ayo tobat bang, jgn tunda2 lg, ajal makin deket lho!
yang ngarasa punya pikiran (baca:lamunan) ngeres semacem itu spt iblis bs msk 
sorga wajib tobat, itu jg klo msh sempet.
tobat dimulai...


"Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat "

Sabtu, 30 September 2006  
Jalaluddin
Rakhmat, memanipulasi ayat untuk mendukung gagasan Pluralisme Agama.
Cara seperti ini sama saja dengan "menjual minyak babi bercap onta".
Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke 164


Oleh: Adian Husaini 
 
Pada
tanggal 19 September 2006 lalu, bertempat di kampus Universitas
Paramadina Jakarta, saya diundang untuk membahas buku baru dari Dr.
Jalaluddin Rakhmat yang berjudul “Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi 
Perbedaan.”
Sejak awal, saya sebenarnya enggan melayani perdebatan tentang
Pluralisme Agama, karena berdasarkan pengalaman, selama ini, perdebatan
seperti itu tidak banyak membawa manfaat. 
Tetapi, karena ada
pertimbangan khusus, undangan itu saya terima. Beberapa pekan
sebelumnya, saya sudah bertemu dengan Jalaluddin Rakhmat, yang biasanya
dipanggil sebagai Kang Jalal. Dalam forum tersebut Jalal menyatakan,
bahwa “menjadi orang Kristen yang beramal shalih lebih baik daripada
menjadi orang muslim yang jahat”. Saya sempat kirim SMS mempertanyakan
ucapan dia tersebut. 
Dengan niat ingin berdakwah dan
menjelaskan kekeliruan pandangan “Pluralisme Agama” tersebut di kampus
Paramadina, saya bersedia menghadiri forum tersebut. Ternyata forum itu
sangat ramai. Pengunjung berjubel memadati ruangan. Maka, sedapat
mungkin, saya mencoba menjelaskan kekeliruan paham Pluralisme Agama,
termasuk yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat melalui bukunya
tersebut. Untuk itu, pada malam itu, saya luncurkan juga buku baru saya
yang berjudul “Pluralisme Agama: Parasit bagi Agama-agama”.  
Salah
satu yang saya kritik keras adalah cara Jalaluddin Rakhmat dalam
mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang dia katakan sebagai
“ayat pluralis”. Tampak, ada pemutarbalikkan makna ayat-ayat Al-Quran
dengan tujuan untuk melegitimasi pandangan Pluralisme Agama,
seolah-olah Pluralisme Agama adalah paham yang dibenarkan oleh Al-Quran
. Cara seperti ini sama saja dengan "menjual minyak babi tetapi diberi
cap onta". Ayat-ayat Al-Quran ditafsirkan dengan semaunya sendiri untuk
membenarkan paham yang salah. 
Dalam bukunya tersebut,
misalnya, Jalal mengutip, pendapat Rasyid Ridha dalam Kitab Tafsir
al-Manar Jilid I:336-338, tentang penafsiran QS al-Baqarah: 62, yang
artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang
Yahudi, orang-orang Kristen, dan kaum Shabiin, siapa saja yang beriman
kepada Allah, Hari Akhir, dan beramal shalih, maka mereka akan
mendapatkan pahala dari sisi Allah dan tidak ada ketakutan dan
kekhawatiran atas mereka.” 
Dalam ayat ini, menurut Jalal
yang mengutip Rasyid Ridha, kaum Yahudi dan Kristen akan dapat meraih
keselamatan meskipun tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jadi,
untuk meraih keselamatan, seseorang hanya disyaratkan beriman kepada
Allah, iman kepada hari pembalasan, dan beramal saleh – tanpa wajib
beriman kepada kenabian Muhammad saw. Bahkan, Jalaluddin Rakhmat juga
menyatakan:
“Bertentangan dengan kaum eksklusivis adalah kaum
pluralis. Mereka berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai
peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan dan masuk sorga. Semua
agama benar berdasarkan kriteria masing-masing. Each one is valid within its 
particular culture.  Mereka percaya rahmat Allah itu luas.” 
Pendapat semacam ini sudah pernah dikemukakan oleh tokoh Pluralis Agama Prof. 
Abdul Aziz Sachedina, yang menulis:
“Rashid
Rida does not stipulate belief in the prophethood of Muhammad for the
Jews and Christians desiring to be saved, and hence implicitly
maintains the salvific validity of both the Jewish and Christian
revelation.” (Terjemahan bebasnya: Rasyid Ridha tidak mensyaratkan
iman kepada kenabian Muhammad bagi kaum Yahudi dan Kristen yang
berkeinginan untuk diselamatkan, dan karena itu, ini secara
implisit menetapkan validitas kitab Yahudi dan Kristen). (Lihat Abdul
Aziz Sachedina, “Is Islamic Revelation an Abrogation of
Judaeo-Christian Revelation? Islamic Self-identification in the
Classical and Modern Age, dalam Hans Kung and Jurgen Moltman, Islam: A
Challenge for Christianity, (London: SCM Press, 1994)). 
Baik
Jalaluddin Rakhmat atau Sachedina sama-sama bersikap manipulatif dalam
menampilkan pendapat Muhamamd Abduh dan Rasyid Ridha tentang
keselamatan Ahli Kitab. Mereka hanya mengutip Tafsir al-manar Jilid I,
dan tidak melanjutkan telaahnya kepada bagian lain Tafsir al-Manar.
Jalaluddin Rakhmat bahkan menyimpulkan bahwa Rasyid Ridha seolah-olah
merupakan seorang pluralis. Padahal, jika mereka mau menelaah bagian
Tafsir al-Manar lainnya, akan dapat menemukan pendapat Mohammad Abduh
atau Rasyid Ridha yang sangat berbeda dengan kesimpulan mereka itu. 
Dalam
forum di Paramadina tersebut, saya bawakan fotokopian Tafsir al-Manar
Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, yang dengan
tegas menyebutkan, bahwa bahwa QS al-Baqarah:62 tersebut adalah
membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang dakwah Nabi (Islam) tidak
sampai menurut yang sebenarnya kepada mereka, sehingga kebenaran agama
Islam tidak tampak bagi mereka. Karena itu, mereka diperlakukan seperti
Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. 
Sedangkan
bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka, Rasyid Ridha
menggunakan QS Ali Imran ayat 199 sebagai landasannya. Kepada mereka
ini, untuk meraih keselamatan, maka harus memenuhi lima syarat, yaitu:
      (1)
beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak
bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang
mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Quran yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad. (3) beriman kepada kitab-kitab yang
diwahyukan bagi mereka, (4) rendah hati (khusyu'), (5) tidak menjual
ayat-ayat Allah dengan harta benda dunia. 
Abduh mengakui
adanya Ahli Kitab yang memenuhi kelima syarat itu, hanya saja jumlahnya
sedikit, dan mereka itu merupakan orang-orang pilihan dalam hal ilmu,
keutamaan, dan ketajaman penglihatan batin. Mereka tersembunyi dalam
lipatan-lipatan sejarah atau di lereng-lereng gunung dan
pelosok-pelosok negeri, dan oleh agama resmi mereka malah dituduh
sebagai kafir dan pengikut ajaran sesat. 
Itulah pendapat Abduh
dan Ridha tentang keselamatan Ahli Kitab sebagaimana ditulis dalam
Tafsir al-Manar, yang secara gegabah dimanipulasi oleh Abdul Aziz
Sachedina dan Jalaluddin Rakhmat. Tindakan memanipulasi pendapat
mufassir semacam ini adalah tindakan yang sangat tidak terpuji, apalagi
digunakan untuk mendukung paham Pluralisme Agama, yang sama sekali
tidak dilakukan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Jika mau
mendukung paham Pluralisme Agama, lakukanlah dengan fair dengan membuat
tafsir sendiri, baik Tafsir Jalaluddin Rakhmat atau Tafsir Sachedina,
tanpa memanipulasi pendapat ulama atau tokoh yang lain. 
Dengan
logika sederhana kita bisa memahami, bahwa untuk dapat "beriman kepada
Allah" dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti
harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya,
kita dapat mengenal Allah dengan benar; mengenal nama dan
sifat-sifat-Nya. Juga, hanya melalui Nabi Muhammad saw, kita dapat
mengetahui, bagaimana cara beribadah kepada Allah dengan benar. Jika
tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, mustahil manusia dapat mengenal
Allah dan beribadah dengan benar, karena Allah SWT hanya memberi
penjelasan tentang semua itu melalui rasul-Nya.
Sejak lama
Jalaluddin Rakhmat dikenal sebagai pakar dan jago komunikasi massa.
Kata-katanya mengalir dan bisa menyihir orang yang mendengarnya. Saya
melihat, bagaimana hebatnya dia dalam mempengaruhi orang, apalagi yang
tidak sempat mengecek sendiri ayat-ayat atau tafsir Al-Quran yang
dikutipnya. 
Saya berpikir, alangkah sayangnya, kepandaian dan
kehebatan itu jika digunakan untuk menyesatkan manusia. Padahal, jika
kepandaian itu digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, akan
sangat bermanfaat, bagi diri Jalaluddin Rakhmat sendiri, maupun bagi
umat Islam secara keseluruhan. Selama ini, Jalaluddin Rakhmat banyak
dikenal sebagai penyebar ide-ide Syiah di Indonesia. Entah mengapa, dia
sekarang meloncat lagi menjadi penyebar ide-ide Pluralisme Agama, yang
amat sangat kacau dan merusak. 
Tampilnya Jalaluddin Rakhmat
sebagai penyebar ide Pluralisme Agama tentu saja menambah darah baru
bagi para pendukung paham ini. Tetapi, jika ditelaah, argumentasi yang
digunakan masih seputar itu-itu juga. Ayat-ayat yang dikutip dalam
Al-Quran juga dipilih-pilih yang seolah-olah mendukung paham Pluralisme
Agama. Tetapi, karena pendukung paham ini kadang begitu pandai dalam
mengutip ayat-ayat al-Quran, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang
tertipu, menyangka ‘’minyak babi’’ yang dijajakan mereka sebagai
‘’minyak onta’’. 
Dengan masuknya Jalaluddin Rakhmat ke dalam
barisan penyebar paham ini, maka sekarang, bagi umat Islam, sudah makin
jelas, di barisan mana Jalaluddin Rakhmat berada. Di akhir presentasi
saya, secara terbuka, saya mengajak Jalaluddin Rakhmat untuk bertobat
dan kembali ke jalan yang benar, dengan meninggalkan paham Pluralisme
Agama dan kembali kepada iman Islam. Saya sudah berusaha sekuat tenaga
untuk menjelaskan kekeliruan mereka. Jika mereka tidak mau menerima,
tugas saya untuk menyampaikan sudah selesai. Terserah mereka,
Jalaluddin Rakhmat dan pendukung Pluralisme Agama lainnya, untuk
mengambil sikap. 
Di atas semua itu, sebagai Muslim, kita patut merenungkan firman Allah SWT:
"Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka
membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang
indah-indah untuk menipu."  (QS Al-An’am:112)
Mudah-mudahan,
sebagai Muslim yang mengimani kebenaran Islam, kita tidak termasuk ke
dalam barisan musuh para Nabi. Amin. (Jakarta, 29 September 
2006/www.hidayatullah.com).  


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke