ini salah satu 'cendekiawan' liberal, tulisannye kaya' orang ga mkn bangku 
skolahan dah!

bntr lg dpt beasiswa nih hehe..


Pernikahan = Pembirokrasian Seks ???
oleh : Akmal


assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Dari sebuah buku, saya mengetahui sebuah karya tulis bikinan seorang lulusan 
IAIN Yogyakarta.  Namanya Muhidin M. Dahlan.  Hampir-hampir saya meneteskan air 
mata setelah membaca sedikit kutipan dari tulisannya itu.  Sayangnya, bukan air 
mata haru.  Beginilah
kutipan dari buku karya Muhidin M. Dahlan yang berjudul “Tuhan Izinkan
Aku Menjadi Pelacur : Memoar Luka Seorang Muslimah” :
 
Pernikahan
yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan
adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang
secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang
sangat menyakitkan.  Istilah pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini.  
Perempuan
yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan
sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas
menyandang harga diri.  Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang 
berstatus istri?  Posisinya sama.  Mereka adalah penikmat dan pelayan seks 
laki-laki.  Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau 
banyak orang.  Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan 
untuk bisa kupercaya.
 
Na’uudzubillaah!  Apa saja yang mereka ajarkan di IAIN Yogyakarta?
 
Sebagai
orang yang sedang merencanakan pernikahan, saya ingin menyampaikan duka
cita sedalam-dalamnya kepada Muhidin M. Dahlan yang memiliki anggapan
sedemikian buruk terhadap institusi pernikahan.  Saya
tidak bisa membayangkan betapa hancur leburnya hidup sang lulusan IAIN
ini sehingga ia tidak lagi mampu melihat hikmah di balik sunnah
Rasulullah saw. yang satu ini.  Dalam bayangan
saya, pernikahan adalah suatu hal yang menentramkan, membahagiakan, dan
memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya.  Rupanya, ada yang 
berpendapat sebaliknya.  
 
Saya
juga ingin menyampaikan duka cita saya yang amat mendalam kepada
Muhidin M. Dahlan yang tidak lagi takut dengan batas-batas keimanan dan
kekafiran.  Memang banyak perdebatan dalam memahami agama Islam, misalnya dalam 
masalah-masalah fiqih, namun saya belum pernah menemui pendapat yang 
membenarkan pelacuran.  Tidak ada seorang ulama pun yang pernah menghalalkan 
pelacuran, setahu saya.  Barangkali Muhidin ingin menjadi yang pertama?  Ah, 
tetapi apakah ia sudah berstatus ulama?
 
Apakah pernikahan memang sekedar pembirokrasian seks?  Apakah seks adalah 
satu-satunya dimensi dalam sebuah lembaga pernikahan?  Saya ingin mengetuk hati 
kecil Muhidin dengan sebuah pertanyaan : Apakah ayah dan ibumu tidak punya 
kegiatan lain selain seks?
 
Sederhana saja.  Jika
memang menganggap pernikahan adalah sebuah lembaga pembirokrasian seks,
maka bukalah mata lebar-lebar dan lihatlah sendiri ; apakah memang
semua orang menikah karena alasan seks semata?  Jangan lihat kuman di seberang 
lautan, tapi lihatlah gajah di pelupuk mata.  Mulailah dari orang-orang 
terdekat.  Apakah orang-orang di sekitar Muhidin memang semuanya sex-oriented?  
Jika memang ya, maka sekali lagi saya menyampaikan duka cita yang amat mendalam.
 
Kalau memang pelacur tidak ada bedanya dengan istri yang sah, jangan berpikir 
terlalu jauh.  Pikirkanlah ibu, kakak perempuan, adik perempuan, sepupu, bibi 
dan nenek kita yang sudah menikah.  Apakah mereka semua memang sama dengan 
pelacur?  Atau barangkali memang keluarga Muhidin semuanya pelacur?  Saya
sungguh kasihan pada kerabat perempuan Muhidin yang sudah menikah,
karena saudaranya sendiri menuduh mereka sama dengan pelacur.
 
Yang terjadi di sini adalah kebejatan cara pandang dan generalisasi yang 
berlebihan terhadap orang lain.  Muhidin M. Dahlan kelihatannya memang 
mengalami semacam penyakit ge-er, dimana ia menyangka semua orang berpikir sama 
dengannya.  Pertama, ia memang hanya mampu melihat dimensi seks dari sebuah 
pernikahan.  Kedua, ia menyangka bahwa semua orang berpikir seperti demikian.  
Padahal sebenarnya, cara pandangnya ini sangatlah sempit, dan tidak banyak yang 
berpikiran sesempit Muhidin.
 
Jika kita harus berempati – dan memang sebaiknya begitu – maka hati kita akan 
tergerak untuk merasa kasihan kepada Muhidin yang malang ini.  Ia bersekolah di 
IAIN, namun di hatinya tidak ada kehangatan yang dimiliki oleh orang-orang yang 
beriman.  Setidaknya, demikianlah yang nampak dari karya-karyanya.  Nampaknya 
ia pun tidak memiliki hubungan yang ‘mesra’ dengan Rabb-nya.  Pada tahun 2005, 
ia pernah menulis sebuah novel berjudul “Adam Hawa” yang sangat jorok dan 
melecehkan.  Beginilah secuil kutipannya :
 
Kedua tangannya membelai kepala Adam yang ditumbuhi rambut lebat ketiak Tuhan.  
Dia menggaruk-garuk ketiak Tuhan yang lebat dan busuk itu hingga berantakan tak 
keruan…
 
Na’uudzubillaah!  
 
Pembenaran
dari orang-orang yang membelanya tidak akan terlalu jauh, paling-paling
berkisar dalam dua hal : (1) Muhidin masih dalam tahap pencarian, dan
ia hanya berwacana, dan (2) Tuhan tidak perlu dibela.  Jawaban ini sama-sama 
usang, karena sudah dijawab oleh banyak orang secara tuntas.  Kalau
memang masih dalam tahap pencarian, seharusnya ia tidak berkoar
kemana-mana terlebih dahulu sebelum mendiskusikannya dengan para ahli.  Dan 
Tuhan memang tidak perlu dibela.  Tapi apakah kita memang pantas masuk surga 
jika seumur hidup kita selalu diam saja melihat Tuhan dilecehkan?  Saya rasa 
logika sederhana sudah bisa menjawab pertanyaan retoris ini.
 
Mengapa lulusan IAIN bisa berpikir dan menulis seperti ini?  Mengapa ia bisa 
diluluskan dari IAIN?  Bahkan untuk masuk IAIN pun rasanya tidak pantas.  Atau 
mungkin IAIN adalah kepanjangan dari Institut Anti Islam Nasional?
 
Hus!  Tidak semua produk IAIN seperti Muhidin!
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke