Membentengi Pelajar dari Pengaruh Gerakan Islam Garis Keras

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) berupaya membentengi pelajar, 
khususnya kader IPNU, dari pengaruh gerakan Islam garis keras yang 
belakangan kian marak di Indonesia (Republika, 15/01/2006). 

Sebagai organisasi pelajar yang ada di lingkungan NU, IPNU juga 
memiliki tanggungjawab untuk memperjuangkan faham Islam moderat. 
Gerakan ini mesti diikuti oleh organisasi pemuda dan pelajar lainnya. 

Menurut Ketua PP IPNU Muhammad Asyhadi seperti dilansir kantor berita 
Nasional Antara (15/10/2006,) saat ini kader-kader NU yang telanjur 
masuk ke dalam gerakan Islam radikal tersebut cukup banyak. Kalau 
sudah masuk, mereka biasanya kehilangan identitas ke-NU- an dan ke-
IPNU-annya. Untuk itu, yang dilakukan IPNU itu perlu kerjasama dengan 
ikatan pelajar lainnya dalam upaya mencetak "superkader" yang 
diharapkan menjadi motor dalam menghadang pengaruh aliran Islam garis 
keras di lingkungan masing-masing melalui pelatihan motivasi pelajar 
dengan sasaran pelajar. 

Para remaja atau muda-mudi adalah warisan masa depan agama dan 
bangsa. Mereka adalah aset yang berharga agar agama Islam dihayati 
dan dipraktikkan oleh masyarakat Islam secara terbuka dan toleran. 
Mereka adalah harapan masyarakat dan negara, maka adalah penting bagi 
kita memastikan agar mereka bersedia untuk membawa obor perjuangan 
Islam yang ramah dan anti kekerasan pada masa depan. 

Untuk membinanya, pelatihan dan pengajaran Islam yang moderat perlu 
dilakukan. Dan yang lebih penting adalah agar Islam rahmatan lil 
alamin akan terus menjadi panduan masyarakat kita. Kita sudah 
mempunyai contoh-contoh yang baik yang kita ambil sebagai tauladan. 
Sekarang kita melihat semakin ramai anak muda yang berpelajaran 
tinggi mempunyai kesadaran keislaman yang masih dangkal dan mudah 
terasuki doktrin-doktrin dari para pembawa garis keras Islam. 

Sekarang kita menghadapi teknologi internet dan televisi yang segala 
bentuk informasi dapat diraih hanya dengan menekan keyboard atau meng-
klik mouse pada komputer untuk membuka semua akses tentang ilmu 
Islam. Gerakan Islam garis keras pun tak bodoh, mereka memiliki akses 
yang cukup luas dalam berangkasa di dunia maya. 

Nah, bila pelajar tidak dibina dan dididik mengenai pandangan ilmu 
keislaman yang tidak keras, maka bibit-bibit pelaku kekerasan dalam 
beragama akan selalu muncul. Karena itu, para pelajar perlu diperkuat 
dengan ajaran agama yang anti terhadap kekerasan dan menyebarkan misi 
perdamaian Islam. 

Kesulitan terbesar generasi muda dewasa ini, selain kekurangan ilmu 
agama yang rahmatan lil alamin, juga terjadinya degradasi dan 
dekadensi akhlak dan moral di sebagian besar generasi muda. Sikap 
mereka yang mudah memberontak dapat dimanfaatkan oleh golongan garis 
keras sebagai penambah massa untuk melakukakn perusakan-perusakan 
yang mengatasnamakan agama terntentu. 

Oleh karena itu, penguatan dan pengayaan pendidikan/pelajaran Islam 
yang lebih menekan pada pola pergaulan yang ramah, santun dalam 
berhubungan antara sesama agama maupun berbeda agama segera 
dilakukan. Selain tak melupakan bahwa ajaran agama sangat berperan 
dalam membentuk moralitas dan akhlak. Karena perubahan zaman, nilai-
nilai pun bergeser. 

Moral dan akhlak, serta keyakinan beragama generasi muda kita agak 
mencemaskan, sehingga peserta didik perlu diberi pengayaan, 
dibangkitkan kembali kesadarannya akan pengamalan adat dan budaya, 
kuat keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maju ilmu 
dan pengetahuannya. (CMM /Dav). 



Kirim email ke