Tempo
Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008
Opini

Politik Santun Mohammad Natsir

MOHAMMAD Natsir seakan ber­asal dari negeri yang jauh. Sebuah negeri tempat 
politikus berjuang sungguh-sungguh demi rakyat yang diwakilinya. Mereka 
memegang teguh ideologi partai masing-masing. Beradu argumen dengan ganas, 
tapi tetap dengan tutur kata sopan, dan sesudahnya mereka bercakap hangat 
dengan lawan politiknya sambil meneguk secangkir kopi di saat rihat. Mereka 
berperang kata, tapi seketika saling berpegangan tangan saat menghadapi 
penjajah Belanda.

Indonesia di awal kemerdekaan, ketika Mohammad Natsir berkecimpung menjadi 
politikus dari Partai Masyumi, bukanlah negeri khayalan. Ketika itu beda 
pendapat dan pandangan sudah biasa. Para politikus tak merasa perlu 
memamerkan kekayaan kepada publik. Bahkan sebaliknya, mereka cukup bersahaja.

Sebagai Menteri Penerangan, Natsir tak malu mengenakan kemeja kusam dan jas 
bertambal. Ketika menjadi Ketua Fraksi Masyumi, dia menampik hadiah sebuah 
mobil Chevrolet Impala yang tergolong mewah dari seorang pengusaha. Ia 
menolak dengan cara halus agar si pemberi tak merasa kehilangan muka. 
Padahal di rumahnya yang sederhana hanya ada sebuah mobil DeSoto rom­beng. 
“Mobil itu bukan hak kita. Lagi pula yang ada masih cukup,” begitu nasihat 
yang disampaikannya kepada istri dan anak-anak.

Di awal kemerdekaan itu sebuah negara baru sedang bangkit. Para politikus 
berkhidmat sekuat-kuatnya untuk Tanah Air. Mereka patriot-pejuang, beberapa 
di antara­nya pernah mendekam di bui atau menjalani pembuangan di tempat 
terpencil di masa penjajahan Belanda. Mereka meng­hidupkan politik, bukan 
mencari hidup dari politik. Ten­tu saja di masa itu ada beberapa politikus 
yang berpe­rilaku miring, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Maka tak salah bila Daniel Lev (almarhum), seorang In­donesianis kenamaan, 
berkali-kali mengingatkan ge­ne­ra­si muda Indonesia. Bila ingin 
mempelajari sema­ngat berde­mokrasi serta kehidupan politikus yang bersih 
dan bersahaja, tak perlu menoleh jauh-jauh ke Eropa atau Ame­rika. 
“Pelajari saja masa demokrasi pada 1950-an,” katanya suatu kali.

Politik santun itu perlu dikembalikan ke zaman ini, lebih dari 60 tahun 
setelah Indonesia merdeka. Terutama ketika dunia politik terasa pengap oleh 
skandal beruntun. Sejumlah politikus melakukan korupsi berkawanan, meminta 
imbalan materi atas aturan hukum yang mereka buat, ada yang terlibat 
kejahatan seksual.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat membuat pelataran kantornya bak ruang pamer 
mobil mewah dengan mengendarai kendaraan luar biasa mahal­ justru di saat 
kebanyakan rakyat hidup miskin. Mereka berlomba mengejar popularitas demi 
mendaki tangga karier politik sendiri, sesuatu yang jauh dari kepentingan 
rakyat pemilihnya. Santun, bersahaja, dan semangat berkhidmat menjadi 
barang langka. Begitu jauh jarak yang terbentang antara para politikus dan 
rakyat yang diwakili­nya.

Sejauh ini minim sekali teguran dari partai politik kepada anggotanya yang 
berperilaku rendah. Hampir tak ada partai yang menggariskan pedoman jelas 
kepada anggotanya untuk bertingkah laku sesuai dengan keadaan mayoritas 
rakyat. Surat teguran dan recalling, dalam sejarah Dewan, hanya akan terbit 
justru bila terjadi perbedaan pendapat antara anggota dan pemimpin partainya.

Barangkali sistem perwakilan politik perlu diperbaiki total. Perlu sebuah 
sistem dengan aturan jelas yang membuat para politikus terikat dan 
sungguh-sungguh memperhatikan aspirasi rakyat. Mungkin Indonesia tak bisa 
lagi membayangkan para politikus akan berperilaku santun dan bersahaja 
seperti Natsir dan kawan-kawan di masa lalu. Tapi dengan perbaikan sistem, 
mungkin keadaan baik itu bisa ditiru.

Nasib negara seyogianya memang tak diserahkan kepada kebajikan orang per 
orang, tapi pada sistem yang baik. Saat ini segemas apa pun masyarakat 
pemilih terhadap perilaku para wakilnya, mereka tak bisa berbuat apa-apa. 
Mereka tak punya kekuatan untuk segera menghukum para politikus lancung itu.

Salah satu usul perbaikan sistem politik itu adalah mempersingkat masa 
tugas anggota Dewan—seperti dilontarkan Rektor Universitas Paramadina Anies 
Baswedan. Masa jabatan anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebaiknya tiga tahun 
saja, bukan lima tahun seperti sekarang. Dengan masa jabatan yang pendek, 
konstituen bisa lebih cepat menghukum wakil pilihannya bila menyeleweng. 
Mereka yang berprestasi bisa dipilih kembali, yang kerang-keroh tak akan 
dipilih lagi.

Sistem seperti itu akan membuat demokrasi berpihak dan melayani seluruh 
rakyat. Para aktor politik di dalamnya tetap boleh mengejar kepentingan 
pribadi, kelompok, atau partainya, tapi dengan cara yang menguntungkan publik.

Dengan sistem yang diperbaiki itu, bukan mustahil perilaku santun, bersih, 
bersahaja akan kembali mewarnai panggung politik negeri. Siapa tahu kelak 
kita akan bertemu dengan politikus yang sekaliber atau malah le­bih baik 
daripada seorang Mohammad Natsir.
Opini

At 08:38 PM 7/15/2008 -0700, you wrote:
>Sobat muda....
>
>
>
>Sebuah artikel menarik menjadi perenungan kita bersama,....
>
>ketika sebuah kteladanan menjadi langka dinegeri kita tercinta...
>
>ketika pribadi santun, bersih, toleran, konsisten, teguh pendirian 
>bukanlah dongeng belaka..
>
>perjalanan pengukir sejarah negeri, panutan bangsa indonesia :)
>
>
>
>Salam cinta tanah air
>
>-i2n-
>
>Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan,
>(Annemarie Schimmel)
>
>
>
>
>
>  Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>                    Laporan Utama
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>                  Sebuah Pemberontakan tanpa Drama  Hidupnya
>tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood:
>perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan,
>dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena
>ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu
>teladan yang jarang.
>
>
>
>
>
>
>
>
>DIA,
>Mohammad Natsir (17 Juli 1908­6 Februari 1993), orang yang puritan.
>Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak
>berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang
>sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik
>sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah
>lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi,
>tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih
>baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang
>berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap
>yang diambil, bersahaja.
>
>
>
>
>Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan
>Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang
>bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita
>tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri
>Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat
>Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. ”Ia
>memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di
>antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.
>
>
>
>
>Mungkin karena itulah sampai tahun ini—seratus tahun setelah
>kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat—tidak sedikit orang menyimpan
>keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer
>kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di
>kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan
>kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa
>gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah
>air ini. Dan di kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang
>sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri
>dari Partai Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya
>mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah
>bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.
>
>
>
>
>Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi
>bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada
>dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam
>Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain,
>disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya
>semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua
>yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di
>atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung
>parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika
>itu.
>
>
>
>
>Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan
>Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih
>berarti. Waktu itu, pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan
>nasionalis­me-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai
>bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah
>Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan
>kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.
>
>
>
>
>Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya ”bertemu” lagi
>dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri
>penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda
>pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi
>ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar
>buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang
>kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara
>kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.
>
>
>
>
>Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara
>kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa
>menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara
>si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an
>Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang
>terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang
>semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa
>tokoh lain tanpa pengadilan.
>
>
>
>
>Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang
>memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita,
>akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat,
>menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu.
>Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan
>kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung
>awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin
>yang cenderung otoriter.
>
>
>Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa
>Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan
>menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel ”musuh utama”
>pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis
>keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit
>bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau
>Buru—pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik peng­ikut PKI.
>Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para
>penanda tangan Petisi 50 dicekal.
>
>
>
>
>Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang
>cukup panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang
>mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita
>sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan
>ber­sahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari
>belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh,
>bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh
>santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edi­si ini.
>
>
>
>sumber : Majalah Tempo
>
>
>
>
>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>------------------------------------
>
>***************************************************************************
>Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
>yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
>http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>***************************************************************************
>__________________________________________________________________________
>Mohon Perhatian:
>
>1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
>2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
>3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
>4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
>5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
>6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>Yahoo! Groups Links
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke