Peranan Sastra Oleh : Putu Wijaya
 
Dengan pembatasan yang ugal-ugalan — "sastra adalah semua bentuk ekspresi 
dengan bahasa sebagai basisnya" — wilayah sastra jadi merebak, merengkuh daerah 
yang sangat luas. Ke dalamnya sudah tercakup sastra lisan maupun tulisan.
 Prosa, puisi, lakon, skenario, skripsi, risalah ilmiah, esei, kolom, berita, 
surat, proposal, catatan harian, laporan, pandangan mata, pidato, ceramah, 
transkripsi percakapan, wawancara, iklam, propaganda, doa dan sebagainya 
semuanya jadi termasuk sastra, karena mempergunakan bahasa.
 Semua sektor kehidupan, seluruh aktivitas manusia tak bisa membebaskan diri 
dari bahasa. Bahkan olahraga yang jelas-jelas menitikberatkan pada aktivitas 
raga, tetap saja membutuhkan bahasa dalam menumbuhkan dan mengembangkan 
dirinya. Dengan cakupan yang begitu dahsyat, sastra tidak mungkin tidak 
berguna. Demikianlah mahasiswa yang sedang menekuni berbagai jurusan, akan 
selalu, suka tak suka berhubungan dengan sastra.
 Bagaimana dengan puisi dan prosa yang merupakan bagian dari kesusastraan 
(baca: sastra yang indah). Apakah puisi dan prosa juga berguna bagi semua 
mahasiswa, sehingga bukan saja jurusan bahasa dan sastra tapi juga jurusan 
sosial, ekonomi dan eksakta berkepentingan mengkaji sastra? Apa seorang yang 
ingin menjadi insinyur, dokter, diplomat, pengusaha, perwira, pemimpin politik, 
ahli hukum, negarawan dan ulama, perlu membaca sastra?
 Di tahun 60-an, pelajaran kesusastraan masih diajarkan di SMA di semua bagian 
A,B dan C (budaya, eksakta dan ekonomi). Tetapi posisinya memang hanya sebagai 
pendukung pelajaran Bahasa Indonesia. Tak jarang jam pelajaran kesusastraan 
dikanibal oleh pelajaran bahasa.
 Hal tersebut dimungkinkan, karena pelajaran kesusastraan tak lebih dari 
hapalan bentuk-bentuk kesusastraan, riwayat hidup pengarang, judul karya dan 
sinopsis buku-buku wajib baca. Tak pernah ditelusuri secara mendalam (gurunya 
tak ada yang terdidik ke arah itu) hakekat kesusastraan itu kaitannya dengan 
berbagai pemikiran yang ada dalam kehidupan. Jadinya pelajaran kesusastraan - 
lebih popular disebut pelajaran sastra saja - hanya jadi pelajaran tak berguna. 
Dihapus juga tidak ada akibatnya.
 Kesusastraan (prosa dan puisi) sesungguhnya terkait dengan seluruh aspek 
kehidupan. Hanya saja karena pemaparannya menempuh lajur rekaan imajinasi, 
sehingga nampak semu. Tapi dalam kesemuannya itu, sastra merefleksikan fenomena 
hidup beragam dengan mendalam, mengikuti cipta-rasa-karsa penulisnya.
 Untuk itu memang diperlukan kesiapan: apresiasi, interpretasi dan analisis, 
sehingga dunia rekaan di dalam sastra jelas kaitannya dengan seluruh aspek 
kehidupan. Kritik sebagai perangkat penting yang sesungguhnya berfungsi 
menunjukkan arti kehadiran sastra, kebetulan sangat parah di Indonesia, 
sehingga kehadiran sastra semakin tenggelam hanya sebagai hiburan.
 Sastra memang memiliki potensi yang hebat untuk menghibur. Dan karenanya 
sebagai barang komoditi nilainya tinggi. Kaitannya dengan bisnis dan industri 
juga meyakinkan. Sebuah karya sastra dapat meledak, mengalami ulang cetak 
setiap tahun dengan oplag raksasa dalam berbagai bahasa.
 Namun sastra tidak semata-mata kelangenan, tetapi juga dokumen perjalanan 
pemikiran yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah. Uncle Toms's Cabin karya 
Beecher Stowe yang melukiskan derita dan nestapa budak kulit hitam di Amerika 
Serikat, telah diakui sebagai salah satu pemicu perang Saudara di Amerika dalam 
rangka menghapuskan perbudakan.
 Dokter Zhivago karya Boris Pasternak melukiskan hidup pelakunya yang bernama 
Lara yang melambangkan Ibu Rusia. Pemerintah tirai besi Uni Soviet melarang 
Pasternak menerima hadiah nobel, karena novel itu dianggap sebagai potret Rusia 
yang tidak dikehendaki oleh pemerintah komunis.
 Ayat-Ayat Setan karya Salman Rusdie menimbulkan kegegeran dunia, karena 
dianggap penghinaan terhadap Islam, sehingga Ayatulah Khomeini menjatuhkan 
hukuman mati pada penulisnya yang berlindung di daratan Inggris.
 Di Indonesia, Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin, menjadi perkara, 
sehingga HB Jassin selaku Pimpinan Redaksi majalah Horison yang memuat cerita 
pendek itu diajukan ke pengadilan dan dinyatakan bersalah. Sementara Iwan 
Simatupang, sengaja menulis drama "RT 0 - RW 0" (sekalian dipentaskan oleh para 
mahasiswanya), dalam rangka memberi kuliah tentang filsafat eksistensialis.
 Pada 1980 saya menulis sebuah cerpen SEPI.
 Sepi sudah saya bacakan di berbagai tempat: Jakarta, Denpasar, Yogya, Bandung, 
Leiden, New York, Columbus, Ithaca, Madison, Berlin, Tokyo, Afrika Selatan, 
Caribia. Kesan yang didapat oleh berbagai pendengar bermacam-macam.
 Apa yang tertangkap oleh pembaca memang kadangkalam bisa melampaui dari apa 
yang mendorong dan ingin didapatkan ketika sastra ditulis. Artinya, sebuah 
karya sastra, setelah jadi dan dilepaskan kaitannya dengan penulis, menjadi 
sebanyak apa yang terbaca oleh pembaca.
 Bahkan seorang pembaca yang membaca sebuah karya sastra berkali-kali, akan 
menemukan seperti karya baru karena karya itu selalu memberikan nuansa yang 
lain, sesuai dengan kondisi dan perasaan yang membacanya.
 Boen S. Oemarjati menulis disertasi tentang sajak "Nisan" karya Chairil Anwar 
yang memberikan beliau gelar doktor. Padahal sajak itu amat pendek:
  Bukan kematian benar menusuk kalbu
 Keridlaanmu menerima segala tiba
 Tak kutahu seringgi itu atas debu
 dan duka maha tuan bertakhta
 Sementara HB. Jassin menulis esei panjang yang mendalam terhadap sajak Sitor 
Situmorang yang berjudul Malam Lebaran. Padahal sajak itu hanya terdiri dari 
satu baris saja.
 Bulan di atas kuburan.
 Karya sastra dengan demikian adalah sebuah padatan atau esensi kehidupan yang 
disampaikan dengan "indah" oleh penulisnya untuk mempertebal rasa kemanusiaan. 
Membacanya, membahasnya, memerlukan ilmu bantu dari berbagai desiplin, sehingga 
bila disentuhkan kepada mahasiwa, sastra menjadi semacam "starter", pemicu pada 
penjelajahan pemikiran yang tak terbatas ke segala arah.
 Sesuatu yang sangat diperlukan oleh para mahasiswa agar tidak terjebak seperti 
tikus masuk perangkap di dalam ilmu yang ditekuninya.
 Sastra akan mengimbangi pematangan, pemantapan serta kedewasaan kepribadian 
seseorang yang tidak diberikan oleh kurikulum yang hanya ingin mencetak 
"Manusia Indonesia Yang Cerdas Dan Kompetitif" sebagaimana yang dicanangkan 
oleh "Cetak Biru" pendidikan Indonesia.
 Pelajar dan mahasiswa tak cukup hanya pintar dan menguasai bidang keilmuannya, 
tetapi juga mesti memahami kehidupan, masyarakat dan realita di mana nanti dia 
bekerja setelah meninggalkan bangku pendidikan. Kalau tidak, ia bisa menjadi 
robot yang pintar tetapi sangat berbahaya bagi kemanusiaan.
 Zen seorang kandidat doktor dari Indonesia yang sedang belajar phisika murni 
di Universitas Kyoto (1991) memberikan pengakuan bahwa ia sangat dekat dengan 
sastra. Dengan sastra ia dibelajarkan untuk melakukan penjelajahan imajinasi 
yang tak terbatas, sehingga baginya sastra bukan semu atau khayal, tetapi 
konkrit. Einstein penemu teori relativitas yang juga suka main biola pun pernah 
berucap:
  "Imagination is more important than knowledge".


 
 
----------------------------------------------------------------------------------------------
Rumahfilm.org       
Locus Focus      
Paramadina Movie Society


  Presents :

 

 Yuk… bikin film yang “Gue Banget!”
     
     
   Kelas Film  Locus Focus & Rumahfilm.org
     
   7 – 12 Juli 2008 
     
   di Pondok Indah Plaza III  Blok F 4-6, 
   Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan.
     
   Materi pelatihan meliputi: teori film, penyutradaraan, penyusunan skrip, 
penguasaan alat, &  ngedit film. 
   20% Teori, 80% Praktik, Film Langsung Jadi!
     
   Target: peserta menghasilkan sebuah film pendek yang sudah bisa 
dipublikasikan. Film-film itu disalurkan ke berbagai festival  film, event 
film, dsb.
     
   Dimentori oleh  Redaktur dan mitra Rumahfilm.org, pembuat film 
berpengalaman, operator produksi film yang berpengalaman :

 Pengisi materi:    Penyutradaraan & Penulisan Skrip: Ariani Darmawan
  Ariani Darmawan adalah seorang pembuat film, penulis, dan seniman video yang 
tinggal dan berkarya di Bandung , Indonesia . Karya-karya filmnya yang 
bertemakan kekuasaan, identitas, dan bahasa dengan penggabungan gambar, teks, 
dan tulisan, telah diputar di berbagai festival dalam dan luar negeri seperti 
Film Festival Indonesia, Rotterdam International Film Festival, Los Angeles 
Film Festival, dan Rencontres Internationales Paris Berlin. Pada tahun 2004 ia 
diundang oleh TheatreWorks, Singapura untuk mewakili seniman Indonesia dalam 
acara konferensi seni internasional, dan di awal tahun 2006 ini dalam Gang 
Festival, Sydney, 2006.
    
  Penulisan Skrip: Hikmat Darmawan
  Lebih dikenal sebagai kritikus film.  Sejak 1994, menulis di berbagai media. 
Pendiri dan penanggung jawab rubrik resensi di rumahfil.org serta menjadi 
pendiri Paramadina Movie Society.  Selain itu bekerja sebagai redaktur di 
majalah Madina.
    
  Penguasaan Kamera: Muhammad Zaenuri
  Dosen  fotografi, audio visual & multi media di Univ. Paramadina  dan pemilik 
rumah produksi Creative Videa.
    
  Teknik Editing: Wendy Ganda Laksana
  Editor  utama  MTV Indonesia 2003-2007. Pengajar di Pusat Pelatihan Televisi 
dan Radio Citra Widya Triputra (CWT).  Banyak mengerjakan produksi Iklan hingga 
dokumenter. Beberapa iklan yang pernah dikerjakan  Bank Danamon, Senayan City , 
Suransi Jasindo,   dan film dokumenter Belajar Matematika Kumon. Saat ini 
bekerja sebagai Editor Utama di Studio 3 Production. 
  


Setelah kursus, peserta mendapat jadual pertemuan rutin dengan Rumahfilm.org, 
membahas berbagai aspek dalam membuat film. Setiap Sabtu, di Acara Putar Film 
Paramadina Movie Society tanpa ada biaya tambahan
   
   
 Masa pendaftaran:16 juni – 5 Juli 2008 
 Biaya Rp 1.750.000 Pas!
   
 Hubungi:
 Locus Focus 
 Jl. Tebet Barat X-A, no. 28, Jakarta Selatan.
 Phone:  021-33077680 , 08561086762 (Nia)
 Fax : 021-830 9597
  Email : locusfocusmedia[at]yahoo.com 
    -------------------------------------------------------------------
       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke