Salam,

Kalau bossnya dan anaknya begitu kelakuannya, kurang lebih begitu 
juga anak buahnya. Bayangkan yang sudah dilakukan si Pitung. Dia tiru-
tiru kelakuan boss dan anak-anaknya yang bahlul tapi dimuliakan 
olehnya di Arab sahudi sana, dan kemudian dia cengengesan di sini 
karena selalu dapat persenan dari si ARab bahlul. 


Dimas
Hari ini Pitung sudah minum obat belum ya?

--- In [email protected], mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Memang sungguh mengerikan sekali oom Marconi atas nasib TKW kita di 
Tanah Arab, khususnya di Saudi. Perbuatan bos-bosnya Si Pitung 
tersebut sungguh biadab sekali.
>  
> Saya kerap mengikuti perbincangan di situs pertemanan, dimana 
banyak anak-anak muda Saudi ikutan. Mereka banyak cerita tentang 
kisah persetubuhan pertamanya alias melepas keperjakaannya justru 
dengan para pembantu rumah tangga yang jadi budaknya. Dan mayoritas 
dari Indonesia. Karena dianggap budak belian, mereka tak 
memperhitungkannya sebagai zina, dan menurut Allah tidak berdosa 
karena budak ibarat unta tunggangan yang bisa dipertukarkan dan 
diperjual belikan dengan mudah.
>  
>  
>  
> 
> 
> www.mediacare.biz
> 
> --- On Sat, 7/12/08, A. Marconi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: A. Marconi <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [ppiindia] TKW Indonesia di Arab Saudi diperlakukan 
sebagai budak
> To: [email protected]
> Date: Saturday, July 12, 2008, 1:05 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> KOMENTAR:
> 
> Pengiriman TKW/TKI ke KSA yang masih berbudaya jahilliyah, menurut 
terminologi Al-Quran, secara sadar adalah menjerumuskan puluhan ribu 
Muslimah dan Muslimin ke dalam sistim masyarakat perbudakan abad-abad 
sebelum diutusnya rasulullah Muhammad saw melakukan reformasi 
masyarakat perbudakan Arab. 
> 
> Peristiwa ini adalah suatu peristiwa pengulangan di dalam sejarah 
Bangsa Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia di tahun 
1945. Di zaman penjajahan Kerajaan Belanda dan penjajahan Kekaisaran 
Jepang telah terjadi pengiriman budak-budak perkebunan dan budak-
budak kerja paksa dari berbagai suku-suku Bangsa Indonesia yang telah 
dikorbankan secara tak bertanggungjawab, tak berperikemanusiaan, di 
hutan belantara tanpa jaminan kesehatan dan pangan serta keamanan 
pribadi yang manusiawi. Korban yang telah jatuh dan penderitaaan yang 
membekas dalam kisah dan cerita akan membakar abadi para pelaku 
kekejaman yang sadar dilakukan tersebut. Setiap orang tidak memikul 
dosa orang lain dan setiap orang bertanggungjawab atas apa yang telah 
diperbuatnya. 
> 
> Dengan alasan apapun, baik atas nama hukum peradaban maupun 
kepercayaan akan sesuatu, perbuatan tidak bertanggungjawab yang 
dilakukan dengan sadar menjerumuskan manusia ke dalam jurang 
kehinaan, kesengsaraan, penindasan, perbudakan dan kematian, adalah 
tidak manusiawi dan ridak etis serta a-moral kemanusiaan yang 
bertentangan dengan Pancasila.
> 
> Seruan saya adalah HENTIKAN PENGIRIMAN TKW/TKI ke Kerajaan Saudi 
Arabia, selama negeri itu belum beranjak ke budaya masyarakat BERADAB 
yang ditetapkan dalam firman-firman Allah swt.
> 
> Wassalam,
> A.M
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: mediacare 
> To: [EMAIL PROTECTED] com ; media jabar ; zamanku ; 
[EMAIL PROTECTED] s.com ; wanita-muslimah@ yahoogroups. com ; 
kampung-ugm@ yahoogroups. com ; jurnalperempuan@ yahoogroups. com ; 
pluralitas-icrp@ yahoogroups. com ; mediacare 
> Sent: Friday, July 11, 2008 5:58 PM
> Subject: [ppiindia] TKW Indonesia di Arab Saudi diperlakukan 
sebagai budak
> 
> Maids 'treated as slaves' in Saudi Arabia
> 
> The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 07/09/2008 10:48 AM | Headlines
> 
> Working conditions for migrant domestic workers in Saudi Arabia --
> including thousands of Indonesian workers -- sometimes amount to
> "slavery", according to a global human rights watchdog.
> 
> "In the best cases, migrant women in Saudi Arabia enjoy good working
> conditions and kind employers, and in the worst they're treated like
> virtual slaves. Most fall somewhere in between," said Nisha Varia,
> senior researcher in the women's rights division of Human Rights 
Watch
> (HRW).
> 
> But the rise of a "young, reformist elite" in Saudi Arabia offers
> opportunities for change -- opportunities labor advocates and 
countries
> that send migrant labor, such as Indonesia, should take advantage 
of,
> according to HRW executive director Kenneth Roth.
> 
> He said the new generation did not want the country to be known as 
one
> that "closes its eyes to the abuse of domestic workers".
> 
> Roth and Varia presented the findings of HRW's latest study in a
> discussion Monday, hosted by the National Commission on Violence 
against
> Women.
> 
> The study, "As if I am not human: Abuses against Asian domestic 
workers
> in Saudi Arabia", involved interviews with Indonesian, Filipino,
> Nepalese and Sri Lankan workers in the kingdom, conducted between 
2006
> and early 2008.
> 
> Indonesia has been sending migrant workers, mainly maids, to the 
Middle
> East and other regions since the 1980s, and media reports of abuse 
have
> repeatedly surfaced.
> 
> The Saudi embassy did not reply to requests Monday to respond to the
> study.
> 
> The study quotes from HRW's interview with Saudi labor minister 
Ghazi
> al-Qusaibi, who said "radical reforms" were being planned to 
establish
> better protection for migrant domestic workers.
> 
> But according to Varia, "the Saudi government has some good 
proposals
> for reform but it has spent years considering them without taking 
any
> action".
> 
> Reform for the kingdom's 1.5 million domestic workers is needed "so 
that
> women desperate to earn money for their families don't have to 
gamble
> with their lives", Varia said.
> 
> One of HRW's recommendations is to reform or abolish the sponsorship
> system known as kafala, which ties migrant workers' visas to their
> employers. This system means employers can prevent workers from 
changing
> jobs or leaving the country.
> 
> Reform is also needed in Saudi Arabia's criminal justice system, HRW
> said. The study found in many cases employers were not prosecuted 
for
> abusing domestic workers.
> 
> HRW cited the example of abused Indonesian worker Nour Miyati, who 
lost
> her case despite "the employer's confession, ample medical 
evidence, and
> intense public scrutiny".
> 
> Nour Miyati had to have her fingers and toes amputated as a result 
of
> being starved and beaten daily by her employers, HRW said.
> 
> The maids "are more likely to face counter-accusations of 
witchcraft,
> theft or adultery", the study said.
> 
> But tight competition among labor suppliers is leading to cost 
cutting
> at the expense of migrant workers, according to one Indonesian 
official.
> 
> "Some labor suppliers are complaining they don't make profits and 
have
> had to cut expenses such as training," Jumhur Hidayat, head of the
> National Labor Export and Protection Agency, said Monday.
> 
> Jumhur said some suppliers cut the mandatory 200 hours of training 
for
> migrants scheduled to work in the Middle East "to one hour, or even 
10
> minutes".
> 
> He said a number of measures, including ongoing negotiations with 
the
> Saudi government, were being taken to address the problems.
> 
> Legislator Tuti Lukman remarked that while it was easy to blame the
> problems on the countries that receive Indonesian labor, "they will 
note
> that we also fail to give formal recognition and protection to our 
own
> domestic workers".
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG - http://www.avg. com 
> Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.7/1546 - Release Date: 11-
7-2008 6:47
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke