untung ye Bang, kite kagak maen dolar..
kite mah dikasih rupiah aje, dah puas ye Bang.
Nyang penting bisa maen Internet gratis

2008/6/24 si pitung <[EMAIL PROTECTED]>:
> bukan gosip lho..
>
> Menjual Islam Demi Dolar
> Wawancara Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo, MA , Pakar Perbandingan Mazhab 
> Hukum Islam dengan Sabili
> Adalah Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam
> Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Dr Huzaemah Tahido
> Yanggo yang lantang mengemukakan hal ini. Peraih gelar doktor bidang
> fiqih dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini, tanpa beban,
> menyatakan ada kepentingan materi di balik munculnya berbagai paham
> liberal di masyarakat. Demi dolar, itu kata-kata yang tepat untuk sebuah 
> paham yang mengusung liberalisme..
> Setelah laporan dari wartawan-wartawan Sabili yang ditugasi
> mewawancarai sejumlah narasumber terkait paham liberal, masuk ke meja
> redaksi. Sejumlah fakta dan data dari nara sumber terkait soal dana
> menjadi jawaban kenapa para pengusung paham liberal acap kali
> melontarkan pemikiran-pemikiran nyeleneh.
> Menurut penerima penghargaan atas prestasi kepemimpinan dan
> manajemen peningkatan peranan wanita dari menteri negara peranan wanita
> RI tahun 1999 ini, tangan-tangan asing menyokong para pengusung paham
> liberal itu di Indonesia untuk kepentingan mereka.
> Berdasar pengamatan mantan anggota komisi fatwa Majelis Ulama
> Indonesia (MUI) itu, selama ini di lapangan, dukungan pihak asing
> tersebut dilakukan melalui berbagai proyek, seperti pengadaan
> buku-buku, seminar, lokakarya dan penelitian-penelitian, terutama yang
> mengusung pemikiran liberal. "Kalau tidak dari bantuan asing, darimana
> mereka mencetak buku-buku karyanya," tandas ibu satu putra yang bernama
> Syarif Hidayatullah ini.
> Lain Prof Huzaemah, lain pula Ketua KISDI Adian Husaini. Cendekiawan
> Muslim yang baru saja meraih gelar doktor di salah satu universitas di
> Malaysia ini mengakui, umat Islam kadang terlambat merespon munculnya
> paham liberal karena kaum Muslimin menganggap pemikiran dan kajian
> ilmiah tidak lebih penting dari politik, ekonomi dan lainnya.
> "Politik, ekonomi dan lainnya penting, tapi ilmu lebih penting sebab
> ilmu adalah landasan tegaknya iman. Jika ilmu rusak, akan lahir ulama
> rusak yang lebih bahaya daripada orang kafir yang rusak," tandasnya.
> Soal menjamurnya paham liberal, Adian mempunyai pandangan sendiri.
> Menurut Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia
> (MUI) ini, paham bebas yang cenderung kebablasan ini akan terus muncul
> sepanjang masa, sebab ada pihak-pihak yang menjadi produsen,
> distributor, pengecer dan pengasongnya. Khusus di Indonesia, paham
> liberal ini mulai hidup sejak tiga puluh tahun lalu. Kalau saat ini
> paham liberal marak, sangat dapat dimaklumi sebab mereka sedang menuai
> hasilnya. "Para pendukung pemikiran nyeleneh ini bisa saja dari
> perorangan, lembaga, bahkan negara," tandas pengamat politik Islam yang
> menjadi salah seorang garda terdepan dalam membantah
> pemikiran-pemikiran liberal ini.
> Pendapat dua orang cendekiawan Muslim di atas bisa jadi mewakili
> sebagian pandangan umat Islam Indonesia. Perihal kepentingan uang di
> balik munculnya pemikiran-pemikiran liberal di Indonesia, dapat
> dicocokkan dengan sejumlah fakta di lapangan.
> Pada kata pengantar Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD
> KHI) misalnya, secara gamblang, Tim Pengarusutamaan Gender (TPG)
> Pimpinan Musdah Mulia mengucapkan terima kasih pada The Asia Foundation
> (TAF), sebuah LSM internasional yang acap kali memberikan bantuan dana
> kepada para NGO lokal. Menurut sejumlah kalangan, sudah barang tentu
> ucapan terima kasih TPG kepada TAF itu bukan sekadar basa-basi, namun
> benar-benar ada maksudnya.
> Hal ini diperkuat oleh pendapat salah seorang pejabat Departemen
> Agama yang tidak mau disebutkan namanya. Kepada SABILI, pejabat ini
> menyatakan, untuk mengegolkan CLD KHI, The Asia Foundation mengucurkan
> dana sebanyak enam miliar rupiah. Dana sebesar itu digunakan untuk
> melakukan penelitian lapangan ke sejumlah daerah. "Dana itu tidak ada
> yang gratisan," tandas sumber SABILI itu.
> Soal kucuran dana pihak asing tersebut juga diakui sendiri oleh
> Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla. Saat
> diwawancarai Majalah Hidayatullah Desember 2004 lalu, Ketua Lakpesdam
> NU ini mengaku dapat kucuran dana sebesar 1,4 miliar rupiah per tahun
> dari TAF untuk tujuan mendorong politik sekular di Indonesia.
> Sayangnya SABILI tidak memperoleh tanggapan soal ini dari Ulil. Saat
> SABILI mengonfirmasi soal kebenaran dana di atas, pentolan kelompok JIL
> ini menolak diwawancara. Bahkan saat wartawan SABILI meminta waktu
> untuk wawancara, Ulil malah menjawab "Saya tidak bersedia diwawancarai
> SABILI". Ketika SABILI balik bertanya kenapa ia tidak bersedia
> diwawancarai, Ulil balik menjawab serupa, "Begini, saya nggak mau
> diwawancarai SABILI." Setelah Ulil menjawab itu, telepon pun terputus.
> Setelah itu, Ulil tidak pernah menjawab meski sekali pun telepon dan
> sms dari SABILI.
> Seorang profesor hukum yang tidak bersedia namanya disebut
> memaparkan pengalamannya. Saat diundang anggota DPD memberikan masukan
> soal hukum Islam di DPR beberapa waktu lalu, ia merasakan adanya
> kepentingan asing di balik paham liberal. Menurut ceritanya, saat kasus
> revisi Kompilasi Hukum Islam (KHI) mencuat ke permukaan, sejumlah orang
> dari LSM asing tertentu mendatangi kediamannya. Mereka meminta sang
> profesor menulis pembaruan KHI dengan imbalan puluhan juta rupiah.
> Namun dengan nada halus, sang profesor menolaknya. Tak berhenti
> sampai di situ. Besoknya, mereka kembali mendatangi sang profesor dan
> memintanya kembali menulis pembaruan KHI. Tentu saja mereka menyediakan
> imbalan yang lebih besar lagi. Namun profesor itu kembali menolaknya.
> Padahal, mereka sudah menyediakan sebuah secarik kertas sebagai kontrak
> penulisan. "Saya menolaknya karena mencium ada kepentingan tidak baik
> dalam kontrak tersebut," katanya.
> Kepada SABILI, pria yang pernah menikahkan pasangan beda agama Dedi
> Corbuzier dan Karlina ini menolak bila disebut sebagai anggota JIL
> pimpinan Ulil Abshar Abdalla. Saat diwawancarai SABILI, ia berkali-kali
> menolak disebut aktivis JIL. "Saya harus tegaskan dulu bahwa saya bukan
> aktivis JIL, tapi kalau saya diminta mengisi oleh JIL, sesuai latar
> belakang, saya akan mengisi," kata Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini.
> Zainun juga menolak dianggap sektarian. Sebagai seorang akademisi,
> ia mengaku bisa saja berada di mana-mana, baik di DDII, Muhammadiyah,
> Nahdlatul Ulama (NU) dan lainnya. Bahkan jika para aktivis Ahmadiyah
> atau Syiah mengundangnya, ia bersedia menghadirinya. "Bukan berarti
> saya masuk kelompok mereka," katanya.
> Untuk menangkal serangan kelompok liberal tersebut, Adian Husaini
> mengatakan, yang menjadi prioritas utama adalah melahirkan
> sebanyak-banyaknya cendekiawan Muslim yang mampu menjawab tantangan
> pemikiran tersebut, mampu memahami Islam dengan baik dan memahami
> pemikiran Barat, Kristen, Yahudi dan pemikiran sesat lainnya.
> Adian mengutip kisah Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Umar menangis
> bahagia saat seseorang mengritiknya. Adian belum melihat budaya kritik
> mengritik ini tumbuh di internal umat Islam. Kritik kepada seseorang,
> menurutnya, masih dinilai sama dengan menjatuhkan. "Ini yang tidak
> benar. Tradisi kritik ini sulit berkembang jika budaya ilmu tidak
> berkembang," tegasnya.
> Adian boleh jadi benar. Kehancuran Islam bukan disebabkan kuatnya
> musuh-musuh Islam, tapi lebih disebabkan lemahnya ketahanan internal
> umat Islam sendiri. Jika umat Islam kokoh, serangan sedahsyat apapun
> yang datang dari musuh-musuh Islam, tidak akan mudah menjungkirbalikkan
> posisi umat. Jadi, sudah semestinya, umat Islam terus membentengi diri
> dengan akidah dan pemahaman Islam yang benar. (Sabili/mslmdaily)
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------------
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke