--- On Fri, 11/7/08, S Manap <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: S Manap <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: SV: [HKSIS] Re: Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "GMNI" <[EMAIL
PROTECTED]>
Date: Friday, 11 July, 2008, 5:05 PM
Ayu Utami di dalam wawancaranya mengatakan: "Pernyataan Pak Taufik Ismail
itu kurang baik karena ia suka memberi stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI
saja". Setelah membaca wawancara Ayu Utami sayapun sebagaimana bung Bismo
menjadi bertanya-tanya dalam hati :Betulkah PKI "suka memberi stigma"?
Untuk masalah ini seharusnya Ayu Utami memberikan penjelasan rinci.Juga
perlu memberikan contoh-contoh kongkrit. Sebab penyamaan Taufik Ismail dengan
PKI bisa menimbulkan berbagai macam tanda tanya, bahkan bisa menyakitkan kedua
belah pihak. Orang-orang PKI tidak akan rela disamakan dengan Taufik Ismail,
karena Taufik Ismail terkenal sebagai seorang sastrawan anti komunis sampai ke
tulang sumsum. (sekedar catatan: benci kepada PKI sampai ke tulang sumsum
adalah istilah/pernyataan dari Suryadi ex Ketua PDI sebelum PDI menjadi PDI
Perjuangan). Bahwa Taufik Ismail anti komunis sampai ke tulang sumsum tidak
ada yang akan meragukannya. Sebaliknya Taufik Ismail akan merasa disakiti kalau
disamakan dengan orang-orang PKI yang telah disingkirkan, dinistakan,
dinajiskan oleh Orde Baru Soeharto yang didukung oleh Taufik Ismail sendiri.
Mana ada dalam masyarakat Indonesia orang yang mau disamakan dengan PKI,
apalagi orang sekaliber Taufik Ismail.
Bukankah segala kejahatan dalam masyarakat, segala perbuatan yang tidak
berguna, segala yang tidak disukai oleh pemerintah Orde Baru diidentikkan,
disamakan atau dituduhkan kepada PKI? Bukankah segala yang berbau PKI berstigma
PKI merupakan barang "haram" di Republik ini?. Apakah ada kaum yang lebih
tersiksa, lebih terhina dari PKI sejak Orde Baru berkuasa yang sepenuhnya
didukung oleh Taufik Ismail?
Siapapun boleh saja mengeluarkan pernyataan, tidak ada yang perlu dilarang.
Hanya saja perlu dipertimbangkan dulu, supaya tidak mengulang-ulangi
pernyataan, tuduhan, fitnahan yang sudah biasa dilakukan oleh orang-orang Orde
Baru selama 32 tahun bahkan sampai sekarang.
Sekedar pelipur lara aku merasa perlu menyanyikan lagu ini:
Bangunlah kaum yang terhina
Bangunlah kaum yang lapar.
Salam
S.Manap.
--- Den fre 2008-07-11 skrev BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED] cz>:
Från: BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED] cz>
Ämne: [HKSIS] Re: Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja
Till: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Kopia: nasional-list@ yahoogroups. com, sastra-pembebasan@ yahoogroups. com,
pepicek-friends@ yahoogroups. com, "HKSIS-Group" <[EMAIL PROTECTED] com>,
"GMNI" <[EMAIL PROTECTED] marhaenis. org>
Datum: fredag 11 juli 2008 07.32
Betulkah PKI "suka memberi stigma"?
Menurut saya kebudayaan-kebudaya an di seluruh dunia sedikit atau
banyak mengolah juga hubungan erotis antara manusia dalam karya-
karya seni budayanya. Sebagai pencerminan hidup manusia sehari-hari
yang "harus" melakukannya karena sebagai ciptaan Tuhan, atau Alam,
terserah percaya yang mana.
Ortodoksi selalu ada dibidang apapun, yang hendak menghalangi dalam
hal ini kebebasan karya. Namun kemajuan masyarakat cepat atau
lambat akan menjadi lancar, karena warga yang makin berpendidikan
biasanya enggan dikekang terus menjadi hipokrit, munafik.
Salam, Bismo DG, Praha
----- Original Message -----
From: masdimas62
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Thursday, July 10, 2008 11:00 AM
Subject: [mediacare] Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja
Ayu Utami:
Taufik Ismail Seperti PKI Saja
Iin Yumiyanti - detikNews
Jakarta - Penyair Taufik Ismail belum lama ini kembali menegaskan
keresahannya akan Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan ini salah satunya
muncul lewat sastra. Mereka yang masuk dalam barisan yang dituding
Taufik adalah para penulis fiksi yang suka mencabul-cabulkan karya.
Salah satunya yang kena tuding adalah Ayu Utami, si pemenang Sayembara
Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 lewat novel fenomenal 'Saman'.
Taufik menyebut si Parasit Lajang ini sebagai pelopor angkatan sastra
Fraksi Alat Kelamin (FAK). Itu gara-gara novel 'Saman' yang ditulis
Ayu yang menabrak tabu seks menjadi trend dan banyak diikuti penulis
lainnya.
Bagaimana pandangan Ayu atas tudingan yang dilontarkan Taufik Ismail?
Di sela-sela memenuhi permintaan penggemar untuk menandatangani novel
'Bilangan Fu' dan foto bersama, Ayu menjawab semua tudingan itu.
Perempuan kelahiran Bogor itu mengaku surprise, karena meskipun ia
dituding sebagai pelopor angkatan sastra Fraksi Alat Kelamin, ternyata
sejumlah penggemarnya yang datang adalah dari kalangan perempuan
berkerudung.
Berikut wawancara Ayu Utami dengan Iin Yumiyanti dari detikcom:
Apa pandangan anda terhadap sastra Indonesia kini? Taufik Ismail belum
lama ini kembali menegaskan munculnya Gerakan Syahwat Merdeka. Apa
pendapat anda?
Pernyataan Pak Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi
stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI saja. Cara-cara seperti itu
kurang sehat. Menurut saya itu terjadi karena pemikiran Pak Taufik
terlalu sederhana, picik.
Saya merasa Pak Taufik seperti ini, seumpama melihat perempuan, dia
kan punya mata, tangan, kaki, tapi Pak Taufik melihatnya kok hanya
dari alat kelaminnya saja. Mengapa yang dia pikir hanya itu? Fokus dia
hanya melihat pada syahwat dan kelamin. Saya pikir ada masalah dengan
fokus Pak Taufik.
Menurut saya, kita boleh saja tidak setuju dengan sesuatu, tapi tidak
boleh dengan memberikan stigma.
Tapi kalau diamati, setelah novel Saman yang anda buat, di dunia
sastra memang seperti kebanjiran tema yang mengangkat masalah seks
secara berani dan kebanyakan ini dilakukan para penulis perempuan.
Tanggapan anda?
Sekarang soal sastra, atau baiklah soal novel. Kalau kita lihat
setelah Saman atau tepatnya setelah reformasi, tiba-tiba novel atau
fiksi yang mengangkat masalah seks meningkat. Ini kita harus
melihatnya secara menyeluruh dan rileks. Jangan dilihat hanya
sepotong-sepotong.
Harus diketahui masa itu kita baru saja mendobrak zaman yang represif.
Situasi chaos dan terjadi euforia kebebasan setelah rezim Orba yang
represif tumbang. Pada masa itu memang terjadi euforia kebebasan,
termasuk masalah seks.
Euforia seks tidak hanya dilakukan sastrawan perempuan, ada juga
laki-laki, Moammar Emka yang membuat Jakarta Undercover, itu kan laris
luar biasa.
Tapi sekarang, setelah 10 tahun, pendulum beralih lagi. Sekarang
pendulumnya pada agama. Setelah masa chaos, orang rindu pada hal-hal
yang berbau spiritual, maka novel seperti Ayat Ayat Cinta pun laris.
Jadi apapun sebenarnya bisa jadi pasar bagi industri, penerbit juga
film. Seks bisa jadi pasar, agama juga bisa.
Jadi menurut anda tidak ada Gerakan Syahwat Merdeka dalam sastra?
Saya tidak setuju dengan tudingan soal Gerakan Syahwat Merdeka. Yang
dituduh itu kan salah satunya saya. Itu pandangan yang picik. Ada
banyak hal dalam tulisan-tulisan saya, mengapa yang dilihat kok hanya
seksnya?.
Maksudnya kalau ada syahwat merdeka, lawannya apa sih? Syahwat
terikat? Itu sadomasokis namanya. Kalau mau menyalurkan syahwat harus
diikat-ikat dulu.
Menurut anda, sebaiknya bagaimana memandang seks?
Seks harus diakui sebagai bagian dari kekuatan manusia. Maka harus
diregulasi dengan baik. Diberi tempat aman, diberi ruang untuk
berfantasi. Silakan mau syahwat merdeka, syahwat terikat, tapi jangan
memberi gembok pada tukang pijat. Silakan saja liar dalam berfantasi,
tapi dalam bertindak tetap dibatasi.
Saya sebetulnya mengajak orang untuk terbuka. Jangan membuat peraturan
karena ketakutan. Kita takut begini lantas kita larang. Di negeri yang
banyak VCD porno tidak semua terjadi perkosaan. Tidak ada relevansi
antara pornografi dengan perkosaan. Kita ambil contoh di Jepang. Di
sana, di restoran yang juga dikunjungi anak-anak , banyak disediakan
komik yang isinya mengerikan sekali, seksnya kasar. Tapi di sana,
jumlah perkosaan tidak tinggi.
Tingkat perkosaan tinggi, justru di mana perempuan sebagai individu
tidak dihargai, dimana perempuan dianggap sebagai obyek.
Saya kira banyak kok laki-laki beradab yang merasa gengsi untuk memerkosa.
Kesimpulannya sastra masih aman-aman saja dan tidak perlu terlalu
dikhawatirkan?
Tidak perlu takut dengan seks. Aku heran, kenapa sih takut pada seks?
Kalau mau tahu, data IKAPI justru memperlihatkan buku yang laku itu
adalah buku pendidikan dan buku agama. Jadi tidak usah takut atau
takut berlebih-lebihan pada seks. Nanti malah jadi neurotis.
------------ --------- - o0o ------------ -----
Kamis, 10/07/2008 08:56 WIB
Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris
Iin Yumiyanti - detikNews
Jakarta - Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang
ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu
dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman'
tersebut.
Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam
acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel
teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan yang
memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998
tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.
Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini
berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku
70 eksemplar lebih.
Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki
pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang
perempuan bernama Marja.
Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai
'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya
sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.
Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan
penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti
apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang?
Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:
Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari mana?
Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik
Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat
karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy
Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.
Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih yang
terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat
tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat
tebing-tebing.
Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada
titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya
akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.
Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?
Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada
masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi.
Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara
beragama yang terlalu formalistis.
Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan
seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah cinta
pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.
Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu
lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada
kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama
ingin mencapai puncak.
Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini
pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat,
bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak.
Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.
Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang
mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan
main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.
Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan
cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.
Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, jalan
yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang
tidak memaksa.
Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama dalam
novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?
Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya
yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang
bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha,
karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu
biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan
cara berbeda.
Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?
Masih.
Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?
Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan.
Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai
Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.
Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya yang
orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi
hatinya memang baik saja.
Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang
menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman
dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?
Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu
mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya
tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang
menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi
saya selalu siap jika novel saya tidak laris.
Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus
sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis
Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.
Apa istimewanya Bilangan Fu?
Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi ada
banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung,
adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba,
dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.
Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung
sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik,
fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu
merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari
terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis
yang saya rasakan di zaman itu.
Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan.
Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu
Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.
Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak
perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.
Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara
klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?
Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya sangat
dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan
tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.
Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film
Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir sebagai
bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan
sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi.
Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.
Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?
Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal
(halamannya) . Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi
perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu
spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya
sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis
pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan kebenarannya
pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang
lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.
Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?
Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat
tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. Lalu
saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan
pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu
tidak puas.
Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa
puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9
bulan penulisan bentuk terakhir.
Biodata:
Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia
Buku yang ditulis:
Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkopplin g.
Sök och jämför priser hos Kelkoo.
______________________________________________________________________
Search, browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel.
http://sg.travel.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]