Bang.. kmaren Abang beli hands free katenye beli nyang palsu aje. lebih mure. skarang nyari nyang asli. Gimane sih?
On 6/25/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Metodologi Berpikir Para Pembela Nabi Palsu > oleh: AKMAL > > > assalaamu'alaikum wr. wb. > > Sebagian orang membela para Nabi palsu dengan ucapan yang diusahakan supaya > terdengar Islami. Berbagai > dalil disampaikan, tapi justru dalil-dalil yang dikemukakannya itu > semakin membuat kita yakin bahwa mereka memang telah sangat jauh dari > Al-Qur'an. Sebutlah misalnya argumen "Allah > tidak memberi cap sesat pada mereka, maka kita pun tak boleh memberi > cap sesat pada orang lain." Orang-orang ini > menghendaki agar Allah memberi petunjuk fisik yang 100% pasti untuk > membedakan mana yang baik dan mana yang sesat. Bukankah > logika mereka sama persis seperti orang-orang kafir dalam Al-Qur'an > yang seringkali menantang para Nabi dan Rasul untuk memohon kepada > Allah agar menimpakan azab dengan segera, jika memang mereka berada di > pihak yang salah? Sebagai perbandingan, rujuklah pada kisah Nabi Hud as. di > surah Al-A'raaf. > > Sebagian diantara mereka mengambil dalil dari ayat di bawah ini : > > "Sesungguhnya > Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari > jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat > petunjuk." > (Q.S. Al-An'aam [6] : 117) > > Dengan ayat ini, mereka berpendapat bahwa hanya Allah-lah yang tahu siapa > yang sesat dan siapa yang tidak. Ironis > sekali jika pendapat ini harus datang dari mereka yang mengaku > 'kontekstualis', 'tidak literalis', dan 'komprehensif' dalam memahami > ajaran Islam. Pasalnya, mereka tidak melihat konteks pembicaraan di sekitar > ayat tersebut. Kalau > menilik ayat-ayat sebelumnya, jelaslah bahwa ayat tersebut bermaksud > bahwa kita hanya akan mendapat petunjuk kalau kembali kepada > aturan-aturan Allah, dan bukan mengikuti sebagian manusia yang patuh > pada hawa nafsunya masing-masing. Selain itu, > deskripsi kesesatan telah sangat banyak dijelaskan di dalam Al-Qur'an, > dan karenanya, hanya mereka yang bodoh sajalah yang berpendapat bahwa > manusia tak mungkin bisa membedakan mana yang sesat dan mana yang tidak. > > Ada juga yang menggunakan dalil ayat berikut ini : > > "...Sesungguhnya > Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari > jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat > petunjuk." > (Q.S. An-Nahl [16] : 125) > > Argumen ini malah lebih tidak jujur lagi, karena memotong seenaknya bagian > awal ayat tersebut. Beginilah terjemahan lengkap dari ayat tersebut : > > "Serulah > (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik > dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah > yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan > Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." > (Q.S. An-Nahl [16] : 25) > > Pernyataan > bahwa Allah lebih mengetahui siapa yang sesat dan mendapat petunjuk > sama sekali tidak menegasikan kenyataan bahwa manusia juga bisa > mengenali orang-orang yang sesat. Jika tidak > bisa mengenali orang-orang yang fasik, lantas mengapa kita diperintah > untuk mengecek berita dari mereka (lihat Q.S. Al-Hujurat [49] : 6)? Jika > tak mungkin mengenali orang-orang munafik, lantas mengapa deskripsi dan > bahaya keberadaan mereka dijelaskan di awal surah Al-Baqarah? > > Jika > melihat konteks ayatnya (silakan cek ayat-ayat sebelumnya), maka jelas > bahwa ayat ini sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa manusia tak > bisa mengenali siapa yang sesat dan siapa yang tidak. Maksud > dari pernyataan ini adalah bahwa (sekali lagi, silakan cek ayat-ayat > sebelumnya) tugas para Nabi dan Rasul hanyalah berdakwah dengan cara > yang baik, dan tak perlu risau dengan banyaknya yang kafir dan > sedikitnya yang beriman, karena Allah lebih mengetahui hal itu. Tak usah > risau bagaimana nasib orang-orang beriman di dalam kepungan kekafiran, karena > Allah Maha Tahu keadaan mereka. Tak > usah pusing memikirkan azab yang mesti diterima oleh orang-orang kafir, > karena Allah Maha Tahu siapa-siapa saja yang mesti mendapat pahala dan > siapa yang harus diazab, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sekali lagi, > silakan baca konteks ayat-ayat berikutnya untuk mendapatkan pemahaman yang > lebih mendalam. > > Ironi belum berhenti sampai di sini. Ada juga yang berdalil dengan ayat di > bawah ini, dengan logika yang kurang lebih sama. > > Dan > katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu ; maka barangsiapa > yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin > (kafir) biarlah ia kafir". > (Q.S. Al-Kahfi [18] : 29) > > Lagi-lagi ketidakjujuran menjadi akar permasalahannya. Kalau > memang beritikad baik, hendaknya mencantumkan ayatnya secara > keseluruhan, dan lebih baik lagi jika membahas konteksnya secara > komprehensif. Beginilah bunyi keseluruhan ayatnya : > > Dan > katakanlah : "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu ; maka barangsiapa > yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin > (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang > zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta > minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih > yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat > istirahat yang paling jelek. > (Q.S. Al-Kahfi [18] : 29) > > Jika ayatnya dipotong (sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pembela > Nabi palsu), maka yang terlihat adalah 'dakwah pasif'. Prinsip dakwahnya > menjadi : "Beriman boleh, kafir pun silakan!" Maka dakwah pun dipenuhi oleh > warna-warni ignorance, tanpa daya juang dan tanpa keberpihakan pada kebenaran. > > Memang > benar ayat ini menuntun Rasulullah saw. untuk berkata "Kebenaran itu > datangnya dari Tuhanmu ; maka barangsiapa yang ingin (beriman) > hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia > kafir." Akan tetapi, ucapan ini harus diikuti dengan keberpihakan yang > sangat jelas. Sebagian besar ayat tersebut justru membicarakan pedihnya azab > bagi mereka yang kafir. Oleh karena itu, jika ayat itu dibaca secara > lengkap, maka musnahlah kesan ignorant tadi. > > Lagi-lagi > jika memang menghendaki pemahaman yang komprehensif dan > 'kontekstualis', maka hendaknya kita meneliti ayat-ayat di sekitarnya. Kalau > melihat konteksnya, maka jelaslah bahwa ayat di atas adalah semacam > 'penutup' argumen (yang dituntunkan kepada) Rasulullah saw. terhadap > orang-orang kafir. Sebelumnya telah begitu banyak argumen diajukan, dan pada > akhirnya memang hidayah itu tidak mampir dalam dada semua orang. Sehebat dan > selogis apa pun argumen kita, jika seseorang memilih untuk tetap kafir maka > ia akan tetap kafir. Oleh karena itu, "jika hendak beriman maka berimanlah, > dan jika hendak kafir maka kafirlah!" Tapi jangan pernah lupa untuk > menceritakan pada mereka azab berat yang akan mereka terima akibat > kekufurannya. > > Menyebarluaskan metodologi berpikir yang Islami adalah PR yang sangat besar > bagi para juru dakwah di negeri ini. Sebenarnya kita tidak punya banyak > waktu senggang. > > wassalaamu'alaikum wr. wb. > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > >

