http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/KasusMunir/rapat_bin_bun\
uh_munir080624
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/KasusMunir/rapat_bin_bu\
nuh_munir080624>



Pembunuhan Munir: "Rapat BIN yang Memutuskan"



Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta

24-06-2008

Wawancara Aboeprijadi Santoso dengan Soeripto 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/soeripto_ttg_munir_20080624_44_1\
kHz.mp3>



Pengamat intelejen yang juga anggota DPR Fraksi Partai Keadilan
sejahtera, PKS, Soeripto, tidak menutup kemungkinan pembunuhan Munir
dipakai untuk menggolkan salah satu Capres dalam Pilpres tahun 2004.
Namun dalam tradisi intelejen sejak Orde Baru, Kepala Negara, sebagai
"single user" atau pemakai tunggal intelejen negara, tidak dilapori oleh
lembaga intelejennya.

Seolah membantah pernyataan Kapolri Jenderal Soetanto bahwa kasus Munir
tidak menyangkut institusi Badan Intelejen Negara, BIN, Soeripto
menunjuk, pembunuhan Munir diputuskan dalam rapat lima petinggi BIN yang
dipimpin Kepala BIN Jenderal A.M. Hendropriyono.

Perencanaannya di tangan Deputy II Manunggal Maladi, dan pelaksanaannya
pada Deputy V Muchdi Purwoprandjono. Meski mengaku sumber informasinya
"seorang profesional di bidang intelejen yang layak dipercaya", namun
Soeripto menekankan perlu verifikasi dan pendalaman informasi tsb.
Berikut wawancara dengan Soeripto.

Soeripto: Pertama keterangan-keterangan dari mas media itu bukan data.
Bukan berdasarkan dokumen. Tapi adalah informasi. Informasi yang saya
terima yang kategorinya adalah C3. Artinya perlu check dan re-check,
perlu cross-check dan diterima dari seseorang yang menurut saya cukup
dan layak dipercaya sumbernya. Informasinya itu biasanya layak
dipercaya.



Radio Nederland Wereldmroep [RNW]: Jadi ini mengenai rapat lima petinggi
BIN ya, jadi pak Hendro Priyono, pak Muchdi, Manunggal Maladi, kemudian
Nurhadi Djazuli yang duta besar di Kenya itu, dan satu lagi pak Asad?

Soeripto: Andaikata toh mau di cross-check bisa juga melalui pak
Nurhadi, sebagai notulisnya. Tapi sebetulnya dari keterangan-keterangan
yang disampaikan oleh Ucok.

RNW: Ucok ini seorang pegawai BIN juga ya, yang sudah diperiksa dalam
kasus Munir?

Soeripto: Ya, atau melalui Budi Santoso.

RNW: Yang di Pakistan kan?

Rencana pembunuhan
Soeripto: Ya, di Pakistan. Keterangan-keterangan itu memperkuat bahwa
ada perencanaan yang dikoordinir tentu oleh Deputi II. Bidang tugasnya
adalah perencanaan Manunggal Maladin. Sedangkan Muchdi itu Deputi IV.
Itu yang bertanggungjawab dalam rangka eksekusi. Di dalam melaksanakan
hasil keputusan rapat.

Disampaikan bahwa pembunuhan Munir itu adalah satu rencana dan rencana
itu kemudian dirapatkan di dalam satu rapat yang diselenggarakan di BIN
di Kalibata. Disebutkan nama-nama orang yang ikut di dalam rapat itu.

RNW: Lima pejabat tadi ya?

Soeripto: Kemudian disebutkan peran masing-masing, perencanaan dan
eksekusi kan. Perencanaan Manunggal Maladi.

RNW: Bosnya, pak Hendropriyono sebagai apa?

Soeripto: Ya, ketua lah.

RNW: Ketua rapat saja? Hanya memimpin rapat?

Soeripto: Ya, kan rapat musti ambil keputusan.

RNW: Lalu sumber tadi mengatakan pelaksanaan diserahkan pada Muchdi ya,
Deputi IV. Nurhadi notulisnya, Asad

Membantah
Soeripto: Sudah membantah dan dia katakan berani sumpah saya nggak hadir
di dalam rapat.

RNW: Rapat itu kapan terjadinya?

Soeripto: Agustus mungkin.

RNW: Awal?

Soeripto: Ya, saya nggak tau persis ya, karena nggak disebutkan.

RNW: Agendanya kasus Munir saja?

Soeripto: Yang dibicarakan soal itu saja.

RNW: Tapi juga disebut-sebutkan bahwa dia termasuk kategori G yang
mengganggu jadi tidak perlu dibunuh. Rapat itu perencanaan atau apa?

Soeripto: Rapat evaluasi. Evaluasi dari kawan yang memberikan informasi
saya. Bahwa sebetulnya tidak masuk kategori ancaman.

RNW: Ketika itu kampanye yang dilakukan banyak ramai waktu itu. Ini kan
zaman pilpres ialah anti militarisme. Banyak sekali anti militerisme.
Artinya apa ini? Waktu itu calonnya adalah Megawati dan SBY akhirnya?

Isu politik
Soeripto: Ya, namanya juga kalau isu politik tergantung pada agenda
masing-masing partai. Dalam rangka menggolkan calon-calonnya.

RNW: Capresnya tinggal dua, Megawati dan SBY. SBY yang militer. Artinya
ini seperti kampanye anti SBY ya?

Soeripto: Ya, kelompok yang ingin memenangkan calonnya mencari isu-isu
yang paling bisa menjatuhkan lawan politiknya.

RNW: Kasus Munir bisa dipakai untuk itu? Kita bicara 2004 nih?

Soeripto: Ya, 2004 belum.

RNW: Bukan pembunuhan Munir itu kan mengguncang?

Soeripto: Betul.

RNW: Makanya ketika itu calon presiden SBY dari militer dan ketika itu
Munir dibunuh, guncang, ramai di luar negeri dan di dalam negeri dan
yang disudutkan adalah militer?

Soeripto: Ya, itu saya kira dari lawan-lawan politik, sudah pasti itu
akan digunakan.

RNW: Berarti lawan SBY menggunakan ini?

Megawati



Soeripto: Ya, saya kira begitu.

RNW: PDIP Megawati itu?

Soeripto: Ya, saya kira.

RNW: Jadi kemungkinan PDIP Megawati mengetahui kasus ini dong?

Soeripto: Belum tentu itu dilaporkan. Artinya Megawati sebagai presiden,
itu belum tentu bahwa hal ini dilaporkan.

RNW: Jadi menurut Anda, layak Megawati sebagai mantan presiden
memberikan keterangan kan?

Soeripto: Ya, menurut saya untuk memperjelas persoalan, saya kira lebih
baik memang presiden menjelaskan bahwa tidak pernah ada pengarahan dan
tidak pernah dilaporkan.

RNW: Ada anggota Kopassus juga yang memberikan konfirmasi pada
pernyataan Anda, bahwa ada perencanaan, bahwa ini ada rapat tentang itu.
Dia tahu itu lama sebelum pembunuhan Munir terjadi?

Soeripto: Saya nggak tahu





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke