Peta Gerakan Islam Radikal 

JUDUL BUKU: 

Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia 

JUDUL ASLI: 

Joining the Caravan?: The Middle East, Islamism and Indonesia 

PENULIS: 

Greg Fealy dan Anthony Bubalo

PENERJEMAH: 

Akh. Muzakki

PENERBIT: 

Mizan, Bandung

CETAKAN: 

I, April 2007

TEBAL: 

202 Halaman

-----

Radikalisme belakangan ini menjadi gejala umum di dunia Islam, 
termasuk di Indonesia. Gejala radikalisme di dunia Islam bukan 
fenomena yang datang tiba-tiba. Ia lahir dalam situasi politik, 
ekonomi, dan sosial-budaya yang oleh pendukung gerakan Islam radikal 
dianggap sangat memojokkan umat Islam. 

Secara politik mereka merasa bukan saja tidak diuntungkan oleh 
sistem, tapi juga merasa diperlakukan tidak adil. Secara ekonomi pun 
mereka merasa tidak lebih baik. Kelompok Islam radikal menganggap 
kepentingan ekonomi umat Islam tidak dilindungi, bahkan diabaikan dan 
dipinggirkan. Sementara itu, dalam konteks sosial budaya, umat Islam 
semakin kehilangan orientasi dengan makin kuatnya serbuan budaya 
Barat. Ikatan-ikatan sosial yang sebelumnya cukup kuat menyatukan 
kelompok-kelompok Muslim kemudian tercerai-berai akibat jebolnya 
pertahanan budaya yang dimiliki umat Islam.

Dalam suasana seperti itulah Islam radikal mencoba melakukan 
perlawanan. Perlawanan itu muncul dalam bentuk melawan kembali 
kelompok yang mengancam keberadaan mereka atau identitas yang menjadi 
taruhan hidup. Mereka berjuang untuk menegakkan cita-cita yang 
mencakup persoalan hidup secara umum, seperti keluarga atau institusi 
sosial lain. Mereka berjuang dengan kerangka nilai atau identitas 
tertentu yang diambil dari warisan masa lalu maupun konstruksi baru. 
Untuk itu mereka juga berjuang melawan musuh-musuh tertentu yang 
muncul dalam bentuk komunitas atau tata sosial-keagamaan yang 
dipandang menyimpang. Terakhir mereka juga mendaku bahwa perjuangan 
mereka atas nama Tuhan atau ide-ide lain. 

Dalam kasus Indonesia, sebagaimana dijelaskan dalam buku berjudul 
asli Joining the Caravan?: The Middle East, Islamism and Indonesia, 
hasil penelitian dua akademisi Australia ini, Greg Fealy dan Anthony 
Bubalo, pengaruh keagamaan dan politik dari Timur Tengah ke Indonesia 
bukan hal baru dalam sejarah. Menurut mereka, semenjak Islam masuk ke 
Nusantara, hubungan masyarakat Indonesia dengan Timur Tengah sangat 
kental. Transmisi ini dimungkinkan karena posisi Timur Tengah sebagai 
sentrum yang selalu menjadi rujukan umat Islam. Negara-negara yang 
memiliki kota-kota suci dan pusat ilmu pengetahuan selalu dikunjungi 
orang Indonesia, baik untuk berhaji, ziarah, maupun belajar. Dari 
aktivitas ini kemudian muncul berbagai bentuk jaringan, baik jaringan 
keulamaan, jaringan gerakan dakwah, maupun jaringan gerakan politik.

Di samping itu, konteks politik di Indonesia juga menjadi alasan lain 
kemunculan Islam radikal. Ada kesamaan antara gerakan Islam radikal 
di Indonesia dan Timur Tengah. Sebagaimana ditunjukkan buku ini, 
gerakan Islam radikal di Timur Tengah bisa diklasifikasi dalam tiga 
kategori. Pertama, gerakan itu terjadi di negara-negara yang 
pemerintahannya otoriter seperti di Irak dan Suriyah. Al-Mujahidin di 
Irak menentang kediktatoran Saddam Hussein, demikian halnya al-Ikhwan 
di Suriyah yang menentang rezim Hafidh al-Asad.

Kedua, hal yang sama terjadi di wilayah yang dijajah dan diduduki 
kekuatan asing, seperti di Palestina. Fundamentalisme di Palestina 
yang bahkan termanifestasi dalam bentuk ekstrem melalui jalan 
kekerasan merupakan reaksi terhadap kekerasan politik yang dilakukan 
Israel. 

Ketiga, gerakan radikal lahir di negara yang kebijakan 
pemerintahannya dipandang terlampau memihak ke Barat seperti Mesir 
dan Iran prarevolusi. Munculnya Ikhwanul Muslimin di Mesir tak lepas 
dari sentimen massa menentang kebijakan pemerintah yang dinilai pro-
Barat dan cenderung memarjinalkan peran kaum agamawan.

Dari tiga kategori di atas, faktor pertama dan ketiga terjadi di 
Indonesia, baik sebelum maupun setelah Orde Baru. Sejak awal 
kelahirannya, sikap Orde Baru terhadap umat Islam mengikuti pola 
kebijakan yang diterapkan Belanda: bersikap toleran dan bersahabat 
terhadap Islam sebagai kelompok sosial dan keagamaan. Tapi, sikap ini 
segera berubah menjadi keras dan tegas ketika Islam mulai 
memperlihatkan tanda-tanda sebagai kekuatan politik yang menentang 
kehendak penguasa. 

Meski kemunculan gerakan radikal Islam terfragmentasi dalam beragam 
organisasi, ada sejumlah benang merah yang bisa ditarik dari berbagai 
kelompok tersebut sekaligus menjadi faktor pembeda dari Muslim 
mainstream di Indonesia. Beberapa benang merah itu antara lain adalah 
pemahaman yang sangat literal terhadap ajaran Islam, keyakinan yang 
sangat kuat bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk 
menyelesaikan berbagai krisis di negeri ini, perjuangan yang tak 
kenal lelah menegakkan syariat Islam, resistensi terhadap kelompok 
yang berbeda pemahaman dan keyakinan, serta penolakan dan kebencian 
yang nyaris tanpa cadangan terhadap segala sesuatu yang berbau Barat.

Kemudian orang pun bertanya-tanya: mengapa di tengah arus utama Islam 
yang moderat di Indonesia (utamanya NU dan Muhammadiyah), muncul 
sekelompok Muslim sebagai teroris? Menurut buku ini, penjelasannya 
tentu melibatkan berbagai faktor dengan banyak dimensi yang kompleks. 
Perubahan besar dalam dunia Islam yang sering tidak disadari oleh 
masyarakat internasional adalah, sebagian besar masyarakat Muslim 
dunia saat ini tidak lagi terkonsentrasi di Timur Tengah (hlm. 84).

Buku ini dimaksudkan sebagai kontribusi intelektual untuk memperkaya 
perdebatan lebih luas tentang peran yang dimainkan kelompok Islamis 
di kancah politik internasional kontemporer. Fokus kajiannya 
dibingkai dengan beberapa persepsi dan mispersepsi, terutama 
menyangkut kecenderungan yang melihat Islamisme saat ini sebagai 
gerakan ideologi monolitik yang menyebar dari Timur Tengah sebagai 
pusat ke negara-negara Muslim di seluruh dunia.

Analisis buku ini tertuju pada sejumlah perubahan besar yang terjadi, 
baik di dunia Islam maupun persepsi Barat atas dunia Islam. Perubahan 
nyata telah menjelma sebagai dampak serangan teroris 11 September 
2001, di mana Al-Qaeda semakin dipandang sebagai sebuah ideologi 
ketimbang organisasi. Telaah atas sejauh mana ideologi atau pandangan 
dunia itu telah menyebar, serta menjelaskan bagaimana kecenderungan 
dari ancaman teroris di masa depan.

Buku ini berujung pada kesimpulan bahwa dari semua bentuk Islamisme 
kontemporer, pengaruh Ikhwanul Muslimin di Indonesia memiliki sejarah 
terpanjang. Menurut penulis, meski berhasil mengungkap pengaruh atau 
dampak gagasan-gagasan Islamis dan neofundamentalis dari Timur Tengah 
di Indonesia, hampir semuanya mengalami proses mediasi atau 
modifikasi. Gagasan gradualis Hasan Al-Banna, misalnya, lebih banyak 
digunakan dibandingkan gagasan revolusioner Sayyid Quthb dan para 
penerus radikalnya (hlm. 109).

Tak ketinggalan, terkait dengan pengaruh tersebut, buku setebal 202 
halaman ini juga mengupas fenomena keberhasilan Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) di pentas politik Indonesia dan Jamaah Islamiyah yang 
sering dikaitkan dengan serangkaian aksi teror.

Akhirnya, di tengah arus besar kecenderungan untuk melukiskan 
Islamisme sebagai wajah tunggal berdimensi transnasional, buku ini 
merobohkan pencitraan na�f seperti itu dengan menunjukkan keragaman 
dan dimensi lokal dari peresentasi Islamisme dalam ruang sejarah. (*)

M. Endy Fadlullah, Pengajar STAI Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi.


Kirim email ke