Jurnal Sairara
Kepada Saudara Taufiq Ismail
19
PERANG DINGIN
Aku masih mau berkomentar tentang alinea ke-6 dalam respons bagian
pertama Saudara Taufiq Ismail:
"Selepas dua perang saudara, akibatnya sebagai bangsa kita masih saling
mendendam. Penyebabnya dua orang. Kedua orang ini masih mengulurkan rantai
dendam yang panjang dari kuburan mereka melintasi Perang Dingin, satu dari
London (Marx), satu lagi dari Moskow (Lenin). Rantai dendam sepanjang itu masih
membelit tubuh bangsa kita".
Komentar-komentar begini, aku lakukan bukan dengan maksud mencari-cari masalah,
mengorek-ngorek soal-soal yang tidak perlu. Tapi bertolak dari pendapat bahwa
apa yang diajukan oleh Saudara Taufiq Ismail dalam alinea-alineanya merupakan
kesimpulan dari yang disebutnya data obyektif. Padahal belum tentu yang beliau
data-data obyektif itu memang obyektif adanya. Tak obah orang melihat gajah
dari satu sisi, ketika melihat gajah itu berkaki tiga maka mengatakan gajah
berkaki empat. Ketika ia tak melihat belalainya, mengatakan gajah tak punya
belalai. Maka di sinilah kukira perlunya check dan recheck, keterbukaan,
kejujuran, kritik otokritik dan kesanggupan menyediakan ruang bagi kebenaran
orang lain. Kukira ini pula hakekat "mencari kebenaran dari kenyataan".
Ketiadaan sikap dasar di atas sama artinya dengan subyektivisme menggunakan
dalih obyektivitas.
Misalnya: Apakah obyektif mengatakan yang disebut "perang saudara" di
Indonesia disebabkan oleh dua orang yang bernama Karl Marx dan V.I. Lenin?
Apakah kesimpulan begini bukannya suatu pandangan subyektif dan sangat
simplistis? Apakah obyektif mengatakan bahwa "Kedua orang ini masih
mengulurkan rantai dendam yang panjang dari kuburan mereka melintasi Perang
Dingin, satu dari London (Marx), satu lagi dari Moskow (Lenin). Rantai dendam
sepanjang itu masih membelit tubuh bangsa kita". Simplitisisme sangat berbahaya
bukan hanya bagi diri sendiri tapi juga pada orang lain.
Aku khawatir bahwa pandangan Saudara Taufiq Ismail tentang "perang dingin" pun
termasuk contoh lain dari subyektivisme dan simplistisisme juga adanya. Marx
dan Lenin sudah tak ada waktu Perang Dingin berlangsung dan bisa dikatakan
usai setelah runtuhnya Tembok Berlin. Apakah ini bukan ujud dari ankronisme
pandangan sejarah? Terlalu sederhana dan agak menertawakan untuk mengatakan
bahwa Perang Dingin disebabkan oleh Marx dan Lenin yang ketika Perang Dunia II
berakhir sudah tak ada.
Jika pemahamanku benar, kiranya, untuk memahami Perang Dingin, niscayanya
dikaitkan dengan sejarah Perang Dunia II sebagai perang panas antara Sekutu dan
kekuatan AS [Jerman Hitler, Italia Mussolini dan militerisme Jepang] yang
nampaknya usaha membagi-bagi dunia atas daerah penguasaan dan pengaruh di
antara negara-negara adikuasa pada waktu itu. Setelah pertempuran Stalingrad
yang dipimpin oleh Stalin [di Eropa Barat, baik golongan kiri atau pun kanan
dalam soal ini mengakui jasa Stalin] di Eropa, Hitler mengalami kekalahan
strategis. Sementara di front Timur, Jepang mengalami kekakalahan strategis di
Mancuria, sehingga memungkinkan Tentara Merah Uni Soviet maju hingga pulau
Sakhalin. Untuk mencegah laju ofensi Tentara Merah masuk kepulauan Jepang,
di front timur maka Amerika Serikat menjatuhkan bom atom atas Hiroshima dan
Nagasaki. Di front barat, Esienhower mempercepat pendaratan di Normandie,
Perancis , agar Tentara Merah Soviet tidak
terus melaju ke Eropa selatan. [Di sini aku tidak memasuki sejarah bagaimana
Amerika Serikat bisa tumbuh sebagai kekuatan supra di dunia].
Setelah Perang Dunia II selesai secara fisik, pertemuan Yalta yang dihadiri
oleh antara lain Rossevelt, Churchil dan Stalin. Pembagian dunia sebagai hasil
Perang Dunia II dikokohkan. Perang fisik berakhir, dilanjutkan dengan Perang
Dingin tanpa Marx dan Lenin yang sudah lama tiada.
Dalam Perang Dingin ini prinsip yang diterapkan : "Kalau kau sahabat lawanku
maka kau adalah musuhku, dan kalau kau lawan musuhku maka kau adalah
sahabatku". Prinsip ini diberlakukan dalam politik luarnegeri baik oleh yang
menyebut diri sebagai "dunia merdeka" yang dipimpin oleh Amerika Serikat, mau
pun kubu sosialis yang dipimpin oleh Uni Svoiet. Tapi kemudian, kubu sosialis
menjadi hancur oleh perpecahan antara Partai Komunis Uni Soviet dan Partai
Komunis Tiongkok. Perpecahan ini berdampak terhadap negara-negara lain dan
politik inhternasional dua negara adikuasa:Amerika Serikat dan Uni Soviet
ditamengi macam-macam teori [Buku acuan tentang Perang Dingin ini sangat banyak
dan tentu Saudara Taufiq Ismail mengikutinya. Dengan kepercayaan begini, aku
merasa aneh saja ketika membaca kesimpulan-kesimpulan sederhana Saudara Taufiq
Ismail seperti di atas].
Sesungguhnya jika kita mau jujur, Tragedi Nasional September 1965 pun, kiranya,
tidak luput dari adanya Perang Dingin dan menjelang kalahnya Amerika Serikat
dalam perang agresinya di Viêt Nam. Akan lebih baik dan nalar sekiranya jika
terhadap Tragedi Nasional ini semua pihak bisa melihat masalahnya secara
berimbang dan tenang tanpa emosi. Terlalu banyak sudah korban, darah dan
airmata serta derita disebabkannya. Acuan tentang ini pun sebenarnya makin hari
makin banyak tersedia. Memandang kejadian ini secara sederhana, secara
simplistis tidak akan membantu mendapatkan penyelesaian adil tanpa membedakan
antara benar dan salah. Memandang masalah dengan tenang, jujur pada diri
sendiri, tidak menilai sesuatu atas suatu data "melihat gajah" dari satu arah
saja, membangun kesimpulan dan pendapat tidak berdasarkan data fiktif berat
sebelah, barangkali akan berguna sampai ke tujuan bernama "perdamaian total".
Mencari kebenaran dari kenyataan akan menjadi
sia-sia saja jika berangkat dari data-data demikian. Tak obah perahu putus
tali dari tepian diterpa badai hanyut dibawa gelombang dan arus bernama
kepentingan sesaat. Ini menyangkut metode berpikir dan melihat masalah secara
nalar. Berpikir sederhana memang jauh lebih gampang dari menempuh metode
pendekatan kompleks , jika menggunakan istilah sosiolog-filosof Perancis Edgar
Morin. Barangkali.****
Paris, Juni 2008
-----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonnesia di Paris.
[Bersambung.....]
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
[Non-text portions of this message have been removed]