Sastra Kontekstual
oleh Saut Situmorang*

        Polemik atas apa yang disebut sebagai "sastra kontekstual" 
di media massa terbitan pulau Jawa di pertengahan tahun 1980an bisa 
dikatakan sebagai sebuah peristiwa yang (berpretensi) mempersoalkan 
isu tradisi dan bakat individu dalam sastra Indonesia. Arief Budiman 
dan Ariel Heryanto, kedua tokoh utama yang gencar mempropagandakan 
apa yang oleh Ariel Heryanto disebut sebagai "sastra kontekstual" 
tersebut, yakin bahwa tradisi "bersastra" dalam sastra Indonesia, 
yang mereka klaim sebagai tradisi "sastra universal" itu, merupakan 
tradisi yang "tidak berakar" dalam realitas kehidupan 
Indonesia, "kebarat-baratan", makanya "teralienasi", "menjadi asing 
di negerinya sendiri" (lihat buku Perdebatan Sastra Kontekstual, 
1985, susunan Ariel Heryanto). Apa yang jadi masalah dalam sastra 
Indonesia, menurut Arief Budiman, misalnya, adalah "kenyataan" 
bahwa "sastra Indonesia tidak akrab dengan publiknya. Atau lebih 
tepat, publiknya adalah kritikus-kritikus yang berwawasan 
kesusastraan Barat". Karena itu, sastra Indonesia "ibarat pohon, dia 
tidak bisa tumbuh, karena tidak punya tanah. Dia hanya menggapai-
gapai ke atas. Sedangkan akarnya tidak menyentuh tanah". Sastrawan 
Indonesia, menurut Arief Budiman lagi, menulis hanya untuk "audience 
yang ada di Barat", "sastrawan-sastrawan atau kritisi Barat", tapi 
ironisnya justru "tidak diakui oleh dunia Barat", yang oleh Arief 
direpresentasikan oleh Hadiah Nobel Sastra yang belum pernah 
dimenangkan oleh sastrawan Indonesia itu, sehingga akibatnya secara 
psikologis sastrawan Indonesia memiliki karakter kombinasi 
dari "perasaan megalomaniak dan rendah diri". Megalomaniak karena 
membodoh-bodohkan bangsanya sendiri yang gagal menghargai karya 
sastranya, dan rendah diri karena karyanya belum dapat dihargai oleh 
orang-orang Barat. Demikianlah "kritik sosiologi sastra" ala 
sosiolog Arief Budiman.

Membaca kembali tulisan-tulisan Arief Budiman dalam buku Perdebatan 
Sastra Kontekstual tersebut ada beberapa hal yang mencengangkan 
saya, terutama kalau saya mempertimbangkan reputasi Arief Budiman di 
dunia intelektual Indonesia selama periode Orde Baru. Reputasi Arief 
Budiman yang saya maksudkan itu mungkin akan lebih jelas teruraikan 
dengan kutipan pendapat Ariel Heryanto dari bagian "pendahuluan" 
buku Perdebatan Sastra Kontekstual di bawah ini:

Arief Budiman mempunyai kombinasi kualitas yang jarang sekali 
dimiliki oleh warga masyarakat kita pada umumnya. Ia tidak hanya 
populer di kalangan pengamat "sastra" (atau "seni" umumnya) di 
Indonesia masa ini, tetapi juga kaum sekolahan yang menjadi bagian 
(ter)penting dari pembaca media-massa, termasuk mereka yang tidak 
benar-benar tertarik pada masalah "sastra". Ia tidak saja berotak 
cemerlang dan berkepribadian kokoh. Gagasan-gagasannya yang segar 
dan tajam berkali-kali menimbulkan kontroversi besar di antara para 
cendekiawan.

Dengan mengutip secara panjang pendapat Ariel di atas tentang sosok 
intelektual Arief Budiman, saya hanya ingin menekankan betapa 
besarnya kekecewaan intelektual saya waktu membaca tulisan-
tulisannya tentang "sastra kontekstual" dalam buku susunan Ariel 
tersebut. Pertama, Arief Budiman mengklaim bahwa apa yang ingin 
dikemukakannya dalam ceramahnya "Sastra yang Berpublik" di Sarasehan 
Seni di Solo, 28 Oktober 1984, yang menjadi pemicu terjadinya 
perdebatan sastra kontekstual tersebut adalah "mengenai sosiologi 
kesenian". Dia bahkan yakin bahwa apa "Yang saya bahas kebanyakan 
berlaku untuk kesusastraan, tapi saya kira untuk batas-batas 
tertentu juga merupakan persoalan di bidang kesenian umumnya". 
Persoalan itu adalah persoalan "kesusastraan", atau seni, "yang 
berpublik". Atau apa yang oleh Ariel Heryanto disebut 
sebagai "sastra kontekstual" itu.

Bagi saya, pembicaraan Arief Budiman, baik dalam ceramahnya itu 
maupun di tulisan-tulisannya di media massa setelah itu, bukanlah 
sebuah "sosiologi kesenian". Terlalu gampang dia mengklaim pendapat-
pendapatnya tersebut sebagai sebuah "sosiologi" hanya karena dia 
dikenal sebagai seorang "sosiolog". Apa yang dinyatakannya tentang 
sastra Indonesia dalam semua tulisannya pada dasarnya hanya klaim-
klaim asersif, atau kesimpulan-kesimpulan mentah, yang satu kali pun 
tidak pernah (mampu) dibuktikannya. Misalnya pernyataannya bahwa 
(tradisi) sastra Indonesia adalah "sastra universal" yang "tidak 
berakar" dalam realitas kehidupan Indonesia. Apa sebenarnya yang 
dimaksudkannya dengan "sastra universal" itu? Apakah sastra 
di "Barat" memang merupakan contoh dari "sastra universal" yang 
dimaksudkannya? Apa kriterianya? Juga, "Barat" yang mana yang dia 
maksud sebagai "Barat" dalam pernyataan-pernyataan xenofobiknya itu: 
Amerika Serikat, Eropa Barat, Eropa Timur yang dalam konteks 
terjadinya perdebatan sastra kontekstual itu merupakan bagian dari 
imperium Uni Soviet? Apakah sastra Selandia Baru yang berbahasa 
Inggris yang kuat unsur budaya lokal Maorinya itu, misalnya, 
termasuk "sastra Barat" itu? Atau karya-karya para sastrawan Afro-
Amerika seperti Langston Hughes, Ralph Ellison, Alice Walker, dan 
Toni Morrison? Arief juga mengklaim bahwa Hadiah Nobel Sastra 
merupakan semacam standar artistik bagi apa yang disebutnya 
sebagai "sastra universal", "sastra yang kebarat-baratan" itu, 
sambil melecehkan kenyataan betapa Tagore dari India dan Kawabata 
dari Jepang juga mendapatkan penghargaan Nobel dengan menyatakan 
bahwa kedua sastrawan Asia ini dipilih karena "sedikit banyak mereka 
memenuhi standar penulisan orang-orang di dunia Barat"! Tapi Arief 
Budiman lagi-lagi tidak mampu menjelaskan apa yang dimaksudkannya 
sebagai "standar penulisan orang-orang di dunia Barat" itu, atau 
paling tidak apa karakteristik karya sastra yang jadi pemenang 
Hadiah Nobel Sastra. Bagaimana kita bisa percaya bahwa dia memang 
sedang melakukan sebuah "sosiologi kesenian" kalau isi dari semua 
pembicaraannya cuma repetisi dari klaim-klaim asersif yang tanpa 
bukti-bukti alias tergantung pada kata hatinya belaka! Kekecewaan 
kedua saya adalah bahwa kegagalan teoritis ini makin diperparah oleh 
kenyataan betapa Arief Budiman, dan Ariel Heryanto, malah tidak 
mampu memberikan elaborasi konseptual atas apa sebenarnya yang 
mereka maksud sebagai "sastra kontekstual" itu sendiri, kecuali 
bahwa "sastra kontekstual" itu adalah "sastra yang 
berpublik", "sastra yang tidak kebarat-baratan", "sastra yang 
berpijak di bumi"! Ketimbang memberikan penjelasan, kita malah 
dicekoki dengan slogan-slogan yang cuma makin mengaburkan isu apa 
sebenarnya yang ingin mereka bicarakan.

Terakhir, kalau kita bandingkan "bahasa" yang dipakai Arief Budiman 
dalam "perdebatan" tentang "sastra kontekstual" dengan bahasa S 
Takdir Alisjahbana dan lawan-lawannya dalam Polemik Kebudayaan di 
tahun 1930an, maka terlihatlah betapa parahnya kemerosotan "bahasa 
intelektual" Arief Budiman. Bukan saja dia mengulang-ulang-tanpa-
elaborasi apa-apa yang sudah pernah dinyatakannya sebelumnya, dia 
juga terjatuh kepada bahasa vulgar yang sangat tidak sesuai dengan 
pretensi sosiologis tulisan-tulisannya, seperti pemakaian istilah-
istilah kolokuial semacam "megalomaniak", "astaga, tahi kerbo apa 
ini!", atau "teler minum bir". Terutama soal "teler minum bir" ini, 
dari mana Arief Budiman tahu bahwa kalau seseorang itu menulis esei, 
sebaiknya dia tidak dalam keadaan mabuk bir? Apakah ini juga 
merupakan bagian dari "sosiologi sastra" ala Arief Budiman atau 
sekedar sebuah catatan pinggir otobiografis?!

Persoalan "sosiologi sastra" adalah sebuah persoalan kontekstual 
dalam dunia sastra di mana saja, kapan saja. Merupakan sebuah 
persoalan universal sastra. Dari perspektif "kritik sastra", sastra 
adalah sesuatu yang otonom, sebuah dunia sendiri, dan harus dipahami 
melalui struktur intrinsiknya, atau arsitektur tekstualnya, seperti 
imajeri, metafor, irama, penokohan, alur cerita, dan sebagainya, 
atau apa yang oleh kaum Formalis Rusia disebut 
sebagai "kesastraan"nya. Menyatakan bahwa sastra hanyalah ekspresi 
dari kepentingan kelas sosial belaka, atau cuma sebuah epifenomena 
dari struktur sosial, atau sebuah refleksi/cermin dari kehidupan 
atau zaman sang pengarang, seperti yang umumnya dilakukan 
dalam "sosiologi sastra", tentu saja akan menimbulkan resistensi 
yang kuat dari kalangan sastra(wan), seperti yang terjadi dalam 
polemik Sastra Kontekstual tersebut. Apalagi kalau menganggap bahwa 
hanya faktor-faktor ekstrinsik demikian merupakan kunci dalam 
pemahaman/penafsiran, bahkan sebagai (keharusan) kredo penciptaan, 
karya sastra seperti yang dipropagandakan oleh Arief Budiman dan 
Ariel Heryanto jelas merupakan sebuah reduksionisme konseptual yang 
sangat tidak adil atas sastra(wan). Juga merupakan sebuah pelecehan 
tekstual karena sastra telah digusur-paksa dari habitatnya, yaitu 
Seni, menjadi cuma sekedar sebuah dokumen sosial belaka – sama 
dengan berita kriminal di koran atau laporan perjalanan di majalah – 
seperti pada pemakaian tanda-kutip pada istilah "sastra" oleh Ariel 
Heryanto. Akan menarik sekali untuk mengetahui apa seorang sosiolog 
akan rela menerima hasil riset akademisnya tentang korupsi di 
Indonesia, misalnya, cuma dianggap tidak lebih bernilai ketimbang 
sebuah episode sinetron yang bertema sama.

Kelemahan lain dari konsep "sastra kontekstual" ala Arief Budiman 
dan Ariel Heryanto adalah persoalan: siapa yang bisa menentukan 
bahwa "tokoh-tokoh" ataupun "realitas sosial" dalam sebuah 
karya "sastra kontekstual" memang benar-benar 
merupakan "representasi sebenarnya" dari kontekstualisme sastra 
dimaksud? Apa kriteria untuk menentukannya? Isu-isu penting semacam 
ini tak pernah sekalipun melintas dalam pemikiran kedua 
kontekstualis ini, apalagi sampai mereka membicarakannya.

Pemahaman mekanistik atas hubungan antara sastra dan masyarakat 
seperti yang ditawarkan konsep "sastra kontekstual" merupakan 
sebuah "sosiologi sastra" yang sangat dogmatis-skematis, kalau tidak 
mau dikatakan cuma sebuah pseudo-sosiologi-sastra belaka. Ini dengan 
mudah bisa dilihat hanya dari tuduhan-tuduhan yang dilakukan Arief 
Budiman atas sastra(wan) Indonesia pada judul tulisan-tulisannya 
yang berkesan sangat sensasional itu. Ada baiknya saya ingatkan di 
sini bahwa Marx, Engels dan Trotsky (tiga tokoh utama sosiologi seni 
Marxis) pun tidak begitu dogmatis dalam "sosiologi sastra" mereka. 
Walaupun Marx dan Engels tidak pernah menciptakan sebuah teori 
tentang hubungan sastra dan masyarakat, tapi cukup banyak 
terdapat "catatan" yang menunjukkan betapa mereka tidak selalu 
menganggap status sastra hanya sebagai cermin dari proses sosial 
semata. Dalam tulisan mereka yang sangat terkenal, Manifesto 
Komunis, mereka menyatakan bahwa kapitalisme adalah representasi 
dari tahap produksi sosial yang paling maju, sebuah formasi sosial 
yang progresif. Dan kalau dikaitkan dengan sastra, maka hal ini 
mengisyaratkan mustahilnya keberadaan sebuah sastra nasional yang 
mandiri karena kapitalisme mengembangkan berbagai sastra nasional 
dan lokal menjadi sebuah "sastra dunia", sastra yang melampaui kelas 
sosial, daerah, dan kebangsaan, dan yang berbicara kepada manusia di 
mana saja. Atau "sastra universal", dalam istilah Arief Budiman dan 
Ariel Heryanto. Engels sendiri, misalnya, menyatakan bahwa dalam 
sebuah karya sastra yang politis, tendensi politis pengarang 
sebaiknya implisit saja; ideologi politik bukanlah persoalan utama 
seniman dan karya itu sendiri pun diuntungkan kalau pandangan 
pengarangnya tetap tersembunyi. Menurut Engels lagi, tema sebuah 
novel mesti muncul dengan alami dari situasi dan peristiwa yang 
diceritakan di dalam novel tersebut. Karena, "tak ada keharusan bagi 
pengarang untuk menyediakan kepada pembacanya penyelesaian atas 
konflik sosial yang diceritakannya". Sementara itu dalam 
pembelaannya atas kaum Formalis Rusia yang diejek-ejek Lunacharsky, 
Komisar Pendidikan dan Seni Uni Soviet pertama di zaman Lenin, 
sebagai sebuah "peninggalan budaya dari zaman pra-Rusia 
Revolusioner", sebuah "eskapisme", dan sebuah "ideologi dekaden", 
Trotsky menyatakan persetujuannya dengan pandangan kaum Formalis 
tersebut bahwa penilaian utama atas teks sastra mestilah didasarkan 
pada kualitas sastranya, bahwa seni memiliki aturan-aturannya 
sendiri, dan sosiologi Marxis tidak bisa melampaui penilaian estetik.

Sebuah "sosiologi sastra" yang "kontekstual" dengan dirinya sebagai 
sosiologi "sastra" tidak dapat mereduksi sastra menjadi sekedar 
cermin dari masyarakatnya semata, menjadi cuma sebuah dokumen sosial 
belaka, dengan mengesampingkan status sastra sebagai seni, seperti 
yang diyakini Ariel Heryanto. Begitu juga dengan pandangan absolutis-
idiosinkratik Arief Budiman bahwa "pada dasarnya semua sastra adalah 
kontekstual", yang bermakna bahwa sastra hanyalah sekedar refleksi 
dari romantika kelas sosial, terbatas publik penikmatnya tergantung 
hanya kepada siapa sang pengarang mengalamatkan karangannya, terlalu 
superfisial untuk bisa diterima sebagai sebuah "sosiologi" sastra 
karena menyiratkan bahwa selera seni, atau selera keindahan (sense 
of beauty), berbanding lurus dengan isi kocek dan warna kulit 
seseorang. Kecuali hitam-putih, tak ada warna lain dalam estetika 
Arief Budiman, tak ada nuansa kebenaran lain dalam 
positivisme "sosiologi"nya. Pertanyaan terakhir yang ingin saya 
ajukan kepada beliau, dan Ariel Heryanto, sambil menutup esei ini 
adalah bagaimana Anda akan menjelaskan betapa Shakespeare begitu 
universal kepopulerannya, sejak abad 17 sampai sekarang dan di mana-
mana, termasuk di Indonesia, mirip dengan universalnya 
kepopuleran "sosiologi", ilmu pengetahuan yang sangat kebarat-
baratan itu?

*Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta

http://sautsitumorang.multiply.com/
http://sautsitumorang.wordpress.com/


Kirim email ke