Sepertinya ada kekeliruan penafsiran dari wartawan Detiknews saat mewawancarai 
Ayu Utami (semoga bukan upaya memelintir atau adu domba). Ayu yang memahami 
sejarah perpolitikan Indonesia tentunya paham bahwa yang memberi stigma adalah 
pemerintahan Orba. Dan PKI-lah yang menjadi salah satu korbannya. PKI sendiri 
tak sempat berkuasa di Indonesia karena keburu dibumihanguskan.

Kalau menyebutnya komunis, mungkin masih bisa diterima akal sehat. Semisal 
kejadian-kejadian buruk saat komunis berkuasa di Soviet Union, ex negara-negara 
Eropa Timur, dan Daratan Cina. Tapi itu kan contoh yang terlalu jauh, bukan 
Indonesia banget.

Jadi kalau disebut Taufiq Ismail suka memberikan stigma seperti pejabat Orba, 
saya setuju sekali....


salam,


rd




 


  ----- Original Message ----- 
  From: sautsitumorang 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Friday, July 11, 2008 11:44 PM
  Subject: [publikseni] Fwd: SV: [HKSIS] Re: Ayu Utami : Taufik Ismail seperti 
PKI saja


  --- In [EMAIL PROTECTED], S Manap <[EMAIL PROTECTED]> 
  wrote:

  Â Â  Ayu Utami di dalam wawancaranya mengatakan: "Pernyataan Pak 
  Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi stigma. Itu 
  sama seperti orang-orang PKI saja". Setelah membaca wawancara Ayu 
  Utami sayapun  sebagaimana bung Bismo menjadi bertanya-tanya dalam 
  hati :Betulkah PKI "suka memberi stigma"?
  Â Â  Untuk masalah ini seharusnya Ayu Utami memberikan penjelasan 
  rinci.Juga perlu memberikan contoh-contoh kongkrit. Sebab penyamaan 
  Taufik Ismail dengan PKI bisa menimbulkan berbagai macam tanda 
  tanya, bahkan bisa menyakitkan kedua belah pihak. Orang-orang PKI 
  tidak akan rela disamakan dengan Taufik Ismail, karena Taufik Ismail 
  terkenal sebagai seorang sastrawan anti komunis sampai ke tulang 
  sumsum. (sekedar catatan: benci kepada PKI sampai ke tulang sumsum 
  adalah istilah/pernyataan dari Suryadi ex Ketua PDI sebelum PDI 
  menjadi PDI Perjuangan).  Bahwa Taufik Ismail anti komunis sampai 
  ke tulang sumsum tidak ada yang akan meragukannya. Sebaliknya 
  Taufik Ismail akan merasa disakiti kalau disamakan dengan orang-
  orang PKI yang telah disingkirkan,  dinistakan, dinajiskan oleh 
  Orde Baru Soeharto yang didukung oleh Taufik Ismail sendiri. Mana 
  ada dalam masyarakat Indonesia orang yang mau disamakan dengan PKI, 
  apalagi orang sekaliber Taufik Ismail.
  Bukankah segala kejahatan dalam masyarakat, segala perbuatan yang 
  tidak berguna, segala yang tidak disukai oleh pemerintah Orde Baru 
  diidentikkan, disamakan atau dituduhkan kepada PKI? Bukankah segala 
  yang berbau PKI berstigma PKIÂ  merupakan barang "haram" di Republik 
  ini?. Apakah ada kaum yang lebih tersiksa, lebih terhina dari PKI 
  sejak Orde Baru berkuasa yang sepenuhnya didukung oleh Taufik Ismail?
  Â  Siapapun boleh saja mengeluarkan pernyataan, tidak ada yang perlu 
  dilarang. Hanya saja perlu dipertimbangkan dulu, supaya tidak 
  mengulang-ulangi pernyataan, tuduhan, fitnahan yang sudah biasa 
  dilakukan oleh orang-orang Orde Baru selama 32 tahun bahkan sampai 
  sekarang.
  Â  Sekedar pelipur lara aku merasa perlu menyanyikan lagu ini:
  Â Â  Bangunlah kaum yang terhina
  Â Â  Bangunlah kaum yang lapar.
  Â Â Â  Salam
  Â Â Â  S.Manap.
  Â 
  Â Â Â  
  Â Â 
  Â  

  --- Den fre 2008-07-11 skrev BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED]>:

  Från: BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED]>
  Ã"mne: [HKSIS] Re: Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja
  Till: [EMAIL PROTECTED]
  Kopia: [EMAIL PROTECTED], sastra-
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "HKSIS-
  Group" <[EMAIL PROTECTED]>, "GMNI" <[EMAIL PROTECTED]>
  Datum: fredag 11 juli 2008 07.32

  Betulkah PKI "suka memberi stigma"?
  Menurut saya kebudayaan-kebudayaan di seluruh dunia sedikit atau 
  banyak mengolah juga hubungan erotis antara manusia dalam karya-
  karya seni budayanya. Sebagai pencerminan hidup manusia sehari-hari
  yang "harus" melakukannya karena sebagai ciptaan Tuhan, atau Alam,
  terserah percaya yang mana. 
  Ortodoksi selalu ada dibidang apapun, yang hendak menghalangi dalam 
  hal ini kebebasan karya. Namun kemajuan masyarakat cepat atau 
  lambat akan menjadi lancar, karena warga yang makin berpendidikan 
  biasanya  enggan dikekang terus menjadi hipokrit, munafik. 
  Â 
  Salam, Bismo DG, Praha
  Â 

  ----- Original Message ----- 
  From: masdimas62 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, July 10, 2008 11:00 AM
  Subject: [mediacare] Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja

  Ayu Utami:
  Taufik Ismail Seperti PKI Saja

  Iin Yumiyanti - detikNews

  Jakarta - Penyair Taufik Ismail belum lama ini kembali menegaskan
  keresahannya akan Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan ini salah satunya
  muncul lewat sastra. Mereka yang masuk dalam barisan yang dituding
  Taufik adalah para penulis fiksi yang suka mencabul-cabulkan karya.

  Salah satunya yang kena tuding adalah Ayu Utami, si pemenang 
  Sayembara
  Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 lewat novel fenomenal 'Saman'.
  Taufik menyebut si Parasit Lajang ini sebagai pelopor angkatan sastra
  Fraksi Alat Kelamin (FAK). Itu gara-gara novel 'Saman' yang ditulis
  Ayu yang menabrak tabu seks menjadi trend dan banyak diikuti penulis
  lainnya.

  Bagaimana pandangan Ayu atas tudingan yang dilontarkan Taufik Ismail?
  Di sela-sela memenuhi permintaan penggemar untuk menandatangani novel
  'Bilangan Fu' dan foto bersama, Ayu menjawab semua tudingan itu.

  Perempuan kelahiran Bogor itu mengaku surprise, karena meskipun ia
  dituding sebagai pelopor angkatan sastra Fraksi Alat Kelamin, 
  ternyata
  sejumlah penggemarnya yang datang adalah dari kalangan perempuan
  berkerudung.

  Berikut wawancara Ayu Utami dengan Iin Yumiyanti dari detikcom:

  Apa pandangan anda terhadap sastra Indonesia kini? Taufik Ismail 
  belum
  lama ini kembali menegaskan munculnya Gerakan Syahwat Merdeka. Apa
  pendapat anda?

  Pernyataan Pak Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi
  stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI saja. Cara-cara seperti itu
  kurang sehat. Menurut saya itu terjadi karena pemikiran Pak Taufik
  terlalu sederhana, picik.

  Saya merasa Pak Taufik seperti ini, seumpama melihat perempuan, dia
  kan punya mata, tangan, kaki, tapi Pak Taufik melihatnya kok hanya
  dari alat kelaminnya saja. Mengapa yang dia pikir hanya itu? Fokus 
  dia
  hanya melihat pada syahwat dan kelamin. Saya pikir ada masalah dengan
  fokus Pak Taufik.

  Menurut saya, kita boleh saja tidak setuju dengan sesuatu, tapi tidak
  boleh dengan memberikan stigma.

  Tapi kalau diamati, setelah novel Saman yang anda buat, di dunia
  sastra memang seperti kebanjiran tema yang mengangkat masalah seks
  secara berani dan kebanyakan ini dilakukan para penulis perempuan.
  Tanggapan anda?

  Sekarang soal sastra, atau baiklah soal novel. Kalau kita lihat
  setelah Saman atau tepatnya setelah reformasi, tiba-tiba novel atau
  fiksi yang mengangkat masalah seks meningkat. Ini kita harus
  melihatnya secara menyeluruh dan rileks. Jangan dilihat hanya
  sepotong-sepotong.

  Harus diketahui masa itu kita baru saja mendobrak zaman yang 
  represif.
  Situasi chaos dan terjadi euforia kebebasan setelah rezim Orba yang
  represif tumbang. Pada masa itu memang terjadi euforia kebebasan,
  termasuk masalah seks.

  Euforia seks tidak hanya dilakukan sastrawan perempuan, ada juga
  laki-laki, Moammar Emka yang membuat Jakarta Undercover, itu kan 
  laris
  luar biasa.

  Tapi sekarang, setelah 10 tahun, pendulum beralih lagi. Sekarang
  pendulumnya pada agama. Setelah masa chaos, orang rindu pada hal-hal
  yang berbau spiritual, maka novel seperti Ayat Ayat Cinta pun laris.

  Jadi apapun sebenarnya bisa jadi pasar bagi industri, penerbit juga
  film. Seks bisa jadi pasar, agama juga bisa.

  Jadi menurut anda tidak ada Gerakan Syahwat Merdeka dalam sastra?

  Saya tidak setuju dengan tudingan soal Gerakan Syahwat Merdeka. Yang
  dituduh itu kan salah satunya saya. Itu pandangan yang picik. Ada
  banyak hal dalam tulisan-tulisan saya, mengapa yang dilihat kok hanya
  seksnya?.

  Maksudnya kalau ada syahwat merdeka, lawannya apa sih? Syahwat
  terikat? Itu sadomasokis namanya. Kalau mau menyalurkan syahwat harus
  diikat-ikat dulu.

  Menurut anda, sebaiknya bagaimana memandang seks?

  Seks harus diakui sebagai bagian dari kekuatan manusia. Maka harus
  diregulasi dengan baik. Diberi tempat aman, diberi ruang untuk
  berfantasi. Silakan mau syahwat merdeka, syahwat terikat, tapi jangan
  memberi gembok pada tukang pijat. Silakan saja liar dalam berfantasi,
  tapi dalam bertindak tetap dibatasi.

  Saya sebetulnya mengajak orang untuk terbuka. Jangan membuat 
  peraturan
  karena ketakutan. Kita takut begini lantas kita larang. Di negeri 
  yang
  banyak VCD porno tidak semua terjadi perkosaan. Tidak ada relevansi
  antara pornografi dengan perkosaan. Kita ambil contoh di Jepang. Di
  sana, di restoran yang juga dikunjungi anak-anak , banyak disediakan
  komik yang isinya mengerikan sekali, seksnya kasar. Tapi di sana,
  jumlah perkosaan tidak tinggi.

  Tingkat perkosaan tinggi, justru di mana perempuan sebagai individu
  tidak dihargai, dimana perempuan dianggap sebagai obyek.

  Saya kira banyak kok laki-laki beradab yang merasa gengsi untuk 
  memerkosa.

  Kesimpulannya sastra masih aman-aman saja dan tidak perlu terlalu
  dikhawatirkan?

  Tidak perlu takut dengan seks. Aku heran, kenapa sih takut pada seks?
  Kalau mau tahu, data IKAPI justru memperlihatkan buku yang laku itu
  adalah buku pendidikan dan buku agama. Jadi tidak usah takut atau
  takut berlebih-lebihan pada seks. Nanti malah jadi neurotis.

  ------------ --------- - o0o ------------ -----

  Kamis, 10/07/2008 08:56 WIB
  Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris
  Iin Yumiyanti - detikNews

  Jakarta - Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang
  ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu
  dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman'
  tersebut.

  Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam
  acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel
  teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan 
  yang
  memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998
  tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.

  Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini
  berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku
  70 eksemplar lebih.

  Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki
  pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang
  perempuan bernama Marja.

  Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai
  'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya
  sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.

  Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan
  penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti
  apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang?
  Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu 
  Utami:

  Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari 
  mana?

  Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik
  Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat
  karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy
  Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.

  Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih 
  yang
  terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat
  tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat
  tebing-tebing.

  Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada
  titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya
  akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.

  Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?

  Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada
  masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi.
  Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara
  beragama yang terlalu formalistis.

  Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan
  seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah 
  cinta
  pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.

  Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu
  lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada
  kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama
  ingin mencapai puncak.

  Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini
  pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat,
  bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak.
  Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.

  Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang
  mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan
  main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.

  Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan
  cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.

  Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, 
  jalan
  yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang
  tidak memaksa.

  Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama 
  dalam
  novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?

  Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya
  yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang
  bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha,
  karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu
  biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan
  cara berbeda.

  Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?

  Masih.

  Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?

  Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan.
  Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai
  Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.

  Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya 
  yang
  orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi
  hatinya memang baik saja.

  Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang
  menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman
  dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?

  Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu
  mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya
  tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang
  menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi
  saya selalu siap jika novel saya tidak laris.

  Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus
  sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis
  Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.

  Apa istimewanya Bilangan Fu?

  Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi 
  ada
  banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung,
  adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba,
  dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.

  Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung
  sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik,
  fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu
  merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari
  terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis
  yang saya rasakan di zaman itu.

  Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan.
  Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu
  Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.

  Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak
  perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.

  Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara
  klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?

  Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya 
  sangat
  dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan
  tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.

  Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film
  Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir 
  sebagai
  bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan
  sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi.
  Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.

  Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?

  Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal
  (halamannya) . Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi
  perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu
  spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya
  sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis
  pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan 
  kebenarannya
  pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang
  lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.

  Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?

  Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat
  tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. 
  Lalu
  saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan
  pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu
  tidak puas.

  Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa
  puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9
  bulan penulisan bentuk terakhir.

  Biodata:

  Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
  Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
  Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia
  Buku yang ditulis:

  Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
  Larung
  Parasit Lajang
  Sidang Susila
  Bilangan Fu

  __________________________________________________________
  Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
  Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
  http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

  [Non-text portions of this message have been removed]

  --- End forwarded message ---



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke