Jangan Memfitnah Buya HAMKA!"
Suara Islam
Sunday, 30 December 2007
Beberapa peneliti Paramadina melakukan fitnah terhadap Buya HAMKA. Padahal,
karyanya tak seberapa dibanding HAMKA.
Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-219
Oleh: Adian Husaini
Pekan lalu, sebuah berita gembira saya terima. Universitas Muhammadiyah Prof.
Dr. Hamka Jakarta telah mendirikan sebuah pusat studi bernama ”Pusat Kajian
Buya Hamka” (PKBH). Dalam rangka menyongsong peringatan 100 tahun Hamka, yang
akan jatuh pada 17 Februari 2008, PKBH akan menerbitkan sebuah buku berjudul
”Mengenang 100 Tahun Buya Hamka”. Saya diminta berpartisipasi untuk menulis
satu artikel dalam buku tersebut.
Bagi kita, nama Hamka tidaklah asing. Dalam beberapa kali catatan, kita
mengulas atau mengutip pendapat-pendapat Hamka. Semasa hidupnya, Hamka telah
menulis sekitar 118 karya dalam berbagai bidang, baik sastra, sejarah, tasauf,
etika, tafsir, dan sebagainya. Karya besarnya adalah Tafsir al-Azhar, yang
ditulisnya semasa dalam tahanan rezim Orde Lama.
Atas karya-karyanya, Hamka diangkat sebagai guru besar bidang tasauf di PTAIN
Yogyakarta (1958), mendapat gelar Dr. HC bidang agama dari Universitas Al-Azhar
Mesir (1958) dan bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia..
Berbagai kalangan diminta menyumbangkan tulisannya untuk buku Mengenang 100
Tahun Buya Hamka. Diantaranya, Prof. Dr. A. Malik Fadjar, Ali Sadikin, Prof. KH
Ali Yafie, Prof. Dr. Amin Rais, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Emha Ainun Najib,
Harmoko (mantan Menteri era Orde Baru), KH Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Din
Syamsuddin, Dr. M. Syafii Anwar, Henny Purwonegoro, Mieke Widjaya, dan banyak
lagi yang lainnya. Jumlahnya sekitar 100 orang. Dengan penulisan buku seperti
ini, barangkali panitia mengharapkan, akan tergambar sosok Hamka yang
ketokohannya diakui oleh berbagai kalangan masyarakat dengan corak serta aliran
pemikiran.
Harapan kita, mudah-mudahan buku itu nantinya akan memberikan gambaran yang
benar terhadap sosok Hamka dan pemikirannya.
Jangan sampai, sosok dan pemikiran Hamka dipersepsikan dengan keliru, sehingga
menjadi fitnah bagi Hamka. Kita pernah membahas, bagaimana seorang doktor
penyebar paham Pluralis Agama di Indonesia, dengan gegabah mengutip Tafsir
al-Manar, dan menyebut Rasyid Ridha sebagai pendukung paham Pluralisme Agama.
Meskipun sudah kita koreksi dan kita tunjukkan kekeliruannya, sang doktor itu
enggan mengoreksi bukunya.
Ilmuwan-ilmuwan model seperti ini, meskipun dikenal cerdik, sulit dipercaya
lagi kejujurannya.
Kita juga pernah membahas, ada sejumlah penulis yang keliru – entah sengaja
atau tidak -- dalam mengungkapkan pemikiran Hamka. Bahkan, ada yang sengaja
memanipulasi pendapat Hamka, sehingga, seolah-olah Hamka adalah seorang
pendukung paham Pluralisme Agama.
Sebagai contoh, sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Universitas
Paramadina berjudul ”Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang
Nurcholish Madjid, (2007). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dawam Rahardjo,
dengan editor Abd. Hakim dan Yudi Latif.
Seperti sejumlah buku terbitan Paramadina lainnya, buku berupa kumpulan tulisan
berbagai penulis ini juga secara besar-besaran mempromosikan paham Pluralisme
Agama. Sebagai misal, dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Membumikan
Kemajemukan dan Kebebasan Beragama di Indonesia?, Muhammad Ali, dosen Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta, menulis:
”Al-Qur’an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan
hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan. Dalam konsep al-Qur’an,
penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak,
Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama mereka
adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan, selain Yahudi
dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut keberagamaan yang
benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan. Tuhan menurunkan ratusan
ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diceritakan siapa mereka. Karenanya
tidak ada alasan untuk mengafirkan dan mengutuk masuk neraka Konfusianisme,
Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi
al-Quran juga menjelaskan, tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan
dan perselisihan antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja.” (hal.
256).
Kita tentu sulit memahami, apa sebenarnya isi kepala dosen ushuluddin UIN
Jakarta yang sedang mengambil doktor di Hawai, USA, ini. Kaca mata apa dan
konsep apa yang dipakai untuk membaca ayat-ayat al-Quran.
Padahal, dalam surat al-Fatihah saja, sudah disebutkan ada jalan yang lurus
(shirathal mustaqim), dan ada jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan ada
jalan orang-orang yang sesat.
Begitu banyak ayat al-Quran yang menjelaskan, lengkap dengan ciri-cirinya,
siapa yang disebut mukmin, siapa kafir, dan siapa munafik.
Kita tidak perlu menguraikan lebih jauh kekeliruan pemikiran dosen Ushuluddin
UIN Jakarta ini. Sebab, disamping sangat kacau, juga sangat naif.
Kita hanya patut mengajukan pertanyaan kepada keluarga dan pimpinan UIN
Jakarta, jika Muhammad Ali menyebut kaum Yahudi, Nasrani, dan sebagainya
”saudara seiman”, bagaimana jika dia meninggal nanti, maka jenazahnya
dikuburkan saja di pemakaman Yahudi atau Kristen? Atau jenazahnya ditaruh di
bawah pohon sebagaimana tradisi satu agama suku di Indonesia?
Yang lebih menyedihkan adalah artikel berjudul ”Islam dan Pluralisme di
Indonesia: Pandangan Sejarah”, ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang alumnus
Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris.
Sebagaimana banyak penganut paham Pluralisme Agama, penulis ini juga
menggunakan QS Al-Baqarah ayat 62 sebagai rujukan pendapatnya.
Celakanya, dia mengutip pendapat Hamka dalam Tafsir al-Azhar secara
serampangan, lalu membuat kesimpulan yang menyesatkan. Dia menulis dalam
artikel ini:
”Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis ”Kesan
pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan
secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini [...]. Ayat ini
sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai
golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak
dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat,
diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan
toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur’an. Suatu hal yang amat perlu
dalam dunia modern.” Lebih jauh Buya Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan
dari Ibn Abi Hatim dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah
tentang agama mana yang paling benar dari semua agama yang pernah dimasuki
olehnya: Majusi, Nasrani, dan Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62
tersebut.” (hal. 306-307).
Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan
pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85.
”Buya Hamka menyatakan: ”Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan (dihapus)
oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri
Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk
dia saja [...].”
Yang kemudian sangat sembrono dan tidak etis, adalah kesimpulan yang dibuat
oleh penulis, bahwa:
”Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya
bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam,
maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga. Sebaliknya
jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun
tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari
Allah: surga.” (hal. 307).
Sebenarnya, jika seorang peneliti dan penulis yang jujur dalam membaca
penafsiran Hamka terhadap QS 2:62, pastilah tidak akan membuat kesimpulan
seperti itu. Sebab, Hamka memang tidak menyimpulkan seperti itu. Dalam
tafsirnya, Hamka menulis tentang hadits Ibn Abi Hatim sebagai berikut:
”Telah meriwayatkan Ibnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman, bahwasanya
aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dari hal pemeluk-pemeluk agama yang
telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara
sembahyang mereka masing-masing dan cara ibadah mereka masing-masing. Lalu aku
minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu
dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu.”
Artinya ialah bahwa perlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal
lumrah bagi berbagai ragam pemeluk agama, karena syariat berubah sebab
perubahan zaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan tidak
mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu
menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah
dia Islam.” (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juzu’ I, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)
hal. 216).”
Hamka sangat menekankan bahwa makna ”iman sejati” adalah beriman kepada Allah
dan Hari Kiamat, dan beramal shalih.
Jadi, formalitas Islam, atau ”mengaku-aku Islam” saja – tanpa diikuti dengan
keyakinan yang mendalam dan amal shalih -- memang tidak menjamin keselamatan di
akhirat.
Siapa pun akan setuju dengan kesimpulan Hamka ini.
Tetapi, perlu dicatat, Hamka sama sekali tidak berpendapat, bahwa kaum Yahudi,
Kristen, Shabiin, dan lain-lain, semuanya akan masuk surga, tanpa perlu masuk
Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw dan beriman kepada al-Quran.
Hamka menulis:
”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang
diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu
Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.”
(Ibid, hal. 213).
Justru disinilah persolan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak
kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.
Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang
diriwayatkan Imam Muslim:
”Berkata Rasulullah s.a.w.: Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman
tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang
ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman
kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”
Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut:
”Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai
penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup
sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah
digenap dan disempurnakan.
Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani,
melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai.
Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan
Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa.
Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan
Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan
demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan.
Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya
nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna,
mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.” (Ibid, hal. 217-218).
Inilah penafsiran Hamka tentang QS 2:62, yang telah dikutip dan disimpulkan
secara keliru oleh peneliti Paramadina yang mengaku pernah kuliah pasca sarjana
di Universitas Al-Azhar Kairo.
Kita sangat menyesalkan cara-cara seperti ini, yang jauh dari etika ilmiah.
Apalagi, buku ini dimaksudkan untuk mengenang orang yang disanjung-sanjung oleh
kaum liberal sebagai salah satu ”cendekiawan terkemuka” di Indonesia. Kita
gembira dengan banyaknya orang yang menulis tentang Hamka, tetapi kita berharap
mereka jujur dan cermat dalam menulis.
Pemikiran dan kiprah perjuangan Buya Hamka jelas amat sangat jauh bedanya
dengan kaum Pluralis Agama yang menyatakan bahwa kaum Yahudi, Kristen, dan
sebagainya, adalah ”saudara seiman” mereka.
Jadi, kita memohon, jangan lagi menfitnah Buya Hamka! Nanti bisa celaka di
dunia dan Akhir Masa.
Wallahu A’lam.
[Jakarta, 28 Desember 2007/www.hidayatullah.com]
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
www.yahoo7.com.au/mail
[Non-text portions of this message have been removed]