http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/08/20125599/tim.antarmuka.itb.juarai.imagine.cup.2008

*Vegetarian, Sekarang Jadi Gaya Hidup*


YOGYAKARTA, KAMIS - Menjadi vegetarian adalah gaya hidup, bukan mengikuti
aliran terkait agama tertentu. Alasan utama menjadi vegetarian biasanya demi
kesehatan. Namun di sejumlah negara maju, alasan tadi telah bergeser menjadi
demi lingkungan dan etika.

Sementara di Indonesia, seperti dikemukakan Koordinator Pusat Studi Energi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Prasasto Satwiko, vegetarian banyak
dianggap berkaitan dengan ajaran agama tertentu. Belum dipandang sebagai
gaya hidup.

Kaum vegetarian baru di negara-negara maju sekarang menempatkan lingkungan
dan etika sebagai alasan, ujarnya Kamis (10/7). Lingkungan dipakai sebagai
alasan karena pemakaian energi untuk menghasilkan daging teramat mahal dan
merusak alam.

Sementara etika berhubungan dengan manusia yang mestinya menghargai binatang
sebagai sesama. Dalam bingkai perikemanusiaan, binatang jangan diperlakukan
semena-mena. Sikap semena-mena, termasuk membunuh binatang secara keji, akan
berimbas ke perilaku.

Gaya hidup itu bukan tentang orang yang smakan sayur dan buah karena tak
suka mengonsumsi atau membeli daging. "Tapi tentang orang yang memakan sayur
dan buah karena mereka suka dan mendapat manfaat, " ujar Prasasto yang juga
vegetarian ini.

Proses membunuh hewan dan keterbiasaan manusia melihat penderitaan
hewan-apalagi hewan konsumsi-sedikit banyak berdampak pada perilaku.
Kenyataan membuktikan kaum vegetarian lebih bisa menjaga kestabilan emosi
ketimbang orang yang mengonsumsi daging.

Gaya hidup vegetarian, disampaikan Prasasto, dalam beberapa tahun terakhir,
sudah menjadi tren di negara maju seperti Inggris dan Selandia Baru. Namun
uniknya, Selandia Baru adalah negara pengekspor daging ke banyak negara,
termasuk Indonesia.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke