Dulu juga, Hartono Ahmad Jaiz mengatakan bahwa nama Abdul Hamid Hakim,
seorang ulama besar sumatra, telah dicatut namanya dan difitnah sebagai
seorang pluralis. Kata hartono sebenarnya tidak demikian. Alasannya karena
ada bantahan dari keturunan Abdul Hamid Hakim bahwa kakeknya bukanlah
seorang pluralis. Hanya dengan alasan itu, Hartono dan kawan-kawannya yakin
betul bahwa Abdul Hamid Hakim diftinah dan dicatut namanya. Kemudian,
pendapat Hartono ini diamini oleh pengikutnya, disebarkan kemana-mana.
Dengan sangat yakinnya karena begitu percaya ke Hartono.

 

Andai saja, para pengikut hartono ahmad jaiz atau adian husaini CS ini
adalah orang-orang yang kritis dan tidak mudah percaya terhadap isu,
tentunya mereka akan mengklarifikasi apakah betul atau tidak asumsi Hartono
itu tentang Abdul Hamid Hakim. 

 

Saya kebetulan mengoleksi beberapa karya abdul hamid hakim yang kebetulan
ditulis dalam bahasa arab. Saya baca kembali kitab-kitab abdul hamid hakim,
dan ternyata dalam kitab al-mu'in al-mubin Juz IV hal 54-55 saya temukan
abdul hamid hakim menelurkan pikiran-pikiran pluralismenya.

 

Dalam kitab itu, abdul hamid sangat gamblang mengakui keberadaan agama-agama
lain sebagai ahli kitab termasuk budha dan hindu, walaupun diantara mereka
ada yang menyelewengkan kitab suci dan ajaran agama mereka, mereka tetap
ahlul kitab dan tidak bisa dikategorikan sebagai orang MUSYRIK. Sebab yang
dikatakan musyrik adalah agama yang ajaran dasarnya adalah politeisme.
Selain itu orang islam sama saja dengan ahlulkitab, punya peluang untuk
musyrik. Jadi abdul hamid hakim tetap memperlakukan ahli kitab sebagaimana
termaktub dalam alquran (kedudukan dan status ahli kitab mereka masih
berlaku sepanjang zaman), tidak seperti kebanyakan kita yang memasukan ahli
kitab, budha, hindu dan lain-lain sebagai golongan musyrik dan agama yang
sudah menyimpang. Karena punya pandangan teologis yang demikian, abdul hamid
hakim pun membolehkan perkawinan orang islam dengan mereka.

 

Meskipun sudah diperlihatkan faktanya demikian, sudah diperlihatkan tulisan
abdul hamid dalam kitab tersebut, tapi masih saja ngotot bahwa orang yang
mengatakan abdul hamid plural mencatut namanya dan memfitnah. Apa kelompok
ini yang disebut quran Summun Bukmun Umyun Fahum la yarjiuuun??? Tuli, bisu
dan buta karena tidak dapat menerima kebenaran??? (ini pertanyaan loh,
jangan dianggap fitnah) Hehehehehe wallahu alam, 

 

Posted by: "si pitung"
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
[EMAIL PROTECTED]    <http://profiles.yahoo.com/sipitung68> sipitung68 

Sun Jun 29, 2008 10:07 pm (PDT) 


urusan catut-mencatut, fitnah memfitnah memang pengasong liberal juaranya,
fakta yg tdk terbantahkan. Nah tulisan ini salah satu buktinya. 
Lucu aja membaca pemikiran (sesat) ala dosen2 liberal, gmana mahasiswanya
tuch?! udh gitu pemikirannya ga sesuai dg tindakannya sendiri, katanya
muslimah boleh kawun dg non muslim, tp putrinya malah ga boleh dikawinin ma
orang laen yg beda agama hehe lucu skali bukan, kalah deh komeng.
Yah namanya jg orang nyari duit, wajarlah nyatut sana nyatut sini, fitnah
sana fitnah sini, UUD ujung-ujung duit hehe mana ada makan siang yg gratis.
Iya toh?
susah klo muka dah tebel kaya' tembok, ga tahu maluuu hihihi..

----- Original Message ----
From: riri cute < <mailto:riri_fawzan%40yahoo.gr> [EMAIL PROTECTED]>
To:  <mailto:alvindaniel_net%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:amartien2005%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED]; Mansur Amin <
<mailto:mansuramin%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED]>;
<mailto:antonhartomo%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:gabrielak%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:gagho%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:zamanku%40yahoogroups.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> [email protected];
<mailto:debat_islam-kristen%40yahoogroups.com>
[EMAIL PROTECTED];
<mailto:kebenaranislam%40yahoogroups.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:rm_danardono%40yahoo.de> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:mediacare%40cbn.net..id> [EMAIL PROTECTED]; Sunny <
<mailto:ambon%40tele2.se> [EMAIL PROTECTED]>; Djoko Associates <
<mailto:djoko.email%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED]>;
<mailto:victor.silaen%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:vancoolblack%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED]; Valdinho <
<mailto:valdinho74%40yahoo.co.uk> [EMAIL PROTECTED]>; Iwan Wibawa <
<mailto:iwanw1963%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED]>; Wirajhana <
<mailto:wirajhana%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED]>;
<mailto:banganut%40yahoo.co.id> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:banorida%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:batara44rh%40hotmail.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:bertha.yulianti%40schott.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:binsar.nainggolan%40gmx.de> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:bobysuprijadi%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:mangucup%40orange.nl> [EMAIL PROTECTED]
Cc:  <mailto:abi_bakars%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:abu.zubair1973%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:abu_fikra%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:abualiya03%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:achmad.muzamil%40conocophillips.com>
[EMAIL PROTECTED];  <mailto:al-ikhwan%40yahoogroups.com>
[EMAIL PROTECTED];  <mailto:al-ukhuwah-islamiyah%40yahoogroups.com>
[EMAIL PROTECTED];  <mailto:ndhutabarat%40yahoo.de>
[EMAIL PROTECTED];  <mailto:nizaminz%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:tawangalun%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:tbk62%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:kacuxsutopo%40hotmail.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:kakiku1900%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:karveto%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:katasiapa%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED]; kk bright <
<mailto:keke_bright%40yahoo.co.id> [EMAIL PROTECTED]>;
<mailto:kmjp47%40indosat.net.id> [EMAIL PROTECTED]; Milis Debat agama
kristen < <mailto:debat_agama_kristen%40yahoogroups.com>
[EMAIL PROTECTED]>; Caesar <
<mailto:roslina.podico%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED]>;
<mailto:dadearinto%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:musliminsuffered%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:mel_melisa2005%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED]; muskita wati <
<mailto:muskitawati%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED]>; Ahmadi Agung <
<mailto:agung%40kaochem.co.id> [EMAIL PROTECTED]>;
<mailto:ekalucky_01%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:engtjun%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:etnic.27%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED]; Edward PN <
<mailto:edw412do%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED]>; edogawa2000 <
<mailto:edogawa2000%40gmail.com> [EMAIL PROTECTED]>;
<mailto:saint.mahomet%40yahoo.co.id> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:sahana%40cbn.net.id> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:samuel_escada%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:samudjo%40apexindo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:samiaji%40noos.fr> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:sedangbingung%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED];
<mailto:setia21us%40aol.com> [EMAIL PROTECTED];
 <mailto:sir_abi17%40yahoo.com> [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, June 28, 2008 2:44:04 PM
Subject: [ppiindia] (unknown)

Jangan Memfitnah Buya HAMKA!" 




Suara Islam 

Sunday, 30 December 2007 


Beberapa peneliti Paramadina melakukan fitnah terhadap Buya HAMKA. Padahal,
karyanya tak seberapa dibanding HAMKA. 

Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-219 

Oleh: Adian Husaini 


Pekan lalu, sebuah berita gembira saya terima. Universitas Muhammadiyah
Prof. Dr. Hamka Jakarta telah mendirikan sebuah pusat studi bernama "Pusat
Kajian Buya Hamka" (PKBH). Dalam rangka menyongsong peringatan 100 tahun
Hamka, yang akan jatuh pada 17 Februari 2008, PKBH akan menerbitkan sebuah
buku berjudul "Mengenang 100 Tahun Buya Hamka". Saya diminta berpartisipasi
untuk menulis satu artikel dalam buku tersebut.


Bagi kita, nama Hamka tidaklah asing. Dalam beberapa kali catatan, kita
mengulas atau mengutip pendapat-pendapat Hamka. Semasa hidupnya, Hamka telah
menulis sekitar 118 karya dalam berbagai bidang, baik sastra, sejarah,
tasauf, etika, tafsir, dan sebagainya. Karya besarnya adalah Tafsir
al-Azhar, yang ditulisnya semasa dalam tahanan rezim Orde Lama. 

Atas karya-karyanya, Hamka diangkat sebagai guru besar bidang tasauf di
PTAIN Yogyakarta (1958), mendapat gelar Dr. HC bidang agama dari Universitas
Al-Azhar Mesir (1958) dan bidang sastra dari Universitas Kebangsaan
Malaysia..


Berbagai kalangan diminta menyumbangkan tulisannya untuk buku Mengenang 100
Tahun Buya Hamka. Diantaranya, Prof. Dr. A. Malik Fadjar, Ali Sadikin, Prof.
KH Ali Yafie, Prof. Dr. Amin Rais, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Emha Ainun
Najib, Harmoko (mantan Menteri era Orde Baru), KH Hasyim Muzadi, Prof. Dr.
Din Syamsuddin, Dr. M. Syafii Anwar, Henny Purwonegoro, Mieke Widjaya, dan
banyak lagi yang lainnya. Jumlahnya sekitar 100 orang. Dengan penulisan buku
seperti ini, barangkali panitia mengharapkan, akan tergambar sosok Hamka
yang ketokohannya diakui oleh berbagai kalangan masyarakat dengan corak
serta aliran pemikiran.


Harapan kita, mudah-mudahan buku itu nantinya akan memberikan gambaran yang
benar terhadap sosok Hamka dan pemikirannya. 

Jangan sampai, sosok dan pemikiran Hamka dipersepsikan dengan keliru,
sehingga menjadi fitnah bagi Hamka. Kita pernah membahas, bagaimana seorang
doktor penyebar paham Pluralis Agama di Indonesia, dengan gegabah mengutip
Tafsir al-Manar, dan menyebut Rasyid Ridha sebagai pendukung paham
Pluralisme Agama. Meskipun sudah kita koreksi dan kita tunjukkan
kekeliruannya, sang doktor itu enggan mengoreksi bukunya. 

Ilmuwan-ilmuwan model seperti ini, meskipun dikenal cerdik, sulit dipercaya
lagi kejujurannya.


Kita juga pernah membahas, ada sejumlah penulis yang keliru - entah sengaja
atau tidak -- dalam mengungkapkan pemikiran Hamka. Bahkan, ada yang sengaja
memanipulasi pendapat Hamka, sehingga, seolah-olah Hamka adalah seorang
pendukung paham Pluralisme Agama. 

Sebagai contoh, sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Universitas
Paramadina berjudul "Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang
Nurcholish Madjid, (2007). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dawam
Rahardjo, dengan editor Abd. Hakim dan Yudi Latif.


Seperti sejumlah buku terbitan Paramadina lainnya, buku berupa kumpulan
tulisan berbagai penulis ini juga secara besar-besaran mempromosikan paham
Pluralisme Agama. Sebagai misal, dalam artikelnya yang berjudul Mengapa
Membumikan Kemajemukan dan Kebebasan Beragama di Indonesia?, Muhammad Ali,
dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta, menulis:


"Al-Qur'an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan
hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan. Dalam konsep al-Qur'an,
penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak,
Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama
mereka adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan,
selain Yahudi dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut
keberagamaan yang benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan.
Tuhan menurunkan ratusan ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak
diceritakan siapa mereka. Karenanya tidak ada alasan untuk mengafirkan dan
mengutuk masuk neraka Konfusianisme, Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan
penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi al-Quran juga menjelaskan,
tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan dan perselisihan
antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja." (hal. 256).


Kita tentu sulit memahami, apa sebenarnya isi kepala dosen ushuluddin UIN
Jakarta yang sedang mengambil doktor di Hawai, USA, ini. Kaca mata apa dan
konsep apa yang dipakai untuk membaca ayat-ayat al-Quran.. 

Padahal, dalam surat al-Fatihah saja, sudah disebutkan ada jalan yang lurus
(shirathal mustaqim), dan ada jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan ada
jalan orang-orang yang sesat. 

Begitu banyak ayat al-Quran yang menjelaskan, lengkap dengan ciri-cirinya,
siapa yang disebut mukmin, siapa kafir, dan siapa munafik.


Kita tidak perlu menguraikan lebih jauh kekeliruan pemikiran dosen
Ushuluddin UIN Jakarta ini. Sebab, disamping sangat kacau, juga sangat naif.


Kita hanya patut mengajukan pertanyaan kepada keluarga dan pimpinan UIN
Jakarta, jika Muhammad Ali menyebut kaum Yahudi, Nasrani, dan sebagainya
"saudara seiman", bagaimana jika dia meninggal nanti, maka jenazahnya
dikuburkan saja di pemakaman Yahudi atau Kristen? Atau jenazahnya ditaruh di
bawah pohon sebagaimana tradisi satu agama suku di Indonesia?


Yang lebih menyedihkan adalah artikel berjudul "Islam dan Pluralisme di
Indonesia: Pandangan Sejarah", ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang
alumnus Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris.
Sebagaimana banyak penganut paham Pluralisme Agama, penulis ini juga
menggunakan QS Al-Baqarah ayat 62 sebagai rujukan pendapatnya. 

Celakanya, dia mengutip pendapat Hamka dalam Tafsir al-Azhar secara
serampangan, lalu membuat kesimpulan yang menyesatkan. Dia menulis dalam
artikel ini:

"Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis
"Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup
berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini
[...]. Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama
dipertahankan sebagai golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa
mencari dengan otak dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah
dan Hari Akhirat, diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat
yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam
al-Qur'an. Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern." Lebih jauh Buya
Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Salman
al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah tentang agama mana yang paling
benar dari semua agama yang pernah dimasuki olehnya: Majusi, Nasrani, dan
Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62 tersebut." (hal. 306-307).


Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan
pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85.


"Buya Hamka menyatakan: "Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan
(dihapus) oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik;
mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu
hanya dijamin untuk dia saja [...]."


Yang kemudian sangat sembrono dan tidak etis, adalah kesimpulan yang dibuat
oleh penulis, bahwa:


"Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya
bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun
Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga.
Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran
agamanya, walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan
mendapatkan ganjaran dari Allah: surga." (hal. 307).


Sebenarnya, jika seorang peneliti dan penulis yang jujur dalam membaca
penafsiran Hamka terhadap QS 2:62, pastilah tidak akan membuat kesimpulan
seperti itu.. Sebab, Hamka memang tidak menyimpulkan seperti itu. Dalam
tafsirnya, Hamka menulis tentang hadits Ibn Abi Hatim sebagai berikut:


"Telah meriwayatkan Ibnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman,
bahwasanya aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dari hal
pemeluk-pemeluk agama yang telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada
beliau bagaimana cara sembahyang mereka masing-masing dan cara ibadah mereka
masing-masing. Lalu aku minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau
jawablah pertanyaanku itu dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu
dan seterusnya itu."


Artinya ialah bahwa perlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal
lumrah bagi berbagai ragam pemeluk agama, karena syariat berubah sebab
perubahan zaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan
tidak mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang
sejati, lalu menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati
puas. Itulah dia Islam." (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juzu' I, (Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1982) hal. 216)."


Hamka sangat menekankan bahwa makna "iman sejati" adalah beriman kepada
Allah dan Hari Kiamat, dan beramal shalih. 

Jadi, formalitas Islam, atau "mengaku-aku Islam" saja - tanpa diikuti dengan
keyakinan yang mendalam dan amal shalih -- memang tidak menjamin keselamatan
di akhirat. 

Siapa pun akan setuju dengan kesimpulan Hamka ini. 

Tetapi, perlu dicatat, Hamka sama sekali tidak berpendapat, bahwa kaum
Yahudi, Kristen, Shabiin, dan lain-lain, semuanya akan masuk surga, tanpa
perlu masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw dan beriman kepada
al-Quran. 

Hamka menulis:


"Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang
diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu
Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan."
(Ibid, hal. 213).


Justru disinilah persolan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka
menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. 

Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw
yang diriwayatkan Imam Muslim:


"Berkata Rasulullah s.a.w.: Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman
tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat
sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau
beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka."


Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut:


"Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai
penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup
sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah
digenap dan disempurnakan. 

Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari
Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai. 

Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak
kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia
bawa. 

Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan
Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan
dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada
Tuhan. 

Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya
nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak
sempurna, mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah." (Ibid, hal.
217-218).


Inilah penafsiran Hamka tentang QS 2:62, yang telah dikutip dan disimpulkan
secara keliru oleh peneliti Paramadina yang mengaku pernah kuliah pasca
sarjana di Universitas Al-Azhar Kairo. 

Kita sangat menyesalkan cara-cara seperti ini, yang jauh dari etika ilmiah.
Apalagi, buku ini dimaksudkan untuk mengenang orang yang disanjung-sanjung
oleh kaum liberal sebagai salah satu "cendekiawan terkemuka" di Indonesia.
Kita gembira dengan banyaknya orang yang menulis tentang Hamka, tetapi kita
berharap mereka jujur dan cermat dalam menulis. 

Pemikiran dan kiprah perjuangan Buya Hamka jelas amat sangat jauh bedanya
dengan kaum Pluralis Agama yang menyatakan bahwa kaum Yahudi, Kristen, dan
sebagainya, adalah "saudara seiman" mereka.


Jadi, kita memohon, jangan lagi menfitnah Buya Hamka! Nanti bisa celaka di
dunia dan Akhir Masa. 

Wallahu A'lam. 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke