Hebat nih Pak Ulil Abshor Abdalla sekarang ini, mulai agak bertanya kembali 
akan fungsi "agama, religion" dari sudut pandang theologi-nya bagi kemaslahatan 
masyarakat. Selamat Pak Ulil, cobalah buka-buka kembali dan lagi Al-Quranu 
al-Kariim dan tanyakan kepada Allah swt apakah wahyu-wahyu yang diwahyukan 
kepada para nabi dan rasul selama kurun waktu hingga rasulullah Muhammad saw 
itu "agama, religion" ataukah KOREKSI RADIKAL terhadap "agama, religion" yang 
digagas dan dilamunkan manusia selama kurun waktu yang telah berlalu itu. 
Apabila "....Wa atmamtu 'alaikum ni'mati wa rodzhiitu lakumu 
al-Islaamadiinaan....." sebagai KEPUTUSAN DEFINITIF maka titik tolak pemikiran 
(mind set) tidak bisa tidak haruslah dipindahkan ke penerimaan Al-Diinu 
al-Islam sebagai Hukum alam semesta atau sains. Jika demikian halnya maka 
masyarakat manusia modern pertama (mempunyai konsesus kontrak sosial yang 
dikenal dengan nama di kalangan pakar sosiologi sebagai Medina Constitution) 
pipimpinan rasulullah Muhammad saw yang pernah dibangun di jazirah Arab dahulu 
bakal muncul kembali entah di mana saja. Alhamduliullahirobbi al-'alaamiin.

Awam Muslim,
A.M


  ----- Original Message ----- 
  From: mediacare 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; mediacare ; zamanku ; [EMAIL PROTECTED] ; mudawijaya ; media 
jakarta 
  Sent: Sunday, June 22, 2008 5:48 PM
  Subject: [ppiindia] Nasionalisme Nasi: Ikut pengajian sambil "berwisata 
kuliner Nusantara"


  Oleh Ulil Abshar-Abdalla

  Berada di negeri asing dan jauh dari tanah air bukanlah hal yang
  menyenangkan. Apalagi jika kita sendirian, tak mempunyai seorang isteri
  atau keluarga, alias masih "jomblo". Seorang kawan saya yang sedang
  belajar di Emory University, Atlanta, Georgia, mengeluh luar biasa
  karena tak ada teman-teman dari Indonesia yang ia kenal di kawasan itu,
  sementara ia belum sempat membawa keluarganya ke Amerika. 

  Cobaan paling berat yang menjadi "litmus test" pertama adalah
  kangen masakan tanah-air. Inilah rasa nasionalisme yang paling cepat
  bereaksi setiap kita berada jauh dari tanah-air dalam waktu yang agak
  lama. Katakan saja "nasionalisme nasi". Sebelum makan nasi, umumnya
  orang Indonesia belum menyebut dirinya "makan", padahal dia sudah makan
  segala bentuk makanan. 

  Kalau anda berada di luar negeri, sendirian, sementara itu selama
  sebulan anda tak pernah merasakan nasi, maka saya jamin hidup anda akan
  "sengsara", "miserable". Bayangkan, dalam situasi seperti itu, anda
  diundang ke sebuah pertemuan yang diadakan oleh komunitas Indonesia,
  dan anda kemudian bisa melihat kembali nasi, pecel, tempe, tahu,
  lalapan, sambal terasi, dan sebagainya -- dalam momen seperti itu, anda
  akan merasakan kegembiraan yang sulit digambarkan bahkan oleh seorang
  pelukis yang paling handal sekalipun. Ada akan mengalami "ekstasi"
  karena berjumpa kembali dengan hal-hal sederhana dari tanah air, tetapi
  menjadi tidak sederhana saat anda jauh dari sana.

  Biasanya komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri membuat
  paguyuban dan mengadakan pertemuan rutin, entah setiap bulan, atau dua
  bulan, tergantung kelonggaran waktu yang dipunyai oleh para anggotanya.
  Pertemuan itu bisa hanya untuk tujuan temu kangen biasa, bisa untuk
  berdiskusi mengenai keadaan di tanah air, tetapi yang paling lazim
  adalah untuk belajar mengaji (ini memakai bahasa Islam), atau untuk
  tujuan "religius". 

  Menjamurlah paguyuban pengajian di sejumlah negeri Barat (Eropa,
  Amerika, Kanada, Australia, dan New Zealand). Di kawasan Boston, kota
  tempat saya tinggal sekarang, berdiri pula paguyuban yang sama dengan
  nama "IQRA BOSTON". Peguyuban ini bertemu setiap bulan, biasanya
  bergantian di masing-masing rumah para anggota, tentu mereka yang
  memiliki rumah cukup besar sehingga bisa menampung seluruh mereka yang
  hadir. Anggota yang tinggal di apartemen kecil seperti saya jelas tak
  memenuhi syarat untuk menjadi tuan rumah paguyuban ini. 

  Jika hadari penuh, pengajian Iqra memiliki jamaah sekitar 20 orang. Tak
  cukup banyak, tetapi cukup untuk disebut sebagai sebuah "paguyuban".

  Fungsi paguyuban ini memang secara resmi adalah untuk kumpul-kumpul dan
  melaksanakan kegiatan keagamaan. Tetapi ada fungsi penting yang jarang
  disadari: yaitu wahana untuk menikmati masakan Indonesia. Dalam
  pertemuan-pertemuan semacam ini, biasanya para isteri akan "berlomba"
  menampilkan karya-karya kuliner terbaik. Tentu yang memasak bukan hanya
  isteri, bisa juga bapak-bapak. Saya senang sekali menghadiri pertemuan
  ini, antara lain untuk menikmati pelbagai ragam masakan yang enak dari
  tanah air. Kalau dikonversi ke dolar, tentu masakan semacam ini bisa
  sangat mahal harganya, dan belum tentu ada disediakan di restoran
  biasa. 

  Tujuh bulan pertama saya tinggal di Boston tiga tahun lalu, dan
  keluarga belum bergabung dengan saya, pertemuan Iqra selalu saya
  tunggu-tunggu, dan, demi Tuhan, saya tak pernah absen. Bukan karena
  saya rajin ingin belajar Islam, sebab saya sudah hampir setiap hari
  menggeluti mata-pelajaran Islam di kampus; motivasi saya adalah
  nasionalisme kecil-kecilan, yaitu menikmati masakan Indonesia.

  Oleh karena itu, Ari Perdana, teman saya dari CSIS, waktu masih kuliah
  di Kennedy School di Harvard University dua tahun yang lalu, sering
  bergurau: kita datang ke acara Iqra adalah untuk makan-makan; pengajian
  hanyalah sambilan saja. Seperti saya, Ari juga "Iqra goer" yang nyaris
  tak pernah absen. Jangan-jangan motivasi dia sama "duniawiah"-nya
  dengan saya. 

  Saya beruntung tinggal di kota Boston, karena di sini banyak terdapat
  masyarakat Indonesia. Mereka umumnya adalah mahasiwa, tetapi sebagian
  ada yang sudah menjadi warga negara AS, atau permanent resident
  yang bekerja. Teman-teman yang tinggal di negara bagian lain yang
  jarang dihuni oleh komunitas Indonesia tentu agak sedikit "sengsara",
  terutama dilihat dari sudut pandang "nasionalisme nasi". 

  Selain paguyuban Iqra yang beranggotakan orang-orang Indonesia yang
  Muslim, di Boston juga ada paguyuban lain yang lebih "cair", yaitu
  Permias (Persatuan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat). Menurut
  saya, kedua paguyuban ini memiliki karakter yang nyaris sama: pada
  intinya adalah untuk melepas nafas "nasionalisme sederhana" dengan cara
  menikmati kembali masakan Indonesia, selain bertemu dengan teman-teman
  dari tanah air. 

  Biasanya pertemuan dalam paguyuban ini mendadak menjadi "istimewa" jika
  ada seorang teman dari tanah air yang sedang berkunjung ke Amerika. Tak
  peduli siapa orang itu, biasanya dia akan "didaulat" menjadi
  "penceramah tiban" untuk berbagi berita dan warta dari tanah air. 

  Dalam pengajian Iqra bulan lalu (5/08) yang diadakan di rumah Sukidi,
  seorang kader Muhammadiyah yang sekarang belajar di Harvard University,
  hadir Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM. Ifdhal saya bawa "impromptu"
  ke rumah Sukidi untuk menghadiri paguyuban pengajian itu. Dia bicara
  sebentar di sana mengenai masalah Ahmadiyah di Indonesia. Saat itu,
  Ifdhal sedang menghadiri sebuah seminar yang diadakan oleh Law School
  di Harvard University. 

  Agama sebetulnya memiliki fungsi yang sangat penting di luar masalah
  sorga-neraka, iman-kafir, ajaran benar-salah, dosa, sesat, dan
  doktrin-doktrin yang lain. Agama bukan sekedar masalah ibadah atau
  ritus. Agama bukan sekedar mengenai apa yang secara mengerikan sering
  disebut oleh para teolog sebagai "the ultimate concern". Tentu, semua itu 
adalah "ingredient" atau bahan mentah yang penting dalam setiap komposisi agama.

  Tetapi ada fungsi lain yang jauh lebih kasat mata, tetapi kerap
  diabaikan oleh para pemeluk agama itu sendiri, yaitu fungsi sosial.
  Tanpa disadari oleh penganutnya sendiri, agama sebetulnya adalah salah
  satu sarana yang dipakai oleh manusia untuk melaksanakan "hidup
  bebrayan", hidup bersama orang lain. Rumah manusia adalah masyarakat.
  Agar tahan lama, sudah tentu "masyarakat" haruslah dirawat agar
  anyamannya tidak kendor. Para ahli sosiologi menyebutnya sebagai "social 
cohesion", kerekatan sosial. Agama adalah salah satu alat yang dapat mencapai 
tujuan itu. 

  Seorang profesor sosiologi yang pernah mengajar di Boston University,
  Hanna Papanek, bercerita kepada saya suatu hari: Saya adalah seorang
  ateis, tetapi saya menghadiri kebaktian di gereja setiap minggu, karena
  saya senang dengan komunitas mereka. Hanna Papanek adalah seorang
  perempuan Yahudi asal Jerman yang datang dari latar belakang keluarga
  yang akrab dengan tradisi Marksisme yang ateistis. Sejak beberapa tahun
  lalu, dia menjadi anggota dari gereja Unitarian Universalist (UU). Dia
  tetaplah seorang ateis hingga saat ini. Masuk gereja bukan berarti dia
  melakukan "konversi" ke dalama agama Kristen (meskipun oleh banyak umat
  Kristen, gereja UU tidak dianggap lagi sebagai bagian dari kekristenan
  karena terlalu "terbuka" kepada tradisi-tradisi lain). Tetapi dia
  dengan sukarela menghadiri kebaktian di sana karena ingin merasakan
  keintiman sosial dalam sebuah rumah bernama "masyarakat".

  Bagi orang-orang seperti Papanek ini, agama lebih tampil sebagai
  "aparatus sosial" yang bermanfaat untuk menjaga kerekatan masyarakat.
  Sebagai seorang sosiolog, dia tentu menyadari fungsi itu dengan baik.
  Bagi saya, fungsi ini tak kalah penting dibanding dengan fungsi-fungsi
  lain, misalnya fungsi agama sebagai "the way" atau jalan
  "satu-satunya" menuju kepada keselamatan. Tekanan yang berlebihan yang
  kita dengar dari elit-elit agama terhadap "the discourse of salvation"
  dalam agama, menurut saya, justru agak kurang positif. Wacana
  keselamatan itulah, antara lain, yang menimbulkan praktek penyesatan
  selama ini. Jika didekati melulu secara doktrinal dan teologis, agama
  cenderung (tidak selalu) memecah-belah. 

  Dengan melihat agama sebagai salah satu sarana "bebrayan" atau "social 
cohesion",
  kita bisa mengapresiasi aspek lain dari agama yang selama ini
  terlupakan. Dengan kata lain, makan-makan dalam acara pengajian seperti
  Iqra Boston itu bukanlah hal sepele. Secara sosiologis, momen
  makan-makan-sambil-pengajian itu mengandung elemen yang sangat krusial
  dalam proses "sosialisasi" atau "memasyarakat". 

  Boleh jadi, jika didekati secara sosial dari sudut fungsinya sebagai "lem" 
yang merekatkan masyarakat, agama bisa lebih menjadi alat integrasi.

  Mereka yang skeptis pada agama dari sudut ajarannya yang boleh jadi mereka 
anggap "non-sense" atau "bullshit", jelas tak bisa mengabaikan fungsi 
sosial-nya sebagai lem perekat. Percaya atau tak percaya Tuhan, anda tetap 
butuh sebuah rumah, yaitu
  "masyarakat". Jika rumah itu bubrah, akan terjadi dislokasi sosial
  dengan dampak negatif yang sangat luas dan bercabang-cabang.

  [Non-text portions of this message have been removed]



   


------------------------------------------------------------------------------



  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG. 
  Version: 8.0.100 / Virus Database: 270.4.1/1513 - Release Date: 22-6-2008 7:52


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke