Kronik Sairara: 
 
 
PERLUNYA "FORUM KEBUDAYAAN INDONESIA"
  
 
 3. TRADISI DAN MODERNITAS 
 
 
Kemudian Luluk Sumiarso dari  Paguyuban  Puspo  Budoyo dan Ketua  Yayasan 
Peduli  Majapahit juga menulis: "Beberapa  kalangan bahkan ada yang mengartikan 
dan meredusir seolah budaya itu hanyalah sebatas Seni-Budaya. Padahal unsur 
budaya lebih dari itu, mencakup pula antara lain adat istiadat dan bahkan 
teknologi. Hasil proses budaya inilah yang akan berupa peradaban suatu bangsa". 
 
 
Dari kalimat-kalimat  di atas  saya ingin mengangkat dua soal, yaitu masalah 
tradisi dan modernitas. 
 
Tanpa kecuali, siapa pun  tidak bisa memilih di mana kita lahir. Tidak bisa 
menetapkan di lingkungan etnik dan bangsa atau keluarga mana ia dilahirkan. 
Orangtua tidak pernah meminta izin kita yang kemudian disebut anak, untuk 
dilahirkan. Lingkungan, keluarga, etnik dan bangsa ini mempunya kebudayaan 
masing-masing yang unik. Kebudayaan , yang saya pahami  sebagai bentuk jawaban 
nyata terhadap masalah-masalah kehidupan zaman mereka. Jawaban suatu angkatan 
anak manusia dalam menanggulangi segala rupa tantangan dikurun hidup mereka. 
Tanggap tidaknya jawaban barangkali menentukan kadar mereka sekaligus sebagai 
anak manusia dan zaman mereka. Kebudayaan ini merupakan rangkaian nilai dominan 
pada  suatu zaman sangat beragam. 
 
 
Anak yang dilahirkan tanpa izin itu, tanpa terelakkan juga,  diasuh di bawah 
dan dengan rangkaian nilai dominan di lingkungan, keluarga, etnik dan bangsa 
tertentu pada suatu kurun waktu, sehingga membentuk diri sang anak. 
Mempengaruhi perkembangan diri si anak selanjutnya.  Meninggalkan tanda nilai 
pada si anak. Sebagai modal nilai pada sangat anak dalam  menarungi dan 
mengharung kehidupan mereka sendiri selanjutnya. 
 
 
Anak ini merupakan angkatan tersendiri dan baru lagi. Hidup pada era lain lagi 
dari angkatan orangtuanya. Era sang anak mempunyai tantangan-tantangan 
tersendiri berbeda pula  yang mau tak mau, suka tidak suka harus mereka jawab. 
Jawaban-jawaban angkatan sang anak tentu akan berbeda dari jawaban angkatan 
orangtuanya karena keadaan dan permasalahan pun berbeda. Angkatan sang anak 
melahirkan kebudayaan dan rangkaian nilai mereka sendiri. Pada saat lahirnya 
kebudayaan sang anak, maka kebudayaan orangtua akan menjadi kebudayaan angkatan 
silam yang bisa disebut kebudayaan tradisional, jika dilihat dari segi kurun 
waktu dan ujud jawaban. Sedangkan kebudayaan angkatan si anak disebut 
kebudayaan kekinian atau kebudayaan  modern. Karena si anak diasuh dengan 
kebudayaan orangtua, kebudayaan tradisional, tentu saja nilai-nilai lama yang 
merupakan sangu mereka menarung dan mengharung zaman mereka, masih mempunyai 
pengaruh. Pengaruh inilah yang oleh Kelompok
 Sejarawan Annales Paris dijabarkan sebagai saling hubungan antara masa silam, 
hari ini dan esok. Tiga kurun waktu yang bertautan dan bukan sebagai 
pulau-pulau terpencil tanpa jembatan penghubung. Jembatan penghubung ini adalah 
kebudayaan. Adalah rangkaian nilai yang tertuang dalam berbagai bentuk berbagai 
bidang.  Dari sudut pandang inilah, barangkali bisa dibaca arti pentingnya 
kesadaran sejarah, perlunya mengenal sejarah lokal, nasional dan dunia, 
sekaligus memperlihat bahayanya angkatan yang lupa sejarah dan yang oleh orang 
Perancis disebut "angkatan tanpa sejarah"[la génération sans l'histoire]. 
 
 
Tapi tradisi bukan sebatas pengertian kebudayaan dan rangkaian nilai masa 
silam. Tradisi bisa bermakna buah kebudayaan kekinian yang ditradisikan. Yang 
dilakukan secara berulang dan periodik. Misalnya La Fête de la Musique, yang 
diprakarsai oleh Jack Lang, Menteri Kebudayaan F.Mitterrand dari Partai 
Sosialis, pada bulan Juni 1981, guna menggalakkan kreativitas rakyat Perancis 
di bidang musik dalam menghadapi ofensif musik-musik Amerika Serikat,  saban 
Juni sampai sekarang diselenggarakan di seluruh negeri. Tiap pojok jalan 
seluruh negeri pada pesta musik yang kemudian bersifat internasional, menjadi 
panggung pesta rakyat, berlangsung hingga subuh. Fête de la Musique adalah 
karya kebudayaan kekinian yang ditradisikan oleh Perancis.
 
 
Tradisi , dalam pengertian hasil budaya angkatan pendahulu,  sebagai rangkaian 
nilai yahg tertuang dalam berbagai bentuk, tentu saja   tidak selalu tanggap 
dengan perkembangan dan tantangan. Karena sikon dan tantangan juga berbeda 
antara masa silam dan hari ini.  Tetapi kiranya, juga akan keliru mengatakan 
bahwa semua nilai-nilai masa silam itu sebagai kadaluwarsa. Misalnya nilai dari 
pepatah berikut: 
 
 
"menepuk air di dulang 
memercik ke muka sendiri" 
 
 
Saya kira, nilai dialektis sebab-akibat yang diungkapkan oleh pepatah ini masih 
mempunyai nilai tahan waktu hingga sekarang. Masih banyak contoh-contoh lain 
lagi yang memperlihatkan tahan waktunya rangkaian nilai angkatan silam yang 
disebut tradisi.
 
 
Tapi ada juga yang tidak tahan waktu dan sudah kadaluwarsa. Misalnya kebiasaan 
"mangayau" [potong kepala] pada masyarakat Dayak. Untuk zaman sekarang, saya 
kira "mangayau" jika dilakukan akan menjadi suatu tindak kriminal dan 
menggalakkan tindak kekerasan balas-berbalas.
 
 
Karena adanya masalah tanggap dan tidak tanggap zaman dari budaya tradisional, 
saya kira, seniscayanya angkatan sekarang, menapis mana-mana yang tanggap dan 
mana-mana yang tidak.  Dalam istilah menterengnya, sikap menapis ini adalah 
sikap kritis. Menapis agar angkatan sekarang tidak lepas akar, menggunakan 
rangkaian nilai masa silam sebagai sangu menarung dan mengharungi kehidupan 
zamannya. Sehingga mengenal masa silam, kebudayaan masa silam membantu kita 
dalam berdialog dengan zaman, menjawab zaman dan budaya dunia yang oleh laju 
pesat tekhnologi menjadi sebuah "desa kecil dunia".  
 
 
Untuk bisa menapis, demi penciptaan budaya modern yang tanggap zaman dan 
apresiatif, agaknya angkatan sekarang ada keniscayaan mengenal budaya silam, 
budaya negeri sendiri sehingga angkatan sekarang mempunyai peta lengkap sejarah 
bangsa dan negerinya.  Usaha menapis akan terbantu jika dilakukan pelestarian.  
Pelestarian memerlukan museum, penelitian dan sejarah. 
 
 
Pelestarian, barangkali hanyalah langkah awal saja dalam usaha membangun 
kebudayaan modern yang tanggap zaman dan apresiatif. Langkah berikutnya adalah 
penafsiran yang memungkinkan budaya silam menjadi te -revitalisasi. 
Diberdayakan ulang. Guna pembentukan dan pengembangan budaya modern, kekinian, 
yang tanggap zaman serta  apresiatif dan bekepribadian. Berhenti pada 
pelestarian akan membuat kita ketinggalan zaman, tak mampu menjadi anak 
zaman.Lebih jauh dari itu, mengeterapkan nilai-nilai tradisional tanpa 
penapisan, barangkali, bentuk ketidak mampuan berpikir dan juga kejenuhan serta 
kebuntuan menghadapi kemelut kehidupan dan masyarakat. Ujud lain dari 
eskapisme. 
 
 
Kebudayaan tradisional, kebudayaan angkatan silam, jadinya, tidak lain dari 
salah satu bahan mentah, sumber acuan,  guna menciptakan kebudayaan modern, 
kebudayaan kekinian yang tanggap zaman dan apresiatif. Dari segi inilah saya 
merasa bahwa keragaman yang ada di negeri kita, merupakan sebuah rahmat, suatu 
keberuntungan, suatu kekayaan, suatu keindahan alami,  sedangkan usaha 
menyeragamkannya menjurus ke petaka. 
 
 
Pertanyaan berikutnya adalah: Dengan apa menapis kebudayaan angkatan silam dan 
sumber-sumber lain dari luar sambil memelihara keragaman itu tapi juga bisa 
melahirkan budaya yang tanggap zaman dan apresiatif? 
 
 
Saya melihat jawaban pertanyaan ini terdapat pada rangkaian nilai yang kita 
kenal sebagai Republik dan Indonesia. Sampai sekarang kita masih belum berhasil 
mengejawantahkan rangkaian nilai yang tertuang dalam konsep Republik dan 
Indonesia. Kita masih dengan jatuh-bangun mewujudkannya. Republik dan 
Indonesia, bukan sebuah fatamorgana tapi sebuah perspektif . Sebuah tujuan.  
Tujuan di depan. Bukan tujuan yang terletak di belakang yang jauh dan silam. 
Ini pun suatu visi budaya. 
 
 
Paris, Juni 2008
-----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
 
[Bersambung.....] 
 
 
LAMPIRAN:
 

Pada tanggal 23 Juni 2008, melalui milis artculturindonesia @yahoogroups.com ,  
Luluk Sumiarso menyiarkan tulisan  berikut:
 
"Teman2 yang Peduli Budaya,

Tentu kita tergelitik dgn berbagai tulisan yang dimuat Kompas Minggu tgl 22 
Juni 2008 yang menyangkut kebudayaan Indonesia, utamanya yang berjudul "Secara 
Kultural   Kita Sedang Kalah",   tulisan Frans Sartono yang mengulas pendapat 
Saini KM, yang budayawan, penyair, penulis drama, penulis esai yang 
memprihatinkan budaya bangsanya yang tengah jatuh dan kehilangan arah. ' 
....Karena dalam gelombang globalisasi, bangsa yang tidak punya karakter akan 
lenyap....', kata Saini.

Saya berpendapat bahwa kita perlu mempunyai Visi Budaya yang jelas yang dipakai 
sebagai arah perjalanan (budaya) bangsa kita. Kelihatannya selama ini kita 
sibuk dan jalan sendiri-sendiri,  masing-masing  mungkin baik, tetapi kita 
kurang bersinergi. Meminjam judul sebuah sinetron terkenal, "Ibarat Serpihan  
Mutiara Retak". Beberapa kalangan bahkan ada yang mengartikan dan meredusir 
seolah budaya itu hanyalah sebatas Seni-Budaya. Padahal unsur budaya lebih dari 
itu, mencakup pula antara lain adat istiadat dan bahkan teknologi. Hasil proses 
budaya inilah yang akan berupa peradaban suatu bangsa.

Terus terang, saya bukan budayawan dan juga bukan pelaku industri budaya. Saya 
hanyalah satu diantara mereka-mereka yang peduli budaya bangsanya dan 
menggiatkan kegiatan budaya, khususnya budaya tradisional. Tahun lalu, tepatnya 
tanggal 5 Juli 2007 di Balai Kartini, Jakarta, kami bersama Lintas Budaya 
Nusantara dan Media Grup menyelenggarakan Sarasehan Budaya dalam rangka 
memperingati Kongres Kebudayaan Pertama yang diselenggarakan di Solo tanggal 5 
Juli 1918, sepuluh tahun setelah lahirnya Boedi Oetomo. Konggres ini , walaupun 
pada tahap awal merupakan Konggres Kebudayaan Jawa, tetapi kemudian diperluas 
menjadi Kongres Kebudayaan Nasional pada tahun-tahun, yang kemudian berujung 
juga dengan diselenggarakannya Sumpah Pemuda 10 tahun kemudian. Sarasehean 
dibuka oleh menbudpar Jero Wacik , menampilkan pembicara antara lain Dr. Edi 
Sedyawati, Jakob Oetama dan Christine Hakim. Salah satu butir kesimpulan adalah 
perlunya dibentuk 'Forum Kebudayaan Indonesia'
 untuk menggalang semua potensi budaya bangsa, tanpa harus mengilangkan 
identitas masing-masing.

Untuk itulah, memanfaatkan momentum yang tepat, yaitu 100 Tahun Kebangkitan 
Nasional, 90 Tahun Konggres Kebudayaan Pertama dan 80 Tahun Sumpah Pemuda, kami 
bersama beberapa tokoh budaya dan mereka-mereka yang peduli budaya, akan 
membentuk 'Forum Kebudayaan Indonesia" pada tanggal 5 Juli 2008 pukul 
10.00.Tempatnya adalah di Studio Radio Republik Indonesia, jalan Merdeka Barat 
Jakarta. Forum ini adalah Non-Politik, akan dipakai sebagai sarana komunikasi 
semua unsur budaya, tanpa mengurangi/meredusir identitas peran masing-masing, 
juga untuk membantu pemikiran-pemikiran mengenai visi budaya bangsa Indonesia 
ke depan. Harapanya, ke depan 'forum' ini dapat berkembang menjadi 'semacam 
KONI' untuk Kebudayaan Nasional Indonesia. 
 
Mohon email ini disebarkan ke teman-teman yang perduli budaya. Karena tempat 
terbatas, teman-teman yang berminat mohon mendaftar ke pedulimajapahit@ 
gmail.com

Mudah-mudahan forum ini bermanfaat.

Jakarta, 24 Juni 2008

Salam Budaya
Luluk Sumiarso
Pembina Paguyuban Puspo Budoyo/
Ketua Yayasan Peduli Majapahit  


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke