Beragama tp tdk tunduk
oleh Akmal
assalaamualaikum wr. wb.
Hal paling penting dalam beragama adalah penyerahan diri secara total. Itulah
sebabnya Diin satu-satunya yang diridhai Allah SWT ini disebut Islam, karena
asal katanya dekat dengan penyerahan diri dalam bahasa Arab. Tanpa pengakuan
akan kelemahan yang berlanjut pada penyerahan diri itu, maka agama hanyalah
sebuah titel yang tidak berarti.
Di Eropa dan Amerika, agama seringkali jadi bahan guyonan. Saking
dianggap tidak relevannya, menanyakan agama seseorang dianggap tidak
etis, atau paling tidak akan membuat dahi berkerut dan pikiran
bertanya-tanya. Apa pentingnya orang menanyakan agama, sementara agama itu
sendiri bukan lagi hal yang penting bagi yang ditanya?
Anehnya,
meski disebut-sebut tidak relevan atau tidak penting lagi, agama
selalu menjadi hal yang sensitif bagi setiap orang. Kalau
memang dianggap tidak penting, jika ada yang menanyakan agama yang
dianut, mengapa tidak langsung saja menjawab apa adanya? Ah, saya tidak
percaya Tuhan!, misalnya. Sekian
banyak manusia yang tidak menjalankan syariat agama mana pun dalam
hidupnya, tapi sedikit saja yang cukup berani menyatakan pendirian
dalam hatinya.
Sebenarnya hati setiap manusia menyadari kekeliruan yang dibuatnya sendiri.
Tidak ada orang yang hatinya tentram tanpa pernah disejukkan oleh agama. Semua
orang yang membenci agama hidupnya tidak pernah tenang dan selalu akrab dengan
stres. Apakah Anda pernah melihat wajah Lenin dan Stalin? Mereka adalah dua
dari sekian banyak pembenci agama yang paling termasyhur di dunia. Apakah Anda
menganggap wajah mereka adalah wajah manusia yang hidupnya bahagia? Tidak
perlu belajar psikologi terlalu mendalam untuk menyelami isi hati mereka yang
sebenarnya.
Di
satu sisi, fitrah manusia mewajibkannya tunduk pada suatu aturan yang
disebut agama, namun di sisi lain jiwa selalu memiliki sebentuk
kenakalan tersendiri yang membuatnya enggan diatur-atur. Dengan demikian,
pembangkangan kadang bisa diidentikkan dengan kebebasan oleh akal yang
benar-benar nakal. Manusia
yang kendali dirinya sudah dikuasai oleh kenakalan semacam ini akan
melibas segala aturan untuk sebab-sebab yang bahkan ia sendiri tidak
memahaminya.
Akan tetapi, selalu ada kompromi bagi mereka yang berusaha mencari. Kata
yang indah seindah kompromi pun kemudian bisa ditunggangi oleh selera
pribadi, seolah-olah kebenaran itu senantiasa selaras dengan selera
kita, bukan lagi kehendak Tuhan. Dengan logika
demikian, maka jalan tengah yang paling pintas bagi hati yang tak
sabar adalah dengan menundukkan agama itu sendiri.
Dengan
demikian terjadilah sebagaimana yang terjadi pada sebagian dari
umat-umat yang terdahulu dan sekarang, yaitu kesalahpahaman
besar-besaran. Agama bergeser dari makna awalnya
yang berarti aturan hidup bagi mereka yang tunduk pada perintah Tuhan
menjadi aturan hidup yang bisa ditundukkan atas perintah selera dan
(mudah-mudahan saja) Tuhan merestuinya.
Syetan
tidak tolol sehingga ia tidak pernah berseru bahwa shalat itu tidak
wajib, zakat itu sia-sia, atau haji itu tidak penting. Yang dilakukannya
adalah menggeser arah laju hidup manusia sedikit saja, kemudian membiarkan
waktu menyelesaikan pekerjaannya. Jika
suatu kendaraan yang tadinya bergerak ke arah utara dengan kecepatan 1
km / jam disenggol sedikit saja sehingga menyimpang satu derajat ke
arah timur, maka dalam waktu 60 jam, ia akan berada pada jarak 10,4587
km dari tempat seharusnya ia berada. Masih lumayan jika tempatnya berada kini
masih pada jalur aman atau masih di jalan tol yang bebas hambatan. Bagaimana
kalau ia sudah terlanjur terperosok ke dalam jurang?
Sedikit demi sedikit, bermunculanlah pembenaran dari dalam hati, dan akal pun
tunduk pada selera pribadi. Maka agama yang tadinya mengatur manusia berubah
kedudukan menjadi hamba yang diatur-atur. Tidak apa-apa shalat agak telat,
yang penting masih shalat. Tidak mengapa tidur melulu saat shaum, yang penting
masih shaum. Tidak masalah kikir bersedekah, yang penting zakat yang wajib
tetap ditunaikan.
Akhir-akhir ini banyak sekali pihak yang gemar menyelewengkan aturan-aturan
agama. Kerjanya sangat halus dan bagi sebagian orang yang awam tidak akan
terlihat bedanya dengan agama Islam yang sebenarnya. Istilah-istilah
yang mereka pakai sama dengan kita, namun maknanya digeser sedikit demi
sedikit hingga akhirnya mereka yang terlanjur terjebak tidak lagi tahu
harus lari kemana dan tidak paham bagaimana caranya kembali ke jalan
yang benar.
Belum
lama ini ada seseorang yang mengaku rajin mengikuti kajian-kajian
keagamaan Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) dan Aa Gym melontarkan sebuah
pernyataan yang mengundang tanda tanya bagi siapa pun yang pernah
belajar pendidikan agama Islam di SD. Menurutnya, Stephen R. Covey sudah
membaca Al-Quran hingga khatam, dan karenanya ia bisa dianggap beriman.
Menurutnya
pula, Michael H. Hart yang dalam bukunya menempatkan Muhammad saw.
sebagai manusia paling berpengaruh di dunia itu juga bisa dikategorikan
sudah beriman pada Rasulullah saw. Kedengaran indah dan bernada toleransi,
namun sungguh mengenaskan.
Kalau
cuma membaca Al-Quran sampai tamat, hal itu sudah pernah dilakukan
oleh Snouck Hugronje yang memecah-belah umat Islam di Indonesia dan
Arthur Jeffries yang berhasrat membuat Al-Quran edisi kritis. Apakah mereka
beriman? Hanya Allah yang tahu isi hati manusia, namun hasil perbuatannya
tidak menunjukkan demikian.
Kalau hanya mengakui kehebatan Muhammad saw., Abu Jahal pun sudah pernah
memproklamirkannya di hadapan seorang raja dahulu kala. Tidak ada yang sanggup
memungkiri keindahan akhlaq beliau, kecuali mereka yang cukup tidak tahu malu
untuk berbohong di hadapan sejarah. Siapa pun yang jujur akan mengakui
keunggulan beliau. Apakah Abu Jahal ketika memuji Rasulullah saw. itu sudah
bisa disebut beriman?
Pengertian iman sudah dipahami dengan baik oleh anak SD mana pun yang sempat
mengecap pendidikan agama Islam.. Iman adalah sesuatu yang dibenarkan oleh
hati dan lidah, kemudian diwujudkan dalam perbuatan. Iman bukan sekedar
percaya atau kagum, apalagi sekedar pernah membaca Kitab Suci. Ini adalah
sebuah korupsi besar-besaran dalam memahami agama, dan sebuah langkah nyata
dari pembelokan ajaran agama Islam.
Sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, mereka menyimpangkan kita dari
jalan yang lurus. Jika
kini kita sudah merasa nyaman menyimpang sedikit, maka esok hari kita
akan menyimpang lebih jauh lagi, dan demikian seterusnya. Berawal
dari ucapan agama itu jangan terlalu kaku, hingga akhirnya lidah
tidak sadar berucap agama harus tahu diri dan tidak seenaknya!.
Tunduklah, dan telitilah, selagi penyimpangan itu belum terlalu jauh. Selagi
masih ada jalan untuk kembali. Selagi masih ada waktu. Jangan tanya sampai
kapan.
wassalaamualaikum wr. wb.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/