http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/cerita_lubang_buaya20080\
701
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/cerita_lubang_buaya2008\
0701>
Saelan Buka Cerita Lubang Buaya 1965
Radio Nederland Wereldomroep

Laporan Aboeprijadi Santoso 01-07-2008
  Saelan Buka Cerita Lubang Buaya 1965 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_maulwi_saelan_dan_asvi_warman\
_adam_20080701_44_1kHz.mp3>


Lagi-lagi penulis Belanda Anthony Dake dihujat. "Hij is een grote
leugenaar en viezerik (Dia pembohong besar dan menjijikkan)," demikian
Kolonel Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa yang
mengawal Presiden Soekarno. Saelan, 83 tahun, mematahkan teori Dake
bahwa dirinya pada 29 September 1965 menyiapkan penguburan tujuh
jenderal, dan pada 3 Oktober 1965 menghilangkan jejak mereka di Lubang
Buaya.

Padahal, Saelan menemukan saksi polisi Soekitman pada 30 September, dan
pada 3 Oktober lebih dahulu menemukan Lubang Buaya, ketimbang pasukan
RPKAD. Sabtu lalu, Saelan meluncurkan bukunya "Kesaksian Wakil Komandan
Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66". Berikut ini tutur
Maulwi Saelan dan keterangan sejarawan Asvi Warman Adam kepada Radio
Nederland Wereldomroep di Jakarta.

  [Maulwi-Saelan2-200.jpg] Maulwi Saelan [MS]: Mister Dake is een grote
leugenaar en een viezerik artinya pembohong besar dan menjijikkan. Dake
itu mau mengkaitkan kita ke peristiwa itu. Itu saja.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Dia menuduh Pak Saelan, pada 29
September berangkat ke Halim dengan rencana?

MS: Begini, kita menemukan seorang polisi di Halim yang berkeliaran,
diambil oleh pasukan kita, diinterogasi. Dari situ kita tahu bahwa
pembantaian dan di mana ditanamkan jendral-jendral itu. Itu ada di
lubang kecil sumur dekat pohon besar. Nah, pada tanggal 3 itu Bung Karno
memanggil saya, sebab dia paling sayang pada Yani. Bung Karno memerintah
saya untuk mencari itu. Oke, saya berangkat ke Lubang Buaya.

Di sana saya harus via piket. Dengan piket diantar ke Lubang Buaya. Saya
di sana terus saya lihat betul itu ada pohon besar, itu ada pondok, di
sini ada sumur. Kita kan tidak memiliki tenaga dus kita minta penduduk
untuk bantu menggali ini. Kemudian tidak lama sewaktu saya ketemukan
itu, datang pasukan Santoso dan RPKD plus Letnan Bari ajudannya itu,
plus Kitman. Dus berarti saya sebetulnya lebih dulu di sana bukan
mereka.

RNW: Jadi ini hanya reka-reka Dake, Pak Saelan merencanakan segala
sesuatu?

Tuduhan
MS: Benar, itu hanya reka-reka supaya dikaitkan dengan G30S. Bukan saja
saya tapi seluruh Bung Karno termasuk.

Asvi Warman [AW]: Pertama mengenai tuduhan Dake bahwa Pak Maulwi Saelan
ini sudah datang ke Halim, ke Lubang Buaya itu pada tanggal 29 September
tahun 65. Dan Saelan mengatakan bahwa tidak benar itu. Dake menuduh
bahwa tanggal 29 September itu Maulwi Saelan sudah mempersiapkan sebuah
rumah di Halim untuk tempat istirahat Bung Karno.

Lalu mengenai penggalian jenazah pada tanggal 3 Oktober tahun 65, ada
tuduhan bahwa  [Maulwi-Saelan3-150.jpg] Maulwi Saelan itu sengaja
diperintah oleh Bung Karno untuk menghilangkan jejak. Jadi artinya untuk
menghilangkan jenazah para jenderal itu. Tapi ini tidak benar karena dia
yang datang pertama ke tempat itu.

Dan kemudian juga di dalam buku ini diungkapkan bahwa patroli pasukan
Tjakrabirawa menemukkan Soekitman, polisi yang pada tanggal 30 September
itu secara kebetulan ditangkap. Nah, kemudian pada tanggal 1 Oktober
polisi ini ditemukan oleh Tjakrabirawa, diinterogasi dan kemudian polisi
ini diserahkan ke Kodam Jaya.

Artinya kalau memang mau menghilangkan jejak, polisi ini kan langsung
dibunuh saja begitu. Dengan informasi dari polisi ini tentunya
Tjakrabirawa sudah mendapat keterangan kira-kira di mana jenazah itu
dibuang atau dikuburkan begitu. Nah, tapi dengan menyerahkan Soekitman
ini ke Kodam Jaya supaya diproses lebih lanjut tudingan menghilangkan
jejak itu, jelas tidak masuk akal.

RNW: Dengan begitu pak. Saelan melalui buku ini telah membuktikan
pemutarbalikan oleh Dake?

AW: Ya, jelas mengherankan Dake mendapat informasi itu dari mana gitu.

RNW: Kemudian Dake ini juga mengatakan bahwa Pak Saelan sudah menyiapkan
kuburan-kuburan untuk para jenderal?

Situasi
MS: Itu bohong menjijikkan. Mana ada tenaga untuk menggali dan
sebagainya. Sedangkan untuk menggali sumur saja, kita minta penduduk.
Bagaimana saya bisa merencanakan itu, ndak mungkin.

AW: Dan kemudian kedatangan Bung Karno pada tanggal 1 Oktober itu kan,
tidak direncanakan ke Halim itu.

RNW: Menyelamatkan Bung Karno. Inisiatif siapa Pak?

  [Maulwi-Saelan1-200.jpg] MS: Begini, situasi sedemikian rupa bahwa kita
tidak tahu situasinya. Saya katakan kepada pasukan saya coba cari
hubungan dengan panglima angkatan, yang hanya ketemu panglima AURI. Saya
katakan kepada Bung Karno ada pilihan begini-begini. Oh ya lebih baik ke
Halim di situ ada jetstar kita, untuk menyelamatkan jetstar kan. Terus
ada panggilan. Kita lihat ada panglima di situ dengan stafnya. Dus kita
balik ke kantornya panglima pada waktu itu si Omar Dani di depan kantor
itu.

RNW: Mengapa presiden Soekarno ketika itu memilih sudah di Halim saja,
bukan ke Jawa Tengah?


MS: Kalau ada apa-apa kita bisa terbang ke mana pun bisa kan dengan
jetstar itu. Ini kan SOP Standard Operating Procedure.

RNW: Tjakrabirawa adalah bagian dari tentara. Artinya di mata tentara
yang menghabisi PKI, Tjakrabirawa adalah musuh dalam selimut?

MS: Pasukan saya terdiri daripada empat angkatan. Masing-masing angkatan
harus sudah menselek sendiri supaya mereka steril, termasuk Untung ini.
Untung sendiri itu dipertahankan oleh pak Harto dari Banteng Raiders
Tjakrabirawa .

RNW: Jadi Untung pilihan Pak Harto?

MS: Ya, disenangi oleh Pak Harto dan jenderal Yani. Tapi ke bawah dia
ada hubungan dengan Aidit dan sebagainya kita nggak tahu

ends



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke