JURNAL PEREMPUAN MENJAWAB SIRIKIT SYAH
Pertama, baginya, argumen pluralitas dan toleransi merupakan suara minoritas
elit, milik segelintir orang. Suara ini, menurutnya, menguasai wacana di
Indonesia.
++ Salah Mbak. Saya bilang pluralisme dan toleransi SUDAH HIDUP LAMA di
Indonesia. Yang saya bilang suara minoritas elit itu adalah penyuaranya (Islib,
AKKBB, Gus Dur dkk), bukan isunya. Isu pluralisme dan toleransi ..... tak ada
perdebatan. Tapi apa yang dimintakan untuk ditoleransi, di sini perdebatan kita.
Kaum minoritas elit MENUNTUT mayoritas untuk TOLERAN terhadap lesbianisme/
homoseksualitas, penistaan agama. Saya tidak anti-pati pada mereka yang
kebetulan homo/lesbian dan penganut Ahmadiyah. Saya hanya menyatakan:
golongan-golongan semacam ini terlalu memaksakan kehendaknya kepada mayoritas
diam. Di Jakarta Post tadi pagi, para sekularis mengecam NU dan Muhamadiyah
sebagai 'too weak' dalam mensikapi serangan terhadap Ahmadiyah. Golongan
sekularis/liberalis minoritas ini MENUNTUT NU DAN MUHAMADIYAH UNTUK BERPIKIRAN
DAN BERTINDAK SAMA DENGAN MEREKA. Bagi saya malahan: sudah bagus tuh NU dan
Muhamadiah TIDAK IKUT-IKUTAN FPI DAN FUI. Perhaps,
they are being wise, being neutral? But, it's never enough for the secularists
and liberalists, is it?
Rakyat Indonesia telah
lama memilih negara kesatuan yang memberikan ruang toleransi seluas-luasnya
mulai dari kebebasan memegang aliran kebathinan Kejawen hingga Ahmadiyah
yang telah diterima di bumi ini di awal abad ke-20 dan diizinkan
organisasinya berdiri oleh pemerintah RI berdasarkan keputusan Menteri
Kehakiman di tahun 1953.
++ Betul. AKUR. Kira-kira, sejak kapan ya toleransi jadi persoalan?
Jangan-jangan sejak munculnya para pendatang baru semacam wacana HAM, Kebebasan
Berekspresi, Islam Liberal, Jurnal Perempuan? Bukankah nenek moyang kita dulu
rukun karena "harmony and tolerance are more important than freedom of
expression, human right, and democracy?" Tepa salira (toleran), menjaga ucapan
(tidak bebas/semaunya berkata-kata) , menghargai hak orang lain (bukan haknya
sendiri-sendiri) , mufakat (bukan demokrasi yang menghasilkan para anggota dewan
kita sekarang), tidak memaksakan kehendak (yang lesbian lesbian aja tak eprlu
teriak-teriak, yang Ahmadiyah Ahmadiyah aja tak perlu minta diakui sebagai
Islam). Yuk, kita pikir lagi .... siapa tahu kita menemukan model tatanan sosial
yang lebih baik?
Ibu saya berjuang dengan mengenakan kebaya
panjang, berbelah persis di dadanya, kain mengetat persis di pinggulnya, tanpa
tutup kepala, cukup sanggul kecil rapih tergelung, tak ada yang menuduhnya
porno, karena demikian adanya baju kebanggaan perempuan Indonesia, harkat
dirinya melekat dalam tradisi yang manjemuk.
++ Ibu saya juga, gaunnya ketat kebarat-baratan. mengakunya Islam, tapi suka
dansa-dansi. tapi apa hubungannya ya baju kebaya dan baju ketat dengan tuduhan
porno? dulu memang begitu gaya berpakaian. sekarangpun, perempuan Bali atau
perempuan di Lembah Baliem tak kita sebut porno, bukan? That's not the point
kan? Hanya, sesuai jalannya peradaban, yang dulu tak berbaju mulai berbaju, yang
dulu agak terbuka mulai tertutup. tapi kalau sekarang yang tertutup membuka
lagi, itu namanya fashion, bukan peradaban.
Feminisme bagi ibu dan ibu-ibu kita lainnya,
tidak lahir di Barat tapi di bumi nusantara ini. Jauh sebelum dunia Barat
memiliki kepemimpinan perempuan, bumi ini telah menunjukkan 60 tahun masa
kepemimpinan perempuan di abad ke-17, di tanah Aceh. Kami tak mencontoh
Barat, kesetaraan sudah tumbuh subur di tanah kami!
++ AKUR. Feminisme, dalam makna yang saya pahami, SUDAH ADA di agama Islam dan
adat Jawa. Dalam adat Jawa, suami adalah KEPALA keluarga. Tetapi, strategically,
para istri adalah LEHERNYA! Memang, hana perempuan-perempuan Jawa berpikiran
positif yang dapat merasakannya. That's why banyak perempuan Jawa hidup setia,
bahagia, dan sukses dalam keluarganya (banyak anak, tak berkarir, anaknya jadi
semua). Islam juga menyetarakan perempuan-laki- laki dalam hal-hal yang
memungkinkan untuk disetarakan. Pertanyaan saya: mengapa gerakan feminisme lahir
di Barat? Jawaban: karena di Baratlah perempuan diperlakukan tidak setara. Lalu
para perempuan Barat itu mencekoki pikiran kita bahwa "perempuan tradisional
Indonesia (Jawa, Bali, whatever) dan perempuan Islam, adalah TERTINDAS. Ayo
bangkit lawan laki-laki!" Bahkan Mother Theresia yang tidak menikah saja
mengatakan: perbedaan itu indah, lelaki dan perempuan itu berbeda, diciptakan
demikian untuk saling melengkapi
(1995). Jadi, sekali lagi, saya SETUJU bahwa feminisme itu sudah ada di tradisi
kita dan di Islam. I mean, feminisme dalam pengertian 'penghargaan/ penghormatan
terhadap perempuan', bukan 'perempuan melawan atau mengungguli laki-laki'.
Undang-Undang Dasar 1945 juga merupakan bukti kemajuan pemikiran Indonesia.
Lihatlah betapa undang-undang itu menafaskan Hak Azasi Manusia, jauh sebelum
Barat memiliki HAM Internasional. Kebebasan beragama sudah termuat di dalam
UUD 1945.
++ Kebebasan beragama. BUKAN kebebasan menodai agama. Bila Ahmadiyah ADALAH
agama, ya bebas-bebas aja (meskipun yang diakui resmi di Indonesia cuma 6
agama). Masalahnya, Ahmadiyah mengaku Islam (bukan agama Ahmadiyah). Tapi
menolak ditangani internal agama Islam, minta pembelaan pemerintah dan kaum elit
..... repot, kan? You cannot have all, you have to decide what you are.
Namun, apa yang terjadi pada tanggal 1 Juni 2008 di hari Kesaktian
Pancasila?
++ Oooopppsss!
Hari yang bersejarah bagi orang Indonesia telah dicemari oleh
segelintir orang yang justeru sangat elit dan berkuasa. Elit karena tak
berbicara atas nama keinginan rakyat Indonesia, berkuasa karena menggunakan
senjata ayat untuk melanggengkan tindakan kekerasan.
++ Mereka tidak elit karena jumlahnya banyak:), dan mereka mewakili diri mereka
sendiri dan kelompoknya yang adalah rakyat Indonesia juga (sama rakyatnya dengan
AKKBB, Islib, Ahmadiyah), plus mayoritas diam (saya dapat SMS dan email
pribadi, banjir, mendukung pernyataan saya). bawa-bawa senjata? belum ketangkap
tuh yang bawa pisotl:).
Apa yang terjadi setelah kekerasan dilakukan jelas-jelas oleh FPI (Front
Pembela Islam), kelompok elit dan bersenjata itu?
++ Wah, ada dua "ELITE" nih. versi saya dan versi mbak gadis hehehe
Mereka diberi "hadiah"
SKB oleh tiga menteri Republik Indonesia.
++ saya memandang SKB sebagai jalan tengah. itu tidak memuaskan penentang maupun
penganut Ahmadiyah. tapi kalau kedua belah pihak berpikir positif, SKB ini
mendhing. pemerintah telah lakukan sesuatu. penawaran. saya memandang gelas
setengah berisi. kedua belah pihak memandangnya sebagai setengah kosong. Anda
dan para "elit minoritas" malah bilang itu gelas kosong!
Bagi Abu Bakar Ba'asyir, hadiah
tersebut masih kurang (simak apel akbar Ba'asyir) karena masih belum
membinasakan kelompok Ahmadiyah. Apakah model orang-orang seperti itu yang
pantas memimpin negara ini? Apakah orang-orang seperti itu yang menjadi
panutan anda?
++ tidak juga. saya ingin anies baswedan jadi presiden:). Munarman wakilnya,
hehehe. kalau Baasyir, saya cuma kagum pada kesabarannya, dianiaya sedemikian
rupa oleh tuduhan dan vonis yang "kosong" (mengada-ada) .
Jurnal Perempuan jelas berseberangan dengan FPI dan organisasi manapun yang
memaksa kehendaknya dengan kekerasan fisik dan ancaman-ancaman fatwa. Jurnal
Perempuan akan berada di garis depan membela siapapun yang diperlakukan
secara tidak adil, baik itu agama minoritas, seksual minoritas, suku dan
etnis terpinggirkan. Dari waktu ke waktu telah kami buktikan, hingga staf
kami, Guntur Romli dipukuli pun dan terkulai di rumah sakit, tak sedikit pun
membuat kami gentar. Semangat terus berkobar.
++ Pernahkah Jurnal Perempuan membela para TKW yang pulang kampung dan dipalak
di bandara Soekarno Hatta? Atas Woman & Child Trafficking? Pada angka perkosaan
di masyarakat? Pada pelecehan seks oleh anggota Dewan? Pada fenomena Geng Nero?
Maaf, MGR (MGR) itu mosok gak bisa membela diri sendiri sampai harus dibelain
sama temen-temen perempuannya?
Khususnya Musdah
Mulia, adalah orang yang pantas mendapatkan penghargaan. Karya-karyanya
merupakan sumbangan besar bagi Indonesia, dedikasinya dan ketekunannya
merupakan detak jantung kami semua.
++ Belum pernah mendengar suara lainnya ya?
Pertanyaan anda di akhir paragaraf; "apa jadinya bangsa ini? sebuah
pertanyaan yang harus kita jawab dengan saksama". Sebaiknya pertanyaan itu
anda jawab sendiri dengan menggunakan hati nurani anda, tak perlu
menggunakan ayat-ayat, cari saja jawabannya di dalam lubuk mata hati anda
terdalam.
++ Saya tak menggunakan ayat-ayat. Saya, jujur, tak hafal ayat. Saya menggunakan
akal dan logika. Pertanyaan saya sederhana: seseorang harus mematuhi
hukum/aturan dimana dia berada. Bila semua aturan dianggapnya salah, terus mau
bagaimana (mau jadi apa)? Contoh: Kalau kau tak suka ada UU Pornografi yang
detil dan njelimet, kau mesti menyetujui pasal 282 KUHP dan tidak menghindarinya
sambil mengatakan "itu pasal karet". You have to choose either one. Or, you
prefer a lawless state?
Kami tak perlu bertanya-tanya lagi, telah dari awal secara tegas, kami
memilih meneruskan cita-cita bangsa Indonesia yang plural, toleran, sekuler
dan setara, seperti yang diamanatkan para pendiri bangsa ini.
++ Sama: Indonesia yang plural, toleran, harmonis, saling menghormati, tapi
tidak sekuler melainkan berketuhanan: ).
Itulah posisi kami, di mana posisi anda?
++ You must know by now.
salam damai,
sirikit syah
[Non-text portions of this message have been removed]