DEMOKRASI-POLITIK DAN DEMOKRASI-EKONOMI

Oleh Ir.Sukarno, 
dalam Fikiran Ra'jat, tahun 1932
 
        Apakah demokrasi itu? Demokrasi adalah "pemerintahan rakjat". 
Tjara pemerintahan ini memberi hak kepada semua rakjat untuk ikut 
memerintah.
        Tjara pemerintahan ini sekarang menjadi tjita-tjita semua 
partaI-partai nasionalis di Indonesia. Tetapi dalam mentjita-tjitakan 
faham dan tjara-pemerintahan demokrasi itu kaum Marhaen toch harus 
berhati-hati. Artinja : djangan meniru sahadja "demokrasi-demokrasi" 
jang kini dipraktekkan dunia luaran.
        Bagaimanakah prakteknja demokrasi didunia luaran itu?
        Jang mebawa "demokrasi" mula-mula didunia Barat ialah 
pemberontakan Perantjis,- kurang lebih 100 a 125 tahun jang lalu. 
Sebelum ada pemberontakan Perantjis itu, tjara pemerintahan Eropah 
adalah otokrasi: kekuasaan pemerintahan adalah didalam tangan satu 
orang sahadja,jaitu ditangan Radja. Rakjat tak ikut bersuara. Rakjat 
harus menurut sahadja. Radja mengaku dirinja wakil Allah di dunia ini.
        Salah seorang radja jang demikian itu pernah ditanja oleh 
salah seorang menterinja: " Ratu, Apakah jang dinamakan staat itu?" 
Radja menjawab : 
" Staat adalah aku sendiri ! L'Etat, c'est moi !" Memang radja ini 
adalah seorang otokrat jang tulen!
        Didalam tjara pembentukan otokrasi itu,radja disokong oleh 
dua golongan. Pertama: golongan kaum ningrat, kedua:Golongan kaum 
penghulu agama. Kedua golongan ini menjadi bentengnja radja, 
bentengnja otokrasi. Djadi: radja + kaum ningrat + kaum penghulu 
agama adalah "gambarnja" kaum djempolan didalam masjarakat itu. 
Masjarakat jang demikian itu dinamakan masjarakat F E O D A L .
        Tetapi lambat laun timbullah suatu golongan baru, suatu kelas 
baru, jang ingin mendapat kekuasaan pemerintahan. Golongan baru atau 
kelas baru ini adalah kelasnja kaum burdjuis. Meraka punja perusahaan-
perusahaan, mereka punja perniagaan, mereka punja pertukangan, mulai 
lahir dan timbul Untuk suburnja dan selamatnja mereka punja 
perusahaan, perniagaan dan pertukangan itu, perlulah mereka mendapat 
kekuasaan pemerintahan. Mereka sendirilah jang lebih tahu mana Undang-
undang, mana aturan-aturan, mana tjara pemerintahan jang paling baik 
buat kepentingan mereka,- dan bukan radja, bukan kaum ningrat, bukan 
kaum penghulu agama!
        Tetapi kekuasaan masih ada ditangan radja,- dibentengi oleh 
kaum niNgrat dan kaum penghulu agama!
        " welnu", kata kaum burdjuis, " kekuasaan itu harus direbut!" 
tetapi buat merebut orang harus mempunjai kekuatan! Padahal kaum 
burdjuis belum mempunyai kekuatan itu!
        "Nah" kata kaum burdjuis sekali lagi, "kita memakai keKuatan 
rakjat-djelata!"
        Dan begitulah maka rakjat djelata itu oleh kaum burdjuis lalu 
diadjak bergerak, diabui matanja, bahwa pergerakan itu ialah untuk 
mendatangkan "kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan"! " 
Liberte,fraternite,egalite", adalah sembojannja tenaga burdjuis 
memakai tenaga rakjat itu.
        Rakjat menurut,- ja, rakjat berkelahi mati-matian! Apakah 
sebabnja rakjat mau diajak bergerak? Sebabnja ialah bahwa nasibnja 
rakjat dibawah pemerintahan otokrasi itu adalah nasib jang sengsara 
sekali, dan bahwa rakjat itu masih kurang sadar jang ia hanja 
mendjadi perkakas burdjuis sahadja.
        Pergerakan menang! Radja runtuh, kaum ningrat runtuh, kaum 
penghulu agama runtuh,- pendek kata: otokrasi runtuh,- diganti dengan 
tjara pemerintahan baru jang dinamakan "demokrasi". Dinegeri diadakan 
parlemen, dan "rakjat boleh mengirim utusan ke-parlemen itu"
        Tjara pemerintahan inilah jang kini dipakai oleh semua negeri 
di Eropah Barat dan di Amerika.
        Perantjis mempunjai parlemen, Inggeris mempunjai parlemen, 
Belanda mempunjai parlemen, Amerika Utara mempunjai parlemen,- semua 
negeri modern mempunjai parlemen. Disemua negeri modern itu 
adalah "demokrasi"….

*                      *                    *

Tetapi,…disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! 
Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja.Disemua negeri 
modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur, upah dan nasib kaum 
buruh adalah upah dan nasib kokoro,-disemua negeri modern itu rakjat 
tidak selamat, bahkan sengsara sesengsara-sengsaranja.
        Inikah hasilnja "demokrasi" jang dikeramatkan orang?
        Amboi,-parlemen! Tiap-tiap kaum proletar kini dapat ikut 
memilih wakil kedalam parlemen itu, tiap-tiap kaum proletar kini 
bisa " ikut memerintah"! Ja, tiap-tiap kaum proletar kini, kalau dia 
mau, bisa memerintah"! Ja, tiap-tiap kaum proletar kini, kalau dia 
mau, bisa mengusir minister, mendjatuhkan minister itu terpelanting 
daripada kursinja. Teapi pada saat ia jang bisa menjadi "radja" 
diparlemen itu, pada saat itu djuga ia bisa diusir dari paberik 
dimana ia bisa bekerdja dengan upah kokoro,-dilemparkan diatas 
djalan, mendjadi orang pengangguran
        Inikah "demokrasi" jang dikeramatkan itu?
        Dengarkanlah pidatonya Jean Jaures,- bukan komunis-, 
mengeritik 
" demokrasi" itu:
        "Kamu, kaum burdjuis, kamu mendirikan republik, dan itu 
adalah kehormatan jang besar. Kamu membikin republik itu teguh dan 
kuat tak dapat dirobah sedikitpun djua, tetapi karena itulah kamu 
telah mengadakan pertentangan antara susunan politik dan susunan 
ekonomi.
        Karena Pemilihan Umum, kamu telah membikin semua penduduk 
berkumpul didalam rapat jang seolah rapatnja radja-radja. Mereka 
punja kemauan adalah sumbernja tiap undang-undang, tiap pemerintahan: 
mereka melepas mandataris, pembuat undang-undang dan menteri. Tetapi 
pada saat itu djuga jang siburuh mendjadi tuan didalam urusan 
politik, maka ia adalah mendjadi budak belian didalam urusan ekonomi.
        Pada saat jang ia mendjatuhkan menteri-menteri, maka ia 
sendiri bisa diusir dari bingkil zonder ketentuan sedikit djuapun apa 
jang esok harinja akan dimakan. Tenaga-perekedjaannja hanjalah suatu 
barang-belian, jang bisa dibeli atau ditampik oleh kaum madjikan. Ia 
bisa diusir dari bingkil, karena ia tak mempunjai hak ikut menentukan 
peraturan-peraturan bingkil, jang sehari-hari, zonder dia tetapi buat 
menindas dia, ditetapkan kaum madjikan sendiri!"
        Sekali lagi: inikah "demokrasi" jang orang keramatkan itu?
        Bukan,- ini bukan demokrasi jang harus kita tiru, bukan 
demokrasi untuk kita kaum Marhaen Indonesia! Sebab "demokrasi" jang 
begitu hanjalah demokrasi parlemen sahadja, jakni hanja demokrasi 
politik sahadja. Demokrasi ekonomi tidak ada.

*                      *                    *

Sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi
        Didalam karangan saja jang lalu-lalu, saja terangkan dengan 
singkat bahwa demokrasi-politik sahadja, belum menjelamatkan rakjat. 
Bahkan dinegeri-negeri, sebagai negeri Inggeris, Nederland, 
Perantjis, Amerika, d l l, dimana "demokrasi" telah didjalankan, 
kapitalisme meradja-lela dan kaum Marhaen-nja papa-sengsara!
        Kaum nasionalis Indonesia tidak boleh 
mengeramatkan "demokrasi" jang sedemikian itu. Nasionalisme kita 
haruslah nasionalisme jang tidak hanja mentjari "gebjarnja"  atau 
kilaunja negeri keluar sahadja, tetapi ia harus mentjari selamatnja 
semua manusia.
        Banjak diantara kaum nasionalis Indonesia jang berangan-
angan : "Djempol sekali kalau negeri kita bisa seperti negeri Djepang 
atau negeri Amerika atau negeri Inggeris! Armadanja ditakuti dunia, 
kotanja haibat-haibat, bank-banknja meliputi dunia, benderanja 
kelihatan dimana-mana!"
        Kaum nasionalis jang demikian itu lupa bahwa barang jang 
haibat-haibat itu adalah hasilnja kapitalisme, dan bahwa kaum Marhaen 
dinegeri-negeri itu adalah tertindas. Kaum nasionalis jang demikian 
itu adalah kaum nasionalis yang burgerlijk, jaitu kaum nasionalis 
burdjuis. Mereka bisa djuga revolusioner, tetapi revolusionernja 
adalah BURGERLIJK REVOLUTIONAIR. Mereka hanjalah ingin Indonesia-
Merdeka sahadja maksud djang penghabisan, dan tidak suatu masjarakat 
jang adil zonder ada kaum jang tertindas. Mereka lupa, bahwa 
Indonesia-Merdeka hanjalah suatu sjarat sahadja untuk memperbaiki 
masjarakat Indonesia jang sudah rusak itu. Mereka adalah burgerlijk 
revolutionair, dan tidak SOCIAAL REVOLUTIONAIR, tidak MARHAENISTIS 
REVOLUTIONAIR.
Nasionalisme kita tidak boleh nasionalisme jang demikian itu. 
Nasionalisme kita haruslah nasionalisme jang mentjari selamatnja peri-
kemanusiaan. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada 
menselijkheld. "Nasionalismeku adalah peri-kemanusiaan", begitulah 
Gandhi berkata.
        Nasionalisme kita, oleh karenanja, haruslah nasionalisme, 
jang dengan perkataan baru kami sebutkan : SOSIO-NASIONALISME. Dan 
demokrasi jang kita tjita-tjitakan haruslah djuga demokrasi jang kami 
sebutkan : SOSIO-DEMOKRASI.
        Apakah sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi itu?
        Dua perkataan ini adalah perkataan bikinan, kami punja 
bikinan. Sebagaimana perkataan Marhaen adalah tempo hari 
kami "bikinkan" buat menjebutkan kaum jang melarat-sengsara, maka 
perkataan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi adalah pula 
perkataan-bikinan untuk menjebutkan kita punja nasionalisme dan kita 
punja demokrasi.
        Sosio adalah terambil dari perkataan jang berarti:masjarakat, 
pergaulan-hidup, hirup-kumbuh,siahwee.
        Sosio-nasionalisme adalah dus : nasionalisme-masjarakat, dan 
sosio-demokrasi adalah demokrasi-masjarakat.
        Tetapi apakah nasionalisme-masjarakat dan demokrasi-
masjarakat itu?
        Nasionalisme masjarakat adalah nasionalisme jang timbulnja 
tidak karena "rasa" sahadja, tidak karena "gevoel" sahadja, tidak 
karena `lyriek" sahadja,- tetapi ialah karena keadaan-keadaan jang 
njata didalam masjarakat. Nasionalisme-masjarakat,- sosio-
nasionalisme-, bukanlah nasionalisme "ngalamun", bukanlah 
naionalisme " kemenjan", bukanlah nasionalisme "melajang", tetapi 
ialah nasionalisme jang dengan dua-dua kakinja berdiri didalam 
masjarakat.
        Memang, maksudnja sosio-nasionalisme ialah memperbaiki 
keadaan didalam masjarakat itu, sehingga keadaan jang kini pintjang 
itu mendjadi keadaan djang sempurna, tidak ada kaum jang tertindas, 
tidak ada kaum jang tjilaka, tidak ada kaum jang papa-sengsara.
        Oleh karenanja, maka sosio-nasionalisme adalah nasionalisme 
Marhaen, dan menolah tiap tindak burdjuisme jang mendjadi sebabnja 
kepintjangan masjarakat itu. Djadi : sosio-nasionalisme adalah 
nasionalisme politik DAN ekonomi,- suatu nasionalisme jang bermaksud 
mentjari keberesan politik DAN keberesan ekonomi, keberesan negeri 
DAN  keberesan rezeki.
        Dan demokrasi-masjarakat? Demokrasi-masjarakat, sosio-
demokrasi-, adalah timbul karena sosio-nasionalisme. Sosio-demokrasi 
adalah pula demokrasi jang berdiri dengan dua-dua kakinja didalam 
masjarakat. Sosio-demokrasi tidak ingin mengabdi kepentingan sesuatu 
gundukan ketjil sahadja, tetapi kepentingan masjarakat. Sosio-
demokrasi bukanlah demokrasi a la Revolusi Perantjis, bukan demokrasi 
a la Amerika, a la Inggeris, a la Nederland, a la Djerman d l l ,- 
tetapi ia adalah demokrasi sedjati yang mentjari keberesan politik 
DAN ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. Sosio-demokrasi 
adalah demokrasi-politik DAN demokrasi-ekonomi.
 
*                      *                    *

Komunis?
Sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi bukanlah angan-angan komunis. 
Pernah saja terangkan, bagaimana seorang pemimpin, Jean Jaures jang 
bukan komunis, djuga menghendaki demokrasi-politik dan demokrasi-
ekonomi. Dan didalam salah satu karangan saja dulu sudah dikatakan 
pula, bahwa djuga Dr.Sun Yat Sen mentjela "demokrasi" a la Revolusi 
Perantjis atau a la Inggeris, Nederland d.l.l itu. Pun pemimpin-
pemimpin lain seperti Gandhi, Nehru-muda,d.l.l, mentjela "demokrasi" 
jang demikian itu.
        Memang orang tak usah mendjadi komunis, buat melihat bahwa 
didalam negeri-negeri "demokrasi" itu, sebagian dari kaum rakjat 
adalah tertindas oleh kapitalisme. Orang tak usah mendjadi komunis, 
buat melihat bahwa "demokrasi" negeri-negeri itu adalah demokrasi 
burdjuis sahadja.
        Kontra angan-angan demokrasi burdjuis ini kaum Marhaen harus 
bertjita-tjita dan menghidup-hidupkan sosio-demokrasi, jakni 
demokrasi-politik dan demokrasi-ekonomi.
        Dan kontra nasionalisme burdjuis kita taruhkan kita punja 
sosio-nasionalisme.
        Bagaimana sosio-demokrasi,- demokrasi politik dan demokrasi 
ekonomi itu,- bisa didjalankan, akan saja gambarkan didalam garis-
garisnja jang besar didalam karangan saja jang akan datang.
        Hiduplah sosio-nasionalisme!
        Hiduplah sosio-demokrasi!
        
                                                
" Fikiran Ra'jat ",1932
DEMOKRASI-POLITIK DAN DEMOKRASI-EKONOMI
Oleh Ir.Sukarno


Kirim email ke