hehe..ane paling suke ma penutupnye , "Binatang bisa berbuat apa saja kalau
sudah terpojok."
msh mending ane anggap orang liberal itu ALIEN drpd (maap hihi) binatang, tp
klakuannye emang mirip siy, gmane yee?
Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 4)
oleh: AKMAL
assalaamualaikum wr. wb.
Sudah tak ada lagi yang perlu diperdebatkan tentang pendirian Buya Hamka dalam
urusan pluralisme. Beliau memang seorang ulama yang sangat toleran, tapi
ketegasannya juga tidak diragukan lagi. Dalam urusan aqidah, tidak mungkin
mencampuradukkan antara Islam dengan agama lainnya. Lagipula, bukankah Hamka
dulu memilih turun dari jabatan Ketua MUI daripada harus mencabut fatwa
haramnya atas perayaan Natal?
Dengan
hermeneutika ataupun logika akal sehat, kita akan menemukan kejelasan
mengenai sikap Hamka di berbagai tempat di Tafsir Al Azhar. Oleh karena itu,
mereka yang ngotot menggunakan Tafsir Al Azhar sebagai pembenaran atas prinsip
pluralisme
sudah pasti menipu, atau minimal adalah pembaca yang sangat buruk. Jika tidak
pandai membaca, di jaman sekarang ini, maka intelektualitasnya wajar untuk
dipertanyakan.
Agaknya memang ada konspirasi tertentu untuk mencatut pendapat para ulama untuk
kepentingan kaum sekularis-liberalis-pluralis. Meskipun
mereka selalu mengumandangkan sikap anti-otoritas, namun akhirnya
mereka menemukan jalan buntu juga, karena umat Islam tahu bahwa prinsip
lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan tak bisa
ditelan bulat-bulat (dan bagi yang belum tahu, ucapan ini bukan berasal
dari Al-Quran atau Al-Hadits, jadi validitasnya memang tak terjamin). Buat
apa pusing memikirkan kebenaran ucapan seorang pembohong? Memang
kita dianjurkan untuk mengecek kebenaran setiap berita yang disampaikan
oleh orang-orang fasik, tapi itu kalau ada waktu, dan kalau dianggap
perlu. Ujung-ujungnya, karena reputasi seseorang sangat menentukan dalam
komunikasi, maka mereka pun mencatut nama para ulama. Kalau tidak demikian,
tidak akan ada yang mendengar mereka.
Charles Kurzman mencantumkan nama Muhammad Natsir dalam bukunya yang berjudul
Islam Liberal, padahal beliau adalah ulama yang bukan main kerasnya terhadap
liberalisme. Bahkan
Yusuf al-Qaradhawi pun dicantumkan juga dalam buku yang sama, meskipun
beliau terang-terangan berpendapat bahwa sekularisme tak ada kaitannya
dengan Islam. Kaum liberalis tidak berhenti sampai di sini. Mereka terus
melakukan trial and error. Ulil Abshar Abdalla menuduh Imam al-Ghazali dan
Imam al-Haramain sebagai seorang pluralis dalam sekali pukul. Sekarang, Buya
Hamka menjadi sasaran empuk.
Dari seluruh ulama yang disebutkan di paragraf di atas, hanya Syeikh Yusuf
al-Qaradhawi sajalah yang masih hidup. Ironisnya, setiap kali beliau datang
berkunjung ke Indonesia, kita tak pernah menemui kaum sekularis-liberalis yang
mau mendekat padanya. Ini
membuktikan bahwa mereka hanya berani mencatut nama para ulama yang
sudah wafat, atau kalau masih hidup, mereka akan selalu menjaga jarak
darinya. Tujuannya sudah jelas, yaitu agar tidak menanggung malu.
Kalau sudah tak bisa menghindar lagi, maka yang bisa dilakukan adalah
mengalihkan topik pembicaraan. Ini adalah prosedur standar bagi mereka. Kalau
sudah kepepet, diskusi harus dibikin pindah jalur sebisanya. Maka
ditulislah uraian yang panjang-panjang (rata-rata mereka memang rajin
menulis) dengan harapan para pembaca akan lupa pada topik debat yang
sebenarnya.
Dulu,
ketika Ahmad an-Naim tertangkap basah minum minuman beralkohol,
seorang kader liberalis berusaha sekuat tenaga mengalihkan pembicaraan. Ia
bicara ini-itu sampai akhirnya mengecam Hizbut Tahrir, PKS, Muhammadiyah, dan
sebagainya. Hal ini dilakukan tidak lain karena ia sudah tak punya argumen
lagi untuk membela pemikir pujaannya yang anti-syariat itu.
Apa yang terjadi ketika seorang teman menyampaikan penjelasan saya tentang
paragraf kunci Buya Hamka pada seorang liberalis? Beginilah tanggapannya
(saya salin langsung dari e-mail) :
Itu kan kata Buya Hamka. :-) (Inga'...inga'... Buya Hamka was just
one of so many ulamas in the world. He was not even the best or the
wisest at that time. The most famous at his time sih kayaknya. Tapi
itu mungkin karena faktor novelnya). Saya lebih suka mendengarkan
apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad sendiri tentunya. :-) (Buya
Hamka was a bit too far in expressing his opinion, I think.)
Nah! Apakah Nabi Muhammad pernah berkata kepada umat beragama
lain ;"Wahai para Ahli Kitab! jika kau tidak mengikuti jalanku ini
maka NERAKAlah tempatmu kelak." Rasanya kok tidak ! Rasulullah
bahkan lebih banyak memberi peringatan pada umatnya sendiri
ketimbang mengurusi tatacara umat lain.
Instead
Tuhan mengajarkan Nabi untuk menyampaikan : "Agamaku agamaku, agamamu
agamamu." Bagaimana kalau mereka menolak? Allah menyatakan dalam
firmanNya, :" If they still turn away (remember that) We have not sent
you (Prophet) to be their keeper. Your duty is to deliver the message.
(Ash-Shura 42: 47-48).
Bahkan Nabi tidak diperkenankan untuk bertindak lebih dari
seorang 'Messenger'. So, darimana Buya Hamka memperoleh mandat
untuk 'menerakakan' orang lain? :-)
Sebuah
tindakan kotor, sekotor Guntur Romli yang menyembunyikan fakta bahwa
situs JIL memuat kata-kata mutiara Gus Dur : Al-Quran adalah kitab
suci paling porno!. Tulisan bejat itu dihapus, lantas semua orang yang
mempermasalahkannya dituntut dengan pasal pencemaran nama baik. Dulu Tafsir Al
Azhar diambil, dipreteli dan dipergunakan sesuka hati, sekarang malah
dicampakkan begitu saja.
Di sini telah terjadi pengaburan topik. Sejak
awal, kaum pluralislah yang mengundang perdebatan karena telah
menjadikan Tafsir Al Azhar sebagai pembenaran atas ideologinya. Kemudian
muncullah reaksi dari berbagai pihak yang merasa yakin bahwa Buya Hamka tidak
sependapat dengan mereka. Dengan kata lain, masalahnya adalah :
Bagaimana pendapat Buya Hamka ?
Tapi, seperti terlihat pada kutipan e-mail di atas, topiknya sudah digeser
sedemikian rupa. Ketika
sudah terpojok, ketika Tafsir Al Azhar tak lagi bersahabat dengannya,
dan ketika semua tipu muslihat sudah habis digunakan, mereka berpaling
dengan mengatakan bahwa tafsir Buya Hamka tidak sesuai dengan sikap
Rasulullah saw. Dengan demikian, perdebatan telah dialihkan kepada masalah
lain, yaitu :
Bagaimana pendapat yang benar?
Buya Hamka adalah manusia juga ; terkadang bisa juga berbuat salah. Tapi itu
bukanlah topik pembicaraannya. Sejak
awal, fokus perdebatan adalah bagaimana sikap Hamka terhadap
pluralisme, dan hal itu sudah terjawab lewat uraian-uraian sebelumnya. Tentu
boleh-boleh saja mengkritisi pemikiran beliau, namun itu adalah topik yang lain
lagi.
Binatang bisa berbuat apa saja kalau sudah terpojok.
wassalaamualaikum wr. wb.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/