "Presiden Perempuan Haram!", "Ulil
> Absar Abdalla halal
> darahnya…!!".
> Seklularisme, Pluaralisme dan Liberalisme dilabeli Sepilis …
> 
> 
> 
> Islam menjadi brutal sejak MUI kemasukan dan terususupi  ormas-ormas
> transnasional seperti HTI, Majelis Mujahidin, Taliban, dan entah 
apalagi…..
> 
> MUI lalu memproduksi fatwa-fatwa intoleran yang mendorong aksi 
anarkis
> 
> Menggasak Ahmadiyah yang puluhan tahun hidup dan berkembang damai,
> 
> merusak gereja, mengganggu umat lain beribadah,  merusak kafe-kafe,
> menghajar aktifis kelompok kiri dan entah apalagi ….
> 
> 
> Mereka minoritas destruktif yang merusak tatanan dan komitmen bangsa
> yang mayoritas telah bersumpah untuk Satu Nusa, Satu Bangsa dan 
Satu Bahasa
> 
> dan menggelincirkannya menjadi Satu Agama (Islam).
>  Penganut agama lain dianggap numpang dan wajib bayar pajak 
perlindungan!
> Sebagaimana yang digagas Abubakar Baasyir yang hendak melanjutkan 
kebiasaan
> Budaya Unta
> di Arab Saudi sana, di zaman dulu kala …
> 
> 
> Bangsa Indonesia sedang menghadapi masa kritis.
> NKRI terancam. Komitmen Negara berazaskan Pancasila kembali 
diragukan.
> Gagasan mengagamakan negara makin merebak.
> Aturan syariah dikembangkan di mana-mana.
> 
> 
> 
> Serupa siklus, masa-masa kejayaan PKI di tahun 1960-an berulang 
lagi.
> Posisi mereka digantikan oleh FPI dan Laskar Islam.
> Siapa saja yang  beda pendapat dan beda aliran dipojokkan, diancam, 
digasak,
> dianiaya…
> 
> Teror berlangsung di mana-mana …
> 
> 
> 
> PKI kini digantikan FPI …
> Sementara para intelektual nya sibuk dibelakang mereka
> mencari-cari pembenaran ...dengan ayat...dengan kitab... dengan 
sepenggal
> ilmu pengetahuan
> 
> Tak peduli meski ketinggalan zaman
> 
> Bahkan 100 tahun lebih mundur dari intelektual sekelas RA Kartini
> 
> yang telah bertahun-tahun menjadi inspirasi bagi wanita negeri 
ini…..
> 
> 
> 
> Wassalam,
> 
> 
> 
> 
> 
> Dimas
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> On 6/19/08, Fahmi Faqih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Catatan kritis Dari Sirikit Syah di Majalah Sabili
> >
> > salam,
> > fahmi faqih
> > -----------------------------------------------------------------
> >
> >
> > Dominasi Suara Minoritas Elite
> >
> > Belakangan ini kita dengar semakin gencar suara minoritas di 
berbagai
> > forum, baik itu forum ilmiah (seminar, diskusi), rapat-rapat 
pemerintah
> dan
> > perwakilan rakyat, maupun di media massa. Beberapa isu menonjol 
yang
> menjadi
> > perhatian atau agenda kaum minoritas bersuara dominan itu antara 
lain: isu
> > hak asasi umat Ahmadiyah, isu gender ketiga, dan isu poligami 
sebagai
> > kriminalitas.
> >
> > Media massa kita, secara umum -maksud saya selain media massa 
berhaluan
> > Islam seperti Republika, Suara Hidayatullah, dan Sabili-membela 
umat
> > Ahmadiyah atas nama hak asasi manusia. Kata kunci yang kerap 
digunakan
> oleh
> > para penulis di media massa ini adalah: pluralisme dan hak asasi 
manusia.
> >
> > Dengan cerdik substansi persoalan dibelokkan sedemikian rupa.
> >
> > Menyedihkan, mendengar dan membaca betapa persoalan-persoalan 
substansial
> > telah dibelokkan oleh suara kaum minoritas elite yang menguasai 
dan
> > mendominasi forum-forum ilmiah dan media massa. Kebebasan 
beragama tidak
> > sama dengan kebebasan memplesetkan agama. Membela dan melindungi 
nyawa
> > manusia Ahmadiyah adalah satu hal, melindungi Islam dari 
pemlintiran dan
> > pembelokan adalah hal lain. Namun, inilah yang dilebur sedemikian 
rupa
> > sehingga yang tampak di permukaan adalah kesewenangan MUI, 
kebrutalan
> > sebagian rakyat Indonesia, dan teraniayanya umat Ahmadiyah. Bahwa 
umat
> > Ahmadiyah bingung dengan jati dirinya sendiri, luput dari 
perhatian.
> >
> > Suara kaum minoritas elite juga bisa dengan mudah kita jumpai di 
media
> > semacam Jurnal Perempuan. Meskipun namanya menggunakan perempuan, 
justru
> > terjadi dekonstruksi makna perempuan oleh Jurnal Perempuan.
> >
> > Tidak ada ibu rumah tangga biasa -yang buta huruf- sukses 
menjadikan
> > anak-anaknya sarjana. Tidak ada ibu ketua PKK sebuah kampung yang 
berhasil
> > menghijaukan kampungnya. Tak ada istri dalam perkawinan poligami 
(pertama
> > maupun kedua) yang sukses menjaga keharmonisan rumah tangganya. 
Yang ada
> di
> > majalah berjudul perempuan itu hanyalah para perempuan single 
parent,
> wanita
> > karier yang sukses, bahkan kaum lesbian yang berbahagia. Seorang 
tokoh
> > perempuan beragama Islam bahkan mengatakan, Allah menilai 
seseorang dari
> > ketaqwaannya, bukan orientasi seksualnya. Tokoh perempuan yang
> > mengkriminalkan poligami dan mengesahkan kawin kontrak ini, tahun 
lalu
> > mendapatkan penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat.
> >
> > Bila Jurnal Perempuan hanya menyuarakan suara perempuan minoritas 
semacam
> > itu, dan sebagian besar majalah perempuan hanya memotret 
perempuan glamour
> > dan kaum selebritis, di mana kita bisa menemukan kisah-kisah 
perempuan
> nyata
> > di media massa? Mengapa tak banyak profil Siti Fadila Supari di 
media
> > perempuan, padahal dialah yang paling patut disebut sebagai tokoh
> > kebangkitan bangsa di tahun ke-100 kebangkitan nasional ini?
> >
> > Siti Fadila Supari. Tokoh Indonesia yang berani berkata Tidak! 
Kepada AS
> > dan WHO, tidak takut apapun dalam memperjuangkan harkat dan 
martabat
> bangsa
> > Indonesia di mata dunia. Dimana pula kita temukan profil tokoh 
seperti Ibu
> > Yoyoh, dengan 12 anak bisa menjaga keharmonisan rumah tangga 
sambil aktif
> di
> > dunia politik dan menerima penghargaan politikus wanita 
internasional?
> >
> > Sebetulnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling rukun, 
damai, dan
> > toleran. Sejak berabad-abad nenek moyang kita hidup berdampingan 
dengan
> > saling menghormati. Kehadiran para Wali juga tidak membuat 
penganut agama
> > lain kalang kabut terusir dari wilayahnya. Islam Kejawen yang 
dipengaruhi
> > tradisi Hindu, hidup subur di pedesaan-pedesaan. Mengapa sekarang 
menjadi
> > runcing? Karena sebagian ingin menonjolkan diri dan berkampanye, 
bahkan
> > mensosialisasikan keyakinan serta gaya hidup mereka secara 
terbuka.
> Sebagian
> > dari kita menjadi tidak toleran, atau memanfaatkan toleransi umat 
secara
> > sembarangan. Pluralisme dapat diterima, namun mengacak-acak 
syariat agama
> > tak termasuk wilayah pluralisme. Menjadi gay, homoseks atau 
lesbian adalah
> > urusan pribadi, tanggungjawabnya langsung kepada Tuhan, namun 
ketika paham
> > ini dirayakan dan ditular-tularkan, di sinilah gesekan dan friksi 
terjadi..
> >
> > Sayangnya, umat Islam yang adalah mayoritas penduduk Indonesia, 
tak
> > memiliki suara menggelegar, dan tak memiliki amplifyer untuk 
mengeraskan
> > suara mereka. Di lain pihak, suara kaum minoritas yang kebetulan 
berada di
> > posisi elit (para pemimpin media massa, para pemimpin perguruan 
tinggi,
> para
> > tokoh publik), dengan mudah menyuarakan pandangan mereka melalui 
pengeras
> > suara.
> >
> > Bagaimanapun, kita mesti ingat bahwa kebenaran tidak diukur dari 
suara
> > mayoritas atau kedudukan puncak (elitisme). Kebenaran jelas 
ukurannya.
> > Kebenaran agama adalah kitab suci, kebenaran negara ada pada 
hukum,
> > peraturan dan badan pemerintah. Kebenaran sosial adalah norma 
masyarakat
> > setempat. Bila rakyat tak patuh pada hukum agama, hukum negara, 
maupun
> norma
> > masyarakat setempat, apa jadinya bangsa ini? Sebuah pertanyaan 
yang harus
> > kita jawab dengan seksama.
> >
> >
> >
> >
> > Sirikit Syah
> >
> > Mei 2008
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> > ------------------------------------
> >
> >
> 
**********************************************************************
*****
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
> Indonesia yg
> > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> >
> 
**********************************************************************
*****
> > 
______________________________________________________________________
____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> > 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke