suseh ngajak diskusi ma orang liberal, suka kaga' kurang ilmunye..


Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 2)
oleh: AKMAL


assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Sebuah kata yang sama bisa digunakan untuk keperluan yang berbeda oleh dua 
orang yang berbeda.  Semua orang yang memiliki ‘jam terbang’ tinggi dalam dunia 
komunikasi pasti menyadari hal ini.  Untuk
lebih menyelami penafsiran Buya Hamka terhadap ayat ke-62 dalam surah
Al-Baqarah, ada baiknya kita melihat sendiri bagaimana beliau
menerjemahkan ayat tersebut ke dalam bahasa Indonesia :
 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan 
Nasrani dan Shabi’in,
barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal
yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka,
dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan
berdukacita.
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 62)
 
Bagian yang saya beri tanda tebal adalah kunci permasalahannya.  Siapakah 
orang-orang yang jadi Yahudi, Nasrani dan Shabi’in itu sebenarnya?  Apakah 
definisi sebutan “Yahudi”, “Nasrani”, dan “Shabi’in”?  Lebih tepatnya lagi, 
apakah definisi ketiga istilah tersebut menurut Buya Hamka?
 
Simaklah penjelasan Hamka mengenai awal ayat di atas sebagai berikut :
 
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman” (pangkal ayat 62).  Yang dimaksud 
dengan orang berimandi sini ialah orang yang memeluk Agama Islam, yang telah 
menyatakan
percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan akan tetaplah menjadi
pengikutnya sampai Hari Kiamat: “Dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani 
dan Shabi’in”; yaitu tiga golongan beragama yang percaya juga kepada Tuhan 
tetapi telah dikenal dengan nama-nama yang demikian.  (hal. 211)
 
Mari meneliti ‘keanehan’ dalam ungkapan Buya Hamka yang saya garis bawahi di 
atas : tiga golongan beragama yang percaya juga kepada Tuhan tetapi telah 
dikenal dengan nama-nama yang demikian (yaitu Yahudi, Nasrani dan Shabi’in).  
Kata “tetapi” menunjukkan kondisi spesial atau di luar standar.  Artinya,
tidaklah lazim jika seorang manusia yang beriman pada ajaran Tauhid
yang lurus untuk disebut sebagai Yahudi, Nasrani atau Shabi’in.  Akan tetapi, 
meski kasus ini tidak lazim, namun adakalanya terjadi juga.
 
Pada
halaman 212 (Tafsir Al Azhar), Buya Hamka menjelaskan mengenai definisi
Yahudi, Nasrani dan Shabi’in sebagaimana yang ia maksudkan.  Mengenai
agama Yahudi, Hamka menjelaskan lebih jauh bahwa nama “Yahudi” itu
sendiri terambil dari nama Yehuda, yaitu salah seorang anak Nabi Ya’qub
as.   Oleh karena itu, Yahudi lebih merupakan sebuah agama keluarga daripada 
agama untuk manusia pada umumnya.  Jika
sebutan “Yahudi” memang diperuntukkan bagi sebuah bangsa atau keluarga,
maka memang dimungkinkan adanya ‘Yahudi yang beriman’ dan ‘Yahudi yang
tidak beriman’, karena batasan antara istilah “Yahudi” dan “Bani
Israil” memang sangat tipis sekali.
 
Agama
Nasrani, atau kaum Nashara, juga terambil dari suatu bangsa, yaitu yang
berasal dari daerah kelahiran Nabi ‘Isa as.., yaitu Nazaret (dalam
bahasa Ibrani) atau Nashirah (dalam bahasa Arab).  Beberapa
ulama berpendapat bahwa istilah “Nasrani” memang berasal dari nama desa
Nashirah, antara lain menurut pendapat Ibnu Qatadah dan Ibnu Abbas.  Adapun 
nama “Shabi’in” akar katanya bermakna “keluar dari agama asalnya”.  Oleh karena 
itu, Rasulullah saw. pun pernah disebut sebagai seorang shabi’ karena telah 
mencela-cela berhala yang disembah oleh kaumnya.  Penjelasan
ini menunjukkan bahwa bisa jadi ada orang yang dikenal sebagai seorang
Nasrani atau Shabi’in, padahal ia sebenarnya beriman kepada Allah SWT.  
Demikianlah pendapat Hamka.
 
Memang adakalanya seseorang disebut Yahudi atau Nasrani, namun sebenarnya ia 
beriman.  Sebagai
contohnya adalah Pendeta Bahira, yaitu pendeta yang pertama kali
memberitahukan kenabian Rasulullah saw. kepada Abu Thalib.  Tokoh yang satu ini 
tak bisa dibilang Muslim, namun sulit juga untuk disebut kafir.  Oleh karena 
itu, ia tetap dikenal sebagai seorang pendeta Nasrani.  Adapun urusan aqidah 
dalam hatinya adalah urusannya sendiri dengan Allah SWT.  Yang
jelas, sebagaimana kata Buya Hamka, jika mereka benar-benar memegang
teguh ajaran para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw., maka insya Allah 
mereka dikategorikan beriman di sisi Allah.  Jangan dibandingkan dengan umat 
Yahudi dan Nasrani sekarang, karena ini jelas di luar konteks pembicaraan Buya 
Hamka.
 
Sekali lagi, camkanlah ‘paragraf kunci’ yang sudah saya jelaskan sebelumnya :
 
Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, 
melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai.  Maka
orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan
Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa.  Yahudi
dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan
Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima.  Dan 
dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada 
Tuhan.  Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, 
niscaya nerakalah tempat mereka kelak.  (hal. 217)
 wassalaamu’alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke