Quote:

"..
Tentu saja, pemerintah menolak hasil kajian LIPI tersebut. Pasalnya, LIPI
mengkajinya berdasarkan metodologi ilmiah yang komprehensif, sedangkan
metodologi kajian proyek BLT? Itulah kajian ekonomi model "*blue politic*".

Meminjam kata-kata Amien Rais, proyek BLT basis ilmiahnya memang abu-abu.
Unsur politiknya lebih kental ketimbang unsur ekonominya. Dengan kata lain,
"*blue politic*" ini berkonotasi jorok secara ilmiah, tapi indah secara
"seandainya". Maklumlah, *blue politic* ini penting karena mendekati
pemilihan presiden!

Siapa tahu orang miskin yang dikasih BLT akan memilihnya kembali untuk
periode 2009-2014?
.."

Heran deh.. kenapa sih akhir" ini 'blue' konotasinya jadi ke sono melulu..
blue pill (viagra), blue moon.. yang ngobral 'blue' cuma ngerusak kata
'blue' aja nih.. :-p

Wassalam,

Irwan.K

--------------

Selasa, 01 Juli 2008
Opini Energi Biru, Kebijakan Biru, Politik Biru

 *Wahyudin Munawir*
*Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS*

Jika Presiden Yudhoyono memberi nama temuan Djoko Suprapto (baca: membuat
bahan bakar dari air) dengan *blue energy*, seorang peneliti Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang pakar energi dari Tokyo
University, Jepang, menjuluki temuan "*wong* Nganjuk" itu juga dengan *blue
energy*. Bedanya, *blue* versi SBY berkonotasi "laut biru yang bisa menjadi
sumber bahan baku tak terbatas" dari BBA (bahan bakar air)-nya Djoko,
sedangkan *blue* versi peneliti BPPT berkonotasi sesuatu yang jorok, tidak
rasional, dan menjijikkan tapi nikmat dibayangkan seperti orang melihat *blue
film*.

Apakah Presiden SBY akan terus mendukung temuan Djoko yang sudah
dipromosikan di Konferensi Iklim Bumi di Bali beberapa waktu lalu sebagai
"sumbangan Indonesia" untuk dunia yang mengalami krisis BBM itu? Mungkinkah
gara-gara temuan Djoko, antusiasme SBY terhadap program pengembangan jarak
pagar untuk *biofuel* langsung lunglai? Padahal, sejak dua tahun lalu,
bayangan masyarakat terhadap program pengembangan *biofuel* dari jarak pagar
ini sudah membuncah. Saya diundang berkali-kali menghadiri seminar nasional
tentang prospek aduhai *biofuel* dari jarak pagar dan pertunjukan mesin yang
berjalan baik dengan BBJ (bahan bakar jarak) tersebut. Promosi plus *roadmap
*jarak pagar pun digelar di mana-mana. Hasilnya?

Mesin ekstraksi minyak jarak pagar di NTT kini sudah karatan. Mesin-mesin
pengolah minyak jarak pagar di Pangandaran, Jawa Barat, juga sudah nyaris
menjadi besi tua. Puluhan investor yang sudah mulai tertarik dan siap
menanamkan uangnya untuk mengembangkan jarak pagar juga kecewa. Ribuan
hektare pohon jarak pagar kini telantar dan petani mulai membabatnya.
Sejumlah pompa bensin di Jakarta yang tadinya gencar menjual solar bercampur
*biofuel* kini tak terdengar lagi beritanya. Rupanya era promosi biofuel
telah redup, kalah dengan *blue energy*-nya Djoko yang didukung SBY.

Padahal, proyek *biofuel* dari jarak pagar secara ilmiah sudah banyak
dibuktikan kelayakannya. Sejumlah negara Eropa seperti Jerman dan Belanda
sudah mencoba *biofuel* jarak pagar, dan kini mereka mengembangkannya secara
besar-besaran. Israel, misalnya, sangat antusias mengembangkan minyak jarak
pagar untuk mengurangi ketergantungan BBM pada negara-negara Teluk. Prof
Manurung, pakar minyak jarak dari ITB, kini menjadi konsultan sejumlah
perusahaan otomotif di Jepang untuk mengembangkan BBJ. Pendek kata,
eksistensi BBJ secara ilmiah, teknologi, ekonomi, dan lingkungan sudah
terbukti kebenarannya di dunia. Berbagai penelitian ilmiah tentang minyak
jarak pagar di laboratorium berkelas internasional di Jerman, Inggris,
Belanda, dan Prancis, yang hasilnya bisa dibaca siapa pun dan bisa
diverifikasi oleh ilmuwan mana pun, telah membuktikan bahwa BBJ layak untuk
menggantikan BBM yang mahal dan mencemari lingkungan itu.

Jika Jepang dan Jerman, dua negara yang teknologinya amat maju saja, sudah
menerima minyak jarak dan tengah mengembangkannya secara besar-besaran,
kenapa Indonesia justru surut? Apakah Istana lebih tertarik pada energi
birunya seorang Djoko yang tak pernah mau datang jika diundang oleh panel
para pakar energi Indonesia?

Sekadar informasi saja, perusahaan otomotif Mitsubishi, misalnya, pada 2015,
tak akan lagi membuat mobil bermesin diesel dengan bahan bakar solar.
Mitsubishi hanya membuat mobil diesel berbahan bakar *biofuel*. Mitsubishi
tampaknya ingin kembali ke khittah, bahwa mesin diesel pertama yang dibuat
Christian Karl Diesel, 1893, di Jerman, memakai *biofuel* (baca: saat itu
yang dipakai Diesel adalah minyak kedelai, kacang, dan jarak). Andaikan
Indonesia fokus pada pengembangan minyak jarak, seperti fokusnya Soeharto
pada pembangunan pertanian di awal-awal rezim Orde Baru, niscaya program
diversifikasi energi sudah mulai kelihatan hasilnya. Sayang, rezim SBY
sering tidak fokus dalam membuat kebijakannya. Kebijakan rezim SBY sering
berubah-ubah di tengah jalan seperti kebijakan diversifikasi energi.

Dalam kebijakan konversi minyak tanah, misalnya, mula-mula batu bara akan
dipakai sebagai pengganti minyak tanah. Ketika orang-orang sudah mulai
melirik batu bara dan para perajin sudah berkreasi membuat kompor batu bara
yang aman dan murah, tiba-tiba kebijakannya berubah. Batu bara, katanya
tidak aman, dan konversinya diganti dengan gas. Masyarakat kaget dan perajin
kompor batu bara menangis, modalnya ludes dan harapannya buntu. Kini,
masyarakat dipaksa memakai gas. Namun, ketika masyarakat mulai tertarik
memakai gas, tiba-tiba tabung-tabung gas mulai menghilang di agen-agen.
Sejumlah orang dengan sinis menyatakan, hilangnya tabung gas di agen-agen
ini pertanda akan muncul kebijakan baru, yaitu kebijakan untuk memakai *blue
energy*.

Barangkali, inilah "*blue policy*" pemerintahan SBY yang amat menjijikkan
tapi indah dibayangkan! Bayangkan, seandainya temuan Djoko benar, Indonesia
akan benar-benar swasembada energi. Langkanya minyak tanah, gas, dan
kotornya batu bara hanya kisah usang di masa lalu. Dengan berhasilnya proyek
*blue energy*, maka dunia masa depan benar-benar bagai impian. Krisis BBM
adalah sejarah masa lalu. Kilang-kilang minyak di Timur Tengah akan menjadi
besi tua. Perusahaan-perusahaan minyak raksasa seperti ExxonMobil, Chevron,
dan Petronas akan bangkrut. Masyarakat dunia akan benar-benar berpesta
dengan energi murah temuan Djoko.

Sayang, mimpi SBY tersebut kandas. Sama kandasnya dengan bayangan pemerintah
yang akan menghemat subsidi BBM Rp 34,5 triliun dengan menaikkan harga
minyak 28,7 persen. Menurut kajian Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), akibat kebijakan kenaikan harga BBM,
pemerintah tidak hanya gagal menghemat anggaran Rp 34,5 triliun, tapi malah
rugi Rp 45 triliun. Kerugian, menurut LIPI, berasal dari *opportunity
lost*dari inflasi (Rp 10,5 triliun) karena membubungnya harga barang.
Akibat
kenaikan harga BBM, pertumbuhan ekonomi juga turun karena pemerintah
merevisi pertumbuhan ekonomi menjadi 6 persen sehingga *potential lost*-nya
mencapai Rp 15,8 triliun. Selain itu, pemerintah harus menyediakan BLT Rp
14,1 triliun, beras untuk orang miskin Rp 4,2 triliun, dan kredit usaha
kecil Rp 1 trliun. Dengan demikian, alih-alih pemerintah dapat menghemat
subsidi BBM dengan menaikkan harga minyak, yang diperoleh justru sebaliknya:
"subsidinya" menjadi Rp 45 triliun.

Tentu saja, pemerintah menolak hasil kajian LIPI tersebut. Pasalnya, LIPI
mengkajinya berdasarkan metodologi ilmiah yang komprehensif, sedangkan
metodologi kajian proyek BLT? Itulah kajian ekonomi model "*blue politic*".
Meminjam kata-kata Amien Rais, proyek BLT basis ilmiahnya memang abu-abu.
Unsur politiknya lebih kental ketimbang unsur ekonominya. Dengan kata lain,
"*blue politic*" ini berkonotasi jorok secara ilmiah, tapi indah secara
"seandainya". Maklumlah, *blue politic* ini penting karena mendekati
pemilihan presiden! Siapa tahu orang miskin yang dikasih BLT akan memilihnya
kembali untuk periode 2009-2014?
sumber : koran tempo


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke