Individu2 harus bebas dan sederajat dalam menentukan kondisi2 hidup mereka sendiri ; Ini berarti mereka dapat menikmati hak2 yang sama (dan berarti juga kewajiban2 yang sama) dalam spesifikasi kerangka yang membuka ruang dan membatasi kesempatan2 yang tersedia bagi mereka, selama mereka tidak memanfaatkan kerangka itu untuk menegasikan hak2 orang lain. Menghindari pelecehan emosional mungkin merupakan hal paling sulit yang dapat dilakukan dalam upaya penyetaraan kekuasaan dalam hubungan, tetapi prinsip utamanya adalah penghargaan terhadap pandangan2 independen dan sifat2 personal orang lain. Tanpa penghargaan, telinga menjadi tuli, tingkah laku menjadi buruk, dan akhirnya tidak dapat memahami apa yang sedang dijalani, dengan klimaks penyalahan. Selain itu juga dilema penentuan nilai, yang menjadi tersembunyi/disembunyikan, selama identitas seksual yang muncul distrukturkan dalam perbedaan seksual. Penghargaan dan keterbukaan, untuk menawarkan kualitas2 yang dibutuhkan demi membangun hubungan dengan keintiman sebagai serangkaian hak prerogatif dan tanggung jawab yang mendefinisikan agenda2 aktivitas praktis, yang bersifat akuntabilitas yang terkait dengan kepercayaan. Keterlibatan setiap individu dalam penentuan aturan pergaulan mereka, sebagai refleksivitas yang melekat pada keberlangsungan suatu hubungan. Suatu politik gaya hidup yang beroperasi dalam konteks refleksivitas yang mampu memoralisasikan kembali (menaruhnya secara lebih tepat) perihal isu moral dan eksistensial yang telah dikesampingkan dalam kehidupan sehari2, suatu proyek reflektif diri yang di-orientasikan untuk mengendalikan, sehingga memiliki diri yang sejati. Cinta adalah ayah dan ibuku, dan tak seorangpun tahu kalau cinta itu menyelamatkan ayah dan ibuku.

