Belajar Sabar Atas Qodlo dan Qodar
  Oleh : Mochammad Moealliem 
    
  Seseorang diberitahu bahwa dia akan kehilangan sesuatu, dengan pemberitahuan 
itu akhirnya dia berusaha menjaga segala sesuatu yang dimilikinya, namun toh 
akhirnya dia kehilangan juga, dan dia baru sadar beberapa waktu setelah hal itu 
terjadi. Memang sesuatu yang diminta oleh-Nya tak akan ada yang mampu 
menghalangi, begitupun sesuatu yang diberikan oleh-Nya tak ada yang mampu 
menghalanginya pula.
   
  Namun usaha adalah wasilah dari wasail segala yang terjadi, lapar ingin 
kenyang harus makan, miskin ingin kaya harus bekerja, bodoh ingin pintar harus 
belajar, adapun hasilnya adalah ketentuan yang tak bisa diganggu gugat. Alias 
jika makan tak membuat anda kenyang, jika bekerja tak membuat anda kaya, dan 
jika belajar tak membuat anda pintar, itulah mungkin qodlo dan qodar untuk anda.
   
  Entah kenapa aku merasa senang sekali setelah membaca surat Al Qolam, bagiku 
Allah itu sangat penyayang, lembut dan mudah memaafkan, seolah aku diajari cara 
berargumen serta bersikap pada orang lain, atau bahkan lawan politik, atau 
bahkan kepada mereka yang berkata bahwa kita gila, dalam redaksinya adalah nabi 
Muhammad yang dianggap gila, namun dalam aturan yang dipakai dalam teori ulum 
qur'an, khitob yang tertuju pada nabi adakalanya khusus untuk beliau, 
adakalanya untukku juga, maksudnya untuk semua umatnya.
   
  Dalam kisahnya nabi hampir emosi terhadap sebuah kaum yang mungkin tak 
menerima ajakan nabi, bahkan tak henti-hentinya menghujat dan mencaci maki 
(disesuaikan dengan bahasa realita saat ini) dengan hal itu nabi hendak berdoa 
agar mereka ditarik dari peredaran, namun apa kata Allah? Allah berfirman : 
Fasbir lihukmi robbika..Bersabarlah atas ketentuan tuhanmu..
   
  Hal ini menarik kalau kita cermati, di negeri penulis rasanya kini banyak 
orang yang tak sabar untuk berdakwah, maka yang terjadi adalah mengobrak-abrik 
sesuatu tanpa pertimbangan, mungkin satu sisi hal itu benar namun seharusnya 
harus dipikir dulu madlorot dan manfaatnya, sebenarnya kalau kita mengikuti 
ketentuan syariah maka kita akan memakai fiqh seputar lingkungan, maka akan 
kita temukan kaidah-kaidah yang mengatur. Pun juga pengrusakan bukanlah jalan 
satu-satunya untuk menghentikan sesuatu.
   
  Dalam menuntut ilmu pun terlihat ada juga orang-orang yang tak sabar, hingga 
banyak kabar seorang bunuhdiri gara-gara tak lulus UAN, ah begitu mahalkah 
harga UAN hingga harus dibeli dengan nyawa. Ada pula yang karena kemauan yang 
begitu tinggi dengan waktu yang telat dia ingin belajar Islam secara kilat, 
akhirnya apa saja dimakan tanpa tahu bagaimana memasaknya, yang terjadi malah 
dlollu waadlullu, sesat dan menyesatkan orang lain, Huh...semua salah kalau tak 
sesuai dengan yang dia tahu.
   
  Maunya sih mendadak jadi ustad, sebab mungkin sebutan itu saat ini menjadi 
daya tarik seseorang untuk kehidupan yang begitu susah katanya, hingga kalau 
dilihat dari kacamata ihya'nya Al Ghozali hal demikian termasuk hubbuddunya, 
belum lagi kalau diuji dengan beberapa hadith hal ini sangat membahayakan, 
dimana menyerahkan sesuatu kepada bukan ahlinya adalah awal kehancuran.
   
  Saling meyilang fatwa yang tidak pada tempatnya akan membuat masalah, 
contohnya, orang Indonesia bermadhab Syafii, maka janganlah memberi fatwa 
kepada mereka dengan fatwa madhab Hanafi atau Hanbali, nanti akan menjadi 
masalah. Orang India bermadhab Hanafi, begitu pula Pakistan, Orang Saudi 
bermadzhab Hanbali, maka setiap madzhab akan punya landasan masing-masing, 
kecuali fatwa-fatwa tersebut sebagai kesepakatan jumhur fuqoha' maka akan bisa 
untuk madzhab apapun.
   
  Teks Al qur'an dan hadith adalah sebagaimana makanan, ada yang sudah siap 
saji, ada pula yang masih sebagai bahan untuk diolah, janganlah menelan yang 
mentah-mentah atau bahkan memaksa orang memakan barang mentah, itu akan membuat 
orang sakit. Pemasak teks yang terkenal dan diakui diantaranya, Imam Syafii, 
Maliki, Hanafi, dan Hanbali, semuanya punya murid yang mengembangkan teori 
racikan masing-masing.
   
  Kembali lagi pada sikap nabi, kalau dalam analisa penulis, nabi punya i'tikad 
baik agar kaum itu beruntung dan menjadi lebih baik, namun kaum itu begitu 
bandel, ini seperti orang tua yang marah pada anaknya karena anaknya tak bisa 
mengikuti aturannya, diusir itu anaknya, dibiarkan memakan hati. Kalau kata 
orang jawa kebaikan itu ibarat bara api, digenggam erat akan kepanasan, tapi 
kalau tak digenggam bara akan mati, mungkin cinta juga begitu ha ha ha.
   
  Maka bersabarlah kamu  terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti 
orang yang berada dalam  ikan ketika ia berdo'a sedang ia dalam keadaan marah 
.QS.68:48
   
  Menarik bukan cara Allah menasehati hambanya, dengan mengambil contoh pada 
yang telah terjadi pada yunus sebelum masa kenabiannya, ketika dia dimakan ikan 
hiu atau hut atau nun, maka dalam ayat lain disebut dzannun (yang punya Hiu) 
kenapa dia tidak mati dalam perut ikan hiu?
   
  Begini ceritanya, penulis tertawa ketika membaca  kisah ini, nabi yunus 
marah-marah pada kaumnya saat iya berdoa pada Allah agar dikeluarkan dari perut 
Hiu, dalam kitab tarikhul rusul wal muluk (sejarah para rosul dan para raja) 
karangan imam thobari, konon nabi yunus itu mengajak kaumnya untuk meng-esakan 
tuhan, namun kaumnya menantangnya, mereka berkata "datangkanlah bencana  padaku 
jika kamu benar", akhirnya nabi yunus menetapkan tanggalnya, namun bencana tak 
datang juga. Akhirnya kaumnya memburunya, dan yunus pun lari dan berusaha 
keluar dari kaumnya karena dianggap penipu.
   
  Akhirnya dia naik perahu menuju tempat lain, namun sayangnya ombak begitu 
besar dan perahu terasa kelebihan beban dan harus dikurangi satu orang untuk 
dibuang kelaut, kalau djadikan konsep jadi begini "mati satu hidup seribu lebih 
baik, dari pada mati semua", akhirnya diundi ternyata nabi yunus yang dapat 
undian.
   
  Kalau anda dalam posisi nabi yunus saat itu, saya yakin anda lebih 
marah-marah, bahkan mungkin anda akan marah pada Allah, beruntung nabi yunus 
hanya marah pada kaumnya yang menuduhnya pembohong, serta marah karena harus 
dilempar kelaut, belum lagi dimakan Hiu, gelap lagi.
   
  Dan  Dzun Nun , ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa 
Kami tidak akan mempersempitnya , maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat 
gelap : "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau.  Maha Suci Engkau, sesungguhnya 
aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."QS:21:87
   
  Kayaknya nabi yunus suudzon pada Allah, sebab dia merasa sudah berdakwah tapi 
doanya tak dikabulkan, namun akhirnya dia sadar bahwa dia melakukan kekeliriuan 
yang harus dibayar dengan segala yang terjadi, dan Allah akhirnya memaafkan dan 
mengangkatnya menjadi nabi di tempat lain, zaman dulu setiap kaum ada nabinya, 
hanya saja nabi itu bertingkat-tingkat, yang terhitung rosul hanya 25, yang 
terhitung punya kemauan yang kuat Cuma 5 (ulul azmi), dan yang paling luas 
wilayahnya cuma 1.
   
  Sebenarnya itu sudah menjadi qodlo dan qodar dari Allah, begini kisah sisi 
lainnya, Allah hendak mengutus yunus pada sebuah kaum yang lebih parah dari 
tempat yunus berada, dan yunus tentu lebih suka pada kaumnya sendiri untuk 
berdakwah, dan sebagai jalan agar yunus bisa keluar adalah dengan teori 
putergiling (aku lupa konsep ini) yang jelas segala sesuatu memang akan 
mengantar kita kepada yang Allah kehendaki.
   
  Naik perahu terlalu lama untuk menempuh kaum yang begitu parah itu, maka 
jalan tercepat adalah naik kapal selam(ops kapal selam belum ada ya) ya udah 
akhrnya malaikat memaksa Hiu dengan membawa surat perintah dari Allah agar 
mengantar yunus ketempat tujuan dengan kontrak, bahwa dia bukan untuk dimakan 
oleh hiu. Hiu pun cemberut, emang gue pikirin ha ha ha. Dalam melaksanakan 
perintah yang tak bisa diganggu gugat mau gimana lagi, hiu pun mengikuti 
rambu-rambu yang dibawa jibril, ditengah perjalanan itulah nabi yunus berdoa 
dan bertobat atas kekeliruannya, dan ia minta segera dikeluarkan,  padahal 
kalau saat itu langsung dikeluarkan dia akan berada di bumi yang tandus dan 
memalukan.
   
  Maka akhirnya nabi yunus dilemparkan dari perut Hiu ditempat tujuan dengan 
selamat, meski agak parah. Kenapa harus begitu cepat? Ternyata disitu ada raja 
yang sakit, dan nabi yunuslah yang bisa mengobati, akhirnya nabi yunus dijamin 
oleh negara dan dakwahnya diterima raja dan kaumnya.
   
  Itu aja ceritanya, yang jelas apa yang telah, sedang dan akan terjadi telah 
ditentukan sebelum kita lahir, hanya saja sabar dengan semua itu sangat sulit, 
padahal meskipun kita tidak sabar ketentuan tetap akan sesuai waktunya, sabar 
dengan usaha yang kita lakukan serta sabar dengan hasil yang Allah berikan 
adalah pelajaran yang begitu susah dan butuh kesabaran dan latihan.
   
  6105 - ÍóÏøóËóäóÇ ÃóÈõæ ÇáúæóáöíÏö åöÔóÇãõ Èúäõ ÚóÈúÏö Çáúãóáößö ÍóÏøóËóäóÇ 
ÔõÚúÈóÉõ ÃóäúÈóÃóäöí ÓõáóíúãóÇäõ ÇáúÃóÚúãóÔõ ÞóÇáó ÓóãöÚúÊõ ÒóíúÏó Èúäó æóåúÈò 
Úóäú ÚóÈúÏö Çááøóåö ÞóÇáó ÍóÏøóËóäóÇ ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö 
æóÓóáøóãó æóåõæó ÇáÕøóÇÏöÞõ ÇáúãóÕúÏõæÞõ ÞóÇáó Åöäøó ÃóÍóÏóßõãú íõÌúãóÚõ Ýöí 
ÈóØúäö Ãõãøöåö ÃóÑúÈóÚöíäó íóæúãðÇ Ëõãøó ÚóáóÞóÉð ãöËúáó Ðóáößó Ëõãøó íóßõæäõ 
ãõÖúÛóÉð ãöËúáó Ðóáößó Ëõãøó íóÈúÚóËõ Çááøóåõ ãóáóßðÇ ÝóíõÄúãóÑõ ÈöÃóÑúÈóÚò 
ÈöÑöÒúÞöåö æóÃóÌóáöåö æóÔóÞöíøñ Ãóæú ÓóÚöíÏñ ÝóæóÇááøóåö Åöäøó ÃóÍóÏóßõãú Ãóæú 
ÇáÑøóÌõáó íóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö ÍóÊøóì ãóÇ íóßõæäõ Èóíúäóåõ 
æóÈóíúäóåóÇ ÛóíúÑõ ÈóÇÚò Ãóæú ÐöÑóÇÚò ÝóíóÓúÈöÞõ Úóáóíúåö ÇáúßöÊóÇÈõ ÝóíóÚúãóáõ 
ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÝóíóÏúÎõáõåóÇ æóÅöäøó ÇáÑøóÌõáó áóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö 
Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÍóÊøóì ãóÇ íóßõæäõ Èóíúäóåõ æóÈóíúäóåóÇ ÛóíúÑõ ÐöÑóÇÚò Ãóæú 
ÐöÑóÇÚóíúäö ÝóíóÓúÈöÞõ Úóáóíúåö ÇáúßöÊóÇÈõ ÝóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö 
ÝóíóÏúÎõáõåóÇ ÞóÇáó ÂÏóãõ ÅöáøóÇ ÐöÑóÇÚñ
   
  HR.Bukhari hadith no 6105.
   
  Inti dari hadith ini, bahwa kalau Allah menghendaki seseorang sebagai ahli 
syurga maka satu jengkal sebelum matinya dia akan beramal sebagaimana ahli 
surga meskipun sebelumnya beramal sebagaimana amalnya ahli neraka, begitu pula 
kalau Allah menetapkan seseorang menjadi ahli neraka maka satu jengkal sebelum 
matinya dia akan beramal sebagaimana ahli neraka walau sebelumnya beramal 
sebagaimana ahli syurga.
   
  Jelas bahwa tak boleh anda merasa menjadi ahli syurga, begitupun tak boleh 
anda mengatakan seseorang ahli neraka, sebab semua terserah Allah dan kita 
hanya tahu ciri-ciri diantara keduanya, namun tak ada yang tahu apa yang 
dikehendaki-Nya. Semoga kita yang beramal dengan amalan ahli syurga diberi 
ketetapan hingga ajal menjemput kita, sementara jika kita beramal dengan amalan 
ahli neraka, kita diberi hidayah sebelum tertutup pintu tobat, dan semoga 
diterima tobat kita.
   
  Alliem
  Cairo, Selasa 24 Juni 2008
  Belajar Sabar Dengan Alazhar
   


  Mochammad Moealliem
  http://www.muallimku.tk  or  http://www.muallimku.blogspot.com 
  Ingin gabung di komunitas sahabat lintas batas? Klik aja
  http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke