Bola Salju dari Monas
oleh: AKMAL



assalaamu’alaikum wr.. wb.
 
Pada hari Ahad, 1 Juni 2008, terjadi bentrokan antara massa beratribut FPI 
dengan massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan 
Berkeyakinan).  Lokasi bentrokan tidak jauh dari tugu Monas yang merupakan 
salah satu icon nomor satu dari kota Jakarta (sekaligus juga ditengarai sebagai 
simbol freemasonry yang paling jelas di negeri ini).
 
Beritanya cukup simpang siur.  Sebagian
pihak merasa yakin bahwa AKKBB berada di Monas untuk mendeklarasikan
dukungannya terhadap Ahmadiyah, namun pihak AKKBB sendiri bersikeras
bahwa mereka ada di sana sekedar untuk merayakan hari kelahiran Pancasila.  
Meski
demikian, Nong Darol Mahmada, aktifis JIL merangkap Ketua Panitia acara
AKKBB di Monas ini, tidak menutup-nutupi niatnya untuk mengungkapkan
petisi yang telah digagas oleh AKKBB sebelumnya untuk mendukung
Ahmadiyah.
 
Kesimpangsiuran yang lain adalah mengenai siapa pihak yang melakukan 
penyerangan.  Media massa sudah terlanjur menyebut nama “massa FPI”, sementara 
yang bersangkutan sendiri justru menyebut dirinya “massa LPI”.  Keduanya
memang berbeda, meskipun banyak anggotanya yang juga merupakan anggota
FPI, dan pada saat penyerangan memang banyak pula yang mengenakan
atribut FPI.
Ada
sekian banyak pikiran yang melintas dalam benak ketika saya menyaksikan rekaman 
penyerbuan itu di TV, pagi tadi.  Ya, karena suatu hal, saya memang baru 
mendengar kabar pagi tadi.  Mungkin agak terlambat, tapi biarlah saya utarakan 
beberapa buah pemikiran saya mengenai kejadian tersebut. 
 
Tentang FPI
Terhadap
saudara-saudara kita di FPI, terutama sekali yang terlibat dalam
penyerangan di Monas itu, saya doakan agar segera bertaubat.  Dalam
keadaan politik yang serba ‘abu-abu’ seperti sekarang ini, rasanya
cara-cara kekerasan adalah pilihan paling akhir yang harus selalu
dihindari.  Yang berbuat salah sekarang ini bukan
hanya orang-orang yang memilih jalan hidup yang sesat, melainkan ada
juga orang yang tertipu mentah-mentah.  Belum tentu semua massa AKKBB memahami 
bahaya Ahmadiyah, dan belum tentu mereka itu berpandangan sekuler.  Semestinya
kita belajar banyak dari sejarah PKI dahulu yang berhasil memperdaya
sekian banyak buruh dan petani untuk bergabung dengannya.  Tidak semua orang 
yang menjadi anggota organisasi-organisasi underbouw PKI itu berideologi 
komunis.  Ada juga buruh dan petani yang hanya mencari perlindungan, dan 
kebetulan yang muncul di hadapannya kala itu adalah PKI.
 
Kita juga harus belajar dari sikap Rasulullah saw. yang selalu mengedepankan 
tabayyun.  Sikap keras hanya beliau tunjukkan di medan jihad yang sesungguhnya, 
dimana tidak ada lagi warna abu-abu, melainkan hanya hitam dan putih.  Itu pun, 
tidak boleh berlandaskan amarah.  Jangan lupakan Ali bin Abu Thalib ra. – salah 
satu hasil tarbiyah Rasulullah saw.. yang paling hebat – yang mengurungkan niat 
menghabisi
nyawa musuh karena khawatir niatnya dikotori oleh ego pribadi.  Jangan lupakan 
pula sikap Rasulullah saw. yang memasuki kota Mekkah sebagai pemenang dengan 
kepala yang tertunduk khusyu’ menghayati kebesaran Allah SWT.
 
Baju putih yang kita kenakan hendaklah seputih hati kita.  Hendaklah 
masing-masing diri kita dihiasi dengan sedekah yang paling mudah untuk 
diberikan, yaitu senyum.  Di era globalisasi fitnah ini, sudah banyak yang 
memberi cap buruk kepada Islam.  Alangkah
baiknya jika kita menyadarkan betapa besarnya kesalahan mereka, dan
bukannya malah membuka pintu bagi fitnah yang lebih keji terhadap Islam.
 
Tentang AKKBB
Jika ada dua pihak yang berseteru, kemungkinannya tidak hanya salah satunya 
salah, namun bisa juga dua-duanya salah..  Meskipun saya menyayangkan aksi FPI 
di Monas kemarin, namun tindak-tanduk AKKBB juga tidak lepas dari kritik.  Para 
aktifis aliansi ini tidak sulit ditebak.  Tidak jauh dari lingkaran di seputar 
Gus Dur, JIL, Tempo, dan semacamnya.  Agendanya
pun sudah jelas, seputar mempromosikan ajaran pluralisme yang bersifat
permisif terhadap segala macam penyimpangan dalam ajaran Islam.
 
Jika FPI dianggap provokatif, maka AKKBB pun saya nilai sangat provokatif.  
Pembelaan terhadap Ahmadiyah saja sudah merupakan suatu cacat yang sangat 
serius.  Mereka bersikap seolah-olah Ahmadiyah adalah gerakan damai yang tidak 
beda dengan organisasi Islam pada umumnya.  Padahal, Ahmadiyah lahir dari rahim 
kolonialisme Inggris melalui tangan Ghulam Ahmad.  Ghulam Ahmad sendiri menulis 
sebuah buku berjudul British Government and Jihad, sementara isinya secara 
total melarang jihad.  Implikasinya, Ghulam Ahmad menolak jihad mengusir 
penjajah di negerinya sendiri (sebuah sikap yang sangat tidak
patriotis dan membuat tindakan AKKBB semakin konyol karena merayakan
kelahiran Pancasila sekaligus membela aliran anti-patriotisme seperti
Ahmadiyah).  
 
Di sisi lain, Ahmadiyah justru terlibat aktif mengirimkan bantuan prajurit 
kepada Inggris untuk menjajah negeri-negeri Islam.  Ini adalah fakta sejarah 
yang membuat umat Islam merasa ‘gerah’ kalau harus hidup berdampingan dengan 
Ahmadiyah.  Kalaupun Ahmadiyah di Indonesia bersikap ‘manis’, barangkali itu 
hanya karena posisinya yang masih minoritas dan lemah.  Karena bagaimanapun, 
segala hal dalam Ahmadiyah bermuara pada sosok Ghulam Ahmad.  Jika
Ghulam Ahmad – nabi dan junjungan mereka – tega menjual negerinya
sendiri pada penjajah, dan juga tega menumpahkan darah umat Muslim,
maka tidak ada alasan untuk tidak menimpakan kecurigaan yang sama
kepada umatnya.
 
Tentang Polisi
Ada banyak alasan untuk mengecam pihak Kepolisian atas insiden di Monas ini.  
Pertama, karena saya melihat rekaman massa FPI yang berkumpul di suatu tempat 
sebelum berangkat ke Monas, dan di
latar belakangnya terlihat beberapa petugas Polisi yang berjaga.  Artinya, 
Polisi tahu persis bahwa FPI akan berangkat menuju Monas untuk menjegal aksi 
AKKBB.  Kedua, Monas bukanlah daerah sembarangan yang luput dari perhatian 
pihak yang berwajib.  Dalam kondisi normal pun Monas selalu dalam penjagaan, 
apalagi jika ditengarai akan terjadi bentrokan seperti kemarin.  Tidak ada 
alasan bagi Kepolisian untuk bersikap lambat dalam merespon masalah semacam ini.
 
Ironisnya, ketika terjadi penyerangan dari massa ‘simpatisan NU’ kepada sebuah 
kantor FPI di Cirebon, Polisi menunjukkan kemampuannya untuk bertindak cepat.  
Padahal kantor FPI tersebut letaknya di dalam sebuah gang yang tidak terlalu 
ramai.  Jika mampu bertindak cepat mengamankan sebuah gang sepi, mengapa Polisi 
gagal mengamankan Monas?
 
Antisipasi
Saya khawatir insiden Monas ini akan menjadi bola salju yang berguling tak 
tentu arah dan seratus persen lepas kendali.  Jika
memang benar ada konspirasi yang membiarkan FPI terprovokasi dan
berbuat semaunya di Monas, maka hal ini sangat mirip dengan aksi-aksi
mendiskreditkan gerakan-gerakan Islam di masa Orde Baru.  Ciptakan
sebuah gerakan ekstrem, sebarkan provokasi, biarkan mereka mengamuk,
ekspos lewat media, kemudian berangus sampai habis.  Begitulah modus 
operandinya.  Parahnya, yang tak terlibat pun bisa ikut diberangus.  Kalau itu 
terjadi, kembalilah kita pada jaman jahiliyah Orde Baru dahulu ; berkumpul di 
Masjid langsung dicurigai, mau khutbah
harus setor naskahnya dulu ke pihak yang berwajib, pakai jilbab di
sekolah dilarang-larang, dan semacamnya.
 
Sebagai ‘musuh bebuyutannya’ FPI, saya cukup yakin Ahmad Syafii Maarif akan 
segera memakan umpan ini.  Saya menanti-nantikan apa yang akan ditulisnya di 
kolom Resonansi di surat kabar Republika besok-besok ini.  Sebagai pembela 
Ahmadiyah, kecil sekali kemungkinannya ia tidak mengambil kesempatan ini.  
Demikian pula para penulis sealiran lainnya dari kalangan sekularis-liberalis 
pasti akan sibuk menulis di berbagai media massa.  Penentangan terhadap FPI 
akan pelan-pelan dibelokkan menjadi penentangan terhadap Syariat Islam dan 
semacamnya.  Setelah FPI, satu persatu akan dibidik : Hizbut Tahrir, MUI, Dewan 
Da’wah, PKS, dan seterusnya.
 
I’m waiting.
 
Empati
Sebagai Muslim, kelembutan hati adalah suatu hal yang tak perlu dipertanyakan.  
Tidak perlu pusing memikirkan mengapa Rasulullah saw. bersikap begitu baik 
kepada warga Mekkah yang telah menyiksanya dahulu.  Jangan heran jika Steve 
Immanuel bisa disambut sebagai saudara setelah mengucapkan dua kalimat 
syahadat.  Kita memang diajari untuk bersikap lembut dan penuh belas kasihan 
kepada siapa pun.
 
Meskipun
berulang kali dibuat muak dengan perilaku Nong Darol Mahmada, Guntur
Romli, Gus Dur, Goenawan Mohammad dan kawan-kawan seideologinya yang
menghalalkan segala cara untuk menyebarkan ajaran sekuler-liberal,
namun saya berempati dengan penderitaan mereka.  Terutama sekali kepada Guntur 
Romli yang harus dioperasi karena cedera berat di bagian wajahnya.  Jika mereka 
memang benar-benar Muslim, dan mampu bersabar, tentu kesusahan itu akan menjadi 
penghapus dosa yang sangat efektif.
 
Man taaba qabla an-tathlu’a asy-syamsu min maghribihaa, taballaahu ‘alaiha...  
Siapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari Barat, tentu akan diterima 
Allah taubatnya.  Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat.  Bagi siapa pun.
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke