Sebuah Agama Bernama Cinta

Banyak yang menganggap sumbangan terbesar Rumi pada agama adalah aliran 
sufi Mawlawiyah dan tarian berputar yang seperti gasing. Sesungguhnya 
aliran Rumi jauh lebih agung dari itu.

Fanatisme cinta berbeda dengan agama lain.
Fanatisme cinta adalah terhadap Yang Maha Cinta
Tujuan pecinta bukan seperti tujuan lain
Cinta adalah kompas langit menuju misteri Tuhan
(Jalaludin Rumi)

Sumbangan terbesar Rumi terhadap Islam dan agama bukan terletak pada 
terbentuknya Tarekat Mawlawi, tarian berputar (raqs sema'), ataupun 
berzikir dengan diiringi musik (sema'). Rumi bahkan mungkin tak pernah 
ingin mengkotakkan cara beragamanya dalam tarekat tertentu. Baginya, agama 
tak membutuhkan asabiyah (fanatisme kelompok). Karena agama seluas cinta, 
dan hanya cinta yang dapat membawa kita kepada Tuhan.

Ajaran Mawlana Rumi yang universal dan menembus batas-batas golongan ini 
adalah sebuah perlawanan terhadap semangat untuk menjadikan agama sebagai 
pembenaran terhadap penaklukan dan fanatisme golongan. Rumi---yang berarti 
orang Romawi---seakan ingin melawan keinginan para penguasa kekhalifahan 
Turki untuk melakukan ekspansi besar-besaran, demi terbentuknya kembali 
kerajaan besar setelah Romawi Bizantium musnah di negeri itu. Lewat tafsir 
cintanya, Rumi seakan menolak penggunaan agama sebagai alat untuk 
mengobarkan perang.

Ajaran Rumi tentang cinta dipengaruhi oleh pertemuannya dengan Shams-e 
Tabrizi, sang darwish yang berkeliling Timur Tengah untuk mencari "formula" 
tepat menjadi insan kamil atau manusia sempurna. Dan Shams---dalam 
dialognya dengan Rumi, seperti Khidr dengan Musa---mengajarkan akan cinta. 
Dalam bukunya yang ditulis di kemudian hari dan menjadi paling terkenal, 
Matsnawi, perjalanan Musa dan Khidr mendapatkan porsi besar, terutama di 
bagian penutup. Kisah yang terangkum dalam surat Al-Kahfi itu memang 
menarik perhatian banyak sufi. Kisah penuh misteri, yang mengajarkan orang 
untuk melihat kejadian bukan hanya pada yang tampak di depan mata.
Namun pertemuannya dengan Tabrizi tak berlangsung lama. Teman diskusinya 
itu ditemukan tewas, justru tak lama setelah berdialog panjang di suatu 
malam dengan Rumi.

Sebagai tanda cintanya kepada Tabrizi, Rumi kemudian menulis kumpulan puisi 
(diwan) yang kemudian dikenal dengan Divan-e Shams-e Tabrizi.

Kenapa aku harus mencari?
Aku sama dengannya
Jiwanya berbicara kepadaku
Yang kucari adalah diriku sendiri!

Sepuluh tahun setelah kematian Tabrizi, Rumi kemudian menggubah ghazal 
(puisi cinta) yang dikumpulkan dalam Divan-e Kabir atau Diwan Agung.

Cinta dan keindahan membuat ajaran Rumi berbeda dengan aliran tarekat lain. 
Sejumlah tarekat saat itu lebih banyak berkosentrasi untuk menyempurnakan 
diri menuju insan kamil lewat ibadah, wirid, atau menyodorkan faham 
ketauhidan baru. Penyatuan diri dengan Tuhan (wihdatul wujud) yang 
berkembang berabad-abad sebelum Rumi di Bagdad adalah salah satu cara 
pencapaian menuju Tuhan yang tidak dipilih Rumi.

Sebagai seorang hakim yang paham syariat, Rumi tidak memasukkan dirinya 
dalam ritual yang kontroversial. Dan sebagai seorang seniman, ia memiliki 
cara sendiri dalam mencapai kesempurnaan dalam beragama tanpa harus menjadi 
ekstrem. Ia memanfaatkan puisi, musik dari seruling (nay) dan gitar (rebab) 
untuk mengiringi dzikir. Cara ini kemudian dikenal dengan sema' yang 
berarti mendengar. Dengan arti yang sedikit berbeda, pesantren-pesantren di 
Jawa memiliki ritual bernama semaan.

Rumi meninggal dan dikubur dalam Kubah Hijau (Qubat-ul-Azra') yang 
bertuliskan "Saat kami meninggal, jangan cari kuburan kami di tanah, tapi 
carilah di hati manusia." Namun ritual sema' itu tak ikut mati. Para 
pengikutnya, terutama anaknya, Sultan Veled Celebi, melembagakan ajaran itu 
dalam tarekat bernama Mawlawiyah atau Mevleviye.

Aliran Mawlawiyah ini terkenal dengan cara dzikir yang berbeda. Jika para 
sufi berdzikir sambil bersila dan menggoyang-goyangkan kepala, para darwish 
di aliran ini justru berdiri dan menari berputar-putar seperti gasing. 
Jubah mereka berkembang seperti teratai di atas air. Dzikir mereka tidak 
hanya diiringi oleh bacaan Al-Quran dan puji-pujian pada Nabi, tapi juga 
suara seruling dan rebab serta fabel dari puisi-puisi Rumi.

Dalam tarian ini para darwish mengenyampingkan nafsu dan ego mereka dan 
berkosentrasi pada musik dan lirik yang dimainkan para mawlana. Mereka 
berputar seperti planet-planet dan elektron dalam dunia makro dan mirkokosmos.

Pada perkembangannya, aliran sufi ini justru mampu menarik perhatian para 
petinggi di Kesultanan Ottoman. Bahkan di masa inilah Mawlawiyah mampu 
menghasilan sejumlah penyair dan musisi legendaris seperti Sheikh Ghalib, 
Ismail Ankaravi yang berasal dari Ankara, dan Abdullah Sari. Bahkan ada 
yang mengatakan masuknya nay atau seruling ke dalam peradaban Eropa adalah 
berkat merambahnya aliran Mawlawiyah ke daerah "jajahan" Ottoman di Eropa.

Dengan aliran inilah ajaran cinta Rumi tersebar ke seluruh dunia. Manusia 
diciptakan dengan cinta untuk cinta. "Semua cinta adalah jembatan menuju 
Sang Maha Kasih. Karenanya, yang tak pernah merasakan cinta, tak akan 
pernah mengetahuinya," kata Rumi.

Qaris Tajudin
(Ruang Baca, Koran Tempo)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke