Asma Hanif Brussels - Seruan Arab Saudi bagi sebuah dialog antaragama yang berkesinambungan telah membuat sebagian pihak di Barat mengangkat alisnya.
Kerajaan tersebut telah lama dikenal sebagai sekeping wilayah padang pasir yang dikuasai oleh para ulama yang ultra konservatif dengan tafsiran-tafsiran radikal tentang Islam. Kaum perempuannya ditekan, seperti sering dituduhkan; kaum terpelajar Wahabi ingin mengislamkan dunia; dan kalangan non-Muslim dilarang melaksanakan ibadah agama mereka di tanah Saudi - kata sebagian kalangan. Teman Saudi saya menyebut semua ini sebagai mispersepsi belaka. "Bangsa kami tidak ada bedanya dengan bangsa lain di dunia," katanya. "Kami mendukung pembaruan, menghormati nilai-nilai manusia, dan menghargai kemodernan." Kebetulan, ia - seperti halnya para perempuan relijius Saudi lain - tampak menikmati kehidupannya sebagaimana kawan-kawan perempuan Barat saya. Penafsiran konservatif mereka tentang Islam tidak menghalangi pendidikan, belanja, pakaian, dan pesta menjadi bagian dari kehidupan mereka. Menolak tudingan-tudingan yang dialamatkan kepada Islam dan Muslim - termasuk masyarakat Saudi - merupakan tujuan utama dari dialog antaragama yang berkesinambungan. "Penjaga Dua Masjid Suci ", begitu sang Raja disebut di Arab Saudi, kelihatannya merasakan sebuah komitmen khusus terhadap Islam. Di awal bulan ini Raja membuka sebuah konferensi tiga hari di Mekkah yang bertujuan mempromosikan masa depan dialog antaragama dengan golongan non-Muslim. Ia mengatakan kepada para pendengar yang semuanya Muslim, "Anda telah berkumpul hari ini untuk mengatakan kepada seluruh dunia bahwa (...) kita adalah suara keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan, bahwa kita adalah suara bagi koeksistensi dan sebuah dialog yang adil dan rasional." November lalu, Raja Abdullah menciptakan sejarah ketika bertemu dengan Paus Benedict XVI di Vatikan, dan bulan ini, monarki Sunni tersebut tampak berdampingan dengan Ayatollah Hashemi Rafsanjani, mantan presiden Iran yang mayoritas Syiah, sebagai sebuah isyarat simbolis untuk mendorong kesatuan Muslim. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari sebuah adaptasi lebih luas dari para ulama Arab Saudi terhadap kehidupan modern. Yang pertama dari yang terjadi di Arab Saudi, konferensi tersebut menyampaikan sebuah pesan penting: dialog antaragama tidak melanggar prinsip agama mana pun. Malahan, ia dianggap sebagai sebuah elemen dasar dari Islam. Cuplikan-cuplikan baik dari Al Qur'an dan sunnah (tradisi-tradisi Nabi Muhammad) dikutip untuk menggarisbawahi arti pentingnya. Imam Agung negara tersebut, Abdul Aziz Al-Sheikh, menekankan bahwa agama mendorong penyesuaian dengan kehidupan modern. "Kita hidup di zaman komunikasi," katanya. "Untuk menyesuaikan diri terhadapnya dengan menyelenggarakan dialog dan korespondensi di antara umat manusia merupakan sebuah kewajiban." Tidak ada keraguan bahwa komitmen untuk melibatkan diri dalam sebuah dialog antaragama membutuhkan upaya lebih keras di Arab Saudi, yang disebabkan oleh komitmennya yang mencurigakan, yang sekarang kelihatannya telah diatasi kaum ulama Saudi. Hassan Al-Ahdal, direktur media dan hubungan di Liga Dunia Muslim, mengaitkan keengganan ini dengan rasa takut bahwa semua akan berakhir dengan munculnya "satu agama dunia" yang menimbulkan kerugian bagi setiap ajaran agama. Tetapi konferensi ini telah memperjelas bahwa tujuannya bukanlah untuk mengkompromikan prinsip-prinsip agama mana pun. "Prioritasnya adalah untuk menyepakati nilai-nilai bersama tanpa mengurusi urusan-urusan keagamaan karena hal ini selalu menjadi ladang perselisihan," kata Al-Ahdal. "Tak satu pihak pun yang akan berhasil mengubah antara (the other)." Imam Agung negara bersikap mendukung pembicaraan-pembicaraan antaragama tersebut, dengan mengatakan bahwa "dakwah" merupakan tujuan akhir dari keterlibatan dalam dialog. Walaupun dakwah terkadang digunakan dalam Al Qur'an untuk menyebut khotbah yang bertujuan mengubah keyakinan seseorang, namun sesungguhnya arti harfiahnya adalah "undangan", dan dapat digunakan untuk mengundang antara (the other) untuk memahami Islam. "Perbedaan antarbangsa bukan hal yang perlu dipertanyakan," katanya lagi. "Wajar jika orang berbeda dalam perilaku, bahasa, warna, dan kecerdasan. Al Qur'an mengakui hal tersebut." Walau tak ada jadwal pasti yang ditetapkan bagi pembicaraan antaragama Muslim-Kristen-Yahudi, para peserta Muslim minggu lalu telah merancang sebuah strategi untuk berdialog, dan menyetujui pembentukan badan-badan untuk mendorong dialog akademis seperti Pusat Internasional bagi Interaksi Peradaban Raja Abdullah Ibn Abdul Aziz, dan pembentukan Penghargaan bagi Dialog Peradaban Raja Abdullah bin Abdul Aziz. Masih belum jelas apakah melalui forum-forumnya Raja Abdullah juga bertujuan menyelesaikan konflik-konflik politik dalam jangka panjang atau tidak, tetapi saat ini politik seharusnya disingkirkan dari agenda. Prioritas kunci dari dialog ini - untuk mengundang orang-orang dari semua agama, dan khususnya Yudeo-Kristen di Barat, bergabung dengan Muslim untuk menilai secara rasional apakah rasa saling curiga dapat dibenarkan - seharusnya adalah mengangkat harapan, bukannya alis mata. ### * Asma Hanif adalah wartawan yang bermarkas di Brussels, yang memusatkan perhatian pada agama dan politik. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org. [Non-text portions of this message have been removed]

