Kronik Sairara:
"LE DECLIN DE L'HOMME BLANC"
1.
Minggu lalu, ketika sedang bekerja di dapur Koperasi Restoran Indonesia, Andri,
seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar masalah komputer di Paris,
sambil bekerja di Koperasi masuk ke dapur sambil menggerutu: "Jangan mau
dikibulin bulé!". Mendengar gerutu itu, aku menoleh bertanya: "Ada apa Andri,
khoq ngomel sendiri?" Lalu ia menjelaskan keadaan yang sedang dihadapinya di
ruang pelayanan tamu yang kami sebut "la salle de service".
Seorang tamu berkulit putih setelah mendapat l'entrée [makanan pembuka] berupa
sup ayam, minta lumpia dengan alasan ia belum mendapatkan l'entrée.
"Padahal saya memberikannya kepada Tuan, dan sudah Tuan minum habis", jawab
Andri.
"Saya mau memberikan Tuan lumpia itu, tapi harus jelas bahwa Tuan harus
membayar harga tambahan", tambah Andri dengan tegas tapi sopan. Si kulit putih
itu menjawab dengan tegas pula:
"Tidak mau".
"Kalau tidak mau ya tidak saya berikan", ujar Andri lagi. Si kulit putih itu
diam.
Dengan latar kejadian inilah, Andri yang merasa jengkel lalu menggerundel di
dapur:
"Jangan mau ditipu bulé. Cukup sudah kita ditipu".
Dalam hati, aku berkata sendiri: "Wah, agaknya Andri mengalami perkembangan
baru dalam pemikirannya". Apakah perkembangan ini merupakan hasil diskusi kami
awak Koperasi tentang soal politik, bahasa, sejarah dan lain-lain sambil kami
bekerja? Aku tidak tahu persis, tapi yang jelas, dibandingkan dengan hari-hari
pertama ia bergabung, dari segi pemikiran dan sikap, Andri mengalami
perkembangan pesat. Secara nyata sejak 26 tahun berdirinya, Koperasi ini,
selain menjadi sarana ekonomi yang menghidupkan kami, ia juga merupakan tempat
kami saling belajar dan saling bantu , sarana kami untuk turut memperkenalkan
Indonesia dengan pendekatan kebudayaan. Semua pekerja Koperasi sadar akan hal
ini dan melakukannya dengan cara serta gaya masing-masing.
Ketika ia masuk lagi ke dapur, teman lain menegurnya dengan ringan: "Awas lho,
Andri, jangan sampai pikiran dan sikapmu menjurus ke rasialisme anti bulé.
Kritis itu baik, tapi ekstrimitas itu berbahaya". Dari gerundelan Andri tadi,
aku melihatnya bahwa pada mahasiswa muda ini, mulai tumbuh rasa harga diri dan
martabat diri sebagai orang Indonesia. Ia sering mengatakan bahwa "Niscayanya
menjadi Indonesia itu tidak boleh bodoh.Tidak boleh memalu-malukan bangsa dan
negeri".
Selain itu gerutu Andri sebenarnya bukan omelan tak berdasar. Melalui
pengalaman menghadapi orang Perancis di Koperasi ini, hampir tanpa kecuali
semua pekerja berkesimpulan bahwa orang Perancis itu punya sikap yang mau
memanfaatkan [profiter] dan agak sok hebat semata karena kulit mereka putih.
***
Hari Minggu, 29 Juni 2008, seperti kebiasaan saban hari, aku membeli Harian Le
Monde dan bulanan Le Monde Diplomatique, menambah info dan analisa bandingan
dari Harian La Croix yang kulanggani sejak bertahun-tahun. Sebuah artikel
berjudul: "Le Déclin de l'homme blanc" [Kemerosotan Orang Putih] tulisan ekonom
Perancis, Eric Le Boucher, segera menambat perhatianku dan berkali-kali kubaca
ulang. Jarang-jarang sekali istilah "l'homme blanc" seperti halnya Orang Arab,
Orang Hitam, yang dipandang berbau rasis dan gampang menyinggung perasaan,
digunakan dalam percakapan, apalagi dalam artikel di sebuah harian serius
seperti Le Monde. Harian kanan seperti Le Figaro pun cermat dalam menggunakan
istilah.
Judul artikel Eric Le Boucher ini juga segera mengingatkan aku akan artikel
Lenin yang profetik, berjudul "Eropa Yang Terbelakang, Asia Yang Maju". Tentu
saja mengingatkan aku akan gerutu Andri di Koperasi.
Eric memulai artikelnya dengan pertanyaan: "Apakah sekarang kita hidup di awal
kemerosotan Eropa yang tak terelakkan? Kemerotan nilai-nilai dan humanismenya?
Akhir dari Dunia Yunani [la fin du monde grec]? Eric selanjutnya menjelaskan
bahwa pertanyaan-pertanyaannya ini berangkat dari latarbelakang krisis
kapitalisme Barat dewasa ini,krisis finansial, krisis Negara Kesejahteraan. Dan
tentu saja ditambah dengan latar keadaan kebangkitan Asia yang tinggal landas
berpolakan model lain, serta munculnya masalah agama di Dunia Arab Musliman
[le monde arabo-musulman].
Latarbelakang lain dari pertanyaan Eric di atas adalah keadaan Perancis
sekarang. Di sini gencar dilakukan pembahasan kritis tentang masalah identitas
Eropa, yang menyangkut masalah humanisme yang dipandang sebagai selubung saja
dari jenis seksual dari kehendak kolonialistis ras putih. Para pengkritik
identitas Eropa berupa humanisme terselubung ini berpendapat bahwa sekarang
sudah saatnya kita menyokong " relativisme kebudayaan" [le relativisme
culturel] -- bsebuah tesis yang bermaksud menjawab Jean-François Mattéi dalam
karyanya "Le Regard Vide. Essai sur l'épuissement de la culture européenne",
Pandangan Hampa. Esai tentang Ketidakerdayaan Budaya Eropa [ Flammarion, Paris,
2007]. Barangkali "relativisme kebudayaan" ini juga diarahkan kepada teori
"hak intervensi atas nama humanisme", yang dibela dan dipraktekkan pada masa
kericuhan di Balkan, oleh Bernard Kouchner, menlu Perancis sekarang.
Pertanyaan hakiki dari masalah, ujar Eric adalah: Apakah antara pembangunan
ekonomi dan demokrasi politik tidak lagi mempunyai tautan? Apakah tidak lagi
mempunyai hubungan tak terpisahkan seperti yang dipahami selama ini?
Sebagai ilustrasi bagi pertanyaan Eric ini, aku masih teringat betapa para
politkolog dan ekonom Perancis mencoba menteoritisasi munculnya "negeri-negeri
naga" [dragon countries] dan "anak naga" di Asia dengan mengatakan bahwa
"diktatur itu berguna"-- teori yang dibantah oleh sarjana-sarjana seperti Samir
Amin, Ngo Manh-lan, Ignacy Sachs dan lain-lain... Masalah demokrasi dan
pembangunan ini juga dibahas oleh Amartya Sen, ekonom penerima Nobel ekonomi.
Untuk lebih menjelaskan pertanyaannya, Eric mengatakan lebih lanjut dalam
artikelnya bahwa "perut kosong akan mendorong orang ke tindak barbar"
sebaliknya "piring yang penuh berisi memungkinkan dialog". "Kenyataan" ini
dilihat oleh Eric lebih jauh bahwa "demokrasi perlu untuk pembangunan", dan
"dalam kata lain, pembangunan yang mulai tumbuh memerlukan demokrasi". Karena
itu model Yunani kita, pada suatu hari akan jadi niscaya, termasuk untuk
Tiongkok, demikian Eric Le Boucher.
Salahkah pandangan demikian? tanya Eric lagi. Ya, agaknya jawaban seperti di
atas, sekarang tidak terlalu meyakinkan lagi. Mengapa?
Paris, Juli 2008
---------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris
[Bersambung.....
Find great new restaurants - Yahoo! Singapore Search.
http://sg.search.yahoo.com/search?p=restaurant+reviews&cs=bz&fr=fp-top
[Non-text portions of this message have been removed]