*Pledoi Jim Supangkat dalam Majalah Arti Edisi 003
*
Pertengahan Juni 2008 pameran Manifesto Seni usai, dengan menyisakan
berbagai komentar, kritik, juga makian. Kurasi dipertanyakan, tema  dinilai
memiuh kesadaran etik dan politik seni,  dan seterusnya. Semuanya telah
direkam majalah Arti sejak edisi pertama. Kini, giliran Arti merekam pledoi
Jim Supangkat dan kawan-kawan yang menjadi kurator pameran tersebut.

Menurut Jim, Manifesto Seni berkaitan dengan sejarah seni rupa di Indonesia
dan penggunaan istilah seni di kalangan seniman bahkan ahli sejarah seni. Ia
misalkan melihat istilah "Kagunan"  sebagai entitas yang berjalan paralel
dalam proses kebudayaan di Indonesia dan Eropa. Istilah Kagunan ini
kira-kira equivalen dengan art di Eropa, sedangkan istilah seni di Indonesia
umumnya tidak equivalen dengan istilah art di Eropa. Padahal seni rupa dalam
sejarah kebudayaan Eropa adalah termaktub di dalam art yang berbeda dengan
seni di Indonesia. Pendek kata, seni dan art adalah entitas sejarah yang
kembar, tapi tak sama karena konteks kebudayaan yang berbeda antara
Indonesia dan Eropa. Mitos dari Barat yang selama ini dikunyah oleh seniman,
kurator, kritikus, dan ahli sejarah seni justru dibongkar di dalam Manifesto
Seni itu.

Rekaman pendapat Jim dan kawan-kawan menjadi tema bahasan majalah Arti edisi
003, yang beredar mulai Kamis, 3 Juli 2008.

Menggenapi pledoi Jim dan kawan-kawan, sastrawan Radhar Panca Dahana menilai
eksistensi diri sebagai manusia dan bangsa, baru muncul belakangan, termasuk
sesungguhnya tendensi yang tersirat dalam "manifesto" pameran ini. Dan
tampaknya, peran penting serta signifikan dari kesenian dalam proses
identifikasi itu, bukan lagi sebagai afirmator dari pernyataan-pernyataan
politis-ideologis kaum elit. Ia justru menjadi pembongkar
kepalsuan-kepalsuan, dan melakukan penyingkapan (discovering) realitas
sesungguhnya dari keberadaan kita.

Pada edisi ini pula sastrawan Arie MP Tamba yang mulai menemukan sentuhannya
menyoroti pameran Davy Linggar di Ark Galerie, Jakarta, medio Juni lalu. Ia
merasa betapa fotografi semakin 'rapat' dengan seni rupa. Dalam seni video,
karya instalasi, seni digital maupun seni konseptual, karya fotografi kerap
disertakan. Namun, sebagai karya tunggal, fotografi sendiri sering
diperdebatkan kualifikasinya. Boleh jadi, proses kerjanya yang mendapatkan
kemudahan teknologi tinggal 'klik', bahkan dapat dilakukan dengan handphone,
sering dilihat sebagai persoalan sederhana.  Padahal, secara teoritis, untuk
mendapatkan sebuah obyek fotografi yang maksimal – perhitungan diafragma,
fokus, komposisi – seringkali membutuhkan kerumitan yang boleh jadi sama.

Masih banyak topik menarik lainnya. Beberapa di antaranya adalah wacana seni
rupa kontemporer Bandung dalam "Bandung New Emergence Vol. II, Warna-warni
Jakarta dari Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, New Age-New Blending para
perupa China, akrobatik karya Yaya Sukarya, Babi-babi Imut di Philo Art, Art
Candy yang menyajikan visual-visual trendi, dan para petarung seni dari
"Bumi Tarung", organisasi yang berafiliasi ke Lembaga Kebudayaan Rakyat di
masa lalu. Ilustrator Marto Art juga menyumbangkan impresinya atas
pelik-pelik dunia "Komik".

Di luar aneka rupa menu seni, majalah Arti pun memberi tempat pada tema-tema
sosial yang memiliki irisan persoalan dengan dunia seni. Tema-tema ini
dituangkan dalam bentuk lembaran features menarik di setiap edisinya. Pada
edisi 003, Arti memuatkan travelog kecil dari Polandia tentang situs eks
kamp tawanan Auschwitz, yang ternyata didesain sedemikian mengikuti "selera
seni" serdadu-serdadu SS.

Terbit dwimingguan, dan beredar setiap Kamis minggu pertama dan minggu
ketiga, majalah Arti memosisikan diri sebagai referensi para kolektor benda
seni, kurator, seniman, mahasiswa seni, perguruan tinggi seni, galeri dan
art space, serta kalangan lain yang berminat pada seni. Dalam setiap edisi,
majalah Arti sedapat mungkin berusaha untuk memberi tafsir pada perkembangan
yang sedang berlangsung, juga pelbagai diskursus tentang seni, selain
pancaragam berita seni.

Majalah Arti bisa didapatkan di hampir seluruh galeri besar di Jakarta,
Bandung, Yogyakarta, Bali dan Surabaya. Juga di berbagai toko buku, seperti
Gramedia dan Toko Gunung Agung. Harga per eksemplar Rp 40.000, luar Jawa
tambah ongkos kirim. Contact Person: Pemasangan Iklan (Dina 021-9436-1341),
Langganan
(Ika  021-9543-0002), Jaringan Kerja dan Relasi (Erry 021-9802-2286).


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke