Kronik  Sairara:  
 
 
CATATAN KECIL TENTANG PAMERAN KEDUA SANGGAR BUMI TARUNG 
 
 
Bumi Tarung, salah sebuah sanggar para seniman Lembaga Seni Rupa [Lesrupa] 
Lekra didirikan pada akhir tahun 1961 di Yogyakarta sesuai berlangsungnya 
Konfrensi  Nasional Lesrupa di kota yang sama. Di dalam Konferensi Nasional 
yang dihadiri oleh pelukis-pelukis Lesrupa dari seluruh tanahair,  selain 
dibicarakan masalah-masalah yang bersifat keorganisasian, juga didiskusikan 
masalah-masalah terdapat di dunia seni rupa tanahair. Berbarengan dengan itu 
dilangsungkan juga sebuah pameran lukisan dan patung dalam skala besar diikuti 
oleh perupa-perupa Lesrupa dari berbagai generasi. 
 
 
Pada waktu yang sama di Jefferson Library di Jalan Diponegoro, tiga pelukis 
muda Yogya, yaitu Misbach Thamrin, Sabri Djamal dan Isa Hasanda 
menyelenggarakan pameran besar mereka sendiri juga. Sebagai pelukis, ketiga 
anak muda ini tentu saja menyempatkan diri mereka untuk mendatangi pameran dan 
Konerensi Nasional Lesrupa yang dihadiri oleh pelukis-pelukis seperti Affandi, 
Sapto Hudoyo, Suromo, Surono, Johni Trisno, Gambir Anom, Ngajar Bana Sembiring, 
Trubus, Batara Lubis, Hendra, Eddy Sunarso, Amrus Natalsya, Kuslan Budiman,    
dan lain-lain... untuk sekedar menyebut beberapa nama saja.  
 
 
Di sinilah Misbach Thamrin, Isa Hasanda dan Sabri Djamal bertemu dengan Amrus 
Natalsya,  Kuslan Budiman dan lain-lain...  Diskusi sengit pun terjadi dan 
berlanjut terus di kedai-kedai seusai Konferensi Nasional. Hasil dari diskusi 
panjang dan sengit ini kemudian melahirkan sebuah sanggar yang dinamai Bumi 
Tarung, terletak di Gamping, berhadapan dengan rumah pelukis Amri Yahya, hanya 
beberapa ratus meter dari ASRI [Akademi Seni Rupa Indonesia]. 
 
 
Masih terbayang padaku semangat dan kegairahan anggota sanggar yang berusia 
sangat muda dan membawa suatu corak tersendiri dibandingkan dengan 
sanggar-sanggar Lekra lainnya yang ada di Yogya.  Kalau ingatanku benar,  
pelukis-pelukis Bumi Tarung pada waktu itu  banyak menggunakan tidak banyak 
warna.  Lebih mengarah ke hitam-putih. Secara teratur, di sanggar dilangsungkan 
diskusi-diskui politik dengan mengundang tokoh-tokoh politik lokal, kebudayaan, 
dan tentu saja tentang seni rupa sendiri. Dapur sanggar adalah warung-warung 
yang bertebaran di sekitar ASRI. Karena itu saya selalu mengatakan bahwa 
warung-warng Yogya, terutama yang di sekitar ASRI langsung atau tidak langsung 
mempunyai andil dalam pengembangan seni rupa di kota ini.  Dengan penuh 
semangat pula anggota-anggota Bumi Tarung melakukan gerakan turun ke bawah, ke 
pantai-pantai, ke desa-desa sesuai dengan metode kerja Lesrupa sebagai bagian 
dari Lekra. "Aku masih berhutang lukisan  pada
 petani dan seorang ibu tua Lampung yang kutemukan waktu turba", ujar 
Amrus Natalsya di depan pertemuan kami di Serua Indah Ciputat pada tahun 
September 2005. [Lebih lanjut mengenai Bumi Tarung bisa dilihat dalam: JJ. 
Kusni: "Di Tengah Pergolakan", Penerbit Syarikat Indonesia, Yogyakarta, April 
2007; Misbach Thamrin tentang Amrus Natalsya. Buku Misbach ini kudengar 
diterbitkan tahun ini].
 
 
Menyusul terjadinya Tragedi Nasional September 1965 keadaan sanggar dan 
anggota-anggotanya dituturkan oleh Ferry Kodrat di Harian Suara Pembaruan 
,Jakarta [25 Juni 2008] sebagai berikut: 
 
"Para seniman yang dinilai revolusioner diciduk dan dijebloskan ke dalam 
tahanan. Karya-karya mereka pun dimusnahkan (dibakar)." 
  
  
"Sengsarakah mereka? Itu sudah pasti. Bukan hanya sengsara badan, melainkan 
juga psikis karena dalam tahanan, para seniman itu tidak bisa melakukan 
apa-apa, apalagi menarikan kuasnya di atas kanvas". 
  
 
"Itulah yang dialami sekitar 30 lebih pelukis yang menjadi anggota Sanggar Bumi 
Tarung. Dari 30 lebih pelukis tersebut, tinggal 11 pelukis (yang lainnya 
meninggal dunia) yang masih hidup dan eksis di dunia seni rupa Indonesia, Djoko 
Pekik dan Amrus Natalsya. "
 
 
Berdasarkan keterangan Amrus Natalsya di Pertemuan Serua Indah Ciputat yang 
saya katakan di atas, kepada teman-temannya sepenjara Amrus mengatakan bahwa 
nanti kalau kita sudah lepas penjara dan kita tidak mampu melukis, tidak bisa 
melukis, maka kita akan menjadi orang yang lebih bodoh dari kerbau. Pelukis 
harus tetap melukis. Hidup dari melukis", ujar Amrus dengan gaya cueknya yang 
dingin. 
 
 
Yang tersisa dari tapisan ajal teror putih menyusul Tragedi September 1965,  
setelah keluar dari penjara, saling mencari untuk mengatasi berbagai soal 
kongkret , terutama bagaimana bisa hidup  sebagai pelukis ditengah 
penyingkiran, diskriminasi,  pelarangan dan posisi sebagai  warga negara kelas 
dua  dengan KTP bertandakan ET [eks tapol]. "Sejarah selalu rumit dan tidak 
pernah sederhana" , ujar tajuk rencana Harian Katolik "La  Croix", Paris [25 
Juni 2008] Demikian juga sejarah Indonesia dan kehidupan para anggota Sanggar 
Bumi Tarung. Tapi kemudian kenyataan menunjukkan bahwa anggota Sanggar yang 
tersisa "tidak lebih dungu dari kerbau", jika meminjam istilah Amrus Natalsya 
di atas. 
 
 
Sekali pun pelarangan terhadap   Lekra belum dicabut, anggota-anggota  Sanggar 
yang tersisa  kemudian berhasil melangsungkan pameran  Bumi Tarung  pada tahun 
1962 di Galeri Budaya, Jakarta. , Pameran yang sekarang berlangsung dari 19-29 
Juni  di Galeri Nasional Indonesia ini jadinya adalah yang kedua kalinya. 
Dengan latar belakang demikian maka Ferry Kodrat yang meliput pameran Bumi 
Tarung yang kedua ini, di dalam Harian Suara Pembaruan,Jakarta [25 Juni 2008],  
 menilai pameran sebagai  "Kembalinya Para Seniman "Terlarang"".
 
 
Berlangsungnya pameran kedua Bumi  Tarung di Galeri Nasional Indonesia 
sekarang,  menyusul pameran bersama pada tahun 1962, bukan berarti mereka sudah 
bebas dari larangan. Saya katakan demikian, karena larangan tersebut masih 
belum dicabut secara resmi oleh pemerintah. Seperti halnya pelarangan terhadap 
buku-buku Lekra, termasuk kara-karya Pramoedya A. Toer, sampai sekarang masih 
saja belum dicabut resmi oleh penyelenggara negara terkait.  Kalau pameran 
pertama dan kedua, mungkin juga pameran-pameran berikutnya  bisa berlangsung, 
saya kira posisinya dengan usaha berani Joesoef Ishak ketika menerbitkan 
karya-karya Pulau Buru Pram.  Kegiatan tanpa perduli larangan ini di kalangan 
seniman-sastrawan, saya pahami sebagai petunjuk bahwa kebebasan, kemerdekaan 
yang merupakan hak dasar itu,  harus direbut. Hak dasar harus dibebaskan oleh 
yang terkait sendiri dari kekangan, tindasan dan penjara dalam bentuk apa pun. 
Bukan dengan meminta-minta. 
 
 
Bisa berlangsungnya pameran Bumi Tarung dan terbitnya karya-karya Pulau Buru 
Pram serta karya-karya Marxis oleh Oey Hay-djoen tanpa memperdulikan larangan, 
saya petunjuk bahwa penyelenggara negara sedang melakukan politik pura-pura 
tutup mata, atau menutup mata dengan jari renggang. Keadaan yang diciptakan 
oleh perkembangan dalam masyarakat negeri ini sendiri dan tekanan internasional 
[demi menjaga citra di dunia internasional yang penuh perhitungan politik dan 
ekonomi]. Imbangan kekuatan di dalam negeri memang belum mengalami perobahan 
radikal, tapi tidak juga seperti sediakala. Keadaan beginilah barangkali yang 
memberikan kemungkinan mengapa Bumi Tarung bisa melangsungkan pameran keduanya  
di Galeri Nasional Indonesia dan anggota-anggota Lekra, Eks Tapol seperti 
Atmodjo, alm. Sulami, Sudjinah, Oey Ha-djoen, Putu Oka, Hersri Setiawan, 
Joebaar Ajoeb,  dan lain-lain bisa menerbitkan karya-karya mereka di bawah nama 
penulis mereka sendiri. 
 
 
Perihal mereka dicatat atau tidak dalam sejarah resmi sastra-seni negeri ini, 
saya kira bagi mereka tidak menjadi hal penting sama sekali, karena yang 
terpenting adalah mereka terus berkarya. Terus melukis, terus menulis. 
Pengakuan bukan tujuan. Kalau karya mereka baik, maka seperti ujar tetua kita: 
"emas tetap emas kendati di mulut anjing sekali pun".  Kalau emas tidak 
dihitung dan tidak dianggap emas maka orang pun akan  tahu kadar dan karat yang 
mengatakan emas bukan adalah batu tanpa harga . 
 
 
Sejarah itu rumit, tidak sederhana tetapi punya keadilan sendiri. Bangkai akan 
tetap menyebar bau busuk betapa pun rapat ia dibungkus dan ditutup. 
 
 
Apakah yang menghalang seniman-seniman terlarang untuk terus mencipta  dan 
terus berkarya jika maut pun sudah ditantang. Dari i pulau pembuangan dan 
penjara, novel, catatan, laporan   dan puisi seperti air mengalir mencari 
jalannya ke muara? 
 
 
Saya hanya bisa mengatakan bahwa rekonsiliasi nasional yang berjalan di atas 
dua kaki  akan tersendat-sendat oleh adanya larangan dan teror serta 
diskriminasi. Ini adalah rekonsialiasi dan "perdamaian total" omongkosong 
apalagi untuk mewujudkan Republik dan Indonesia sebagai cita-cita. Bumi Tarung 
saya pahami juga selain bumi dan kehidupan adalah kancah bertarung bagi anak 
negeri dan bangsa serta anak manusia, ia juga seruan guna merebut dan membela 
hak-hak dasar. 
 
 
Terhadap berlangsungnya pameran Bumi Tarung kedua ini,  izinkan  saya 
menyampaikan ucapan selamat membela hak dan wajib diri sebagai warga republik 
sastra-seni yang berdaulat dan selamat untuk keteguhan menjadi anak manusia 
bermartabat dan berharga diri manusiawi.  Menjadi anak Republik dan Indonesia. 
****
 
 
Paris, Juni 2008
-----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris. 
 
 
 
LAMPIRAN:










  




http://www.suarapem baruan.com/ News/2008/ 06/25/Hiburan/ hib01.htm
 
SUARA PEMBARUAN DAILY 


Kembalinya Para Seniman "Terlarang"
 
SP/Ferry Kodrat 
Patung dua tentara zaman kemerdekaan bangsa Indonesia yang terbuat dari bahan 
semen dengan judul "Trip", karya Sudjatmoko, dengan latar belakangnya lukisan 
karya Djoko Pekik yang berjudul Tak Seorang pun Berniat Pulang Walau Mati 
Menanti, menjadi salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa 
Sanggar Bumi Tarung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 19-29 Juni. 
ezim Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan presiden kedua RI, Soeharto, bukan 
saja telah memasung ke- bebasan para seniman (pelukis) untuk berekspresi, 
me-lainkan juga sudah mencabik-cabik hak asasi dan hati nurani untuk hidup 
bebas, apalagi dalam berkarya di atas kanvas. 
Selain penyiksaan di dalam tahanan, penghancuran terhadap jati diri seniman pun 
pernah dilakukan oleh rezim Orba. Setelah bergeloranya Gerakan 30 September 
oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), pemimpin negara ini mengalami salah kaprah 
dalam menilai arti kebebasan berekspresi dari para seniman. 
Para seniman yang dinilai revolusioner diciduk dan dijebloskan ke dalam 
tahanan. Karya-karya mereka pun dimusnahkan (dibakar). 
Sengsarakah mereka? Itu sudah pasti. Bukan hanya sengsara badan, melainkan juga 
psikis karena dalam tahanan, para seniman itu tidak bisa melakukan apa-apa, 
apalagi menarikan kuasnya di atas kanvas. 
Itulah yang dialami sekitar 30 lebih pelukis yang menjadi anggota Sanggar Bumi 
Tarung. Dari 30 lebih pelukis tersebut, tinggal 11 pelukis (yang lainnya 
meninggal dunia) yang masih hidup dan eksis di dunia seni rupa Indonesia, Djoko 
Pekik dan Amrus Natalsya. 
Apa yang dialami Djoko Pekik dan kawan-kawan jelas menyisakan traumatik yang 
berkepanjangan. Bahkan, sampai dalam era reformasi saat ini, para seniman itu 
masih trauma sekalipun seniman lain sudah bebas mengekspresikan perasaannya di 
atas kanvas. 
Pengalaman-pengalam an getir serta gejolak perasaan yang pernah dan masih 
dialami anggota Sanggar Bumi Tarung itulah yang menjadi titik balik kembalinya 
orang- orang "terlarang". Kali ini mereka menggelar pameran seni rupa yang 
menampilkan sejumlah karya-karya seni Sanggar Bumi Tarung di Galeri Nasional 
Indonesia, Jakarta, hingga 29 Juni 2008. 
Pameran Sanggar Bumi Tarung memiliki arti sangat penting dalam sejarah seni 
rupa Indonesia. Tidak bisa juga dimungkiri bahwa para seniman yang menjadi 
anggota Sanggar Bumi Tarung yang berdiri tahun 1961 ini, merupakan pelaku 
sejarah seni rupa Indonesia, meskipun nama-nama dan keberadaan mereka tidak ada 
sama sekali dalam buku sejarah mengenai seni rupa Indonesia karena dianggap 
sebagai pemberontak. 
Bagi para seniman Sanggar Bumi Tarung, pameran di Galeri Nasional Indonesia ini 
adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya, mereka menggelar pameran pertama 
berlangsung pada tahun 1962 di Galeri Budaya, Jakarta. 

Kebebasan 
Sekalipun masih tersisa trauma, Djoko Pekik mengaku tidak sakit hati. Demikian 
juga rekan-rekannya di Sanggar Bumi Tarung tidak dianggap sebagai pelaku 
sejarah seni rupa Indonesia. "Bagi saya selaku seniman, yang terpenting adalah 
memiliki kebebasan dalam berkarya. Sebab, kebebasan para seniman dalam berkarya 
itu tidak bisa dihalang-halangi oleh kekuasaan. Hanya Tuhan yang bisa 
menghalangi kebebasan kami dalam berkarya," ujar Djoko kepada SP di Jakarta, 
baru-baru ini. 
Mengomentari era reformasi saat ini, Djoko Pekik masih menilai belum adanya 
kebebasan yang dimiliki para seniman. Menurut dia, reformasi yang dijalankan 
hanya kulitnya saja. Maksudnya, reformasi yang dibangun hanya untuk mengalahkan 
dan memenangkan seseorang. "Akibatnya, orang yang sudah menang, kemudian 
dikalahkan, tetapi orang itu tidak terima. Reformasi apa itu?" ujar dia. 
Sementara itu, rekannya, Misbach Tamrin menjelaskan, meskipun dia dan 
rekan-rekannya pernah dimarginalkan bahkan ditahan tanpa melalui proses hukum 
(persidangan) . Hingga kini, para anggota Sanggar Bumi Tarung tidak pernah 
lepas dari perhatian kami dalam ber- karya, yaitu mencintai rakyat kecil dan 
orang-orang yang dianiaya. 
Dalam memberikan sajian kepada masyarakat dalam pameran tersebut, ruang pameran 
utama Galeri Nasional Indonesia dibagi menjadi tiga bagian ruang pameran. 
Dinding dan lantai ruangan utama menyajikan lukisan-lukisan, patung, dan 
pahatan mengenai pengalaman para seniman yang teraniaya. Satu ruangan lagi 
berisi karya-karya para seniman yang memiliki kesan sebagai karya kontemporer 
revolusioner. Sementara itu, satu ruang lagi berisi mengenai lukisan-lukisan 
dan foto-foto karya seniman pada era 60-an, seperti lukisan Drinking Water 
karya Amrus Natalsya. 
Dari beberapa lukisan yang terpajang, terdapat satu lukisan yang dibuat Djoko 
Pekik dengan judul Tak Seorang pun Berniat Pulang Walau Mati Menanti. Di sini, 
Djoko menggambarkan beberapa tahanan bertelanjang dada termasuk gambar dirinya 
dengan mata tertutup kain merah, dilindas oleh tank bertuliskan RPKAD. Di 
belakang para tahanan, tentara berbaris lengkap dengan senjata di tangan. [F-4]


Try cool new emoticons, skins, plus more space for friends. Download Yahoo! 
Messenger Singapore now. 
 














Get your new Email address! 
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!


      Get the latest celebrity gossip - Yahoo! Singapore Search.
http://sg.search.yahoo.com/search?p=celebrity+gossip&cs=bz&fr=fp-top

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke