Waduh waduh Si Pit rupanya penyiar radio Dakta yang tiap hari gemar menyebarkan 
ajaran kebencian....
Ntu radio suka didengerin ame Si Pit dan Mpok Rodiye di atas pohon pas lagi gak 
siaran......
 
Sampe-sampe mau nulis Data, jadinya Dakta deh....
 
Dazar Si Pit
 


www.mediacare.biz

--- On Wed, 7/9/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: si pitung <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [ppiindia] Dana Teroris Dicurigai Masuk Lewat Infak dan Zakat
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 9, 2008, 12:37 AM






pengamat berbicara tanpa dakta & fakta, mirip ibu2 PKK lg arisan aja, 
ngegossiiip truz!

Rabu, 09 Juli 2008

Ajaran Zakat Diserang

Muncul tuduhan digunakan untuk aksi terorisme.

SEMARANG -- Meski mengaku bicara tanpa fakta, pengamat intelijen Dr
Wawan Hari Purwanto melempar wacana ke publik bahwa dana zakat, infak,
dan shadaqah (ZIS) yang terkumpul dari umat Islam di Indonesia perlu
diteliti ''untuk memutus pendanaan teroris'', yang dikutip media di Jawa
Tengah (Jateng). Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam teror opini ini.

MUI menilai pernyataan Wawan sangat tendensius dan telah menyakiti umat
Islam di Indonesia. Sebab, dana ZIS selama ini hanyalah untuk
memberdayakan ekonomi dari dan untuk umat Islam. Bahkan, menjadi tulang
punggung pemberdayaan fakir miskin atau kaum dhuafa yang dianjurkan
Alquran dan Hadis.

''Sangat menyakiti umat Islam jika zakat dituding untuk membiayai
kegiatan terorisme,'' ungkap Ketua MUI Jateng, KH Drs Ahmad Darodji MSi,
kepada Republika, di Semarang, Selasa (8/7). Wawan dituntut menjelaskan
aliran dana zakat dari mana, dikelola oleh badan amil zakat (BAZ) atau
lembaga amil zakat (LAZ) mana yang diduga digunakan untuk mendanai
kegiatan terorisme. ''Dia harus mengklarifikasi agar tidak menimbulkan
fitnah dan kesalahpahaman masyarakat terhadap lembaga ZIS. Badan
Intelijen Negara (BIN) pun harus menegur Wawan yang telah menyudutkan
umat Islam,'' katanya.

Jelas arahnya

Di Jakarta, Sekretaris Umum MUI, Ichwan Syam, menduga pernyataan Wawan
dikeluarkan untuk menciptakan stigma negatif terhadap sistem zakat yang
mampu mengangkat derajat ekonomi kaum Muslim. Ia meminta umat Islam
untuk berhati-hati.

Perbuatan seperti itu, menurut Ichwan, memang sedang banyak dilakukan
oleh musuh Islam atau yang diperalat oleh mereka yang membenci Islam.
Tujuannya untuk mendegradasikan ajaran-ajaran Islam. Sebelumnya,
degradasi telah dilakukan terhadap ajaran jihad. ''Sekarang giliran
ajaran zakat yang diserang. Jangan-jangan ini hanya pancingan. Mungkin
nanti ajaran shalat dan sedekah ikut diserang,'' kata Iwan kepada
Republika, di Jakarta, Selasa (8/7).

Saat ini, lanjut Ichwan, tren isu terorisme sedang marak. Kalau Wawan
tidak bisa membuktikan pernyataannya dengan bukti-bukti yang autentik,
bisa dipastikan dia membonceng isu terorisme ini untuk menyudutkan
ajaran Islam. ''Dia harus dituntut membuktikan pernyataannya. '' Dalam
Islam, jelas Ichwan, pembagian zakat harus sesuai asnaf yang jelas.
Berdasarkan praktiknya di Indonesia, zakat ini lebih banyak disalurkan
untuk fakir miskin, pekerjaan sosial seperti sabilillah, rumah ibadah,
dan pendidikan.

Semua itu sudah jelas diatur oleh agama. ''Orang lain menduga kita bisa
menipu-nipu agama sendiri,'' kata Ichwan. Menanggapi protes keras MUI,
Wawan Hari Purwanto mengakui belum memiliki fakta adanya kegiatan
terorisme di Indonesia yang dibiayai dari dana ZIS. ''Saya harap umat
Islam tak tersinggung dengan pernyataan itu. Saya tak menuduh siapa pun.
Apa yang saya sampaikan itu hanya sebuah early warning (peringatan
dini). Jangan sampai uang ZIS digunakan untuk kegiatan seperti itu,''
paparnya.

Pengamat intelijen dan anggota Komisi III DPR, Suripto (Fraksi PKS),
menganggap tudingan dana zakat untuk terorisme terlalu jauh. Namun,
wacana tersebut jelas arahnya, yaitu untuk menghancurkan citra institusi
zakat dan membuat masyarakat Muslim enggan berzakat. ''Harusnya kalau
memberikan analisis disertai dengan fakta-fakta. Jangan sampai
masyarakat menjadi enggan berzakat gara-gara takut digunakan untuk
kegiatan terorisme,'' tandas Suripto. owo/djo/dwo/ hri

----- Original Message ----
From: mediacare <[EMAIL PROTECTED] net.id>
To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com; [EMAIL PROTECTED] s.com; 
jurnalperempuan@ yahoogroups. com; zamanku <[EMAIL PROTECTED] .com>; media 
jakarta <media-jakarta@ yahoogroups. com>; media jabar <media-jabar@ 
yahoogroups. com>; media jatim <media-jatim@ yahoogroups. com>; media jogja 
<media-jogja@ yahoogroups. com>
Sent: Saturday, July 5, 2008 4:46:23 PM
Subject: [ppiindia] Dana Teroris Dicurigai Masuk Lewat Infak dan Zakat

Pengamat Intelijen: 
Dana Teroris Dicurigai Masuk Lewat Infak dan Zakat

Oleh
Rafael Sebayang

Jakarta - Pengamat intelijen Wawan Purwanto mensinyalir dana teroris masuk 
melalui infak dan zakat. Untuk itu diperlukan pengawasan terhadap 
sumbangan-sumbangan dalam bentuk infak dan zakat itu.

"Yang sangat kita khawatirkan adalah pengawasan terhadap sumbangan-sumbangan 
dalam bentuk infak dan zakat menjadi sumber dana baru mereka. Dana-dana 
tersebut sebenarnya halal namun digunakan oleh kelompok-kelompok mereka yang 
berkamuflase atas nama agama untuk melanggar hukum. Bagi teroris itu, dana itu 
ibarat darah. Kalau darahnya dibekukan, aktivitas-aktivitas mereka secara 
otomatis juga akan berhenti," katanya ketika dihubungi SH, Sabtu (5/7) siang 
ini. Dia menyebutkan, terungkapnya kasus bom rakitan di Palembang, Sumatera 
Selatan, mengindikasikan adanya sumber pendanaan baru dalam upaya aksi teror di 
Indonesia. 

Tertangkapnya sejumlah bendahara Jemaah Islamiyah (JI) di berbagai negara 
menjadikan sumber dana yang datang di bawah tangan dalam bentuk infak dan zakat 
memberikan darah segar bagi pelaku terorisme dalam menjalankan aksinya.Dia 
menyatakan keberadaan peluru-peluru tajam yang menjadi satu kesatuan dalam satu 
rakitan bom merupakan hal yang baru dalam teknik perakitan bom anggota JI, 
khususnya bom-bom rakitan yang selama ini ditemukan atau meledak di wilayah 
Indonesia. Terkait pendanaan, Wawan juga mengindikasikan adanya keterkaitan 
aksi-aksi perampokan, khususnya perampokan toko-toko emas yang terjadi di 
beberapa tempat akhir-akhir ini mengarah pada kelompok-kelompok terorisme. "Itu 
memang arahnya ke sana," katanya.

Menanggapi fakta baru di luar penangkapan sepuluh tersangka teroris di Sumatera 
Selatan yang menyangkut pelarian salah satu petinggi JI berkewarganegaraan 
Singapura, Mas Slamet Kastari, yang diinformasikan saat ini berada di 
Indonesia, Wawan masih mempertanyakan validitas informasi tersebut. Pasalnya, 
Kastari yang saat itu ditahan di penjara Singapura dalam kondisi diborgol 
tangan dan kakinya. 
Di samping itu, ketika itu Kastari tidak mungkin meloloskan diri dari penjara 
yang ketat tersebut, karena mengalami patah kaki pada saat melarikan diri dari 
Polda Riau beberapa waktu lalu. "Fakta-fakta ini memunculkan pertanyaan apakah 
Kastari benar sudah melarikan diri ke wilayah Indonesia atau mungkin masih 
berada di penjara Singapura atau bahkan sudah mati di sana," katanya.
Pada kesempatan ini pula, Wawan mengingatkan agar masyarakat maupun penegak 
hukum, khususnya Polri, mewaspadai adanya politisasi dalam kasus ini. 

Pindahkan Basis Jaringan

Kapolri Jenderal Sutanto di Mabes Polri, Jumat (4/7) siang, mengatakan fakta 
pengungkapan jaringan teroris di Malaysia mengindikasikan bahwa buron teroris 
nomor satu Noordin M Top telah memindahkan baris jaringannya dari Jawa ke 
Sumatera. Di samping itu, ada pengembangan teknik perakitan bom dari kelompok 
JI yang saat ini mengembangkan teknik perakitan bom dengan menggunakan 
peluru-peluru tajam.
Tentang keberadaan Slamet Kastari, Sutanto mengatakan pihaknya saat ini telah 
menyebar foto-foto Kastari ke seluruh Polda di Indonesia. "Tujuannya agar 
masyarakat mengenali dan mengetahui ciri-ciri fisik yang bersangkutan, " 
katanya. Pihaknya telah memperketat penjagaan di wilayah-wilayah perbatasan di 
seluruh Indonesia khususnya wilayah Sumatera yang saat ini diduga menjadi salah 
satu basis pergerakan pelaku teror.

Wawan Purwanto juga mengingatkan, sasaran teroris saat ini sudah bergeser dari 
perjuangan demi jihad, beralih pada kehancuran ekonomi dan ideologi kekerasan. 
Indikasi ini terlihat dari penangkapan sepuluh tersangka teroris di Sumatera 
Selatan baru-baru ini yang mengaku akan meledakkan Kafe Bedudel di Bukit 
Tinggi, Sumatera Barat, karena banyak dikunjungi turis asing.
Hal ini sangat disayangkan, apalagi kondisi perekonomian dunia saat ini sedang 
kacau, harga minyak mentah dunia terus melonjak sehingga semua harga kebutuhan 
pokok ikut terkerek naik. "Jadi dimana letak jihadnya? Sasaran mereka sudah 
bukan lagi jihad, tapi kehancuran ekonomi negara," ungkap pengamat intelijen 
itu. Para teroris itu hanya ingin mengesankan bahwa mereka tetap eksis, 
sehingga tidak memperhitungkan korbannya, yang penting menyerang, kata Wawan. 
Bukit Tinggi, terutama di kawasan jam gadang, memang menjadi tempat turis dan 
terdapat kafe yang banyak orang bulenya. Meskipun kelompok teroris yang 
ditangkap Densus 88 Antiteror di Palembang baru-baru ini mengaku batal 
meledakkan bom di Kafe Bedudel, Bukit Tinggi, karena belakangan menyadari bahwa 
para calon korban adalah warga setempat yang umumnya muslim dan bukan orang 
asing. Menurut seorang perwira Polri yang menolak disebut namanya, di tempat 
itu sudah sempat dipasang tiga buah bom waktu,
tetapi kemudian dibatalkan pada detik-detik terakhir dan teroris memutuskan 
akan memindahkan serangan ke Ibu Kota Jakarta. Namun menurut Wawan Purwanto, 
sepuluh tersangka itu ditangkap sekitar 20 Juni lalu, namun baru dipublikasikan 
Polri pada HUT ke-62 Polri, sebab untuk keperluan penyidikan.

Wawan mengingatkan pula bahwa dalam kondisi kemiskinan, teroris mudah masuk.. 
"Daripada melarat, sengsara, ya mendingan sahid saja," lanjutnya sambil 
mengingatkan, masyarakat harus peduli pada lingkungannya agar tak mudah 
disusupi teroris. Wawan juga menjelaskan, para teroris itu pindah ke Sumatera 
setelah diuber dari Poso, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Mereka membutuhkan rumah 
tempat pengamanan sehingga hidup berpindah-pindah. Penyamaran yang paling 
efektif menjadi guru dan santri, sambil melakukan perekrutan baru pada pemuda 
berusia rata-rata 20 tahun, tapi masih dari kelompok yang bisa dialihkan ke 
jihad. 

Bali Dijaga Ketat
Aparat kepolisian di jajaran Polda Bali juga memperketat penjagaan di sejumlah 
pintu masuk Bali, seperti pelabuhan penyeberangan Gilimanuk, Padangbai, dan 
Bandara Ngurah Rai, guna mencegah masuknya kelompok teroris. Berdasarkan 
pemantauan SH, petugas dari Gegana, Densus 88/Antiteror Polda Bali dan Reskrim, 
serta Intel Polres Jembrana diterjunkan untuk pengamanan pelabuhan Gilimanuk 
yang menghubungkan Jawa-Bali ini. (wahyu dramastuti/cinta malem ginting) 

http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0807/ 05/sh01.html

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke