mudah2an pade' kaga bosen ye, silahkan nyang mau komentar, nyang mau diem aje
jg bole, bebas2 aje, gratis koq.
aye siy nungguin komentar yg agak berbobot dikit, abiz sering2 bgt baca
komentarnye si bunglon, kage' mutuu
Pergerakan Anti-Ulama
oleh: AKMAL
assalaamualaikum wr. wb.
Barangkali ada yang bertanya-tanya mengapa saya begitu concern dengan
pergerakan kaum sekularis-liberalis-pluralis dan nyaris selalu membahasnya
dalam tulisan-tulisan saya. Pertanyaan
ini sangat bagus, dan saya bersyukur karenanya, karena dengan demikian
saya mendapat kesempatan untuk menjelaskan beberapa hal yang sangat
penting untuk diketahui masyarakat umum, namun sayangnya tidak cukup
sering dibahas di media-media massa.
Pertama, kita perlu memahami bagaimana cara kaum anti-Islam
(sekularis-liberalis-pluralis) ini bekerja. Yang paling dibencinya adalah
kemapanan, sedangkan yang paling dicintainya adalah kebebasan. Sebagai
penyuka kata-kata indah (rata-rata mereka menyukai sastra), mereka
sangat mengapresiasi kosa kata seperti dinamis, senantiasa
berkembang, non-ortodoks, dan berdasarkan logika. Mereka
berasal dari generasi yang sering kita lihat di
televisi : anti-kemapanan, berusaha untuk beda, dan berusaha keras
untuk dikenal.
Mereka menyuarakan Islam yang santun, keberagamaan yang toleran, Islam
tanpa penghujatan, dan semacamnya. Ironisnya, sebagai pecinta sastra yang
kebablasan dengan ego pribadinya, mereka pun sering lalai mengendalikan
lidahnya. Sudah banyak ulama yang menjadi korban hujatannya. Ulil Abshar
Abdalla menyebut MUI sebagai lembaga yang tolol. Di milis-milisnya mereka
sibuk membicarakan buku-buku fenomenal, yang salah satu diantaranya berjudul
Jinayat al-Bukhari (Kejahatan al-Bukhari). Mereka
dengan sigap mengapresiasi Nasr Hamid Abu Zayd yang menyatakan bahwa
Imam Syafii adalah seorang ideolog Quraisy yang gigih mempertahankan
hegemoni kabilahnya sendiri. Siti Musdah Mulia
pernah dengan entengnya mengatakan bahwa Nabi Sulaiman as. menginvasi
Kerajaan Saba karena merasa dengki pada kesuksesan Ratu Balqis (kami
bersaksi bahwa Nabi Sulaiman as. adalah utusan-Nya yang mulia dan Siti
Musdah Mulia adalah pendusta yang keji). Aktifis-aktifis dari kalangan mereka
dengan gigihnya
mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah manusia biasa yang juga bisa
salah, dan artinya, ada juga perbuatannya yang tak layak ditiru (kami
bersaksi bahwa Muhammad saw. adalah utusan Allah dan semua yang
membencinya adalah pendusta). Bahkan dengan
tenangnya mereka pun mengatakan bahwa Al-Quran layak untuk direvisi,
karena banyak ayat-ayatnya yang sudah tak terpakai lagi (Maha Suci
Allah dari segala kekurangan, dan Allah Maha Mendengar ucapan mereka
yang merendahkan Kitab Suci-Nya).
Singkat kata, tak ada yang santun dalam perbuatan mereka.. Bagi mereka,
kebebasan adalah kebablasan itu sendiri. Hak bicara manusia diletakkan jauh
diatas kekhawatiran terhadap pengawasan Allah SWT. Mereka menyukai
kontroversi, bahkan berusaha menciptakannya. Mereka mengedepankan
intelektualitas yang dirusak dengan keinginan untuk dikenal, dan bukan
intelektualitas yang dihiasi dengan tawadhu dan sikap santun kepada
orang-orang berilmu. Mereka
berusaha memisahkan ilmu dari Sang Pemiliknya, sehingga buku-buku yang
mereka baca, diskusi-diskusi yang mereka hadiri, dan
penelitian-penelitian yang mereka lakukan tidak membuat hatinya menjadi
lebih dekat kepada Allah SWT.
Kedua, perlu dipahami kemana pergerakan ini mengarah. Dulu,
kegiatan kelompok sesat ini hanya sekedar bersikap reaktif, alias
menimpali pernyataan-pernyataan kaum ulama yang tidak mereka sukai saja.
Kemudian berkembang menjadi sikap proaktif, yakni menulis di berbagai media
massa yang berpihak kepada mereka, dimana mereka bisa bebas menyuarakan
pemahamannya. Anda dapat dengan mudah (dan nyaris secara rutin) menemukan
tulisan-tulisan mereka di surat kabar Kompas, Koran Tempo, atau Majalah Tempo.
Anda juga dapat merasakan desir-desir ideologi mereka ketika menyalakan
beberapa stasiun televisi, semisal Metro TV. Setelah
umat Islam mendiamkan segala tindakannya itu, maka mereka pun mengambil
langkah besar yang memperjelas sikap hipokrit mereka, yaitu membongkar
kemapanan, kemudian berusaha merebutnya. Mereka bersikap anti terhadap
otoritas ulama, namun perlahan-lahan mereka pun mencoba mendapatkan otoritas
tersebut. Di
NU ada Gus Dur dan Masdar F. Masudi, di Muhammadiyah ada Abdul Munir
Mulkhan dan Syafiq Mughni (dan dulu ada pula Dawam Rahardjo), di Depag
ada Nasarudin Umar, dan sebagainya. Tinggallah Majelis Ulama Indonesia (MUI)
sebagai representasi (meskipun bukan satu-satunya representasi) keperkasaan
ulama.
Tanda-tandanya sudah jelas terlihat. Jaringan
Islam Liberal (JIL), yang dipenuhi dengan anak-anak muda yang tak
pernah belajar agama dengan serius, sejak awal sudah rajin menyerang
fatwa-fatwa MUI. Sempat terjadi ketegangan yang memuncak ketika Ulil Abshar
Abdalla kelepasan menyebut MUI tolol. Kini,
dengan memanfaatkan kasus Ahmadiyah (dan aliran sesat secara umumnya),
mereka berusaha menebar opini bahwa MUI layak untuk dibubarkan.
Guntur Romli sudah menulis artikel mengenai hal tersebut di Koran Tempo
beberapa waktu yang lalu. Luthfi
Assyaukanie sejak jauh-jauh hari sudah menanamkan sugesti kepada para
pembacanya bahwa fatwa-fatwa ulama selalu mengundang kekerasan. Para anggota
kelompok ini juga tidak malu-malu lagi menyatakan keinginannya untuk
membubarkan MUI di berbagai milis. Gus
Dur, yang telah terbiasa bicara blak-blakan, juga dengan mantap
menuntut pembubaran MUI (Anda dapat membacanya secara panjang lebar di
Majalah Adil edisi 29 / II / 24 Januari 20 Februari 2008). Mereka
adalah golongan non-ulama, bahkan banyak diantaranya yang sangat awam
dengan ajaran Islam, namun punya ambisi besar untuk membubarkan MUI,
bahkan menghapus sama sekali dominasi ulama di negeri ini.
Ketiga, perlu pula dipahami posisi MUI saat ini. MUI adalah payung bagi
seluruh ulama Indonesia. Para ulama yang berasal dari berbagai macam ormas
yang berbeda warna justru bersatu-padu di lembaga ini. Di tengah-tengah
merebaknya sikap ashabiyah (kecintaan yang berlebihan terhadap kelompok
masing-masing), MUI adalah salah satu tumpuan harapan umat.
MUI sendiri pernah mengalami ups and downs sejak kelahirannya. Lembaga
ini pernah dipimpin oleh seorang ulama besar yang sangat bermartabat
dan kuat sekali kebanggaannya terhadap Islam, yaitu Buya Hamka. Ketika
berbenturan dengan kebijakan pemerintah Orde Baru, Buya Hamka tak pernah
bergeser barang seinci pun. Ia haramkan kehadiran umat Islam dalam perayaan
Natal, sementara pemerintah sedang gencar-gencarnya menyuarakan toleransi yang
kebablasan. Akibat sikap kerasnya itu, Hamka dipaksa untuk lengser dari MUI.
Setelah itu, MUI sempat dicap sebagai lembaga ulama-ulamaan. Beberapa
kasus sempat dicatat dalam ingatan masyarakat, antara lain tentang
undian Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) yang bukan main
memalukannya. Akhirnya, MUI pun menjadi salah satu corong pemerintah yang
cukup efektif.. Namun demikian, keadaan berubah lagi ketika Orde Baru sudah
mulai goyang. MUI mulai menunjukkan kembali performanya yang baik dan
kembali berpihak pada umat. Umat
Islam, sebagai kelompok yang sangat pemaaf, menerima MUI dengan tangan
terbuka sejauh ia tidak melupakan kesetiaannya pada agama.
Bagaimana pun, fungsi MUI sebagai payung yang menjaga umat Islam Indonesia
agar tetap kompak tidak bisa diabaikan. MUI adalah lembaga besar dan
berpengaruh. Jika ia dijalankan dengan baik, maka tidak terhitung berapa
banyak sumbangsih yang bisa diberikan kepada umat Islam. Karena itu, meskipun
ada beberapa nilai merah dalam rapornya, MUI sangat pantas untuk dibela.
Keempat,
perlu disadari pula watak sekularis-liberalis-pluralis dan gerakan
Ahmadiyah yang sama-sama ramah terhadap musuh-musuh Islam, dan
sama-sama tidak santunnya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan beberapa
pernyataan yang pernah dibuat oleh Ghulam Ahmad di masa hidupnya :
Sungguh,
aku telah memenuhi berbagai perpustakaan dengan buku-buku yang telah
kutulis dalam rangka memuji pihak Britania, khususnya tentang
pembatalan jihad yang diyakini oleh kebanyakan kaum Muslimin. Ini adalah darma
bakti yang sangat besar bagi pemerintah. Maka aku berharap kiranya aku diberi
balasan yang baik.
Ghulam
Ahmad juga menganggap Inggris (penjajah negerinya sendiri ketika itu)
sebagai partner yang berperan aktif dalam mendukung penyebaran agamanya
:
Kita bersyukur kepada Allah beribu-ribu kali syukur atas penaklukan-penaklukan
Britania. Semua itu menjadi sebab kegembiraan dan kebahagiaan karena imam kami
(yakni Ghulam Al-Qadiyani) telah menyerukan untuk menyambut berbagai
penaklukannya dan menyampaikan wasiat kepada jamaahnya agar mendoakannya.
Demikian
juga dengan dibukanya untuk kita pintu-pintu dakwah untuk menyeru
kepada Al-Qadiyaniyah yang mana terkunci rapat sebelum ini. Semua ini akrena
bantuan pemerintah Britania yang diberikan kepada pemerintah yang lain.
Islam
liberal (saya beri tanda kutip di sini ini hanyalah sebuah istilah,
sedangkan Islam tak mungkin memiliki corak liberal) juga memiliki corak
yang sama. Harus digarisbawahi bahwa sebagian
ahli Barat mendefinisikan Islam liberal sebagai kelompok Islam yang
toleran dan apresiatif terhadap Barat, sedangkan Islam fundamentalis
adalah kelompok Islam yang kerap menentang Barat. Oleh karena itu, mereka yang
menjilat bangsa-bangsa Barat akan serta-merta dimasukkan dalam kategori Islam
liberal. Dengan
klasifikasi seperti ini, maka Ghulam Ahmad dan kelompok Ahmadiyah pun
masuk dalam kelompok Islam liberal, meskipun mereka tidak menyebut
dirinya dengan nama demikian.
Sikap
yang jauh dari santun ini (Ghulam Ahmad sendiri gemar berkata-kata
kotor, bahkan pernah dituntut ke pengadilan karena lidahnya yang kotor
itu) bisa berkembang menjadi sikap yang sangat keras jika diberi
kesempatan. Tak terhitung berapa kali Ghulam
Ahmad pernah melaknat lawan-lawan debatnya dengan kata-kata yang tak
pantas diucapkan oleh manusia manapun yang mengaku beriman. Mereka pun tak
malu-malu membonceng pasukan Inggris dan membantu mereka melakukan pembantaian
di negeri-negeri Islam. Mereka dengan senang hati menumpahkan darah umat Islam
yang memang tak se-aqidah dengannya.
Jangan kira gerakan sekularis-liberalis-pluralis tak mampu berbuat yang serupa
demikian itu. Dunia
sudah menyaksikan betapa Amerika Serikat yang menjunjung tinggi
kebebasan beragama justru menunjukkan keberpihakan yang amat sangat
kepada agama-agama tertentu dan bukan main kejamnya kepada Islam. Mereka
bebas menangkap Muslim di seluruh dunia tanpa dakwaan yang jelas, bebas
menahan mereka tanpa bukti sama sekali, dan bebas menyiksa di
penjara-penjara mereka tanpa mengindahkan norma-norma kemanusiaan
sedikitpun.
Semua negara yang menyebut dirinya sekuler memiliki corak kejam seperti ini.
Turki mempermalukan dirinya sendiri dengan memaksakan kebijakan anti-jilbab,
seolah-olah masalah jilbab adalah masalah national security. Sebuah paranoid
yang memperjelas kekerdilan diri sendiri. Penjara-penjara
Mesir sejak dulu hingga sekarang masih sering disinggahi para aktifis
Muslim yang tidak menurut pada pemerintah, dan masih marak pula dengan
penyiksaan. Bagi kalangan sekuler, membunuh
lawan-lawannya adalah sebuah kewajaran belaka, karena mereka tak lagi
merasa terikat dengan aturan-aturan agama.
Demikianlah bahaya yang dapat ditimbulkan oleh gerakan
sekularis-liberalis-pluralis ini. Arah gerakan mereka sudah nampak jelas
terlihat, dan sudah sepantasnya kita melakukan berbagai antisipasi untuk
menghadapinya. Darah umat Islam akan tumpah dalam jumlah yang sangat banyak
jika kita membiarkan negeri ini diperintah oleh kaum sekuler. Mata yang
tertutup harus dibuka paksa, dan wajah-wajah yang menoleh harus dipalingkan.
Kita tidak boleh lagi memandang remeh masalah ini.
wassalaamualaikum wr. wb.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/