Seputar Kasus Monas 2
oleh : akmal

assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Sekarang SKB Ahmadiyah sudah keluar.  Habib
Rizieq menyebutnya sebagai ‘SKB Banci’, Mahendradatta menyebutnya
sebagai SKB yang tidak memuaskan namun patut disyukuri, sebagian
lainnya menyebutnya sebagai bom waktu.  Bagaimana pun, fenomena insiden Monas 
masih sangat menarik untuk kita amati pernak-perniknya.  Tulisan ini sengaja 
saya buat agak lama berselang setelah bagian pertamanya, agar kita dapat 
melihat perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat secara lebih 
komprehensif.
 
Pola Gus Dur
Gus Dur – sebagaimana kita tahu – adalah salah satu tokoh paling controversial 
di Indonesia.  Kebiasaan bicaranya yang ceplas-ceplos dianggap sebagai cacat 
intelektual namun sekaligus juga daya tarik tersendiri di mata sebagian 
masyarakat.  Bahkan Gus Dur tidak terlalu ragu untuk menggunakan kata-kata 
kasar seperti “goblok”, “bego”, dan semacamnya, meski di depan kamera TV 
sekalipun.
 
Namun ketika sudah memperoleh momentum – ketika massa pendukungnya mulai 
bertindak brutal – biasanya Gus Dur akan diam seribu bahasa.  Berkaitan
dengan FPI dan MMI, hal ini juga pernah terjadi di masa lalu, ketika
entah dari mana muncul isu bahwa Gus Dur diusir dari sebuah diskusi
lintas agama.  Pelakunya, konon, adalah FPI dan MMI.  Akibatnya,
sebagian warga NU dan PKB tersulut emosinya dan muncul tekanan yang
kuat (terutama di Jawa Timur) untuk melakukan ‘pembalasan’ terhadap
kedua ormas Islam ini.  Lama setelah keributan berlalu, barulah Gus Dur 
mengatakan bahwa ia tidak pernah diusir oleh siapa pun.  Meski
demikian, tak terdengar permohonan maaf dari pihak Gus Dur atau dari
pihak mana pun yang telah memprovokasi warga untuk memusuhi FPI dan MMI.
 
Dalam
kasus wawancaranya di situs JIL yang memuat pernyataan bahwa ‘Al-Qur’an
adalah Kitab Suci porno’ dan ‘Nabi Yusuf as. pernah berpacar-pacaran’
pun terjadi hal yang kurang lebih sama.  Gus Dur diam seribu bahasa, namun 
pendukungnya bergerak membabi-buta.  Guntur
Romli menulis artikel pembelaan di Majalah Tempo yang mengatakan bahwa
Gus Dur tak pernah berkata nista begitu, sedangkan sebagian warga NU
dan PKB lagi-lagi diprovokasi untuk membela Gus Dur, apa pun yang
terjadi.  Pada akhirnya kasus ini tidak ada
kelanjutannya, meskipun banyak saksi yang menyaksikan kelicikan
pengurus situs JIL yang menghapus pernyataan tersebut dari transkrip
wawancaranya.  Tidak ada permintaan maaf.  Yang terjadi justru diterbitkannya 
buku kumpulan artikel Guntur Romli yang kembali memuat artikel pembelaan tadi.
 
Dalam kasus situs JIL itu, terlihat pola pikir kaum liberalis yang menghalalkan 
segala cara demi mencapai tujuan.  Karena
ada beberapa kalimat yang dianggap menistakan Al-Qur’an dan Rasul-Nya,
maka kalimat-kalimat itu pun dibuang dan dianggap tak pernah ada.  Hal yang 
sama juga terjadi pada kisruh PKB (ketika itu Muhaimin dan Gus Dur belum resmi 
‘pecah’) dalam kasus Artalyta.  Awalnya nama Artalyta tercantum dalam situs 
PKB, namun tiba-tiba saja hilang entah ke mana.  Kurang lebih sama pula dengan 
kasus insiden Monas.  Video yang diputar selalu yang itu-itu saja, namun tak 
ada yang tahu seperti apa kejadian awalnya.
 
Tameng Manusia
Sebagaimana Zionis suka menggunakan manusia sebagai tameng, AKKBB pun dituduh 
melakukan hal yang sama.  FPI bersikeras bahwa AKKBB telah menggunakan kaum 
perempuan dan anak-anak sebagai tameng manusia dalam insiden Monas.  Terhadap 
klaim ini, saya tidak tahu benar-salahnya.  Mungkin karena rekaman yang diputar 
di TV yang itu-itu melulu.
 
Menariknya, saya melihat pola yang sama ketika menghadiri syuting acara 
Debat-Debat di TV One tempo hari.  Kubu
pro-Ahmadiyah membawa serta seorang anak kecil (sebuah langkah yang
sangat mengherankan, kecuali jika dilakukan oleh PKS yang
kader-kadernya terbiasa melakukan aksi dengan membawa serta seluruh
keluarga).  Kontradiksinya terlihat pada opini yang dihembuskan.  Bahkan takbir 
pun dianggap sebagai ciri-ciri anarkisme dan niat buruk.  Jika
memang kubu anti-Ahmadiyah dianggap anarkis, radikal, berbahaya, doyan
kekerasan dan sebagainya, lantas mengapa kubu pro-Ahmadiyah harus
membawa anak-anak?  Ini menunjukkan dua
kemungkinan, yaitu (1) bahwa mereka sebenarnya tahu bahwa kubu
anti-Ahmadiyah itu cinta damai dan tak ada niat untuk menyulut
keributan, atau (2) mereka ingin menggunakan anak itu sebagai tameng
dalam keadaan terdesak.
 
NU-ku Sayang, NU-ku Malang …
Sejak awal masa kepemimpinannya, Hasyim Muzadi terlihat jelas menyadari 
bahayanya sikap taqlid kepada Gus Dur.  Maka dengan berbagai cara, ia pun 
berusaha ‘memutuskan’ tali yang mengidentikkan Gus Dur dengan NU.  Gus Dur 
bukan NU, dan NU bukanlah Gus Dur.  Sayang niat baiknya tidak seratus persen 
berhasil, namun juga tidak sepenuhnya gagal.  Banyak Kyai NU yang mulai berani 
berseberangan dengan Gus Dur, dan kita bersyukur atas kewaspadaan Hasyim Muzadi 
dalam hal ini.
 
Yang menjadi keprihatinan kita bersama adalah kenyataan bahwa tindak-tanduk Gus 
Dur hanya memakan satu korban, yaitu NU sendiri.  Karena tidak sejalan dengan 
Gus Dur (yang memiliki track record sangat buruk dalam hal berbeda pendapat), 
muncullah partai-partai lain dari rahim NU.  PKNU,
misalnya, bahkan menggunakan artikel saya untuk dimuat dalam bukletnya
yang berisikan propaganda kepada warga NU untuk meninggalkan Gus Dur.  Ketika
Gus Dur bersitegang dengan Matori Abdul Djalil, mantan ketua umum PKB
yang pertama ini pun hengkang dan membentuk partai baru.  Sudah pasti, ada 
massa NU yang ikut menyeberang bersamanya.  Demikian pula Alwi Shihab membawa 
serta massa pendukungnya.  Terakhir,
dan mungkin ini adalah konflik PKB yang paling dahsyat, menghasilkan
pecahnya PKB menjadi dua kubu besar : kubu Cak Imin dan kubu Gus Dur.  Dalam 
kasus AKKBB ini pun warga NU pada akhirnya terpolarisasi menjadi dua kubu.  
Hasyim Muzadi di satu sisi, dan Gus Dur di sisi lain.
 
Jika
perspektif ini kita dalami, barangkali memang sudah saatnya bagi warga
NU untuk mempertimbangkan masak-masak keterlibatannya dengan Gus Dur.  Apakah
keterikatan NU dengan Gus Dur memang membawa manfaat, atau justru
menjerumuskannya dalam jurang kemudharatan yang tak berujung?  Meskipun NU 
tidak terlibat dalam ranah politik praktis, namun amat disayangkan jika ormas 
Islam terbesar di Indonesia ini di kemudian hari tidak mampu lagi memberikan 
andil dalam menentukan arah kemajuan Republik Indonesia lantaran kekuatannya 
sudah terpecah-belah.
 
Kembalinya Munarman
Ini adalah fenomena yang membuat banyak orang terkaget-kaget.  Inilah
dia, salah satu buronan yang paling dicari (ketika itu) dan tidak
diketahui dimana keberadaannya, namun lantas muncul di depan markas
polisi dengan menaiki taksi.  Dengan santainya ia
pun melenggang ke dalam markas polisi itu, melapor kepada petugas, dan
menyerahkan diri dengan tenang dan damai.  Hal
itu dilakukannya sesuai janjinya sebelumnya, yaitu jika pemerintah
mengeluarkan SKB yang melarang Ahmadiyah, maka ia akan menyerahkan diri.  
Penyerahan dirinya jauh dari kesan anarkis yang ditanamkan oleh lawan-lawan 
politiknya, terutama sekali Koran Tempo.
 
Tidak berapa lama setelah insiden Monas, kita pun sempat dikagetkan dengan cara 
yang sama.  FPI yang waktu itu dicap teroris, fanatik, radikal, anarkis, 
ternyata gampang saja menangkapnya.  Ratusan
polisi yang dikerahkan pun nampak mubazir, karena anggota FPI yang
dijadikan buron sudah berkumpul di markas FPI dan langsung menyerahkan
diri.  Jangankan perlawanan, adu mulut pun tidak ada.  Yang nampak konyol 
adalah para penyebar isu yang mengatakan bahwa FPI akan angkat senjata kalau 
anggotanya ditangkap.  Apakah ini bisa dikategorikan provokasi?
 
Merelatifkan Masalah
Seperti
biasa, kaum liberal suka sekali dengan segala hal yang berbau relatif
(tidak termasuk teori relatifitas Einstein, karena rata-rata kaum
liberalis tidak berlatar belakang sains).  Maka segalanya pun disebut relatif.  
Dalam kasus Ahmadiyah, mereka pun memandangnya dari kaca mata relatifitas.  Ada 
yang tersinggung, tapi saya kok tidak ya.  Orang-orang marah, tapi saya 
melihatnya cuma sebagai perbedaan tafsir.  Ada yang bilang Ahmadiyah menghina, 
tapi kayaknya nggak juga tuh.  Begitulah sindiran yang biasa mereka gunakan.
 
Memang susah kalau harus berhadapan dengan relatifitas.  Di Afrika ada suku 
yang mengekspresikan kedekatan dengan cara meludahi orang lain.  Saya 
membayangkan jika suatu kali Abdul Moqsith Ghozali, Ulil Abshar Abdalla, atau 
orang-orang sekuler lainnya ujug-ujug didatangi orang dari suku ini dan 
tiba-tiba diludahi wajahnya ; marahkah mereka?  Bukankah ini masalah 
relatifitas?  Demikian pula orang Indonesia seringkali tersinggung jika kepala 
atau janggutnya dipegang-pegang,
padahal yang begini adalah tanda keakraban di beberapa bagian di Timur
Tengah.  
 
Tapi bicara soal relatifitas, sebenarnya merelatifkan segalanya adalah nonsens. 
 Dalam hubungan antara dua pihak, tentu kita harus banyak menenggang rasa.  
Misalnya
jika budaya kita menganggap biasa menyentuh kepala lawan bicara, tentu
kita harus menahan diri jika kita tahu lawan bicara kita berpendapat
sebaliknya terhadap perilaku yang sama.  Jika
kita tahu si A akan tersinggung jika kita melakukan sesuatu, maka
sebaiknya kita tidak melakukan hal tersebut, meskipun jika kita
menganggap perbuatan tersebut tak ada salahnya.
 
Yang dilakukan oleh kaum liberal adalah senantiasa berkaca pada dirinya 
sendiri.  Saya, saya dan saya, yang lain tidak!  Mereka
tidak tersinggung jika Ghulam Ahmad menyebut Allah mirip gurita, atau
menyebut Nabi ‘Isa as. sebagai orang yang berasal dari keluarga yang
hina-dina.  Mereka tak pernah bertanya-tanya :
“Apakah Allah SWT murka jika Dzat-Nya dianggap sama dengan gurita?”,
atau “Apakah Nabi ‘Isa as. akan marah jika keluarganya dicerca?”  Itulah 
sebabnya mereka tidak merasa tersinggung pada Ahmadiyah.  Jelas sekali, kaum 
sekularis-liberalis telah bertindak egois, bahkan terhadap Allah dan Rasul-Nya 
sekalipun.  Yang seperti inilah tanda-tanda lunturnya rasa cinta terhadap Allah 
dan Rasul-Nya.  Semoga setiap Muslim dilindungi dari hal yang demikian.  Aamiin…
 wassalaamu’alaikum wr. wb



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke