http://www.antara.co.id/arc/2008/6/28/ri-ceko-masuki-kemesraan-di-tahun-emas/


RI-Ceko Masuki Kemesraan di Tahun Emas


Oleh Zeynita Gibbons

London (ANTARA News) - Limapuluh tahun sudah Republik Indonesia (RI) dan 
Republik Ceko --negeri yang dulu menyatu dengan Slovakia (Cekoslowakia)-- 
mengikatkan diri dalam perjanjian kerjasama kebudayaan. Itulah tahun emas 
kemesraan kedua negara.

Kian hari ikatan kerjasama dua negara berbeda benua itu kian mesra. Tepat 31 
Mei 1958, perjanjian kerjasama itu dituangkan dalam deklarasi bersama antara 
Perdana Menteri Cekoslowakia dengan Menteri Luar Negeri RI, Soebandrio, 
mewakili Pemerintah RI.

"Saya dulu yang mengetik naskah perjanjian kerjasama tersebut," ujar Professor 
Zorica Dubovska (80), pakar budaya Indonesia dari Ceko, kepada ANTARA News. 

Zorica Dubovska mungkin tidak pernah membayangkan jika negerinya akan terpecah, 
beberapa puluh tahun setelah perjanjian kerjasama kerjasama di bidang ilmu, 
pendidikan dan kebudayaan itu ditandatangani.

Pada ulang tahun emas kerjasama itu, Duta Besar RI untuk Ceko, Salim Said, 
menyerahkan piagam penghargaan dari Menteri Luar Negeri RI kepada Zorica, 
wanita mungil berkulit putih, berwajah keibuan, berambut pirang, serta berkaca 
mata minus itu.

Namun, Salim Said memberikan piagam itu bukan lantaran jasanya sebagai "juru 
ketik". Pemerintah RI memberikan penghargaan kepada Professor Zorica Dubovska 
karena kecintaan ibu satu anak yang tetap enerjik itu kepada Indonesia. 

Selama berpuluh tahun Zorica terus mempromosikan Indonesia di kalangan 
masyarakat Ceko. 

Duboska mengatakan bahwa tidak pernah menyangka apa yang dilakukannya 
membuahkan hasil yang luar biasa dalam hubungan Indonesia dan Ceko. Dia bahkan 
tidak pernah mengharapkan penghargaan apa pun atas apa saja yang dilakukannya 
selama ini. 

"Saya hanya bisa berjanji selama hidup saya akan terus membantu menjalin 
kerjasama dengan Indonesia," ujarnya.

Pasang surut

Dalam rangka memperingati kemesraan RI-Ceko itu, maka Kedutaan Besar RI di 
Praha, mengelar berbagai acara sepanjang 2008. 

Sejarahwan Indonesia, Taufik Abdullah, yang ikut menyaksikan acara puncak 
peringatan 50 tahun perjajian kerjasama kebudayaan Indonesia-Ceko yang digelar 
di Perpustakaan Kota Praha, belum lama ini, mengakui bahwa terjadinya pasang 
surut dalam hubungan diplomatik Indonesia dan Ceko. 

Ketua Akademi Jakarta itu menjelaskan, perjajian kerjasama itu dibuat pada saat 
Cekoslavakia berada dalam pemerintahan Komunis. Terpecahnya kedua negara juga 
sempat membuat hubungan Indonesia-Ceko mendingin.

Namun, ia mengakui, keberadaan Dubovska yang lebih dari 50 tahun mempromosikan 
budaya Indonesia di negeri itu memang layak mendapat penghargaan.

Dubes Salim Said mengatakan, Prof Dubovska layak mendapat penghargaan karena 
jasa-jasanya dalam mempromosikan kebudayaaan Indonesia di Ceko.

Duboska hingga kini tidak saja mengajarkan bahasa Indonesia kepada 
murid-muridnya di Charles University, Praha, tetapi ia juga banyak 
menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Ceko. 

Karyanya, antara lain Dongeng Rakyat Indonesia (1966), Buku Bacaan Indonesia 
untuk Mahasiswa (1969), Pengantar untuk Bahasa Jawa (1974), Buku Pelajaran 
Bahasa Indonesia (1998), Antologi Kesusasteraan Indonesia Modern (1996), dan 
Sejarah Indonesia (2005).

Dubovska juga aktif menulis untuk majalah dan menjadi penerjemah, termasuk 
untuk film kerjasama Ceko-Indonesia pada 1961 yakni film Aksi Kalimantan. 
Sampai saat ini Professor Dubovska masih aktif memberikan seminar mengenai 
kebudayaan Indonesia di berbagai kota di Ceko.

Mantan Dubes Ceko untuk Indonesia, Jaroslav Olsa, yang juga murid dari 
Dubovska, memberikan kesaksian bagaimana Professor Dubovska selama 
bertahun-tahun mempromosikan budaya Indonesia. 

Peringatan acara 50 tahun perjanjian kebudayaan Indonesia Ceko yang digelar 
sepanjang tahun dipercayakan Dubes Salim Said kepada Azis Nurwahyudi, diplomat 
muda yang banyak berkiprah di dunia diplomasi internasional.

Menurut Salim Said, hubungan Indonesia dan Ceko(Slovakia) telah terjalin sejak 
tahun 1924 dengan ditunjuknya Konsul kehormatan Cekoslovakia di Batavia. Meski 
demikian Indonesia baru mulai dikenal warga Cekoslavakia pada 1947 saat digelar 
Kongres Pertama Pemuda dan pelajar di Praha. 

Kongres yang diadakan bertepatan dengan peristiwa mempertahankan Indonesia. 
Seruan Merdeka dan lagu Halo Halo Bandung menjadi lagu kebangsaan tidak resmi 
bagi delegasi yang datang dari Tanah Air dan Belanda. Pada tahun 1948 Indonesia 
mendirikan kantor perwakilan tidak resmi di Praha. 

Hubungan kedua negara semakin dekat ketika pada 2 Pebruari 1950 Cekoslovakia 
mengakui Republik Indonesia Serikat sebagai negara berdaulat atas dasar 
Konferensi Meja Bundar yang diadakan di Denhaag. Berdasarkan pengakuan 
pemerintah Cekoslovakia, pada 7 Maret 1950 di Jakarta dibuka Konsul Jenderal 
Cekoslovakia.

Kedekatan kedua negara semakin terasa ketika Bung Karno mengadakan kunjungan 
resmi untuk pertama kalinya ke Cekoslovakia pada 22 September 1956 atas 
undangan Presiden Antonin Zapotocky.

Pada saat itu Bung Karno memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Charles 
University dan medali Kehormatan Kenegaraan Singa Putih dengan rantai kelas I 
yang merupakan penghargaan tertinggi negara baik Cekoslovakia maupun Ceko saat 
ini. 

Pada tahun 1957 Perwakilan Cekoslovakia di Jakarta resmi menjadi kedutaan besar 
yang dipimpin Jan Zitek dan di Praha juga dibuka Kedutaan besar RI dengan dubes 
pertamanya R.A. Asmaoen SH.

Kedekatan hubungan kedua negara dipatri dalam bentuk perjanjian kebudayaan. 
Pada tahun 1961 untuk kedua kalinya Bung Karno kembali hadir di Praha atas 
undangan Presiden Antonin Novotny. 

Pada kerkembangannya hubungan Indonesia Ceko sempat terhambat dengan peristiwa 
1965 dan baru pada 1979 kembali mesra, setelah Parlemen Indonesia berkunjung ke 
Cekoslovakia dan kunjungan balasan Menlu Bohuslav Choupka yang menemui Presiden 
Soeharto dan Menlu Adam Malik. 

Hubungan terus berlanjut ketika Indonesia mengakui Ceko sebagai negara baru 
pada 1993 dan setahun kemudian dimulai kembali pengiriman mahasiswa Indonesia 
ke Ceko dan sebaliknya mahasiswa Ceko mengikuti program beasiswa darmasiswa 
untuk belajar di Indonesia.

Sekretaris I Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensobud) KBRI Praha, Azis 
Nurwahyudi mengatakan, untuk merayakan 50 tahun perjanjian kerjasama kebudayaan 
Indonesia-Ceko digelar berbagai acara mulai dari festival film Indonesia, 
penampilan kesenian, dialog ilmiah dan seminar yang menghadirkan Prof Dr R 
William Liddle dan Prof Taufik Abdullah.

Acara puncaknya adalah pemberian penghargaan untuk Professor Zorica Dubovska, 
dan penampilan Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya dengan lakon Zero, ujar Azis 
Nurwahyudi. (*)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke