Maaf sedikit komentar.

Taubat?  Menurut saya, tak ada ada masalah dengan pengikut Ahmadiyah. 
Yang salah adalah Organisasinya.

Jadi, yang harus bertobat hanyalah pucuk pimpinannya. Karena saya berhipotesis 
bahwa ummat Ahmadiyah masih merasa Islam (berdasarkan data berbagai media). 

************************
 Regards,
 C.A. Hidayat - Pekanbaru

 ************************

--- On Sun, 6/22/08, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Jemaat Ahmadiyah di NTB Belum Ada yang Tobat
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected], "zamanku" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sunday, June 22, 2008, 5:02 AM

Republika dari Antara:

 Mataram-RoL- - Dari 130 orang jemaah Ahmadiyah yang tampung di Asrama Transito 
Majeluk, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga kini belum ada yang bertobat 
atau kembali ke ajaran Islam.

 Mereka nampaknya masih tetap pada pendiriannya walaupun SKB telah dikeluarkan 
pemerintah, demikian hasil pantauan Antara di Mataram, Sabtu. Sementara 
sejumlah jemaat Ahmadiyah di berbagai propinsi seperti di Jawa Tengah sudah 
banyak yang bertobat dan kembali ke ajaran Islam.  

 Yang jadi pertanyaan, sejak kapan wartawan ANTARA di Mataram jadi wakilnya 
MUI, FPI, bahkan jadi wakilnya Allah SWT?

 ----- Original Message ----- 
   From: Sunny 
   To: [EMAIL PROTECTED] ps.com 
   Sent: Sunday, June 22, 2008 5:11 PM
   Subject: [mediacare] Jemaat Ahmadiyah di NTB Belum Ada yang Tobat

 Refleksi:  Apakah tidak akan lebih berguna bila tuntutan tobat diajukan kepada 
para petinggi penguasa  negara baik  sipil maupun militer dan krocok-krocok 
mereka disemua  bidang dan tingkat agar supaya berhenti menipu rakyat, berhenti 
korupsi, berhenti melakukan penindasan dan kebengisan kepada rakyat daripada 
kepada jemaat Ahmadiah yang sama samasekali tidak merugikan masyarakat 
sepeserpun. Pasti kalau mereka bertobat dan harta haram yang diperoleh dengan 
jalan tipu muslihat dikembalikan kepada masyarakat, maka masalah BBM, sembako, 
kesehatan serta pendidikan untuk umum akan bertambah baik menuju kesempurnan, 
jalan singkat menuju ke kesejahteraan bersama. Jadi kalau minta tobat, 
tuntutlah harta rakyat yang dicuri oleh  mantan presiden NKRI Haji Muhammad  
Suharto untuk diserahkan kembali kepada pemiliknya yaitu rakyat alias mereka 
yang dalam istilah surgawi disebut umat. Koq selama ini para penuntut tobat 
membisu dalam tuntutan tsb. Apakah obat yang
 disuarakan dengan nyaring dan kekerasan tidak terselubung akal bulus bagaikan 
udang dibalik batu untuk mengalihakan perhatian masyarakat ke arah lain dari 
persoalan pokok kehidupan sehari-hari? Hendaklah jangan dilupakan Majelis Ulama 
Islam didirikan oleh rezim Haji Muhammad Suharto untuk memperkokoh 
kekuasaannya. 

 Bayangkan saja apabila uang 30 milyar dollar yang disembunyikan oleh Almarhum 
Haji Muhammad Suharto dan keluarganya  di berbagai bank dapat diperoleh 
kembali, berapa banyak lapangan kerja bisa diciptakan dengan uang tsb, untuk 
memperkuat roda ekonomi demi langkah menuju perbaikan hidup masyarakat yang 
ditimpa malapetaka  kemiskinkan bin melarat selama ini.    

 Tobat-tobatan masalah rohani adalah uruasan masing-masing individu dengan Yang 
Maha Berkuasa, bukan urusan tukang teriak seperti serigala berbulu domba yang 
kehausan  kehausan di padang tandus. Tuntutan tobatan model seperti  adalah 
teriakan maut dan akan berbuntut panjang terhadap aliran agama lain setelah 
Ahmadiah dilenyapkan. Prakteknya sudah pernah dilakukan teristimewa di Maluku 
dan Sulawesi Tengah dan beberapa tempat lain. Jadi 
   tidak akan ada jaminan bahwa serangan tuntutan tobat-tobat dengan menjarah 
harta kaum akan tamat setelah Ahmadiah dilenyapan, tetapi akan dihapakan kepada 
kaum agama aliran lain. Jadi ceritanya akan seperti slogan adpertensi bioskop 
denga film baru yang akan dipertunjukkan: "tunggu tanggal mainnya".  Sebelum 
tanggal main tiba apakah Anda akan menjadi penonton?  

http://www.republik a.co.id/online_ detail.asp? id=338513& kat_id=23

 Sabtu, 21 Juni 2008  14:48:00

 Jemaat Ahmadiyah di NTB Belum Ada yang Tobat

 Mataram-RoL- - Dari 130 orang jemaah Ahmadiyah yang tampung di Asrama Transito 
Majeluk, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga kini belum ada yang bertobat 
atau kembali keajaran Islam.

 Mereka nampaknya masih tetap pada pendiriannya walaupun SKB telah dikeluarkan 
pemerintah, demikian hasil pantuan Antaradi Mataram, Sabtu. Sementara sejumlah 
jemaat Ahmadiyah diberbagai propinsi seperti di Jawa Tengah sudah banyak yang 
bertobat dan kembali keajaran Islam.  

 Sebanyak 130 jemaat Ahmadiyah itu ditampung di Transito Majeluk Mataram 
setelah rumah mereka di Dusun, Ketapan , Desa Gegerung, Lingsar, Lombok Barat 
dirusak dan dibakar massa lebih dari dua tahun lalu.

 Para jemaat Ahmadiyah melakukan aktivitas seperti salat dan lainnya di Asrama 
Transito dan enggan membaur dengan ummat Islam. Untuk menghindari kecurigaan 
dari umat Islam, mereka menaruh Al-Quran dikaca jendela sehingga terlihat jelas 
dari luar.

 Salah seorang warga Ahmadiyah, Patullah menyatakan keinginannya kembali 
kekampung halaman, karena sudah bosan dipengungsian. Sebelumnya anggota Komisis 
A DPRD NTB, A. Tayib mengimbau kepada jemaat Ahmadiyah untuk kembali keajaran 
Islam.

 "Dengan kembalinya warga Ahmadiyah keajaran Islam merupakan modal utama untuk 
bisa kembali kekampung halamannya di Gegerung, Lingsar dan itulah ajaran yang 
benar," katanya. 

 Mereka ingin kembali kekampung halamannya di Gegerung, namun takut karena 
faktor keamanan dan keselamatan.  Pemerintah propinsi NTB telah berusaha 
semaksimal mungkin untuk mengatasi persoalan Ahmadiyah didaerah itu. Jemaat 
Ahmadiyah dinilai terlalu eksklusif dan peranan organisasi induk aliran 
tersebut dirasa terlalu besar.

 "Masyarakat telah menerima bahkan Pemda telah menyediakan tempat bagi warga 
Ahmadiyah dengan syarat tidak mengelompok, " katanya. Untuk kebutuhan pangan 
Jemaat Ahmadiyah terus mendapat bantuan beras dari pemerintah pusat dan dalam 
enam bulan terakhir telah disalurkan sekitar 12 ton beras.

 Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perempuan NTB, Drs. H. 
Junaidi Najamudin mengatakan, pihaknya hanya membantu beras, sementara yang 
bertangungjawab masalah keyakinan adalah Kanwil Depag, sementara pendidikan 
bagi anak-anak Ahmadiyah tanggungjawab Dikpora NTB.

 "Pembinaan atau bantuan beras terhadap jemaat Ahmadiyah seharusnya berlaku 
setahun, namun karena mereka masih saja tinggal dipengungsian kita terpaksa 
meminta jatah beras ke pusat," katanya. antara/mim 

 [Non-text portions of this message have been removed]

              


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke